NovelToon NovelToon
Satu Menit Sebelum Mahkota

Satu Menit Sebelum Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Istana/Kuno / Cinta Terlarang
Popularitas:871
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

Arlo Valerius muak menjadi pangeran. Baginya, mahkota adalah beban dan perjodohannya dengan Putri Helena adalah penjara. Namun, di Sayap Utara istana yang berdebu, ia menemukan dunianya: Kalea Elara, gadis tukang cat yang bicaranya setajam silet.

Di antara debu kapur dan rahasia istana, Arlo belajar tentang kejujuran yang tak pernah ada di balik gaun sutra. Namun, saat Helena mulai mengancam nyawa Kalea, Arlo harus memilih: Tetap menjadi pangeran yang sempurna, atau meruntuhkan tahtanya demi gadis yang ia cintai.

Satu menit sebelum penobatan, Arlo memilih untuk kehilangan segalanya demi satu detik kenyataan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Beberapa orang menghabiskan seluruh hidupnya hanya untuk mencari jalan pulang, tanpa benar-benar tahu di mana rumah mereka sebenarnya berada. Mereka mengira rumah adalah sebuah bangunan dengan atap yang kokoh, dinding yang dicat rapi, dan pintu yang selalu terkunci dari dalam. Padahal, bagi jiwa-jiwa yang sudah terlalu lama terpenjara dalam kepalsuan, rumah sering kali justru ditemukan di tempat-tempat yang tidak memiliki alamat pasti. Ia bisa berupa aroma garam yang menempel di baju yang basah, atau sekadar genggaman tangan di atas kapal yang sedang terombang-ambing di tengah lautan yang luas. Di atas kapal Solandis ini, Arlo Valerius mulai menyadari bahwa ia tidak sedang melarikan diri dari rumahnya; ia justru sedang bergerak menuju rumahnya yang sesungguhnya.

Arlo berdiri di bagian haluan kapal, membiarkan angin laut yang kencang menyapu wajahnya yang masih terasa perih karena sisa-sisa debu kapur. Ia mengenakan kemeja katun milik salah satu pelaut Solandis yang ukurannya sedikit terlalu besar di bagian pinggang. Kainnya kasar, berbau apek karena lembapnya udara laut, namun Arlo menyukai teksturnya. Tidak ada sutra yang menempel di kulitnya, tidak ada emblem perak yang memberatkan bahunya. Ia merasa ringan, seolah-olah berat badannya berkurang separuh sejak ia meninggalkan daratan Aethelgard.

Tangannya yang kapalan mencengkeram pagar kayu kapal. Arlo menatap buih-buih ombak putih yang terbelah oleh haluan kapal. Suara deburan air yang beradu dengan kayu terdengar ritmis, menyatu dengan suara derit tiang layar yang tertiup angin. Ia memejamkan mata sejenak, menghirup aroma laut yang tajam—aroma yang tidak pernah ia temukan di balik tembok istana yang wangi bunga lili.

"Kau akan masuk angin jika berdiri di sini terlalu lama tanpa jaket."

Suara itu datang dari arah belakang. Arlo tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang berdiri di sana. Ia mengenal langkah kaki itu—langkah yang tidak pernah ragu, langkah yang selalu terdengar jujur di atas permukaan apa pun.

Kalea melangkah mendekat, berdiri di samping Arlo. Ia mengenakan jaket pelaut yang tebal dan kusam, rambutnya diikat dengan tali kain biru yang ia temukan di geladak. Kalea membawa dua buah cangkir timah yang mengeluarkan uap panas. Aroma kopi murahan yang pahit segera bercampur dengan aroma garam laut.

Kalea menyerahkan salah satu cangkir pada Arlo. "Minumlah. Ini bukan kopi terbaik dari perbendaharaan rajamu, tapi ini cukup untuk membuat jantungmu tetap berdetak di tengah suhu sedingin ini."

Arlo menerima cangkir itu, jemarinya bersentuhan dengan jemari Kalea yang kasar. Ia menyesap isinya, dan segera saja rasa pahit yang membakar lidahnya merambat ke tenggorokannya. Ia meringis sedikit, namun kehangatan itu terasa sangat nyata di dadanya. "Rasanya seperti aspal panas, tapi entah kenapa aku menyukainya."

"Itu karena kau sedang merasakan rasa yang jujur, Arlo. Bukan rasa yang disamarkan oleh gula dan susu mahal," Kalea bersandar pada pagar kapal, menatap garis cakrawala yang mulai gelap. "Bagaimana tanganmu? Masih perih?"

Arlo mengangkat tangan kanannya, memperlihatkan lecet-lecet yang mulai mengering karena terkena air garam tadi. "Sudah jauh lebih baik. Air laut ternyata lebih manjur daripada salep dari tabib istana."

Kalea meraih tangan Arlo, menariknya sedikit lebih dekat untuk melihat lukanya di bawah cahaya lampu badai yang mulai dinyalakan oleh para pelaut di geladak. Ia tidak bicara. Jemarinya yang kecil mengusap bagian kulit Arlo yang kasar dengan gerakan yang sangat hati-hati. Ada keheningan yang tenang di antara mereka, jenis keheningan yang hanya dimiliki oleh dua orang yang sudah melewati badai bersama-sama.

"Kau tahu, Arlo..." Kalea bicara tanpa melepaskan tangan Arlo. "Di Solandis nanti, tidak akan ada yang memanggilmu 'Yang Mulia'. Mereka tidak akan membukakan pintu untukmu, dan mereka tidak akan membungkuk saat kau lewat. Kau hanya akan menjadi Arlo, seorang pria yang mungkin harus bekerja di pelabuhan untuk membeli sepotong roti."

Arlo menatap wajah Kalea. Di bawah cahaya remang-remang, wajah gadis itu tampak begitu damai. "Itulah yang aku cari, Kalea. Aku tidak ingin orang membungkuk padaku karena takut. Aku ingin orang menatap mataku karena mereka percaya padaku sebagai manusia."

Arlo membalikkan telapak tangannya, kini ia yang menggenggam tangan Kalea. "Dan aku tidak butuh pelayan untuk membukakan pintu, asalkan ada kau yang menungguku di balik pintu itu."

Kalea terdiam. Ia tidak menarik tangannya. Sebaliknya, ia merapatkan tubuhnya sedikit ke arah Arlo, membiarkan bahu mereka bersinggungan. "Kau benar-benar pangeran yang terlalu banyak bicara hal-hal manis. Di Solandis, penyair sepertimu biasanya tidak laku."

Arlo tertawa pelan, tawanya menyatu dengan suara angin. "Maka aku akan menjadi tukang cat. Kau yang mengajariku, ingat? Kau bilang batu punya ingatan. Aku ingin membangun rumah dengan batu-batu yang hanya memiliki ingatan tentang kebahagiaan kita."

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat mendekati mereka. Kapten kapal Solandis, seorang pria dengan janggut tebal dan bekas luka di dahi, mendekat sambil memegang peta gulung.

"Tuan Arlo," panggil Kapten itu dengan nada yang menghargai namun tidak menghamba. "Kita akan mencapai perairan luar Solandis dalam waktu enam jam. Pengintai kami melaporkan tidak ada tanda-tanda kapal patroli Vandellia yang mengejar. Sepertinya badai debu yang kau buat di istana benar-benar membuat mereka sibuk."

Arlo mengangguk kecil. "Terima kasih, Kapten. Bagaimana dengan persediaan makanan untuk para pekerja yang ikut dengan kami?"

"Semua aman. Mereka sedang makan malam di geladak bawah. Mereka tampak sangat bersemangat untuk memulai hidup baru," Kapten itu menepuk bahu Arlo. "Kau melakukan hal yang benar, Nak. Seorang raja yang berani melepaskan mahkotanya demi rakyatnya adalah orang yang layak dihormati di Solandis."

Setelah Kapten itu pergi, suasana kembali sunyi. Arlo menatap kembali ke arah laut. Ia merasa ada beban besar yang terangkat dari dadanya, namun ia juga tahu bahwa perjuangan sesungguhnya baru saja dimulai. Ia bukan lagi seorang pangeran yang dilindungi oleh dinding batu; ia adalah seorang pria yang harus melindungi dunianya sendiri dengan tangannya sendiri.

"Kalea," panggil Arlo lembut.

"Hmm?"

"Apa hal pertama yang ingin kau lakukan saat kita sampai di Solandis?"

Kalea terdiam sejenak, ia menyesap kopinya perlahan. "Aku ingin melihat ayahku duduk di taman yang tidak dipenuhi debu kapur. Aku ingin melihatnya bernapas tanpa harus terbatuk-batuk. Dan aku..." ia ragu sejenak, lalu menatap Arlo. "Aku ingin mengecat dinding rumah kita dengan warna biru yang paling berani, tanpa takut akan ditegur oleh pengawas bangunan."

Arlo tersenyum, ia menarik Kalea ke dalam pelukannya. Gadis itu tidak menolak. Ia menyandarkan kepalanya di dada Arlo, merasakan detak jantung Arlo yang stabil dan kuat. Di tengah lautan yang luas ini, di bawah langit yang penuh bintang, mereka merasa benar-benar utuh.

"Kita akan melakukannya, Kalea," bisik Arlo di rambut Kalea yang berbau garam. "Kita akan membangun rumah dengan retakan-retakan yang kita sukai."

Malam semakin larut di atas kapal Solandis. Kapal itu terus melaju, membelah ombak menuju masa depan yang tidak pasti namun penuh dengan harapan. Arlo Valerius, sang pria tanpa mahkota, kini benar-benar telah menemukan jalannya. Ia tidak lagi mengejar keagungan yang palsu; ia sedang merayakan kesederhanaan yang nyata.

Setiap garis baru di telapak tangannya, setiap noda di kemejanya, dan setiap hembusan angin laut di wajahnya adalah bagian dari bab baru hidupnya. Sebuah bab di mana tidak ada lagi protokol, tidak ada lagi rahasia, dan tidak ada lagi dinding yang memisahkan mereka.

Di tengah kesunyian geladak, Arlo merasa bahwa ia baru saja memenangkan taruhan terbesar dalam hidupnya. Ia telah melepaskan mahkota untuk mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga: kebebasan untuk mencintai dan dicintai tanpa syarat.

Fajar mulai mengintip di cakrawala timur, mewarnai langit dengan warna jingga dan ungu. Solandis sudah mulai terlihat di kejauhan—sebuah daratan hijau yang menjanjikan kehidupan yang baru. Arlo memegang tangan Kalea lebih erat, siap untuk menginjakkan kaki di tanah yang akan menjadi rumah mereka yang sesungguhnya.

Retakan itu kini telah benar-benar menjadi jalan yang indah, dan Arlo tidak sabar untuk menapakinya bersama gadis tukang catnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!