Di Alam Bawah Sembilan Langit, hanya satu hukum yang berlaku, yaitu yang kuat berkuasa, sedangkan yang lemah akan mati.
Seorang pemuda enam belas tahun membuktikannya setiap hari. Yatim piatu sejak Sekte Iblis membantai desanya empat tahun lalu, hidupnya kini hanya memungut ampas pil di selokan dan tidur di kolong jembatan. Setiap hari direndahkan, dipukuli, dianggap sampah oleh para kultivator.
Sampai suatu malam, ketika sekarat di selokan setelah dipukuli hampir mati, sebuah warisan kuno terbangun di dadanya.
Gerbang Iblis dalam Darah. Peninggalan dari 66.000 tahun lalu yang memberinya kemampuan mengerikan untuk menyerap darah musuh demi memulihkan luka dan menaikkan level kultivasi.
Dari pemulung jadi pemburu. Dari korban jadi ancaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Yang Meminjam Tubuh Itu
Tiga hari pertama terasa seperti hal-hal yang sudah lama seharusnya ada. Bocah itu bangun sebelum matahari naik, keluar dari lumbung dengan rambut awut-awutan dan sandal baru yang selalu dipakai di kaki yang salah sampai Mu Qingxue mengoreksinya setiap pagi. Dia langsung ke kebun, mengambil cangkul cadangan yang sudah diletakkan Mu Qingxue di sudut pagar, dan mulai bekerja di baris yang Huang Shen tunjukkan sehari sebelumnya.
Tentu saja tanpa banyak bicara di pagi hari. Hanya bekerja, sesekali mendongak untuk memastikan dia masih di baris yang benar, lalu kembali menunduk.
Huang Shen pun tidak memujinya, tidak pula menegur.
Sore harinya, Mu Qingxue mengajarinya cara memotong labu tanpa membuang terlalu banyak bagian yang masih bisa dimakan. Bocah itu belajar dengan cepat, tangannya mungil tapi presisi, dan dia mengulangi setiap gerakan dengan serius yang tidak biasa untuk anak seusianya. Manakala Mu Qingxue menyuruhnya mencoba sendiri, hasilnya tidak sempurna tapi tidak juga mengecewakan.
“Kau bisa memasak sebelumnya?” tanya Mu Qingxue.
“Sedikit,” jawab bocah itu. “Paman tidak pandai masak. Jadi kadang aku yang masak.”
Mu Qingxue tidak bertanya lebih lanjut tentang paman itu. Ada hal-hal yang lebih baik dibiarkan menjadi latar belakang untuk sementara waktu.
Alhasil ada kehangatan yang mulai mengisi rumah kayu itu dengan cara yang berbeda dari tiga tahun sebelumnya. Lebih ramai dan hidup. Mu Qingxue menemukan dirinya menyiapkan tiga mangkuk tanpa perlu diingatkan.
Tapi ada hal-hal yang tidak dia ceritakan kepada siapa pun.
Suatu pagi, dia menyuruh bocah itu mengambil air dari sumur belakang. Bocah itu mengangguk dan pergi. Dari dapur, Mu Qingxue bisa melihat sebagian halaman belakang melalui jendela, dan dia sedang memotong bahan masakan sambil sesekali melirik ke arah sumur.
Bocah itu berdiri di dekat sumur dengan ember di tangannya.
Ketara sekali bibirnya bergerak, dan itu bukan seperti orang yang bersenandung. Mu Qingxue melihatnya seperti seseorang yang sedang menjawab pertanyaan dari orang yang tidak terlihat. Suaranya tidak sampai ke dapur, tapi intonasinya kaku untuk anak empat belas tahun berbicara kepada dirinya sendiri di depan sumur.
Lalu bocah itu mendongak seolah menyadari sesuatu, dan matanya bertemu dengan jendela dapur.
Satu detik, warnanya berbeda. Hitam pekat, rata, seperti orang yang semua pupilnya melebar sampai tidak ada lagi warna lain yang tersisa sebelum kembali normal.
Bocah itu tersenyum ke arah jendela dan mengangkat ember, seolah baru selesai mengambil air.
Sedangkan Mu Qingxue meletakkan pisau di atas talenan dan menunggu detak jantungnya kembali ke kecepatan yang wajar.
Kendati demikian, saat bocah itu masuk ke dapur membawa ember yang penuh, dia berkata, “Terima kasih,” dan menerima air itu.
Sore berikutnya, Mu Qingxue menemukan ayam itu di dekat dinding lumbung.
Ayam betina milik tetangga yang kadang masuk ke halaman mereka melalui celah pagar yang tidak pernah sepenuhnya diperbaiki. Biasanya dia pergi sendiri kalau diusir. Sekarang dia tergeletak mati dengan leher yang terpelintir ke sudut yang tidak mungkin terjadi kalau jatuh.
Mu Qingxue berdiri di dekatnya beberapa saat sebelum bocah itu muncul dari balik lumbung dengan tangan berlumuran tanah, rupanya sedang mencabut rumput liar di sisi belakang. “Nyonya Mu?” Pandangannya mengikuti arah tatapan Mu Qingxue, lalu matanya melebar. “Oh. Tadi aku lihat serigala,” celetuk bocah itu sambil menunjuk ke arah semak di tepi hutan yang berbatasan dengan halaman mereka. “Masuk dari sana. Mau aku usir tapi sudah terlambat.”
Mu Qingxue menatap semak itu. Lalu menatap ayam itu lagi. Lehernya terpelintir dengan sangat rapi, hampir simetris, tidak seperti bekas gigitan atau cakaran.
“Serigala?” ulangnya lirih.
“Iya.” Bocah itu mengangguk. Matanya lurus, tidak bergerak terlalu cepat. “Aku tidak sempat teriak minta tolong.”
“Ya sudah.” Mu Qingxue mengangguk sekali. “Kalau begitu sekarang bersihkan dulu. Nanti biar aku kembalikan ke pemiliknya.”
Bocah itu berlari ke sumur untuk cuci tangan.
Mu Qingxue masih berdiri di depan ayam itu, dan dalam hatinya bertanya apakah serigala yang dia maksud berbentuk empat kaki atau sesuatu yang lain.
Tak berselang lama, gulungan kontrak tiba lewat perantara yang datang sore hari dengan wajah tertutup kain dan tidak masuk ke pekarangan, hanya melempar gulungan itu ke arah Huang Shen yang sedang berdiri di dekat pagar.
Huang Shen membukanya, membacanya sekilas, lalu melipat dan memasukkan ke saku jubahnya.
“Pedagang budak di Kota Wenling,” tuturnya kepada Mu Qingxue yang sudah ada di sampingnya. “Selama tiga hari.”
Mu Qingxue menatap mukanya. Tidak ada ekspresi baru di sana, tidak ada yang berubah dari cara dia memegang informasi itu. Tapi di dalam dadanya sendiri, ada sesuatu yang turun beberapa derajat.
“Kau harus pergi sekarang?”
“Besok pagi.”
Malam itu mereka makan bertiga seperti biasa. Bocah itu bercerita tentang ayam tetangga yang “dimakan serigala” dengan versi yang sedikit lebih dramatis dari yang dia ceritakan sore tadi, lengkap dengan gestur tangan. Sementara Mu Qingxue mendengarkan sambil menatap mangkuknya dan Huang Shen tidak berkomentar.
Setelah bocah itu kembali ke lumbung dan pintunya tertutup, Huang Shen berdiri dari kursi.
“Jangan biarkan dia masuk rumah,” tandasnya. Suaranya datar seperti biasa, tapi ada penekanan di setiap katanya yang membuat kalimat itu terasa lebih berat dari yang terdengar. “Aku akan kembali tiga hari lagi.”
Mu Qingxue sendiri hanya bisa mengangguk.
“Dan kalau ada yang aneh—”
“Aku tahu,” sela wanita itu. “Aku akan segera beritahumu saat kau pulang.”
Huang Shen menatapnya lebih lama dari yang diperlukan, lalu masuk ke kamar.
Di wajah Mu Qingxue, kekhawatiran yang tidak bisa dia sembunyikan itu tetap tinggal bahkan setelah pintu kamar tertutup.
Huang Shen pergi sebelum fajar, tanpa suara, seperti biasanya.
Kini rumah itu terasa berbeda dengan cara yang sulit dijelaskan. Mungkin karena dari lumbung masih terdengar suara-suara kecil seperti biasa, seperti sesuatu yang selama ini berdiri di sudut ruangan dan tidak terlihat tapi terasa, sekarang tidak ada.
Mu Qingxue duduk di ruang tamu dengan secangkir minuman jahe hangat sambil mendengarkan malam.
Dari lumbung, suara bocah itu berhenti sekitar satu jam setelah lampu dipadamkan. Tidur, seperti seharusnya.
Lalu, menjelang tengah malam, suara itu mulai terdengar.
Dia akan bersumpah pada siapapun jika suara yang pertama kali didengar Mu Qingxue terdengar seperti satu orang berbicara pelan dalam bahasa yang tidak dia kenal. Tapi semakin lama didengarkan, semakin jelas bahwa itu bukan satu suara. Ada beberapa, mungkin lebih dari beberapa, semua berbicara dalam nada yang berbeda-beda, saling menimpa, saling menjawab dalam pola yang teratur tapi tidak bisa diterjemahkan.
Semua keluar dari satu mulut di dalam lumbung sampai-sampai Mu Qingxue berdiri dari kursinya.
Kakinya membawanya ke arah pintu belakang, lalu ke halaman, lalu ke depan pintu lumbung yang tertutup. Di balik papan kayu yang sudah lapuk di beberapa bagian, suara itu terus berlanjut.
Tangannya menyentuh dinginnya gagang pintu lumbung kala suara itu terus berlangsung di dalam, bergantian, saling merespons seperti rapat yang tidak punya ketua.
Mu Qingxue berdiri di sana, jarinya menggenggam gagang itu, tidak membuka dan tidak melepaskan. Sebelum semua suara berhenti sekaligus.
Keheningan yang menyusul turun seperti kejutan, dan Mu Qingxue menyadari bahwa jantungnya sudah berdetak lebih keras dari yang dia izinkan dirinya sadari.