NovelToon NovelToon
Kronik Dewa ASURA:Jalur Penentang Takdir Season 2

Kronik Dewa ASURA:Jalur Penentang Takdir Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: hakim2501

Tagline:
"Ketika Pahlawan jatuh ke Neraka, dia tidak berdoa untuk diselamatkan. Dia bersiap untuk mengambil alih Tahta."

Sinopsis Cerita:

Ye Chen, sang penyelamat Alam Roh Sejati, telah membayar harga termahal demi menyelamatkan dunia dari kehancuran. Akibat memaksakan kekuatan Lima Kunci dan menahan jatuhnya Pulau Langit,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Gua Akar Darah dan Konversi Qi Dewa

Matahari ungu di Alam Dewa Kuno mulai terbenam, melemparkan bayangan panjang yang menyeramkan di Hutan Kristal Merah. Suhu udara turun drastis, mengubah panas yang membakar menjadi dingin yang membekukan tulang dalam hitungan menit. Perubahan suhu ekstrem ini adalah salah satu alasan mengapa makhluk lemah tidak bisa bertahan hidup di alam ini.

Ye Chen dan Lilith menemukan tempat persembunyian di bawah akar raksasa pohon kristal yang telah mati. Akar-akar itu membentuk gua alami yang tertutup semak belukar berduri, cukup untuk menyembunyikan aura mereka dari predator.

"Hah... Hah..."

Lilith jatuh terduduk, bersandar pada dinding akar yang dingin. Kulitnya yang biasanya pucat menggoda kini terlihat abu-abu dan kering. Sayap kelelawarnya layu.

"Aku merasa... seperti ikan yang ditarik ke darat," bisik Lilith lemah. "Qi di sini mengandung elemen Yang yang terlalu suci. Setiap tarikan napas membakar paru-paru iblisku."

Ye Chen duduk di hadapannya. Kondisinya sedikit lebih baik berkat Tulang Emas, tapi dia juga kelelahan. Gravitasi 5.000 kali lipat membuat setiap gerakan memakan energi seratus kali lebih banyak dari biasanya.

"Bertahanlah," kata Ye Chen. Dia mengeluarkan beberapa potong daging Kelinci Mutan (yang dia bunuh sebelumnya) dan melemparkannya ke Lilith. "Makan ini. Daging ini mengandung energi adaptif dunia ini."

Lilith memakan daging mentah itu dengan rakus, mengabaikan rasa amisnya.

Ye Chen kemudian memejamkan mata. Dia harus segera memulai proses yang paling krusial bagi setiap Ascender (Pendaki) yang baru tiba di Alam Dewa: Konversi Qi.

Qi yang dia miliki sekarang adalah Qi Roh (Spirit Qi). Di dunia bawah, itu adalah energi tingkat tinggi. Tapi di sini, itu hanyalah "udara kotor". Untuk menggunakan kekuatan penuh di Alam Dewa, dia harus mengganti seluruh Qi Roh di tubuhnya menjadi Qi Dewa (God Qi).

"Sutra Kaisar Asura... Bab Alam Dewa."

Ingatan kuno dari Mutiara Penelan Surga terbuka di benaknya.

[Teknik Penempaan Tubuh Bintang (Star Body Forging Technique)]

"Menggunakan tekanan Alam Dewa sebagai palu, dan Qi Dewa sebagai api. Hancurkan tubuh fana, bangkitkan tubuh bintang. Jadikan kulit sekeras meteor, jadikan darah seberat sungai perak."

"Mulai."

Ye Chen mengaktifkan Mutiara Penelan Surga.

WUUUNG!

Pusaran hitam kecil terbentuk di perutnya.

Kali ini, dia tidak menyerap energi dari musuh. Dia menyerap energi dari Udara.

Qi Dewa yang liar, padat, dan berat disedot masuk ke dalam tubuh Ye Chen.

"ARGH!"

Ye Chen mengerang tertahan.

Rasanya seperti menuangkan besi cair ke dalam pembuluh darahnya. Qi Dewa itu jauh lebih berat daripada Qi Roh. Saat Qi Dewa masuk, ia menekan dan menghancurkan Qi Roh lama milik Ye Chen, memaksa meridiannya melebar paksa hingga hampir pecah.

Darah merembes dari pori-pori Ye Chen. Bukan darah merah, melainkan darah kehitaman—kotoran dari tubuh fananya yang dibuang paksa.

Lilith melihat Ye Chen dengan cemas. "Ye Chen! Tubuhmu berasap!"

"Diam... Jangan sentuh aku," desis Ye Chen, matanya terpejam erat.

Dia memandu Qi Dewa yang liar itu menuju Pondasi Inti Emas-nya.

KRAK!

Inti Emas Ye Chen retak di bawah tekanan energi baru itu. Tapi tidak hancur. Retakan itu perlahan diisi oleh cahaya putih keperakan—warna dari Qi Dewa.

Satu jam... Dua jam...

Proses ini menyiksa. Tapi Ye Chen sudah terbiasa dengan rasa sakit. Dia menjadikan rasa sakit itu sebagai fokus meditasinya.

Menjelang tengah malam, Ye Chen membuka matanya.

FUUUHHH...

Dia menghembuskan napas panjang. Udara kotor berwarna abu-abu keluar dari mulutnya, langsung membeku menjadi debu saat menyentuh lantai.

Ye Chen mengepalkan tangannya.

"10%," gumam Ye Chen. "Aku baru berhasil mengonversi 10% dari total energiku menjadi Qi Dewa."

Meskipun hanya 10%, perbedaannya sangat terasa.

Tekanan gravitasi yang tadinya membuatnya sesak napas, kini terasa lebih ringan. Dia merasa bisa bergerak lebih leluasa, setidaknya setara dengan gerakan normal manusia biasa (bukan kultivator super, tapi cukup untuk bertarung).

"Tingkat kultivasiku turun secara teknis," analisis Ye Chen. "Karena Qi Roh-ku dibuang, aku turun dari Spirit Severing Tingkat 1 kembali ke Nascent Soul Tingkat Puncak dalam standar dunia ini."

"Tapi... kualitas kekuatanku meningkat."

Ye Chen menoleh ke Lilith. Wanita iblis itu menggigil kedinginan.

"Kemarilah," kata Ye Chen.

Lilith merangkak mendekat.

Ye Chen menempelkan telapak tangannya ke punggung Lilith.

"Aku akan menyalurkan sedikit Qi Dewa yang sudah kumurnikan dengan sifat Asura. Ini tidak akan membakarmu, tapi akan membantumu beradaptasi."

Ye Chen mentransfer energi.

"Ahh..." Lilith mendesah lega. Rasa sakit di tubuhnya mereda. Sayapnya mulai pulih.

"Terima kasih, Tuan," bisik Lilith, menyandarkan kepalanya di bahu Ye Chen. "Tanpamu, aku pasti sudah mati di jam pertama."

"Simpan terima kasihmu. Kau harus berguna," kata Ye Chen datar.

Ye Chen kemudian melihat ke dinding gua akar tempat mereka bersembunyi.

Saat dia berkultivasi tadi, getaran energinya merontokkan tanah di dinding gua, memperlihatkan sesuatu yang berkilau di baliknya.

Ye Chen mendekat dan mengusap tanah itu.

Sebuah kristal berwarna merah darah tertanam di akar pohon.

"Ini..."

Ye Chen mencungkilnya dengan belati. Kristal itu seukuran jempol, memancarkan panas yang nyaman.

Batu Dewa Tingkat Rendah (Low-Grade God Stone).

Mata uang dan sumber energi utama di Alam Dewa.

"Satu batu ini... energinya setara dengan 10.000 Batu Roh Ungu di dunia bawah," taksir Ye Chen.

Dan di dinding gua itu, ada belasan lagi yang tertanam.

"Pohon kristal ini mati karena akarnya tumbuh di atas urat bijih Batu Dewa," sadar Ye Chen. "Rejeki nomplok."

Ye Chen segera menggali. Dia mengumpulkan sekitar 20 butir Batu Dewa Tingkat Rendah.

"Dengan ini, aku bisa membeli informasi atau makanan di kota nanti. Atau mempercepat konversiku."

Namun, kegembiraan itu tidak berlangsung lama.

Telinga Ye Chen yang tajam menangkap suara di luar gua.

Suara endusan napas binatang. Dan suara langkah kaki ringan yang melompat di atas dahan.

"Mereka menemukan kita," bisik Ye Chen, mematikan api unggun kecil yang sempat dia buat.

"Siapa? Pemburu tadi?" tanya Lilith tegang.

"Bukan. Pemburu tadi terlalu berisik. Ini... pelacak."

Ye Chen mengintip melalui celah akar.

Di luar, di tengah kegelapan hutan, tiga ekor binatang aneh sedang mengendus tanah tempat Ye Chen mendarat sebelumnya.

Mereka berbentuk seperti anjing, tapi tidak memiliki bulu. Kulit mereka licin berlendir, dan mereka tidak memiliki mata. Hanya hidung besar dan mulut penuh gigi jarum.

Anjing Pelacak Hampa (Void Hounds).

Dan di belakang anjing-anjing itu, berdiri dua sosok berjubah abu-abu yang menyatu dengan bayangan pohon.

Mereka bukan dari Klan Pemburu Angin (gadis muda tadi). Mereka memakai lambang yang berbeda: Mata Satu yang Menangis.

"Organisasi Pembunuh?" batin Ye Chen.

Salah satu sosok itu berbicara dengan suara pelan.

"Jejak Ascender itu berakhir di sini. Hawa murni dari dunia bawah masih tercium."

"Tangkap dia hidup-hidup. Tuan Kota Batu Merah ingin tahu bagaimana cara seorang Ascender membunuh tiga Semut Api Merah yang bahkan prajurit kota pun hindari."

Ye Chen mengerutkan kening.

Berita tentang pembunuhan semut itu sudah menyebar? Tentu saja. Gadis pemburu itu pasti melapor atau menjual informasi itu.

"Dua orang. Kultivasi: Spirit Severing Tingkat 5," analisis Ye Chen.

Di dunia bawah, Ye Chen bisa membunuh mereka dengan jentikan jari.

Tapi di sini... dengan gravitasi yang menekan dan Qi yang belum pulih, melawan dua Tingkat 5 adalah tantangan berat.

Ye Chen menatap Lilith.

"Kau bisa bertarung?"

"Sedikit. Aku bisa menggunakan ilusi untuk membingungkan anjing-anjing buta itu."

"Bagus. Itu cukup."

Ye Chen memegang Pedang Naga Langit (dalam bentuk pedang pendek/dagger untuk efisiensi di ruang sempit).

"Kita serang duluan."

Ye Chen tidak menunggu digerebek. Dia menjadi pemburunya.

Ye Chen menendang dinding akar yang rapuh di samping gua.

BRAK!

Dia melompat keluar dari samping, bukan dari pintu depan.

"Kejutan!"

Ye Chen menerjang salah satu pembunuh dari samping.

Pembunuh itu terkejut, tapi reaksinya cepat. Dia mengangkat pedang lengkungnya.

TRANG!

Ye Chen merasakan tangannya bergetar. Tenaga Spirit Severing di dunia ini sangat padat.

"Fisikmu kuat, Budak!" seru pembunuh itu.

"Anjing!" teriak pembunuh kedua. "Serang dia!"

Tiga anjing pelacak itu menerjang Ye Chen.

"Lilith! Sekarang!"

Lilith muncul dari gua, matanya bersinar merah muda.

Sihir Iblis: Kebingungan Aroma!

Dia melepaskan gas halusinogen yang mengacaukan indra penciuman anjing-anjing itu. Anjing-anjing buta itu bingung, mulai saling menggigit satu sama lain karena mengira temannya adalah musuh.

Ye Chen memanfaatkan kekacauan itu.

Dia tidak adu tenaga dengan pembunuh pertama. Dia menggunakan teknik.

Teknik Pedang Asura: Aliran Air (Deflection).

Dia membelokkan pedang pembunuh itu ke samping, lalu maju selangkah.

Tangan kirinya, yang jari-jarinya sudah mengeras menjadi Cakar Naga (transformasi parsial), menusuk leher pembunuh itu.

CRASS!

Zirah kulit pembunuh itu tembus. Tenggorokannya robek.

Satu mati.

Pembunuh kedua melihat temannya tewas dalam sekejap. Dia tidak marah, dia takut.

"Informasi salah! Dia bukan Ascender biasa! Dia petarung veteran!"

Pembunuh kedua melempar bom asap dan mencoba lari.

"Jangan harap."

Ye Chen mengambil pedang lengkung milik mayat pembunuh pertama. Dia mengalirkan sisa Qi Dewa yang baru dia konversi ke dalam pedang itu.

"Pergilah."

Dia melempar pedang itu.

WUUUSH!

Pedang itu melesat menembus asap, menancap di punggung pembunuh yang lari.

"Argh!"

Pembunuh itu jatuh.

Ye Chen berjalan mendekat, mencabut pedangnya.

"Selamat datang di Alam Dewa," bisik Ye Chen pada mayat itu. "Di mana pemburu menjadi buruan."

Dia mengambil cincin penyimpanan mereka.

"Ayo pergi, Lilith. Sebelum mayat-mayat ini memancing monster yang lebih besar."

Ye Chen dan Lilith menghilang ke dalam kegelapan hutan, meninggalkan jejak mayat di belakang mereka. Reputasi Ye Chen sebagai "Ascender Berbahaya" mulai terbentuk di wilayah pinggiran Alam Dewa.

(Akhir Bab 14)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!