Alam Atas (Tiga Puluh Tiga Surga) sedang menghadapi akhir dari usianya yang telah berjalan miliaran tahun. Energi Dao mulai membeku. Para Penguasa Purba menyebutnya Kalpa Angin Salju. Untuk bertahan hidup dari kiamat kosmik ini, para penguasa Alam Atas menanam "Ladang Dunia Fana" (seperti dunia asal Shen Yu) untuk memanen energi kehidupan.
Kedatangan Shen Yu (Ketiadaan) dan Lin Xue (Teratai Primordial) adalah anomali. Bagi Alam Atas, Lin Xue adalah kayu bakar abadi yang bisa menghangatkan mereka dari musim dingin kosmik, sedangkan Shen Yu adalah badai salju yang akan mempercepat kehancuran mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Jurang Makam Senjata
Surga Kedua - Alun-Alun Kota Roda Besi.
Darah sang Eksekutor Bintang telah tersapu oleh debu kelabu, namun keheningan yang mencekik masih menyelimuti puluhan ribu kultivator Sekte Malam Abadi. Di hadapan takhtanya, seorang tawanan tua dari Klan Api Tembaga yang dulunya merupakan tetua arsip gemetar hebat hingga dahinya menempel pada lantai baja yang retak.
"J-Jurang Makam Senjata Leluhur..." rintih tetua tua itu, suaranya parau oleh ketakutan absolut. "Itu berada di ujung paling barat Surga Kedua... Tempat di mana para Dewa Kuno saling membantai puluhan ribu tahun yang lalu. Tidak ada faksi yang berani mengklaim wilayah itu, karena pedang yang patah di sana memiliki arwah yang akan memotong jiwa siapa pun yang mendekat."
Shen Yu menatap tawanan itu dengan mata kiri yang memancarkan kilau perak dan emas tipis. Ia telah mengasimilasi hukum cahaya sang Dewa Sejati, namun tanpa wadah yang tepat, kekuatan itu ibarat naga liar yang terkurung di dalam kendi tanah liat. Sabit Penebas Langit miliknya yang setia menemaninya dari alam bawah mulai menunjukkan retakan halus saat dialiri hukum Surga Kesembilan.
"Sempurna," Shen Yu bangkit berdiri. Ia menoleh pada Mo Han yang berlutut di sisi takhta. "Kunci kota ini. Jika ada satu armada pun dari faksi lokal yang mencoba mengambil alih selama ketidakhadiranku, aku akan meminta pertanggungjawaban dari kepalamu."
"Hamba akan menjaga kota ini hingga tetes darah terakhir, Tuan Shen!" Mo Han berseru, matanya menyala dengan fanatisme.
Shen Yu melirik Lin Xue. Tanpa perlu bertukar kata, Ratu Abadi itu melangkah maju. Keduanya melesat membelah langit Surga Kedua, meninggalkan Kota Roda Besi dalam persiapan perang yang tegang, menuju ke barat yang dilupakan oleh waktu.
Surga Kedua - Perbatasan Barat, Jurang Makam Senjata.
Berbeda dengan dataran karat yang membosankan, wilayah barat adalah manifestasi dari kehancuran absolut. Bumi terbelah membentuk sebuah jurang raksasa yang lebarnya mencapai ratusan mil, dengan kedalaman yang tak terukur.
Tidak ada kabut kelabu di sini. Udara di atas jurang itu dipenuhi oleh kilatan-kilatan cahaya tajam niat pedang, tombak, dan kapak purba yang telah tertinggal selama ribuan tahun, memotong ruang hampa hingga menciptakan retakan dimensi yang berkedip-kedip.
Shen Yu dan Lin Xue mendarat di tepi tebing yang bergerigi. Suara dengungan logam bernada rendah keluar dari dasar jurang, terdengar seperti jutaan jiwa yang meratap.
"Hawa pembunuhnya murni," gumam Lin Xue, pedang teratainya di pinggangnya bergetar pelan, merespons dominasi senjata-senjata purba di bawah sana. "Niat membunuh yang ditinggalkan oleh para ahli di atas ranah Dewa Sejati."
"Senjata yang ditinggalkan tuannya hanyalah anjing tak bertuan," Shen Yu menyeringai dingin. "Mari kita lihat apakah ada tulang di bawah sana yang cukup keras untuk menjadi tulang punggung sabitku."
Shen Yu melangkah dari tebing, menjatuhkan dirinya ke dalam jurang tanpa menggunakan pelindung Qi. Lin Xue menyusul di belakangnya, membiarkan gravitasi Surga Kedua menarik mereka ke dalam kegelapan.
Begitu mereka melewati batas awan miasma di dalam jurang...
TRIIING! ZRAAAASH!
Ribuan pedang patah, tombak berkarat, dan bilah kapak yang tertanam di dinding tebing mendadak bergetar. Didorong oleh sisa-sisa kehendak tuan purba mereka, senjata-senjata itu melesat keluar dari dinding batu, membentuk sungai logam mematikan yang mengarah tepat ke arah dua penyusup tersebut.
"Mereka memiliki insting," Lin Xue menyipitkan mata, bersiap mencabut pedangnya.
"Biarkan saja," suara Shen Yu santai di tengah jatuhnya mereka. "Anggap ini sebagai ujian ketajaman."
Shen Yu merentangkan kedua tangannya. Ia tidak menggunakan Ketiadaan. Ia membiarkan ribuan senjata purba itu menghantam tubuh fisiknya secara langsung.
TRANG! KLANG! KRAAAK!
Bilah-bilah senjata yang mampu membelah gunung di dunia fana itu menghantam dada, punggung, dan lengan Shen Yu. Namun, alih-alih menembus dagingnya, senjata-senjata purba itu justru patah dan hancur berkeping-keping saat berbenturan dengan kulitnya yang memancarkan kilau baja dari Tulang Besi Naga Bintang. Tubuh sang Tiran telah menjadi artefak penahan dewa itu sendiri.
Melihat Shen Yu mengabaikan badai pisau itu, Lin Xue melepaskan Domain Teratai Waktu-nya. Bunga-bunga es ungu bermekaran di sekitarnya, memperlambat dan membelah setiap senjata yang mencoba mendekatinya, membiarkan mereka jatuh ke dasar jurang dengan damai.
Setelah beberapa saat terjun bebas, kaki Shen Yu akhirnya menghantam dasar jurang.
BUM!
Pijakan mereka bukanlah tanah atau batu, melainkan gunungan senjata yang telah melebur menjadi satu lantai logam padat yang luas. Di tengah lautan senjata yang terbuang itu, menjulang sebuah pilar hitam yang aneh.
Pilar itu bukanlah tiang bangunan, melainkan sebilah pedang raksasa yang pangkalnya telah hancur. Pedang patah itu menancap di dasar jurang, memancarkan aura kegelapan purba yang begitu pekat hingga cahaya emas yang Shen Yu telan dari Eksekutor Bintang sedikit bergejolak di dalam Dantian-nya.
"Baja Kekacauan Primordial," mata Lin Xue membelalak saat ia mengenali material tersebut. "Itu adalah logam yang terbentuk sebelum Tiga Puluh Tiga Surga dipisahkan. Material yang menolak segala bentuk hukum alam."
"Menolak hukum alam," Shen Yu tertawa pelan. "Pantas saja senjata-senjata sampah di sekitarnya tidak berani mendekat."
Shen Yu melangkah maju mendekati pedang patah raksasa itu. Begitu ia berada dalam jarak sepuluh tombak, aura pedang patah itu meledak. Bayangan raksasa dari seorang Dewa Kuno ilusi dari pemilik asli pedang itu terwujud dari kabut hitam, menatap Shen Yu dengan kemarahan absolut.
"SIAPA YANG BERANI MENYENTUH PUSAKA RAJA IBLIS?!" raung bayangan itu, mengayunkan tinju raksasa yang terbuat dari niat pedang.
Shen Yu tidak berhenti melangkah. Cincin perak dan kilat emas di mata kirinya berputar serentak.
"Raja Iblis purba," desis Shen Yu, mengangkat tangan kanannya. "Di eraku, kaulah yang harus berlutut!"
Shen Yu melepaskan Api Ketiadaan secara penuh. Kegelapan mutlak melesat dan bertabrakan dengan bayangan Dewa Kuno tersebut. Ilusi yang telah bertahan puluhan ribu tahun itu menjerit saat Ketiadaan memakan sisa-sisa kesadarannya, menghapusnya dari eksistensi tanpa sisa.
Dengan hilangnya sang penjaga, pedang raksasa yang terbuat dari Baja Kekacauan itu berhenti berdengung, takluk pada otoritas Kematian yang lebih nyata.
Shen Yu mengulurkan tangan kirinya, memanggil Sabit Penebas Langit. Sabit hitam itu bergetar pelan di tangannya, seolah merasakan panggilan evolusi.
"Ini bukan tungku alkimia, dan aku bukan seorang penempa yang patuh pada aturan," Shen Yu duduk bersila di depan pedang purba raksasa itu. "Xue'er, aku butuh api kehidupanmu untuk menstabilkan kehampaanku. Kita akan melebur baja primordial ini dengan paksa."
Lin Xue mengangguk. Ia duduk di seberang Shen Yu, meletakkan kedua telapak tangannya ke bilah pedang raksasa itu. Api Teratai yang memancarkan aura Dao Kehidupan dan Waktu meledak dari tangannya, membungkus Baja Kekacauan itu dengan hawa dingin yang anehnya membakar.
Di saat yang sama, Shen Yu menempelkan tangan kanannya ke sisi lain dari pedang patah tersebut, melepaskan Api Ketiadaan murni.
Benturan antara Ketiadaan yang memusnahkan dan Teratai yang memberi kehidupan menciptakan sebuah fenomena. Pedang Baja Kekacauan raksasa itu mulai meleleh! Logam yang tidak bisa dihancurkan oleh hukum alam mana pun itu kini mencair perlahan menjadi cairan hitam pekat yang dihiasi debu bintang.
"Sekarang!" raung Shen Yu.
Ia melemparkan Sabit Penebas Langit miliknya tepat ke tengah cairan logam primordial yang melayang di udara itu.
Shen Yu memfokuskan pikirannya, memaksa hukum emas dari Dewa Sejati yang ia telan, serta hukum Dao Waktu peraknya, mengalir keluar dari Dantian-nya dan menyatu dengan cairan baja primordial tersebut.
Terjadi penolakan yang sangat luar biasa. Cairan logam itu memberontak, memancarkan gelombang kejut yang meremukkan tumpukan pedang di dasar jurang. Mencoba menggabungkan Kekacauan Primordial, Hukum Dewa Sejati, Ketiadaan, dan Waktu ke dalam satu wadah adalah tindakan bunuh diri bagi kultivator mana pun.
Namun Shen Yu menggertakkan giginya, Tulang Besi Naga Bintang-nya mengerang menahan beban spiritual. Jantung Iblis-nya memaksakan kehendak mutlaknya ke atas logam tersebut.
"Tunduk padaku, atau hancur menjadi ketiadaan abadi!" perintah Shen Yu pada cairan logam tersebut.
Perlahan namun pasti, di bawah tekanan tanpa ampun dari sang Tiran dan bantuan Dao Kehidupan Lin Xue yang merajut kembali struktur yang hancur, cairan logam itu mulai menyatu dengan Sabit Penebas Langit.
Satu jam... dua jam... waktu di dasar jurang seakan berhenti.
Hingga akhirnya, ledakan cahaya hitam pekat yang diselingi kilatan emas dan perak melesat ke atas, membelah langit jurang tersebut hingga menembus lapisan awan Surga Kedua.
Shen Yu membuka matanya, terengah-engah, namun senyum tiraninya melebar.
Ia mengulurkan tangannya.
Sebilah sabit bermanifestasi dari udara kosong dan melayang ke genggamannya. Bentuknya tidak lagi compang-camping seperti senjata alam fana. Gagangnya kini terbuat dari jalinan logam hitam pekat yang memancarkan aura naga bintang. Bilahnya yang melengkung melambangkan sabit maut, berwarna hitam absolut dari Ketiadaan, namun di tengah bilah tersebut, mengalir satu urat emas (Hukum Cahaya Dewa Sejati) dan satu urat perak (Dao Waktu) yang berdenyut seirama dengan detak jantungnya.
Ini bukan lagi sekadar senjata. Ini adalah artefak yang lahir dari penolakan mutlak terhadap Tiga Puluh Tiga Surga.
"Sabit Penebas Langit telah berevolusi," Shen Yu mengelus bilah yang sedingin es itu. "Mulai sekarang, namamu adalah Pemutus Samsara Primordial."
Seketika, seluruh senjata sisa di dasar makam itu bergetar hebat, lalu serentak hancur menjadi debu besi, seolah bersujud menyerahkan eksistensi mereka kepada raja senjata yang baru saja lahir.
Lin Xue perlahan bangkit, menyeka keringat dari dahi putihnya. "Senjata itu... ia bisa membunuh Dewa Sejati hanya dengan satu goresan."
"Ya," Shen Yu bangkit berdiri, menyandarkan sabit barunya di bahunya. Aura dominasinya kini terasa sempurna dan tak tergoyahkan. "Sekarang kita memiliki gigi yang tajam. Mari kita kembali ke kota. Aku ingin melihat apakah armada Surga Kesembilan telah tiba untuk menjemput kematian mereka."
💪💪💪