Episode 1 – Pertemuan yang Tak Pernah Terduga
Arga Wibawa adalah putra dari seorang ayah yang memiliki perusahaan ternama di Jakarta. Takdir mempertemukannya kembali dengan Alya Putri Kirana, cinta pertamanya yang tak pernah bisa ia lupakan.
Sejak perpisahan mereka di bangku SMA, Arga harus mengikuti kedua orang tuanya pindah ke Bali karena ayahnya mendapatkan proyek besar di sana. Mau tak mau, Arga meninggalkan Jakarta dan melanjutkan pendidikan kuliahnya di Pulau Dewata. Meski waktu terus berjalan, bayangan Alya tak pernah benar-benar pergi dari pikirannya.
Bertahun-tahun kemudian, Arga akhirnya lulus dari kuliahnya. Dengan tekad yang kuat, ia memutuskan kembali ke Jakarta untuk mencari sang pujaan hati. Sebulan setelah kelulusannya, Arga bersiap dan terbang menuju kota yang penuh kenangan itu.
Setibanya di Jakarta, Arga mulai mencari pekerjaan sambil berusaha menelusuri keberadaan Alya.
Sementara itu, kehidupan Alya tak berjalan semulus ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandi Wabaswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 – Kejaran Tak Terelakkan
Langkah mereka tak berhenti hingga benar-benar jauh dari keramaian. Nafas Alya masih tersengal, sementara Arga terus menoleh ke belakang, memastikan tak ada yang mengikuti.
Setelah yakin keadaan sedikit aman, Arga menghentikan langkahnya.
“Sepertinya kita harus pindah rumah, Al,” ucap Arga serius. “Rumah yang kita tempati sekarang sudah tidak aman.”
Alya menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Ia mengangguk pelan.
“Baik, Ga… kalau itu bisa membuat kita aman dari pantauan Rayhan.”
Arga menggenggam tangan Alya erat, mencoba menenangkan.
“Tapi sebelum itu…” suara Alya melemah. “Aku ingin bertemu ayah. Aku ingin tahu bagaimana keadaan mereka sekarang.”
Arga terdiam sejenak. Ia tahu betapa berat permintaan itu, namun ia tak sanggup menolak.
“Baik,” ucapnya akhirnya. “Kita pulang dulu ke rumah, bereskan barang-barang seperlunya. Setelah itu, kita ke rumah sakit.”
“Kita mau pindah ke mana, Ga?” tanya Alya cemas.
“Setidaknya ke tempat yang jauh dan aman,” jawab Arga. “Kalau perlu, kita pindah ke kota lain. Yang penting Rayhan tidak bisa menemukan kita dengan mudah.”
Alya menunduk. Hatinya terasa perih.
“Tapi ayah dan mama… aku tidak rela meninggalkan mereka.”
Arga memandang Alya penuh pengertian.
“Kita tidak akan meninggalkan mereka,” ucapnya tegas. “Setelah kita jenguk, kalau memungkinkan, kita bawa mereka pergi dari sini. Kita mulai hidup baru bersama, tanpa tekanan dan ancaman.”
Alya menatap Arga dengan mata berkaca-kaca. Di balik rasa takut, tumbuh secercah harapan.
“Terima kasih, Ga…,” bisiknya.
Mobil mereka melaju membelah jalan kota. Di sepanjang perjalanan, ketegangan terus membayangi. Setiap kendaraan yang melintas, setiap bayangan yang bergerak, membuat jantung Alya berdetak lebih cepat.
Sementara itu, di tempat lain, Rayhan menerima laporan terbaru.
“Mereka lolos, Tuan. Tapi kami masih melacak keberadaan mereka.”
Rahman menyipitkan mata. Senyum tipis terbit di sudut bibirnya.
“Tak apa,” gumamnya dingin. “Permainan baru saja dimulai.”
Dan di tengah ketegangan yang kian menyesakkan, Arga dan Alya tak tahu bahwa setiap langkah mereka kini berada di bawah pengawasan, membawa mereka semakin dekat pada bahaya yang tak terelakkan.
Rayhan akhirnya bergerak. Semua titik laporan dari orang suruhannya ia ikuti dengan teliti. Amarah dan dendam membakar dadanya, mendorongnya untuk bertindak semakin nekat.
Mobilnya melaju kencang menuju rumah sederhana tempat Arga dan Alya tinggal.
Setibanya di sana, Rayhan langsung menggedor pintu dengan keras.
“Arga! Alya! Kalian keluar sekarang!” bentaknya.
Tak ada jawaban.
Ia menggedor lagi, lebih keras. Hanya sunyi yang menyambut. Hingga seorang tetangga yang kebetulan melintas berhenti dan menatapnya curiga.
“Mereka sudah pergi,” ucap tetangga itu.
Rayhan menoleh tajam. “Ke mana?”
“Ke arah sana, mungkin sepuluh menit yang lalu.”
“Brengsek!” umpat Rayhan sambil mengepalkan tangan.
Darahnya mendidih. Ia segera meraih ponsel dan menekan nomor orang suruhannya.
“Lekas bergerak! Cari mereka sekarang! Aku mau tahu di mana mereka berada!” bentaknya.
Telepon ditutup kasar. Rayhan berdiri di depan rumah kosong itu, menatap tajam seolah ingin merobek waktu.
“Kalian tidak akan bisa lari dariku,” gumamnya dingin.
Di sisi lain, mobil Arga melaju cepat membelah jalan. Alya duduk gelisah di sampingnya, jemarinya saling bertaut menahan cemas.
“Kita hampir tertangkap, Ga…” ucap Alya dengan suara bergetar. “Sekarang kita mau ke mana?”
Arga menatap lurus ke depan, rahangnya mengeras.
“Kita ke rumah sakit. Kita bawa ayah dan ibu pergi dari sini.”
“Sekarang juga?” tanya Alya kaget.
“Iya. Kita tidak punya banyak waktu,” jawab Arga tegas. “Sebelum Rayhan menemukan kita, kita harus menghilang.”
Alya menelan ludah. Dadanya terasa sesak, antara takut dan harap bercampur menjadi satu.
“Semoga kita tidak terlambat…” bisiknya pelan.
Mobil melaju semakin kencang, meninggalkan jejak ketegangan di belakang mereka, sementara takdir perlahan membawa mereka ke sebuah pertemuan yang akan menentukan segalanya.
Mobil Arga akhirnya memasuki area rumah sakit. Suasana terasa sunyi, hanya suara roda kendaraan yang bergesekan dengan aspal. Arga memarkirkan mobil di sudut paling sepi, jauh dari pintu utama, agar tidak mudah terpantau oleh orang suruhan Rayhan.
“Kita harus cepat, Al,” ucap Arga sambil menoleh waspada ke sekeliling.
Alya mengangguk. Wajahnya tegang, dadanya naik turun menahan gelisah. Tanpa membuang waktu, mereka segera bergegas menuju meja resepsionis.
“Maaf, Sus,” ucap Arga sopan. “Apakah di sini ada pasien bernama Pak Hermawan? Beliau sudah empat hari dirawat.”
Perawat itu mengetik beberapa saat di komputer, lalu mengangguk.
“Ya, benar. Pak Hermawan dirawat di ruang VIP 1. Silakan lurus saja, lalu belok kiri. Ruangannya ada di sebelah kanan.”
“Baik, terima kasih, Sus,” ucap Alya lirih.
Mereka melangkah cepat menyusuri lorong rumah sakit yang sunyi. Setiap langkah terasa berat bagi Alya. Jantungnya berdetak kencang, seolah takut tak sanggup menghadapi kenyataan.
Di depan pintu ruang VIP 1, Alya berhenti sejenak. Tangannya gemetar saat menyentuh gagang pintu.
“Kamu kuat, Al,” bisik Arga memberi semangat.
Alya mengangguk, lalu mendorong pintu perlahan.
Krek…
Pintu terbuka.
Di dalam, tampak sosok ayahnya terbaring lemah di ranjang rumah sakit, selang infus terpasang di tangannya. Ibu tirinya duduk di samping, wajahnya tampak letih dan penuh kecemasan.
“Ayah…!” teriak Alya sambil berlari menghampiri.
Pak Hermawan menoleh perlahan. Matanya membelalak, seolah tak percaya.
“Alya…” gumamnya lirih, suaranya bergetar.
Ibu tirinya bangkit, menutup mulut menahan tangis.
“Alya… kamu datang…”
Alya memeluk ayahnya erat, air matanya tumpah tanpa bisa ditahan.
“Maaf, Yah… Alya minta maaf…”
Pak Hermawan mengangkat tangan gemetar, mengusap rambut putrinya.
“Ayah yang seharusnya minta maaf, Nak…”
Tangis pecah memenuhi ruangan itu. Pertemuan yang telah lama dinanti akhirnya terjadi, namun di tengah kondisi yang penuh luka dan penyesalan.
Di luar sana, bahaya masih mengintai. Namun untuk sesaat, Alya hanya ingin menikmati detik berharga bersama ayahnya—tanpa tahu bahwa waktu mereka sangatlah terbatas.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰