Sawyer Reynolds, seorang mahasiswa miskin di Central International University, menghadapi penghinaan dari pacarnya, Stella Reed, dan mahasiswa kaya, Dylan Cooper, yang mencampakkannya karena uang. Setelah dipukuli dan dikeluarkan dari kelas, Sawyer ditemukan oleh seorang pria kaya, Samuel, yang ternyata adalah ayahnya yang telah lama hilang. Sawyer mengetahui bahwa ia adalah pewaris tunggal kekayaan triliunan dolar. Dengan identitas barunya sebagai seorang miliarder, Sawyer berencana untuk membalas dendam kepada mereka yang telah merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZHRCY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Mengajak??
Sawyer menganggukkan kepalanya dan berkata, "Baiklah. Selain itu, sepertinya kau baru di sini. Aku Sawyer Reynolds, kalau kau siapa?" Dia mengulurkan tangannya.
Wanita itu menatap tangan Sawyer yang terulur sejenak tetapi memilih untuk tidak menjabatnya. "Aku Megan Woods," katanya dengan tenang.
Sawyer tersenyum tipis lalu menarik kembali tangannya. "Senang bertemu denganmu, dan namamu bagus, Bu Megan. Juga, karena kau baru di sini, itu keren, dan yang paling penting, aku hanya ingin mengatakan, kau sangat cantik."
Dengan senyum tipis, Sawyer berdiri untuk pergi. Megan berdehem, menghentikan langkahnya. "Kau akan ke mana malam ini?"
"Mungkin tidur, hanya tidur," jawab Sawyer setelah jeda singkat.
Megan bertanya lagi, "Tidak ada pacar untuk diajak keluar malam hari?"
Dengan memaksakan senyum, Sawyer menggelengkan kepalanya.
Megan menggigit bibir bawahnya sebelum berkata, "Temanku merayakan ulang tahunnya malam ini. Aku akan kesana bersama yang lain. Apa kau ingin ikut?"
Sawyer memutar matanya lalu mengangguk enggan. "Lumayan juga. Kau bisa mengambil nomorku supaya bisa meneleponku nanti malam," tawarnya, mengambil inisiatif dengan menuliskan nomornya di secarik kertas.
Menerima kertas itu, Megan menatapnya langsung. "Aku akan menjemputmu jam enam sore, bersiaplah."
Sawyer tidak mengatakan apa-apa, hanya berbalik dan melangkah keluar.
Melihat kepergiannya, Megan menggelengkan kepala pelan. "Pria yang baik," gumamnya pada diri sendiri.
Sementara itu, segera setelah Sawyer keluar, dia menjernihkan pikirannya lalu langsung menuju pangkalan taksi, karena dia sudah bertekad secara pribadi untuk membeli mobil baru.
Setelah memberi tahu sopir tujuannya, taksi pun mulai berjalan. Sekitar setengah jam kemudian, taksi itu tiba di sebuah dealer mobil yang luas, lebih besar dari yang dia bayangkan.
Setelah membayar ongkos, Sawyer melangkah mantap menuju pintu masuk. Saat itu, seorang pria muda mendekat dan menyapanya. "Tuan, selamat datang! Belilah dari kami, kami punya mobil dan suku cadang terbaik yang kau inginkan."
Mengangguk sebagai balasan, Sawyer memperhatikan bahwa tempat itu tampaknya merupakan kumpulan beberapa pusat penjualan mobil dalam satu lokasi, masing-masing dengan tenaga penjual yang menunggu calon pembeli.
Tiba-tiba, seorang wanita lain dengan cepat mendekat, menanggapi tawaran sebelumnya. "Jangan dengarkan dia, Tuan. Belilah dari kami saja, kami menawarkan yang terbaik dan juga memberikan diskon."
Pria penjual itu mengerutkan alisnya, nadanya menjadi tegas. "Permisi, tapi aku yang pertama mengundangnya. Dia datang untuk membeli dari kami."
Wanita itu mendengus, menggelengkan kepala dengan meremehkan. "Kau pasti bercanda. Kami pilihan yang lebih baik."
Pria muda itu terkekeh dan berkata, "Kau dan aku tahu bahwa pilihan kami tidak tertandingi, dan layanan kami kelas atas. Kami menjamin kendaraan dan suku cadang berkualitas terbaik."
Wanita itu menegakkan bahunya, tidak gentar. "Oh, tolonglah," balasnya, "kami tidak hanya menawarkan produk unggulan, kami juga memberikan harga dan penawaran yang tak terkalahkan. Kepuasan pelanggan kami berbicara sendiri."
Suara mereka sedikit meninggi, pria muda itu membalas, "Kau hanya membuat klaim tanpa dasar! Reputasi kami sudah dikenal, dan pelanggan kami selalu kembali karena keandalan dan kualitas kami."
"Keandalan, katamu?" Wanita itu membalas. "Kami bukan hanya andal, kami melampaui harapan. Kami mengutamakan kebutuhan pelanggan, memastikan mereka pergi bukan hanya dengan mobil, tetapi dengan pengalaman yang tak tertandingi di tempat lain."
Sawyer terkejut dengan ketegangan yang tiba-tiba terjadi di tempat itu. Dia berdehem, mencoba meredakan situasi.
"Haruskah kalian bertengkar soal ini?" selanya, berharap meredakan ketidaknyamanan yang semakin terasa.
Berpaling kepada wanita itu, dia mulai menjelaskan, "Nyonya, maaf, tapi dia yang pertama mengundangku. Aku harus berurusan dengannya dulu sebelum mempertimbangkan tawaran lain. Mungkin lain kali, aku akan membeli mobil darimu." Ucapannya terdengar tulus.
Wanita itu sedikit mengerutkan kening, kekecewaan terlihat jelas di wajahnya. "Tapi kami yang terbaik, dan aku juga baru disini," keluhnya, menekankan kebutuhannya untuk melakukan penjualan demi mengesankan manajernya.
Sawyer menghela napas dengan pasrah. "Baiklah, begini saja, aku akan membeli..." Kata-katanya menggantung di udara, terhenti tiba-tiba saat pandangannya beralih dan tertuju pada sosok yang masuk ke ruangan tidak lain adalah Stella Reed, berjalan masuk bersama seorang wanita lain.
"Sial," gumamnya pelan pada dirinya sendiri, campuran frustrasi dan pasrah memenuhi pikirannya. "Haruskah aku melihat wanita ini kemanapun aku pergi? Dia selalu akan membuat masalah untukku," pikirnya.
Saat itu, ketika Stella masuk bersama temannya, pandangannya bertemu dengan Sawyer, yang berdiri di antara dua tenaga penjual.
Menoleh kepada temannya, dia berkata, "Lihat, Lisa, itu pria tidak berguna yang selama ini kuceritakan padamu."
Lisa melirik ke arah Sawyer dan bertanya, "Oh, mantan pacarmu? Itu dia?"
Stella mencibir dengan jijik, menolak anggapan hubungan masa lalu apa pun. "Mantan pacar? Omong kosong. Apa dia bahkan mampu menjadi pacarku?"
Lisa yang terhibur bertanya-tanya, "Aku penasaran apa yang dia lakukan disini. Apakah keberuntungan menghampirinya, atau dia di sini untuk membeli mobil untuk pamer?"
Stella tertawa mengejek. "Dunia akan kiamat pada hari dia mampu membeli mobil. Aku akan cari tahu." Setelah mengatakan itu, dia mempercepat langkahnya menuju Sawyer.
Melihat Stella mendekat, tenaga penjual wanita yang ingin menjadikan Sawyer sebagai pelanggan bergegas mendekat, mencoba menawarkan pilihan mobil yang tersedia.
"Selamat siang, Nyonya. Jika kau membutuhkan mobil pilihanmu, toko kami memiliki berbagai pilihan mulai dari BMW, Aud..." Ucapannya terpotong ketika Stella mengangkat tangannya, menghentikan promosi itu.
Dengan tatapan tajam yang diarahkan pada Sawyer, Stella menuntut, "Hei, kau! Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya.
Sawyer sedikit mengerutkan kening, menyapu pandangan ke seluruh tempat sebelum bertanya, "Siapa yang dipanggil hei kau di sini?" Dia menoleh kepada tenaga penjual wanita dan bertanya,
"Itu namamu?" Lalu, mengalihkan pandangannya ke tenaga penjual pria, dia mengulangi pertanyaan itu.
Ekspresi Stella mengeras saat dia membentak, "Jangan main-main denganku, Sawyer. Maksudku, apa yang kau lakukan di sini?"
Dengan sikap tenang, Sawyer melihat sekeliling, senyum tipis di bibirnya. "Aku tidak menemukan namamu tertulis di sini yang menunjukkan bahwa kau pemilik tempat ini untuk mempertanyakanku. Atau apakah kau manajer di sini? Apa kau pikir kau punya kendali atas hidupku?" tanyanya dengan marah.