Novel ini bercerita tentang intrik bisnis toko manisan dari keluarga Wijaya dengan toko manisan lainnya yang ada di kota Sagara. Toko keluarga Wijaya ini hancur karena fitnah dan anaknya mencari informasi yang dibantu oleh wartawan, polisi dan hakim umtuk memcari sumber fitnah tersebut
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Ashari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Iri yang mulai tumbuh
Malam merayap perlahan di atas atap-atap kota. Lampu-lampu jalan menyala temaram, membentuk bayangan panjang di aspal basah. Di dalam kamar sempit rumah kontrakan, Bima duduk bersila di lantai, dikelilingi tumpukan kertas, catatan, dan potongan berita. Di dinding, ia menempelkan skema hubungan antara nama-nama yang mulai ia kumpulkan.
Rangga Pradipta.
Aditya Pranowo.
Dinas Kesehatan.
Media Lokal.
Benang merah itu semakin terlihat, meski masih kabur.
Bima mengusap wajahnya lelah. Setiap petunjuk yang ia temukan justru membuka lorong baru yang lebih gelap. Seolah-olah, fitnah terhadap BOBA hanyalah pintu kecil menuju dunia penuh kepentingan, uang, dan kekuasaan.
Di sisi lain kota, Rangga berdiri di balkon apartemennya, menatap lampu-lampu Sagara dari ketinggian. Segelas minuman keras tergenggam di tangannya, nyaris tak tersentuh.
Ia tidak bisa tidur.
Bayangan wajah Surya yang terbaring di rumah sakit menghantui pikirannya. Tawa Bima yang dulu sering terdengar saat mengantar pesanan ke toko Permata Rasa kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian dalam imajinasinya.
“Seharusnya aku tidak sejauh ini…” gumamnya.
Namun, ketika ia menoleh ke meja kerja dan melihat kontrak investasi baru bernilai miliaran, perasaannya kembali mengeras.
Uang itu telah menyelamatkan usahanya. Pegawainya kembali. Rak-rak terisi penuh. Pelanggan mulai berdatangan.
Dan untuk semua itu, ia harus membayar dengan satu hal: nurani.
Ponselnya bergetar.
Aditya: Anak itu mulai mengendus. Jangan beri dia ruang bernapas.
Rangga mengetik cepat. Tenang. Saya sudah menyiapkan orang.
Ia memanggil salah satu anak buahnya.
“Awasi Bima. Laporkan setiap langkahnya. Kalau perlu, buat dia takut.”
“Siap, Bos.”
Sementara itu, Bima berjalan menyusuri gang sempit menuju rumah seorang mantan karyawan BOBA bernama Pak Arman. Pria itu telah bekerja lebih dari sepuluh tahun sebelum mengundurkan diri secara tiba-tiba.
Rumah kayu itu tampak rapuh. Lampunya redup.
Bima mengetuk pelan.
Tak lama, pintu dibuka sedikit. Mata Pak Arman membelalak saat melihatnya.
“Mas Bima?”
“Saya ingin bicara, Pak.”
Pak Arman ragu. Ia melirik ke kiri dan kanan, lalu mempersilakan Bima masuk dengan tergesa.
“Apa yang kamu cari, Nak?” tanyanya cemas.
“Kebenaran.”
Pak Arman terdiam lama. Tangannya gemetar saat menuangkan teh.
“Ada banyak hal yang tidak kamu ketahui,” katanya akhirnya. “Dan kalau aku bicara, hidupku bisa hancur.”
“Begitu juga keluarga saya, Pak,” balas Bima lirih.
Kalimat itu membuat Pak Arman menghela napas panjang.
“Setahun sebelum semua ini, Rangga beberapa kali datang ke toko. Ia menawarkan kerja sama, bahkan ingin membeli sebagian saham. Tapi ayahmu menolak mentah-mentah.”
Bima mengangguk. Ia mengingat betul penolakan itu.
“Sejak saat itu, aku merasa ada yang mengawasi. Beberapa karyawan dihubungi diam-diam. Ada yang tergoda uang, ada yang diancam.”
“Termasuk Dian?”
Pak Arman mengangguk lemah. “Dia bukan orang jahat. Tapi adiknya sakit keras. Mereka memanfaatkannya.”
Bima memejamkan mata. Amarah dan iba bercampur di dadanya.
“Pak Arman, maukah Bapak bersaksi?”
Pria itu terdiam. Wajahnya memucat.
“Saksi berarti menantang orang-orang besar, Nak. Mereka tidak segan menghilangkan nyawa.”
Bima berdiri. “Kalau semua orang takut, kejahatan akan selalu menang.”
Pak Arman menunduk. Untuk pertama kalinya, ia menatap Bima bukan sebagai anak bos lamanya, melainkan sebagai pria muda yang menantang nasib.
“Aku pikirkan,” ucapnya pelan.
Di luar, dari balik bayangan, sepasang mata mengamati setiap gerak Bima.
Keesokan harinya, media kembali menggempur. Sebuah artikel baru muncul, menuduh BOBA terlibat pencucian uang dan penghindaran pajak. Tuduhan itu sama sekali tidak berdasar, namun cukup untuk memperparah citra keluarga Wijaya.
Ratna membaca berita itu dengan tangan gemetar.
“Mereka tidak akan berhenti, ya?” bisiknya.
Bima memeluk ibunya. “Aku janji, Bu. Semua ini akan terungkap.”
Namun, di dalam hatinya, ia tahu janji itu bukan hal mudah.
Asha menghubunginya malam itu.
“Aku dapat bocoran. Ada rapat rahasia besok malam di Hotel Grand Sagara. Aditya dan beberapa petinggi dinas akan bertemu.”
“Dan Rangga?”
“Dia ada di daftar tamu.”
Bima menghela napas. “Berarti pusat sarangnya di sana.”
“Kita tidak bisa gegabah. Tapi ini kesempatan besar.”
Malam pertemuan itu, hujan kembali turun. Bima berdiri di bawah kanopi hotel, mengenakan jaket gelap dan topi. Ia menyatu dengan keramaian tamu.
Dari kejauhan, ia melihat Rangga turun dari mobil mewah, diapit dua pengawal. Wajah pria itu tegang, namun sorot matanya tajam.
Untuk sesaat, pandangan mereka bertemu.
Tak ada kata. Tak ada gestur.
Namun di antara dua pasang mata itu, sebuah pesan tersampaikan dengan jelas:
Perang ini belum berakhir.
Bima membalikkan badan, menyelinap ke dalam kerumunan. Di dalam gedung megah itu, ia tahu, nasib keluarganya dan mungkin nasib kota ini sedang dipertaruhkan.
Karena ketika iri bertemu kekuasaan, dan kejujuran berdiri sendirian, hanya satu hal yang pasti: badai besar sedang menuju Sagara.
Dan badai itu baru saja mulai.Rangga Pradipta tidak pernah menyukai aroma manisan.
Baginya, wangi gula yang menguar dari toko BOBA di seberang jalan hanyalah simbol kekalahan. Setiap pagi, saat pintu Permata Rasa dibuka, yang ia lihat adalah antrean panjang di toko rivalnya, anak-anak tertawa, orang dewasa berbincang hangat, dan papan nama BOBA yang selalu bersinar seperti mengejek.
Dulu, semua itu adalah miliknya.
Sepuluh tahun silam, Permata Rasa adalah toko manisan nomor satu di Kota Sagara. Rangga mewarisi usaha itu dari ayahnya, seorang peracik gula legendaris. Di masa itu, tak ada toko yang mampu menyaingi racikan mereka.
Sampai Surya Wijaya datang.
Surya membuka BOBA dengan konsep berbeda: rasa lebih ringan, varian lebih banyak, kemasan modern, dan pelayanan ramah. Awalnya, Rangga meremehkan. Ia menganggap BOBA hanya tren sesaat.
Namun, waktu membuktikan sebaliknya.
Satu per satu pelanggan setianya berpindah. Anak-anak lebih menyukai minuman warna-warni BOBA. Media memuja inovasi Surya. Dan Rangga, yang terbiasa berada di puncak, mulai merasakan pahitnya tersisih.
“Ayah bodoh,” gumamnya suatu malam, menatap foto lama di dinding. “Kalau saja resepnya diwariskan seluruhnya, aku tidak akan kalah.”
Ia mencoba berbagai cara: meniru menu, memotong harga, bahkan menyebar diskon besar-besaran. Namun BOBA tetap melaju.
Kekalahan itu perlahan berubah menjadi iri.
Dan iri itu menjelma dendam.
Suatu sore, Rangga duduk di ruang kantornya yang sempit, menatap laporan keuangan dengan mata merah. Utang menumpuk, pegawai mulai keluar, dan pemasok menuntut pembayaran.
Saat itulah, seorang pria datang.
Pria itu mengenakan jas rapi dan senyum sopan. “Saya dari kantor Pak Aditya Pranowo.”
Nama itu membuat Rangga terdiam.
Aditya Pranowo, Wakil Wali Kota Sagara, dikenal sebagai tokoh politik paling berpengaruh. Kedekatannya dengan pengusaha dan media membuat setiap kebijakannya nyaris tak terbantahkan.
“Ada apa dengan saya?” tanya Rangga waspada.
Pria itu meletakkan kartu nama. “Pak Aditya tertarik bekerja sama.”
“Dalam hal apa?”
“Menggeser dominasi BOBA.”
Jantung Rangga berdegup lebih cepat.
“Kenapa beliau peduli pada toko manisan?” tanyanya curiga.
“Karena BOBA menolak berkontribusi dalam beberapa agenda politik penting. Pak Surya terlalu bersih. Itu berbahaya dalam dunia kekuasaan.”
Rangga tertawa pahit. “Dan saya, orang yang tepat untuk menjatuhkannya?”
Pria itu tersenyum. “Anda punya motif. Dan kami punya cara.”
Malam itu, di sebuah restoran eksklusif, Rangga bertemu langsung dengan Aditya. Tatapan politisi itu dingin namun penuh perhitungan.
“Kamu tahu bagaimana caranya membunuh usaha tanpa menumpahkan darah?” tanya Aditya.
Rangga terdiam.
“Fitnah,” lanjut Aditya. “Opini publik. Media. Aparat. Semuanya bisa digerakkan.”
Rangga mengepalkan tangan. Bayangan toko BOBA yang selalu ramai memenuhi benaknya.
“Apa keuntungan saya?” tanyanya.
“Permata Rasa akan mendapat suntikan modal. Dan perlindungan penuh.”
Kesepakatan itu ditutup dengan jabat tangan dingin.
Sejak saat itu, rencana mulai disusun.
Rangga merekrut beberapa orang, termasuk Dian, karyawan baru di BOBA. Ia memanfaatkan kebutuhan uang dan ancaman terhadap keluarga.
“Letakkan bahan ini di gudang mereka. Foto. Kirim ke saya,” perintah Rangga.
Dian gemetar. “Ini ilegal, Pak…”
“Kamu pilih: keluargamu aman, atau mereka hilang,” potong Rangga tanpa emosi.
Dengan tangan gemetar, Dian menuruti.
Berita fitnah pun disebar melalui media yang telah dikuasai. Dokumen palsu diedarkan. Inspeksi mendadak diatur.
Dalam hitungan hari, BOBA runtuh.
Namun kemenangan itu tidak membawa kepuasan yang Rangga bayangkan.
Setiap malam, wajah Surya dan Ratna menghantuinya. Ia teringat bagaimana dulu Surya pernah membantunya saat krisis bahan baku.
“Kalau butuh apa pun, bilang saja, Rangga,” kata Surya kala itu.
Rangga menepis ingatan itu.
“Ini dunia bisnis. Yang lemah harus tersingkir,” gumamnya.
Tapi saat ia berdiri di depan toko BOBA yang terkunci, melihat debu menutupi kaca, ada rasa kosong yang menggerogoti dadanya.
Beberapa hari kemudian, ia mendapat kabar bahwa Surya jatuh sakit.
Rangga terdiam lama.
Namun sebelum rasa bersalah sempat tumbuh, ponselnya bergetar.
Aditya: Anak itu mulai menyelidiki. Namanya Bima.
Rangga menghela napas. “Saya akan urus.”
Ia mengirim anak buahnya mengawasi setiap langkah Bima. Ancaman mulai disiapkan. Intimidasi dirancang.
Di ruang kerjanya, Rangga menatap cermin.
“Kalau aku tidak menghancurkan mereka, aku yang akan hancur,” bisiknya.
Ia tahu, jalan yang dipilihnya gelap.
Tapi ia sudah melangkah terlalu jauh untuk kembali.
Sementara itu, di sudut kota, Bima menatap papan nama Permata Rasa yang kini kembali ramai.
Ia mengepalkan tangan.
“Iri bisa membunuh lebih kejam dari pisau,” gumamnya.
Dan di antara dua anak pemilik toko manisan itu, sebuah perang sunyi telah dimulai perang antara kejujuran dan ambisi, antara luka dan dendam, yang kelak akan mengguncang seluruh Kota Sagara.