Raia dan Arlan adalah dua kutub yang tak terpisahkan sejak kecil. Tumbuh besar berdampingan, rahasia mereka tersimpan di bawah pohon mangga belakang rumah dan di dalam kotak bekal yang selalu mereka bagi. Bagi Raia, Arlan adalah pelindung sekaligus pengganggu nomor satu. Namun, bagi Arlan, Raia adalah satu-satunya alasan ia selalu ingin pulang.
Garis persahabatan mulai kabur saat kedewasaan menyapa. Ketakutan akan merusak kenyamanan membuat keduanya memilih bungkam, menyimpan perasaan masing-masing di balik candaan kasar dan perhatian kecil yang tersirat.
Puncaknya, sebuah perpisahan besar harus terjadi. Arlan memutuskan mengejar mimpi dan kariernya ke Jerman, meninggalkan Raia dengan sebuah kalung perak dan janji yang menggantung di bandara. Jarak sepuluh ribu kilometer dan perbedaan zona waktu menjadi ujian sesungguhnya. Di Jakarta, Raia harus belajar berdiri sendiri sambil menepis godaan pria lain yang menawarkan kepastian, sementara di Munich, Arlan berjuang keras demi masa depan y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kembali bekerja
Pagi berikutnya, kantor dikejutkan oleh pemandangan yang tak masuk akal. Raia datang tepat pukul 08.00 dengan setelan kerja yang rapi, wajah yang tenang, dan setumpuk laporan revisi di tangannya. Tidak ada mata sembap, tidak ada ekspresi terluka.
Begitu juga dengan Arlan. Ia keluar dari lift dengan langkah tegap, jas yang disetrika sempurna, dan rahang yang kaku. Ia melewati meja Raia tanpa menoleh sedikit pun, seolah pertengkaran hebat dan tangisan di apartemen semalam hanyalah mimpi buruk yang tidak pernah ada.
"Pagi, Pak Arlan. Ini revisi laporan yang Anda minta kemarin," ucap Raia dengan suara datar namun profesional saat masuk ke ruangan Arlan.
Arlan menerima map itu tanpa menyentuh tangan Raia. Matanya hanya terpaku pada kertas. "Taruh di sana. Siapkan bahan untuk rapat jam sepuluh."
"Baik, Pak." Raia berbalik dan keluar.
Teman-teman sekantor yang kemarin melihat keributan di taman hanya bisa saling berbisik heran. Dimas dan Galang yang mencoba menelepon pun tidak diangkat oleh keduanya. Arlan dan Raia seolah membuat kesepakatan tak tertulis: mengubur emosi dalam-dalam di bawah profesionalitas yang dingin.
Namun, di balik ketenangan itu, segalanya telah berubah. Setiap kali mata mereka tak sengaja beradu, ada kilat rahasia yang pedih. Arlan tidak lagi membentak, tapi ia juga tidak bicara lebih dari keperluan kantor. Raia bekerja dengan sempurna, namun ia tidak lagi memberikan senyum tulus yang dulu selalu ada untuk sahabatnya.
Mereka berada di satu ruangan, bernapas di udara yang sama, namun terpisah oleh tembok tak kasat mata yang lebih kuat dari sebelumnya. Kesunyian ini jauh lebih menyiksa daripada kemarahan.
Setiap kali pintu ruangannya tertutup rapat, Arlan tidak lagi menyentuh dokumen di mejanya. Tangannya justru bergerak cepat membuka aplikasi CCTV di tablet pribadinya. Matanya terpaku pada satu sudut: meja kerja Raia.
Di layar digital itu, Arlan melihat Raia yang bekerja seperti robot. Tidak ada lagi tawa saat mengobrol dengan rekan kerja, tidak ada lagi kebiasaan melamun sambil memutar-mutar bolpoin. Raia hanya menatap layar monitor dengan pandangan kosong yang menyayat hati.
"Maafkan aku, Ra... aku hanya ingin kamu tetap di sini, meski kamu membenciku," bisik Arlan pelan sambil menyentuh layar yang menampilkan wajah Raia.
Arlan melihat Raia mengusap matanya sekilas—mungkin kelelahan, atau mungkin sisa tangis yang tak kunjung usai. Saat itulah, Arlan merasa menjadi pemenang yang paling kalah di dunia ini. Ia memiliki raga Raia di kantornya, ia bisa menjamin pengobatan ayah Raia, tapi ia telah kehilangan jiwa sahabatnya itu.
Keheningan di ruang CEO itu merubah segalanya. Arlan sadar, memantau Raia lewat kamera hanyalah cara pengecut untuk mengobati rindu yang tak tersampaikan. Ia ingin keluar, memeluknya, dan mengakhiri sandiwara dingin ini, tapi bayangan "tunangan" dan rahasia London-nya masih membeku di tenggorokan.
Tiba-tiba di layar CCTV, Arlan melihat Raia berdiri dan berjalan menuju ruangannya dengan membawa map merah. Arlan panik, segera menutup aplikasi itu dan berpura-pura sibuk dengan laptopnya.
Tok... tok...
Raia meletakkan map merah itu di atas meja Arlan tanpa sepatah kata pun. Ia bahkan tidak menunggu Arlan mendongak. Begitu tugasnya selesai, ia berbalik dan melangkah keluar dengan punggung tegak, meninggalkan Arlan yang sebenarnya sedang menahan napas di balik meja kebesarannya.
Tepat saat pintu ruangan CEO tertutup, Bagus, salah satu manajer pemasaran yang dikenal ramah dan tampan, sudah berdiri di depan meja Raia dengan senyum lebar.
"Ra, kebetulan banget baru keluar. Makan siang bareng yuk? Ada tempat pasta baru di seberang kantor, katanya enak," ajak Bagus dengan nada yang cukup keras hingga terdengar ke area kubikel lain.
Raia terdiam sejenak. Ia tahu Arlan pasti bisa mendengar percakapan ini dari balik pintu atau bahkan melihatnya melalui monitor CCTV. Sebuah dorongan untuk membalas rasa sakit hatinya muncul.
"Boleh, Gus. Kebetulan aku juga lagi lapar banget dan butuh suasana baru," jawab Raia dengan nada bicara yang sengaja ia buat ceria, sesuatu yang tidak ia tunjukkan pada Arlan sejak kemarin.
Bagus tertawa kecil, "Sip! Ayo, mumpung belum terlalu ramai."
Di dalam ruangannya, tangan Arlan mencengkeram tepian meja hingga buku-bukunya memutih. Matanya terpaku pada layar tablet yang masih menampilkan rekaman CCTV. Ia melihat Bagus menyentuh pundak Raia dengan akrab, dan Raia tidak menghindar. Arlan merasa dadanya terbakar hebat oleh api cemburu yang tidak berhak ia miliki.
"Jangan pergi, Ra..." bisik Arlan parau, namun suaranya hanya membentur dinding kedap suara yang dingin.
Momen ini merubah segalanya bagi Arlan. Jika sebelumnya ia merasa aman karena Raia "terikat" oleh hutang budi, kini ia sadar bahwa ia bisa kehilangan hati Raia selamanya karena kehadiran pria lain.
Arlan melepaskan cengkeraman tangannya dari tepian meja. Ia menarik napas panjang, mencoba meredam gemuruh di dadanya. Kali ini, ia tidak keluar ruangan untuk mengamuk. Ia tidak memanggil Raia kembali dengan alasan pekerjaan yang dibuat-buat.
Ia hanya membiarkan Raia pergi.
Dari layar CCTV, Arlan melihat punggung Raia menghilang di balik pintu lift bersama Bagus. Pria itu tampak tertawa, dan untuk pertama kalinya sejak sepuluh tahun, Arlan melihat Raia memberikan senyum tipis—bukan untuknya.
"Mungkin ini yang kamu butuhkan, Ra... Seseorang yang tidak memberimu beban, seseorang yang tidak menjadi monster bagimu," bisik Arlan getir.
Arlan menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit ruangannya yang mewah namun terasa seperti penjara. Ia sadar, membiarkan Raia pergi makan siang dengan pria lain adalah hukuman paling berat bagi egonya sendiri. Ia memiliki kuasa atas karier Raia dan kesehatan ayahnya, tapi ia tidak punya kuasa atas kebahagiaan wanita itu.
Sikap diam Arlan kali ini merubah segalanya. Jika biasanya ia selalu mengontrol, kini ia mulai belajar melepaskan—meskipun itu sangat menyakitkan. Ia memutuskan untuk mematikan tablet CCTV-nya. Ia tidak ingin melihat betapa bahagianya Raia tanpa bayang-bayangnya.
Namun, di balik keputusannya itu, Arlan diam-diam merogoh ponselnya. Ia mengirim pesan singkat kepada asisten pribadinya.
"Cari tahu semua latar belakang Bagus dari tim pemasaran. Sekarang."
Suasana makan siang di restoran pasta yang tenang itu mendadak pecah saat sesosok wanita dengan tas bermerek dan langkah terburu-buru menghampiri meja mereka. Itu Mayang, sahabat kantor mereka yang dikenal sebagai "radio rusak" karena mulutnya yang tidak bisa berhenti bicara.
"Wah, parah! Jahat banget kalian berdua!" seru Mayang sambil langsung menarik kursi dan duduk di antara Raia dan Bagus tanpa diundang.
Bagus tersedak kopinya. "Aduh, May! Pelan-pelan dong, ini tempat umum."
"Bodo amat! Raia, kok kamu tega sih nggak ngajak aku? Aku tadi di kubikel nungguin kamu, eh tau-tau dapet laporan dari 'intel' kalau kamu malah asik berduaan sama Mas Bagus di sini," cerocos Mayang sambil menyambar saku tisu.
"Mana pesenannya kelihatan enak lagi. Mas, pesenin aku satu yang sama kayak Raia ya, laper nih abis dengerin omelan Pak Arlan tadi pagi!"
Raia tertawa kecil, untuk pertama kalinya sejak berhari-hari beban di pundaknya terasa sedikit terangkat karena kecerewetan Mayang. "Maaf, May. Tadi spontan banget diajak Bagus."
"Halah, alasan! Eh, tapi ngomong-ngomong soal Pak Arlan," Mayang merendahkan suaranya, membuat Raia dan Bagus refleks mendekat.
"Kalian ngerasa nggak sih, si Bos itu makin hari makin aneh? Tadi pas aku lewat ruangannya, pintunya kebuka dikit, dia lagi ngeliatin tablet sambil mukanya ditekuk banget. Kayak orang lagi cemburu tapi nggak punya hak, tahu nggak?"
Jantung Raia berdegup kencang. Ia tahu persis apa yang dilihat Arlan di tablet itu.
"Mungkin dia cuma kurang kopi, May," timpal Bagus mencoba menenangkan suasana, meski matanya melirik Raia dengan penuh tanya.
Kehadiran Mayang yang ceplas-ceplos ini merubah segalanya; suasana romantis yang coba dibangun Bagus buyar seketika, berganti dengan gosip kantor yang justru menyenggol luka lama Raia.