NovelToon NovelToon
Milik Sang Kapten

Milik Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Menyembunyikan Identitas / Romansa
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

Karline sengaja bersembunyi di balik masker dan jaket gembel demi ketenangan. Namun, sebuah insiden di kolam renang membongkar segalanya. Di balik penampilan kumuhnya, ternyata ada kecantikan luar biasa yang membuat seisi sekolah lupa cara bernapas.
​Dean, sang kapten voli yang populer dan arogan, tidak tinggal diam. Sejak napas buatan itu diberikan, Dean mengklaim Karline sebagai miliknya. Kini, Karline harus menghadapi dunia yang memujanya, sekaligus menghadapi obsesi posesif sang kapten yang tidak sudi berbagi tatapan Karline dengan pria mana pun.
​"Lepaskan maskermu. Mulai sekarang, kamu aman di bawah kuasaku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 Malam Kelam di Balik Gedung Olahraga

Sore itu seharusnya berakhir indah. Dean dan Karline sudah bersiap untuk pulang bersama, bahkan Dean sudah memanaskan mesin motornya. Namun, rasa mulas yang tiba-tiba membuat Dean harus meminta izin sebentar.

​"Karline, tunggu di sini sebentar ya? Aku ke kamar mandi dulu, nggak tahan," ucap Dean meringis.

​Karline tertawa kecil melihat ekspresi Dean. "Iya, cepat ya. Aku tunggu di dekat bangku taman depan aula."

​Dean bergegas pergi. Namun, setelah sepuluh menit berlalu dan ia kembali ke tempat semula, sosok Karline sudah tidak ada. Dean mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru parkiran yang mulai sepi. Awalnya ia berpikir mungkin Karline sedang ke kantin atau menjemput teman, namun firasatnya mendadak tidak enak. Jantungnya berdegup kencang tanpa alasan yang jelas.

​Langkah Dean terhenti saat matanya menangkap sesuatu yang berkilau di atas aspal kasar, tepat di dekat pilar aula. Ia membungkuk dan memungut benda itu. Napasnya tercekat. Itu adalah gelang diamond putih pemberiannya. Gelang itu terputus, pengaitnya rusak seolah ditarik dengan paksa.

​"Karline..." bisik Dean, suaranya bergetar. Ia tahu Karline tidak akan pernah melepas gelang ini dengan sengaja. Sesuatu yang buruk sedang terjadi.

​Di saat yang sama, di sebuah gudang peralatan olahraga yang terpencil di belakang sekolah, Karline sedang berjuang melawan maut. Napasnya tersengal, tubuhnya gemetar hebat. Ia tidak menyangka bahwa Rio, orang yang pernah menjadi sahabat dekat Dean, tega melakukan hal serendah ini.

​Rio berdiri di depan Karline dengan tatapan penuh kebencian. Di sampingnya, Clarissa tersenyum licik sambil memegang ponsel, siap merekam. Yang lebih mengejutkan, Arlan, sang Ketua OSIS yang selama ini dikenal berwibawa, ternyata ikut andil dalam rencana gila ini.

​"Lepaskan aku, Rio! Kalian gila!" teriak Karline sambil mencoba melepaskan cengkeraman Arlan di tangannya.

​Plak!

​Rio menampar wajah Karline. Tidak terlalu keras, namun cukup untuk membuat bibir Karline pecah dan mengeluarkan darah. "Diam kau, perempuan jalang! Gara-gara kau, persahabatanku hancur! Gara-gara kau, Dean jadi seperti pecundang!"

​Clarissa maju, ia menjambak rambut Karline dengan kasar hingga kepala gadis itu terdongak. "Ini akibatnya kalau kamu berani merebut apa yang jadi milikku, Karline. Hari ini, harga dirimu akan habis."

​Rio mulai bertindak lebih jauh. Dengan kasar, ia berusaha membuka paksa kancing seragam Karline. Karline memberontak sekuat tenaga, ia menendang dan mencakar, namun Arlan memegangi kakinya sementara Clarissa merekam momen itu dengan ponselnya hanya fokus pada wajah ketakutan dan penderitaan Karline agar video itu tampak seperti skandal yang memalukan bagi Karline.

​Di luar, Dean berlari kencang menyisir setiap sudut sekolah. Ia bertemu dengan Raka yang tampak bingung melihat Dean yang kalap.

​"Raka! Kamu lihat Rio?!" teriak Dean sambil mencengkeram bahu Raka.

​"Rio? Aku nggak lihat dia sejak tadi. Kayaknya dia punya rencana buruk, De, soalnya tadi dia bisik-bisik sama Arlan," jawab Raka dengan wajah cemas.

​"Cari mereka! Karline hilang, dan aku nemuin gelangnya putus!"

​Mereka berdua berpencar hingga akhirnya sebuah teriakan melengking terdengar dari arah gedung olahraga lama. Tanpa pikir panjang, Dean menendang pintu gudang itu hingga terbuka lebar.

​Pemandangan di depannya membuat darah Dean mendidih seketika. Ia melihat Karline yang sudah terisak di lantai dengan seragam yang berantakan, sementara tangan Rio sedang berusaha melecehkannya lebih jauh.

​"JANGAN SENTUH DIA, BAJINGAN!" raung Dean.

​Dean melesat seperti peluru. Ia tidak memberikan kesempatan bagi Rio untuk berdiri. Satu pukulan keras menghantam wajah Rio hingga ia tersungkur ke tumpukan matras tua. Dean tidak berhenti di situ, ia menarik kerah baju Rio dan menghajarnya habis-habisan tanpa ampun. Setiap pukulan mewakili rasa sakit dan ketakutan yang dialami Karline.

​Arlan yang mencoba menolong Rio langsung diterjang oleh Raka. Dean kemudian berbalik ke arah Clarissa yang masih memegang ponselnya dengan tangan gemetar. Tanpa memandang statusnya sebagai perempuan, Dean menampar Clarissa dengan keras hingga ponsel itu terlempar hancur ke lantai.

​"Ini buat setiap tetes air mata Karline yang jatuh karena kelakuan sampahmu!" teriak Dean pada Clarissa.

​Raka segera melepas jaketnya atas perintah Dean yang masih sibuk memukuli Rio. "Raka! Jaga Karline! Peluk dia, jangan biarkan dia lihat ini!" teriak Dean parau.

​Raka dengan cepat menyelimuti tubuh Karline yang gemetar hebat dengan jaketnya. Ia memeluk gadis itu, berusaha menutupi pandangan Karline dari aksi brutal Dean. Karline menangis terisak di dada Raka, tangannya yang memar mencengkeram jaket itu dengan sangat kuat.

​Dean baru berhenti setelah Rio dan Arlan terkapar tak berdaya dengan wajah penuh darah. Dengan tangan gemetar karena emosi dan luka, Dean merogoh ponselnya dan menghubungi polisi.

​“Pak, saya di SMA Garuda Kencana. Ada percobaan pelecehan dan penganiayaan. Tolong segera kirim petugas kesini.”ucap Dean dingin.

​Setelah polisi datang dan mengamankan Rio, Arlan, serta Clarissa, Dean dan Raka segera membawa Karline pulang ke rumahnya. Mereka tidak ingin Karline berlama-lama di sekolah yang kini terasa seperti neraka.

​Di perjalanan, Karline hanya diam membisu di dalam mobil yang dikemudikan Raka, sementara Dean duduk di sampingnya sambil terus menggenggam tangan Karline yang dingin. Sesampainya di depan gerbang Dharmawijaya, Dean membantu Karline turun.

​"Karline... maafkan aku. Aku gagal menjagamu," ucap Dean dengan suara pecah. Ia berlutut di depan Karline, air matanya kini jatuh. "Aku benar-benar minta maaf."

​Raka pun ikut menunduk sedalam-dalamnya. "Aku juga minta maaf, Karline. Aku benar-benar tidak tahu kalau Rio punya siasat sekeji itu. Aku menyesal telah berteman dengan orang seperti dia."

​Karline hanya menatap mereka dengan mata yang sembap. Ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun, namun ia memegang tangan Dean sebentar seolah memberi sinyal bahwa ia tahu mereka sudah berusaha. Malam itu, di bawah lampu jalan yang temaram, harga diri Karline berhasil diselamatkan, namun luka di hatinya jauh lebih dalam dari memar di tubuhnya.

1
Anonymous
jgn gantung dong thor 😭
jajangmyeon
Suka banget sama ceritanya! Alurnya menarik dan karakternya juga bikin penasaran. Pokoknya recommended, yang lain wajib baca! 😆✨
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentarmu yang sangat positif 💞
total 1 replies
Anonymous
loh kok beda thor?
Anonymous: oke thorr, semangat selalu 💪😎
total 2 replies
jajangmyeon
wihhhhh seru nii
brawijaya Viloid
yey cerita baru 😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!