Di bawah bayang-bayang aturan feodal-kultivasi, di mana jenius dari kalangan bawah pada akhirnya akan terkubur, Chen Yuan memilih mengamati.
Mengetahui bahwa sang ibu angkat telah dimanipulasi dan bahkan menganggapnya, pecahan kesadaran anak kandungnya sendiri, ia memilih untuk membayar hutang budi itu—bukan dengan darah, tetapi dengan memainkan peran untuk melindungi dan memperbaiki kehidupan saudaranya.
Di dunia yang kejam dan penuh kepentingan, ia memilih mencoba lagi untuk merasakan arti ketulusan, bukan pertukaran.
Demi membuatnya bahagia dan mampu berdiri di dunia ini, ia bahkan mencoba berbagai cara untuk meningkatkan eksistensinya.
Namun semua itu hanyalah awal.
Di balik semua itu, misteri tentang dirinya sendiri sangat rumit, apalagi segala sesuatu di sekitarnya.
Ini adalah kisah tentang seorang pemuda yang ingin mencoba lagi–bukan untuk kekuasaan, melainkan untuk menemukan arti kehidupan yang tak sempat ia miliki.
Kelanjutan World of Cultivation: Aimless Journey
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Slycle024, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan dimalam hari
Kegelapan menyelimuti hutan. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah langkah kaki yang menginjak dahan-dahan pepohonan, serta raungan pilu beberapa binatang iblis di kejauhan.
“Dia dimana… Ini sudah setengah jam, kan?!” bisik Nomor 8.
Kali ini ia tidak berani lengah dan tangannya menggenggam erat sebuah tombak.
Mereka tahu, ketidakpastian adalah hal yang paling menakutkan. Apalagi baru saja dipermainkan. Jelas sekali Chen Yuan sebenarnya bisa kabur, tetapi malah memilih bertabrakan dengan mereka. Itu berarti dia sedang menilai kekuatan lawannya.
Nomor 9 berhenti di salah satu dahan pohon.
“Lindungi aku!” katanya. Ia segera menutup mata, mencoba merasakan fluktuasi Qi sekecil apa pun di sekitar mereka. Seketika, alisnya terangkat. “Ini… dia menghapus semua tanda pelacak?”
“Semua?” kata Nomor 8, terkejut.
“Tenanglah,” bisik Nomor 9.
GEMERESIK.
Suara daun atau pakaian yang saling bersentuhan terdengar dari arah kiri dan kanan mereka.
Nomor 8 langsung menegang.
“Dua orang! Tidak… salah satunya pasti klon!”
Tanpa menunggu lebih lama, tubuhnya tiba-tiba melonjak ke udara.
Ia melesat beberapa meter ke kanan. Pada saat yang sama, kesadarannya menyebar seperti jaring tak kasat mata, menyapu area sekitar.
Tangannya bergerak cepat membentuk segel rumit.
Empat tombak energi muncul di udara, lalu tombak-tombak itu melesat ke empat arah berbeda. Seketika, kubah terbentuk, menutup semua jalur pelarian.
Melihat itu, Nomor 9 hanya bisa menggeleng pelan. Ia melesat ke sisi kiri sambil melepaskan kesadaran hingga batas maksimal.
Begitu target terkunci, cambuk di tangannya bergetar dan memanjang seperti makhluk hidup. Ujungnya melesat dulu, cepat dan mematikan, seperti ular berbisa yang menyambar mangsa.
JLEB!
Ujung cambuk menembus dada Chen Yuan.
Tidak ada teriakan ataupun perlawanan.
Tubuhnya bergetar dan retakan tipis menyebar di tubuhnya… sebelum buyar menjadi kabut tipis yang tertiup angin.
Ia mendesah pelan, lalu menjentikkan jarinya.
SNAP.
Tulisan ‘disini klon’ terbentuk di udara.
Setelah itu, ia menarik kembali cambuk hingga menyusut dan kembali melilit di pinggangnya.
Ini adalah kesalahan fatal.
Teknik Satu Qi Tiga Perubahan dapat menciptakan dua klon, bukan hanya satu. Setiap klon juga mewarisi sebagian karakteristik tubuh utama, cukup untuk menipu persepsi dalam waktu singkat.
Chen Yuan sudah memperhitungkan itu sejak awal.
Saat perhatian Nomor 9 teralihkan oleh pemandangan yang dibuat oleh Nomor 8, tubuh asli Chen Yuan sudah bergerak.
Ia melesat dari bawah seperti anak panah yang dilepaskan dari busurnya.
Namun cambuk di pinggang Nomor 9 bereaksi. Senjata itu bergetar keras sebelum ujungnya meluncur turun seperti ular berbisa yang menyambar mangsa.
Nomor 9 menoleh ke bawah dengan senyum mengejek.
Tangannya langsung menggenggam gagang cambuk sambil menyalurkan Qi spiritual. Seketika, ujung cambuk bersinar terang dengan kilatan energi tajam.
“Aku tahu pasti ada yang salah!”
Bagi seorang kultivator berpengalaman, serangan dari titik buta justru adalah hal yang paling mudah diprediksi.
Namun Chen Yuan tidak panik.
Tepat saat ujung cambuk hampir mencapai tubuhnya, ia menggunakan teknik Langkah Awan. Tubuhnya berubah menjadi bayangan kabur dan menghilang dari jalur serangan.
Detik berikutnya, ia sudah muncul di samping Nomor 9, membuatnya tertegun sesaat.
Kesempatan singkat itu sudah cukup bagi Chen Yuan. Ia melancarkan tendangan cepat yang menghantam pergelangan tangan Nomor 9.
PAK!
Gagang cambuk terlepas dari genggamannya.
Chen Yuan segera hendak meraihnya.
Nomor 9 tersadar oleh rasa sakit.
BOOOM!
Aura tubuhnya meledak keluar, mendorong segala sesuatu ke segala arah. Ledakan Qi itu dimaksudkan untuk menjauhkan Chen Yuan.
Namun Chen Yuan sudah lebih dulu meraih gagang cambuk dan menjauh beberapa meter dengan memanfaatkan dorongan tersebut.
Kini mereka saling berhadapan dalam keheningan.
“Kembalikan,” kata Nomor 9 dengan nada dingin. Ia segera mencoba mengambil kembali senjatanya dengan memanfaatkan koneksi spiritual antara dirinya dan cambuk tersebut. Namun, dia lupa bahwa kesadaran Chen Yuan yang pernah berada di Alam kelahiran jiwa, lebih kuat darinya.
Crack. Puff.
Koneksi itu tiba-tiba terputus secara paksa, membuatnya memuntahkan seteguk darah dan hampir kehilangan keseimbangan.
“K-Kau… berani!” teriaknya dengan wajah pucat.
Chen Yuan hanya tersenyum tipis.
Tanpa ragu, ia memasukkan cambuk itu ke dalam cincin ruang miliknya.
Kemudian ia mengeluarkan Pedang Tanpa Nama, melompat ke atasnya, lalu melesat pergi. Saat terbang menjauh, ia bahkan sempat melirik ke belakang sambil mengejek.
Namun tak lama kemudian, Chen Yuan merasa ada yang aneh.
Kenapa dia tidak mengejar?
Kenapa rasanya panas sekali?
Tiba-tiba, Chen Yuan mengangkat pandangannya.
Langit malam yang tadinya gelap kini berubah menjadi merah membara. Puluhan tombak api menggantung di udara seperti hujan meteor yang tertahan oleh kekuatan tak terlihat.
Di antara semua itu, satu tombak raksasa berputar perlahan di pusat formasi. Ukurannya beberapa kali lebih besar dari yang lain, dengan api yang menyala seperti matahari kecil. Ujung tombak itu mengarah lurus ke Chen Yuan, seolah telah menguncinya.
Dari kejauhan terdengar tawa rendah, dingin dan penuh ejekan.
“Menurutmu aku hanya berdiri diam?”
Mendengar itu, Chen Yuan menghentikan pedangnya.
Dengan santai, ia memasukkan pedang itu kembali ke dalam cincin penyimpanan. Ia lalu menatap langit sambil tertawa pelan. “Heh… ini benar-benar meriah. Ini pertama kali aku melihat hujan api turun dari langit.”
Sesaat kemudian, tubuhnya kehilangan penopang.
Ia jatuh bebas dengan mata tertutup.
Di kejauhan, Nomor 9 mengerutkan kening.
“Apa yang dia lakukan?”
Ia melihat tubuh Chen Yuan jatuh bebas, semakin jauh, semakin kecil, hingga hampir tenggelam dalam kegelapan malam.
“Serang bodoh! Apa yang kau tunggu?!” teriak Nomor 9 dengan wajah memerah karena marah.
Nomor 8 tersadar, ia hanya tertawa ringan. “Tenang! Dia tidak mungkin bisa lolos. Aku juga sudah menutupi area sekitar”
Tangannya menekan ke bawah, lalu seluruh langit langsung bergetar.
Tombak-tombak api yang menggantung di udara tiba-tiba bergerak serempak. Seperti kawanan meteor yang dilepaskan dari kendali langit, mereka melesat turun dengan kecepatan mengerikan mengarah lurus ke arah Chen Yuan.
Chen Yuan, yang jatuh bebas segera membuka mata. Ia tahu rencananya gagal saat merasakan serangan mendekat. Tanpa ragu ia mempercepat jatuhnya dan menghantam tanah dengan lembut.
“Tidak bisa lari?” kata Lingxue’er, suaranya tenang. “Qi spiritualmu tersisa 10 persen, lebih baik kau gunakan energi yang diberikan rubah itu.”
Chen Yuan membentuk segel tangan sambil berbisik, “Itu tidak mungkin. Aku tidak bisa membuang salah satu kartu truf ku saat ini.”
“Lakukan sesukamu!” seru Lingxue’er, sedikit kesal karena akan segera membuang energi kehidupan lagi.
Tangan Chen Yuan sudah membentuk segel dan Qi spiritual tersisa di tubuhnya berputar liar, diikuti vitalitas mengalir keluar dan mengurangi umurnya. Keterampilan ‘Tinju dominasi abadi : Dominasi kura kura surgawi’ dan ‘Cermin Elemental : Es’ digunakan secara bersamaan.
Dalam skala mikro, seluruh kulit Chen Yuan bersinar dan diselimuti perisai berbentuk cangkang kura-kura. Kemudian, udara di sekelilingnya tiba-tiba membeku, lalu membentuk kubah es berdiameter kurang dari satu meter yang menutup tubuhnya.
Detik berikutnya, serangan tiba!
DUUAAAAARRRR!!!
Tombak api pertama, yang paling besar menghantam kubah es seperti meteor yang menabrak gunung. Ledakan mekar di udara, menyemburkan gelombang panas yang menyapu pepohonan di sekitarnya.
Namun itu baru permulaan.
DUUM!!
BOOOOM!!
Tombak kedua, ketiga, keempat, semuanya tiba.
Gelombang kejut meledak keluar seperti cincin raksasa, menghancurkan segala sesuatu yang berada di jalurnya.
Dari langit, Nomor 8 tersenyum dingin. Ia sudah menghitung dan tahu Chen Yuan tidak mungkin mati. “BERSIAPLAH!!”
Nomor 9 mengangguk paham.
Dengan bola kecil ditangan, ia menatap pusat ledakan yang kini dipenuhi api dan asap hitam yang bergulung tinggi seperti pilar yang menembus langit.
Beberapa detik berlalu. Ledakan mulai mereda.
Tiba-tiba, sosok emas melesat dengan kecepatan tinggi menuju Nomor 8. Namun Nomor 9 sudah mengaktifkan semua persiapannya. Ia segera melemparkan bola kecil itu. Seketika, sosok emas itu tersedot masuk ke dalam bola.
“Ini jiwa baru Yuanhong?” tanya Nomor 8, keringat dingin mengalir di dahinya, takut tubuhnya akan diambil alih.
“Ya. Mari kita kembali,” jawab Nomor 9. “Tugas kita selesai.”
Setelah beberapa saat, mereka pun pergi. Namun beberapa menit kemudian, Nomor 9 teringat sesuatu.
Cambuk besiku… bagaimana mungkin aku bisa lupa ini?
Ia hendak berbalik, tiba-tiba terdengar suara dari langit dalam kesunyian malam.
GRRR…
Geraman rendah itu datang dari kegelapan di antara pepohonan. Suaranya begitu berat hingga membuat tanah sedikit bergetar.
Keduanya membeku.
Dari bayang-bayang tanah yang hangus terbakar, muncul dua titik kuning bercahaya. Sepasang mata itu menatap tajam, bukan pada mereka berdua, tetapi pada jiwa baru yang berada di tangan mereka.
Sosok itu melangkah keluar ke area yang sedikit terang. Itu adalah seekor harimau sebesar kuda—dan ia memiliki sayap hitam.
“Harimau bersayap hitam yang langka… puncak kelas 3,” bisik Nomor 8, suaranya bergetar. “Mungkin ini setara tahap awal Alam Genesis Inti… Kita bukan lawannya. Lebih baik mundur.”
“Tapi… cambuk besiku…” Nomor 9 menatap tangan kosongnya, wajahnya kelam. “Tidak masalah. Aku hanya butuh satu menit. Tolong tahan dia!”
Tanpa menunggu jawaban, ia menuju pusat ledakan sambil menyimpan bola kecil di tangannya.
Melihat itu, harimau itu mendesis dan menyerang secepat kilat, taringnya menganga. Namun, nomor 8 segera menangkis cakarnya, tubuh mereka beradu kekuatan. Percikan energi dan debu beterbangan.
Mereka berdua kini bertarung sengit, setiap gerakan dipenuhi ketegangan yang bisa merobek udara.
Di sela pertempuran itu, Nomor 9 panik mencari cincin ruang Chen Yuan.
“Sial, dimana mayatnya, cincin ruangnya!” teriaknya, suaranya nyaris pecah. “Cambuk, di mana kau? Cepat kemari!”
“Berapa lama lagi?” teriak Nomor 8, menahan serangan demi serangan.
“Tahan dulu!” Nomor 9 membalas teriakannya. “Siapa yang menyuruhmu menyerang membabi buta!”
Nomor 8 terdiam sejenak, lengan terpental keras. Ia terbatuk-batuk dan muntah seteguk darah tua.
Sial! sialan!
Apa memang wanita selalu benar?
Pertempuran dan pencarian berlangsung bersamaan. Nomor 9 yang frustasi akhirnya bergabung dalam pertarungan.
Sementara itu, Chen Yuan terbaring sepuluh meter di bawah tanah, diam seperti mati, tetapi senyum misterius terukir di wajahnya.
“Kau benar-benar pintar,” suara Lingxue’er terdengar di benak Chen Yuan. “Dengan ini, Yuanhong yang mengambil tubuh Chen Yuan benar-benar mati di mata dunia, dan mereka juga tidak mungkin mengganggumu lagi, benarkan iblis kecil?”