NovelToon NovelToon
Ibu Yang Tak Pernah Dipanggil Mama

Ibu Yang Tak Pernah Dipanggil Mama

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Ibu Tiri / Ibu Mertua Kejam / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aure Vale

Helena kira setelah ia memilih menikah dengan seorang duda beranak 3 dan juga menjadi seorang mualaf kehidupannya akan membaik, namun ia salah, karena setelah menikah pun keluarga dan saudaranya tidak pernah berhenti mengusik kehidupannya belum lagi kedua anak tirinya tidak pernah menyukai keberadaannya bahkan Helena tidak pernah mendengar kata 'mama' keluar dari bibir mereka.

Dan suatu ketika, ia mengetahui niat Farhan menikahi dirinya, bahkan alasan mengapa tidak ada satupun keluarga besar Farhan menyukak dirinya. Hatinya benar-benar terluka, cinta yang tulus ia berikan kepada Farhan ternyata hanya dianggap sampah yang menjijikan olehnya.

Helena bertekad, ia akan membalas semua orang yang melukai hatinya agar mendapatkan hal yang setimpal dengan dirinya, karena mulai saat itu, ia akan berpura-pura menjadi lemah dan memaklumi banyak hal demi bisa membalas semua rasa sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan ikut campur

Bahkan setelah tiga bulan pernikahan Helena dan juga Farhan, sikap Kenzo dan juga Freya tidak ada perubahan sama sekali. Kenzo masih sering tidak menjawab pertanyaan Helena dan Freya masih sering mengatakan hal-hal menyakitkan untuk mama sambungnya.

Tapi tidak pernah sekalipun Helena membalas ucapan-ucapan menyakitkan untuk untuk Freya, Helena hanya tersenyum seraya meyakinkan diri sendiri jika semua akan berubah pada waktunya.

"Kata papa lusa kalian ada acara di sekolah ya? Acara apa?" tanya Helena sembari duduk di kursi yang juga sedang diduduki oleh Kenzo dan juga Freya.

"Jangan ikut campur urusan kami, tidak butuh," Lagi-lagi Freya melontarkan kata-katanya yang pedas.

Helena tersenyum kecil, mengatakan kepada dirinya sendiri agar tidak perlu sakit hati dengan perkataan Freya, karena ia tahu Freya masih belum dewasa dan belum memahami jika kata-katanya akan melukai siapapun yang mendengarnya.

"Oh iya, tadi pagi mama bikin brownies rasa coklat, Freya suka kan?" Helena mencoba mengalihkan topik agar tidak perlu lagi membahas masalah acara yang katanya akan diadakan di sekolahan Kenzo juga Freya.

"Enggak, semua masakanmu aku tidak pernah suka," balas Freya langsung pindah tempat duduk menjadi di kursi single.

Helena bangkit dari sofa, lalu berjalan menuju lemari yang terletak di pojok ruangan, Helena tahu jika brownies coklat itu kesukaan Freya sedangkan Kenzo lebih suka dengan cookies.

"Mama bikinin brownies untuk Freya dan juga cookies untuk Kenzo, kalian makan ya, enak kok, tadi pagi mama sudah mencobanya,"

Helena meletakkan dua kotak di atas meja. Kenzo meliriknya sebentar lalu kembali fokus dengan game di ponselnya.

'brak'

"Sudah berapa kali sih aku bilang, kamu bukan mama aku, dengar kamu bukan mama aku, jadi berhenti memanggil diriku sendiri dengan sebutan mama, tidak cocok," banyak Freya dengan wajah memerah marah.

Kenzo yang sedang main game pun sampai terkejut, tidak menyangka adiknya membentak Helena sebegitu kerasnya.

"Yaya!" tegur Kenzo pelan, Kenzo tidak pernah mendengar Freya berteriak sekencang itu sebelumnya apalagi kepada orang yang lebih tua darinya.

"Apa? Mau bilang sama papa? Gak peduli, dari awal aku sudah bilang sama papa kalau aku gak suka sama calon istrinya, tapi papa keras kepala dan tetap menikah denganmu, jadi jangan salahkan aku jika aku tidak bisa bersikap baik kepadamu,"

Setelah mengatakan hal itu, Freya berjalan ke arah dua kotak yang ada di atas meja dan melemparkannya ke lantai hingga kotak yang terbuat dari kaca itu pecah berkeping-keping di lantai dengan brownies dan cookies yang sudah tidak utuh lagi.

"Jangan pernah memasak apapun lagi untuk aku dan Kenzo, kami tidak menyukainya, dan berhenti mengurus urusanku juga Kenzo, papa bisa mengurusnya sendiri untuk kami," beritahu Freya menatap Helena sebentar sebelum akhirnya ia pergi keluar dari ruang keluarga dengan keadaan yang masih sangat marah.

Kenzo melirik Helena yang diam-diam menghapus air matanya, ia tahu jika kali ini adiknya sangat keterlaluan, ingin menghentikannya pun rasanya tidak bisa, adiknya sejak awal memang tidak pernah menyetujui papanya menikah lagi, tapi papanya tetap melanjutkan pernikahannya, itulah mengapa Freya menjadi gadis yang benar-benar tidak bisa lagi diberitahu.

Tidak jarang Freya mengatakan hal-hal buruk tentang Helena di depan papanya, di tegur pun, Freya tidak peduli ia malah semakin membenci kehadiran Helena di dalam rumahnya.

"Kenzo samperin Freya dulu ya, mama takut Freya kenapa-napa, kamu tahu sendiri Freya selalu melakukan hal di luar dugaan jika sedang marah," ucap Helena memaksakan tersenyum di depan Kenzo.

Kenzo tidak mengangguk tidak juga menggeleng, tapi ia langsung bangkit dari sofa dan pergi meninggalkan Helena sendirian di ruang keluarga.

Detik itu juga, setelah pintu tertutup rapat, tangisan Helena keluar, tubuhnya merosot dengan kedua tangan yang menutup wajahnya.

Ternyata rasa sakit yang berusaha Helena tahan hancur juga, ia tidak bisa lagi tidak menangis, untuk kali ini saja Helena menangis, karena esoknya ia harus kembali bersikap seperti tidak terjadi apa-apa di hadapan semua orang.

"Ya Allah kenapa rasanya sesakit ini, padahal ini hal biasa," lirih Helena di dalam isakannya.

Setiap kali Helena selesai sholat, ia selalu memanjatkan doa yang sama, agar anak-anak tirinya bisa menerima dirinya sebagai ibu sambung mereka. Helena bahkan belajar sholat di tengah malam ketika semua orang masih terlelap di tempat tidurnya.

Ia bahkan selalu menerapkan ajaran-ajaran baik yang diajarkan suaminya kepadanya, ia juga sudah mau belajar membaca iqro', dan kini bacaan dalam sholatnya pun sudah lancar walaupun harus membaca surat yang sama setiap kali ia sholat, tapi kenapa ia merasa do'anya masih juga belum dikabulkan.

Begitu terdengar suara pintu terbuka, Helena cepat-cepat menghapus air matanya dan langsung kembali berdiri di sisi sofa agar tidak ada yang curiga jika baru saja menangis.

"Loh ini kenapa?"

Helena menoleh dan mendapati Farhan yang baru selesai pulang kerja terkejut melihat bagaimana kaca dan brownies berserakan menghias lantai di ruangan keluarga, beruntungnya Helena baru saja mencuci karpet nya jadi pecahan-pecahan kaca dan juga makannya tidak mengotori karpet.

"Mas, kamu sudah pulang?" sambut Helena menghampiri suaminya dan menyalimj tangan suaminya.

"Kamu habis nangis? Wajah kamu merah banget, hidungnya pun sudah kayak badut?" tanya Farhan mengapit pipi Helena menggunakan kedua telapak tangannya.

"Aku kesal karena brownies dan cookies buatan aku gagal, aku salah memberi bumbu, seharusnya gula putih dan aku memasukkan garam, karena aku kesal jadi aku marah dan tidak sengaja membanting mereka ke lantai, maaf lantainya jadi kotor," lirih Helena terpaksa berbohong, ia tidak ingin suaminya kembali memarahi Freya dan berakhir Freya yang akan semakin membencinya.

"Ya ampun," Farhan terkekeh geli dengan alasan istrinya itu. Tidak menyangka jika istrinya kalau marah bisa sampai membanting barang ke lantai.

"Maaf, mas," lirih Helena.

Farhan membawa Helena ke dalam pelukannya, lalu kembali melepaskannya lagi dan menatap mata Helena yang masih merah.

"Tidak masalah, asalkan kamu tidak terluka,"

"Mas,"

Farhan menaikkan sebelah alisnya menunggu Helena melanjutkan ucapannya, tapi ia sepeti terlihat ragu hingga membuat Farhan kembali memeluknya.

"Ada apa? Katakan saja!"

"Apa boleh masak makan siang untuk aku bawakan ke kantor kamu?" tanya Helena sedikit ragu.

"Apa kamu tidak keberatan?" tanya Farhan mengusap punggung istrinya lembut.

Helena menggelengkan kepalanya, "aku senang bisa memasak untuk makan siang mas di kantor,"

"Baiklah, tapi kamu tidak boleh sampai kecapean, oke,"

Helena mengangguk antusias, setidaknya ia akan tetap bisa melakukan tugasnya untuk memasakan suami dan juga anak-anaknya, lalu ketika makan siang hampir tiba, ia bisa mengantar makan siang ke kantor suaminya sehingga Freya dan Kenzo akan tetap makan siang masakannya tanpa perlu memberitahu merka jika itu dirinya yang masak, dengan mereka tidak melihat keberadaan dirinya, itu sudah cukup membuat mereka tidak akan tahu jika itu adalah masakannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!