Di usia 24-th Paroline Benedicta adalah wanita yang paling banyak dibicarakan di kampusnya di Los Angeles. Menawan, kaya, dan penuh teka-teki, ia menyusuri lorong kampus bukan dengan tas desainer, melainkan dengan kereta bayi yang membawa Andreas Sunny yang berusia dua tahun. Rumor yang beredar sangat kejam, mereka bilang dia adalah sosialita yang jatuh, seorang gadis yang ditinggalkan kekasihnya setelah melakukan kesalahan yang ceroboh.
Kenyataannya, Paroline adalah wanita yang memegang teguh janjinya, membesarkan putra yatim piatu dari mendiang sahabatnya seolah anaknya sendiri. Ia telah menukar malam-malam liarnya dan gaun pesta sutranya dengan kekuatan tenang dari seorang ibu, mengubur masa lalu pemberontaknya demi memberikan kehidupan yang sempurna bagi Andreas.
Masuklah Fharell Desmon, mahasiswa baru berusia sembilan belas tahun sekaligus pewaris karismatik dari Desmon Group.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#11
Sore itu, gerbang besi tempa setinggi tiga meter terbuka perlahan, menyambut mobil sport hitam milik Fharell memasuki kawasan Mansion Benedicta yang megah. Arsitektur bergaya Victoria modern itu tampak kokoh, namun atmosfernya terasa sedikit mencekam saat Fharell melangkah keluar.
Di teras depan, Paroline sudah menunggu. Ia tampak segar dengan blouse sutra berwarna biru langit, menggendong Andreas Sunny yang langsung meronta kegirangan begitu melihat sosok yang ia kenal.
"Papa! Pa... Pa...!" celoteh Andreas, tangannya menggapai-gapai udara dengan semangat.
Fharell tertawa, rasa gugupnya sedikit menguap. Ia segera mengambil alih Andreas dari gendongan Paro, mengecup pipi bayi itu sebelum akhirnya mendaratkan kecupan lembut di pelipis Paroline. "Hai, Sayang. Hai, Jagoan," bisiknya.
Namun, momen manis itu terusik saat pintu jati besar di belakang mereka terbuka. Sosok pria paruh baya dengan setelan jas rapi dan rambut yang mulai memutih berdiri di sana. Tuan Benedicta. Tatapannya tidak hangat, tidak ada senyum ramah sebagai tuan rumah. Yang ada hanyalah sepasang mata elang yang menatap Fharell dengan tatapan remeh dan dingin, seolah sedang menilai seberapa murah harga diri pemuda yang sedang menggendong cucunya itu.
Sepanjang sesi minum teh di beranda belakang, suasana terasa sangat kaku. Tuan Benedicta hanya duduk diam, menyesap tehnya sambil terus mengawasi setiap gerak-gerik Fharell. Ia tidak banyak bertanya, namun aura intimidasi yang dipancarkannya cukup untuk membuat pelayan di sana berjalan berjinjit.
Fharell, yang biasanya humoris dan banyak bicara, merasa lidahnya sedikit kelu. Setiap kali ia mencoba membuka percakapan tentang bisnis atau hobi, Tuan Benedicta hanya menjawab dengan gumaman singkat atau anggukan kecil yang merendahkan.
Saat Paroline beranjak ke dapur untuk mengambilkan camilan tambahan bagi Andreas, Fharell mendekatkan kursinya pada Paro, berbisik pelan dengan wajah yang sedikit cemas.
"Paro... apa Ayahmu memang tidak menyukaiku?" tanya Fharell, matanya melirik singkat ke arah Tuan Benedicta yang kini sedang pura-pura membaca koran.
Paroline yang sedang merapikan poni Andreas hanya tersenyum tipis, meski ada sedikit kekhawatiran di matanya. "Dia memang seperti itu, Rell. Mungkin ini hanya terasa asing baginya karena selama bertahun-tahun, aku tidak pernah membawa satu pun laki-laki ke rumah ini. Dia sangat protektif padaku... dan terutama pada Sunny."
Fharell mengangguk pelan, namun pikirannya berkelana jauh. Ia bukan pemuda bodoh. Ia tahu sejarah kelam yang menyelimuti keluarga ini—atau setidaknya, sejarah yang dipercayai dunia.
Dalam diamnya, Fharell menatap profil samping Tuan Benedicta. Mungkin dia takut aku adalah pria brengsek selanjutnya, pikir Fharell dalam hati.
Fharell teringat rumor yang beredar di kalangan elit Los Angeles. Kabarnya, sebelum Paroline cuti kuliah, ia memiliki kekasih yang sangat ia cintai. Namun, Tuan Benedicta tidak pernah menyetujui hubungan itu karena latar belakang sang pria yang dianggap tidak setara. Saat Paroline dikabarkan hamil, pria itu menghilang bak ditelan bumi.
Rumor jahat mengatakan bahwa Tuan Benedicta-lah yang mengancam pria itu dengan uang atau kekuasaan agar menjauh selamanya, meninggalkan Paroline menanggung malu sendirian. Itulah sebabnya dunia menganggap Tuan Benedicta menerima Andreas hanya karena rasa bersalah, atau sekadar menutupi aib keluarga di balik dinding mansion yang dingin ini.
Fharell merasa sedikit sesak. Jika Tuan Benedicta benar-benar sekaku itu, maka tugas Fharell bukan hanya meyakinkan Paroline, tapi juga meruntuhkan tembok kecurigaan sang ayah yang menganggap semua pria muda adalah predator yang hanya ingin menghancurkan putrinya.
"Pa... Main!" Andreas menarik-narik kerah baju Fharell, membuyarkan lamunan beratnya.
Fharell tersenyum, lalu dengan sengaja ia mengangkat Andreas dan mendudukkannya di pangkuannya. Ia menatap Tuan Benedicta yang ternyata sedang memperhatikannya dari balik koran.
"Tuan Benedicta," panggil Fharell dengan nada sopan namun tegas. "Andreas adalah anak yang luar biasa. Dia sudah mulai banyak bicara sebulan terakhir ini. Dia sangat pintar."
Tuan Benedicta menurunkan korannya sedikit. Matanya beralih ke arah Andreas yang sedang tertawa sambil memainkan jari-jari Fharell. Untuk sepersekian detik, Fharell melihat kilatan kerinduan atau mungkin kesedihan di mata pria tua itu, sebelum akhirnya kembali menjadi dingin.
"Dia memang cucu saya. Tentu saja dia pintar," jawab Tuan Benedicta singkat, lalu kembali menutup wajahnya dengan koran.
Meskipun kunjungan itu terasa seperti ujian masuk neraka, Fharell tidak gentar. Saat mereka berjalan menuju mobil ketika waktu sudah menjelang malam, Paroline menggandeng lengan Fharell dengan erat.
"Maafkan Ayah, ya. Dia butuh waktu," bisik Paro.
Fharell berhenti di samping pintu mobilnya, ia menangkup wajah Paroline dan menatapnya dengan penuh kesungguhan. "Jangan minta maaf, Paro. Aku mengerti. Jika aku adalah ayahnya, aku pun akan melakukan hal yang sama. Dia hanya ingin memastikan bahwa kali ini, pria yang berdiri di sampingmu tidak akan lari saat badai datang."
Fharell mencium kening Paroline lama, membiarkan kehangatan itu menyalurkan janji yang tidak perlu diucapkan dengan kata-kata.
"Aku tidak akan pergi ke mana-mana, Paroline. Tidak peduli seberapa dingin tatapan ayahmu, atau seberapa keras rumor di luar sana. Aku akan tetap di sini, menjadi Papa untuk Andreas dan menjadi pelindung untukmu."
Paroline memeluk Fharell erat, menyembunyikan wajahnya di dada pria itu. Di balkon lantai dua, di balik tirai tipis yang tertutup, Tuan Benedicta berdiri memperhatikan mereka. Tangannya terkepal di balik saku jubah tidurnya. Ia melihat bagaimana Andreas melambaikan tangan dari balik jendela saat Fharell mulai menjalankan mobilnya.
Pria tua itu menghela napas panjang. Mungkin, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia mulai merasa bahwa benteng yang ia bangun mungkin memang harus diruntuhkan oleh pemuda humoris yang keras kepala itu.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰