NovelToon NovelToon
TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak / Nikahmuda
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Akrom Kafa Bihi

Demi melunasi hutang ayahnya, Aluna Maheswari terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arkan Wijaya — CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh wanita mana pun. Pernikahan itu hanya sandiwara selama satu tahun. Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Tanpa perasaan. Namun siapa sangka, di balik sikap dinginnya, Arkan menyimpan luka masa lalu yang kelam. Dan Aluna… adalah satu-satunya wanita yang perlahan mencairkan hatinya. Masalahnya, mantan tunangan Arkan kembali. Dan rahasia besar tentang kematian ibu Arkan mulai terungkap. Kontrak mereka mungkin hanya satu tahun. Tapi perasaan? Tidak ada tanggal kedaluwarsa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akrom Kafa Bihi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengkhianatan Keluarga

Arkan masih menatap foto di layar tablet.

Nama itu terus terngiang di kepalanya.

Surya Wijaya.

Adik kandung ayahnya sendiri.

Bima berdiri diam di depan meja, menunggu reaksi bosnya.

Namun Arkan tidak segera berbicara.

Ia memperbesar foto itu sekali lagi.

Dimas Pradana terlihat sedang berbicara dengan Surya di area parkir kantor dua minggu lalu. Ekspresi mereka tampak serius, seolah sedang membahas sesuatu yang penting.

“Bos…” Bima akhirnya berkata pelan.

Arkan mengalihkan pandangannya dari layar.

“Kamu yakin ini diambil dari kamera parkir kantor?”

“Seratus persen.”

“Dan file ini disembunyikan?”

Bima mengangguk.

“Sepertinya seseorang sengaja memindahkannya ke folder arsip lama.”

Arkan mengetuk meja dengan jari telunjuknya.

Jika Surya benar-benar terlibat…

Maka semuanya mulai masuk akal.

Surya selama ini memang memegang beberapa proyek investasi keluarga. Ia juga sering bertemu dengan klien dan investor luar.

Aksesnya ke dana perusahaan sangat besar.

Namun satu hal masih mengganggu pikiran Arkan.

Kenapa Surya bekerja sama dengan Cemalia?

“Bos…” Bima kembali membuka suara.

“Menurutmu kita harus langsung melaporkan ini ke Pak Wijaya?”

Arkan menggeleng.

“Belum.”

“Kenapa?”

Arkan berdiri dari kursinya dan berjalan menuju jendela besar di belakang meja.

Dari lantai tertinggi gedung itu, seluruh kota Jakarta terlihat jelas.

“Jika ini benar,” katanya pelan, “aku ingin bukti yang tidak bisa dibantah.”

Bima mengangguk pelan.

“Jadi kita tetap menyelidiki diam-diam?”

“Ya.”

Arkan menoleh padanya.

“Dan mulai sekarang, semua aktivitas Paman Surya harus dipantau.”

Bima terlihat sedikit ragu.

“Itu… cukup berbahaya, Bos.”

Arkan tersenyum tipis.

“Semakin besar rahasianya, semakin besar risikonya.”

Sementara itu di mansion Wijaya, Aluna sedang duduk di ruang tamu bersama Bi Sari.

Di tangannya ada album foto lama.

Ia menemukan album itu di ruang penyimpanan rumah pagi tadi.

Beberapa foto memperlihatkan Arkan saat masih muda bersama keluarganya.

Aluna tersenyum kecil melihat salah satu foto.

Arkan terlihat sangat berbeda.

Lebih santai.

Bahkan tersenyum lebar.

“Foto itu diambil saat Tuan Arkan masih kuliah,” kata Bi Sari sambil tertawa kecil.

Aluna menoleh.

“Benarkah?”

“Waktu itu dia masih sering pulang ke rumah.”

Bi Sari menunjuk satu foto.

“Yang itu diambil saat ulang tahun Pak Surya.”

Aluna melihat foto yang dimaksud.

Seorang pria paruh baya berdiri di tengah keluarga besar Wijaya.

Wajahnya ramah.

Matanya terlihat hangat.

Itu pasti Surya.

Aluna mengerutkan kening sedikit.

Sulit membayangkan pria dalam foto itu terlibat dalam sesuatu yang jahat.

“Pak Surya sering datang ke sini?” tanya Aluna.

Bi Sari mengangguk.

“Dulu sering sekali.”

“Sekarang?”

“Sekarang jarang.”

Aluna memandang foto itu lagi.

Entah kenapa hatinya terasa tidak nyaman.

Di kantor pusat Wijaya Group, Arkan masih memeriksa laporan keuangan lama.

Semakin dalam ia menggali, semakin banyak hal aneh yang ia temukan.

Beberapa proyek ternyata mengalami kenaikan biaya yang tidak wajar.

Dan hampir semuanya berkaitan dengan tim yang sama.

Dimas Pradana.

Arkan menyandarkan tubuhnya di kursi.

Jika Dimas hanyalah bawahan, maka ia pasti bekerja atas perintah seseorang.

Dan sekarang nama Surya muncul dalam permainan ini.

Tiba-tiba pintu ruang kerja terbuka.

Seorang sekretaris masuk dengan wajah gugup.

“Pak Arkan… ada tamu.”

“Siapa?”

“Pak Surya.”

Arkan terdiam beberapa detik.

Seolah dunia sengaja bermain dengannya hari ini.

“Suruh dia masuk.”

Beberapa detik kemudian seorang pria paruh baya masuk dengan langkah santai.

Surya Wijaya.

Wajahnya tersenyum hangat seperti biasa.

“Arkan,” katanya. “Sudah lama kita tidak berbicara.”

Arkan berdiri.

“Paman.”

Mereka berjabat tangan.

Namun Arkan tidak melewatkan satu detail kecil.

Tangan Surya terasa sedikit dingin.

“Aku mendengar tentang penyelidikan proyek itu,” kata Surya sambil duduk.

“Kabar menyebar cepat.”

“Dalam dunia bisnis, kabar buruk selalu menyebar paling cepat.”

Arkan duduk kembali di kursinya.

“Paman datang untuk membicarakan itu?”

Surya tersenyum.

“Sebagian.”

Ia melihat sekeliling ruangan sebelum melanjutkan.

“Arkan, keluarga kita sudah membangun perusahaan ini selama puluhan tahun.”

Arkan tidak menjawab.

“Aku hanya ingin memastikan kamu tidak melakukan sesuatu yang bisa merusaknya.”

Arkan menyipitkan mata.

“Maksud Paman?”

Surya mencondongkan tubuh sedikit.

“Kadang-kadang… beberapa masalah lebih baik diselesaikan secara internal.”

Arkan langsung mengerti maksudnya.

Paman Surya ingin ia menutup penyelidikan ini.

“Jika ada orang yang bersalah,” kata Arkan dingin, “mereka harus bertanggung jawab.”

Surya menatapnya lama.

“Bahkan jika orang itu anggota keluarga?”

Ruangan itu mendadak terasa sangat sunyi.

Arkan tidak berkedip.

“Terutama jika itu anggota keluarga.”

Beberapa detik mereka hanya saling menatap.

Lalu Surya tertawa kecil.

“Kau benar-benar mirip kakakmu.”

Ia berdiri dari kursi.

“Aku hanya datang untuk memberi saran.”

Ia berjalan menuju pintu.

Namun sebelum keluar, ia berhenti.

“Kadang-kadang kebenaran bisa menghancurkan lebih banyak hal daripada kebohongan.”

Pintu tertutup.

Arkan tetap duduk diam di kursinya.

Satu hal kini semakin jelas.

Paman Surya tahu bahwa ia sedang menyelidiki sesuatu.

Dan itu berarti permainan ini semakin berbahaya.

Malam itu di sebuah apartemen mewah di pusat kota, Cemalia berdiri di depan jendela besar.

Di tangannya ada segelas anggur merah.

Ponselnya bergetar.

Ia melihat pesan yang masuk.

Pesan itu hanya berisi satu kalimat.

“Arkan sudah mulai mencurigai Surya.”

Cemalia tersenyum tipis.

“Cepat sekali…”

Ia menyesap anggurnya perlahan.

“Tidak apa-apa.”

Ia mengambil ponselnya dan mengetik balasan.

“Biarkan dia mencurigainya.”

Beberapa detik kemudian pesan lain datang.

“Bagaimana jika mereka menemukan semuanya?”

Cemalia tertawa kecil.

“Tidak mungkin.”

Ia menatap pantulan dirinya di jendela.

Karena hanya dia yang tahu seluruh rencana itu.

Dan rahasia terbesar dari semuanya—

Bahkan Arkan sendiri belum mengetahuinya.

Bahwa kematian ayah Aluna hanyalah bagian kecil dari permainan yang jauh lebih besar.

Permainan yang sudah dimulai bertahun-tahun lalu.

Dan jika Arkan terus menggali…

Ia mungkin akan menemukan sesuatu yang bisa menghancurkan seluruh keluarganya.

Cemalia mengangkat gelasnya sedikit.

“Selamat datang di permainan yang sebenarnya, Arkan.”

Di luar jendela, lampu kota Jakarta bersinar terang.

Namun di balik cahaya itu, bayangan pengkhianatan semakin mendekat.

Bersambung ke Bab 35…

1
jenny
aku bingung Thor...
di bab 2 dijelaskan klo ayah Aluna tidak bisa hadir di pernikahan Aluna karena kesehatan yang belum stabil, tapi di bab ini menjelaskan klo ayah Aluna meninggal di tempat proyek? yang benar mana nih?
𝔅𝔩𝔞𝔠𝔨 𝔐𝔞𝔪𝔟𝔞☬♆: Coba dibaca ulang deh kak🤭
total 1 replies
Veline
Semangat Author untuk Karya nya 🔥🔥💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!