NovelToon NovelToon
Menantu Kaisar Agung

Menantu Kaisar Agung

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Harem / Mengubah Takdir
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Zhao Ling'er

Ling Chen, pemuda cacat yang mati dalam kesepian, terbangun di dunia kultivasi sebagai pengawal rendahan di Kekaisaran Api Agung. Namun sebelum memahami takdir barunya, seorang putri kekaisaran tiba-tiba memilihnya sebagai suami di hadapan seluruh istana.

Di balik tubuh barunya tersembunyi Api Hitam kuno, kekuatan terlarang yang mampu mengguncang kekaisaran dan membakar langit. Terjebak dalam intrik politik, perebutan takhta, dan ambisi para pangeran, Ling Chen harus bangkit dari menantu yang diremehkan, menjadi penguasa yang ditakuti seluruh dunia.

Di dunia di mana kekuatan adalah hukum, ia akan membuktikan, yang hina hari ini, bisa menjadi Kaisar Agung esok hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao Ling'er, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12

Pagi di Pulau Dewa Laut selalu dimulai dengan suara ombak yang lembut menyapa pantai, diikuti hembusan angin laut yang membawa qi murni seolah pelukan alam. Paviliun Dewa Laut berdiri megah di puncak tebing karang, dikelilingi kabut tipis yang membuatnya tampak seperti istana di awan. Di halaman latihan belakang paviliun—sebuah arena terbuka dengan kolam air kristal di tengah—tiga murid Peri Qing Yi mulai hari mereka.

Ling Chen berdiri di sisi kiri, jubah biru laut sederhana yang diberikan Qing Lin menempel di tubuhnya yang masih berbau api dari dunia lama. Di tengah, Qing Lin duduk bersila dengan anggun, tangannya membentuk segel qi air yang mengalir seperti sungai kecil di sekitar tubuhnya. Dan di sisi kanan… Bai Yue Chan.

Bai Yue Chan adalah gadis berusia 19 tahun dengan rambut pendek berwarna perak kebiruan yang selalu bergerak seolah ditiup angin sendiri. Matanya besar dan penuh semangat, senyumnya lebar, dan energinya seperti badai kecil yang tak pernah reda. Jubahnya sedikit kusut karena dia baru saja berlari keliling pulau “untuk pemanasan”.

“Pagi, Saudara Ling! Siapkah kau hari ini? Aku sudah siap bikin kau basah kuyup!” seru Bai Yue Chan sambil melompat-lompat, tangannya sudah membentuk bola air kecil yang berputar-putar.

Ling Chen tersenyum tipis. “Aku siap, Saudari Yue Chan. Tapi jangan terlalu keras ya, aku masih baru di teknik air.”

Qing Lin membuka mata pelan, suaranya lembut seperti riak air. “Yue Chan, jangan usil terlalu dini. Guru bilang hari ini kita fokus pada **Penyatuan Elemen Dasar**—membaurkan api Ling Chen dengan air kita.”

Bai Yue Chan memonyongkan bibir. “Ih, Kak Qing Lin selalu serius. Padahal kalau nggak usil dikit, latihan jadi membosankan!” Lalu dia berbalik ke Ling Chen, mata berbinar. “Eh, Saudara Ling, kemarin malam aku dengar kau bermimpi bicara nama ‘Yan’er’. Siapa tuh? Pacar? Istri? Cerita dong!”

Ling Chen tersentak, wajahnya sedikit memerah. “Itu… urusan pribadi.”

Bai Yue Chan tertawa riang. “Wah, rahasia! Pasti istri! Aku bisa lihat dari matamu yang selalu melamun kalau lagi diam. Pasti kangen banget ya? Tenang aja, di sini kita bantu kau jadi kuat supaya cepet balik ke dia!”

Qing Lin menggeleng pelan sambil tersenyum kecil. “Yue Chan, jangan ganggu dia terlalu banyak. Ling Chen datang ke sini dengan luka hati. Biarkan dia beradaptasi dulu.”

Bai Yue Chan langsung berhenti melompat, ekspresinya berubah jadi serius—meski hanya sebentar. Dia mendekati Ling Chen, menepuk bahunya dengan lembut. “Maaf ya, Saudara Ling. Aku emang suka usil, tapi aku nggak maksud nyakitin. Kita di sini keluarga sekarang. Kalau kau sedih, bilang aja. Aku bisa bikin ombak kecil buat kau main-main biar lupa sejenak.”

Ling Chen menatapnya, lalu tertawa pelan—tawa pertama yang tulus sejak pengusiran. “Terima kasih, Yue Chan. Dan terima kasih juga, Qing Lin. Kalian… membuat tempat ini terasa seperti rumah.”

Peri Qing Yi muncul dari paviliun utama, jubahnya mengalir seperti air terjun. Auranya tenang, tapi tatapannya penuh kehangatan saat melihat ketiga muridnya.

“Hari ini, kita mulai dengan latihan dasar: **Air yang Memeluk Api**,” katanya. “Ling Chen, api di tubuhmu sangat kuat, tapi kaku. Air Qing Lin dan Yue Chan akan mengajari kau fleksibilitas. Mulai dengan duduk di kolam tengah. Biarkan qi air mereka mengalir ke meridianmu, lalu coba alirkan api balik tanpa membakar air.”

Mereka bertiga duduk membentuk segitiga di atas kolam kristal. Qing Lin di depan Ling Chen, tangannya menyentuh telapak Ling Chen dengan lembut. Yue Chan di belakang, tangannya di punggung Ling Chen, energi riangnya seperti dorongan kecil yang penuh semangat.

Saat qi air mulai mengalir, Ling Chen merasakan sensasi dingin yang menyegarkan—berbeda sekali dengan panas api yang biasa dia rasakan. Air Qing Lin lembut, mengalir seperti pelukan ibu, membersihkan meridian yang masih terbakar sisa amarah dan kesedihan. Air Yue Chan lebih liar, seperti ombak yang bermain-main, membuat qi Ling Chen bergerak lebih dinamis.

“Fokus, Chen,” bisik Qing Lin. “Biarkan apimu mengalir bersama air, bukan melawannya.”

Ling Chen menutup mata, mengingat Yue Yan—bagaimana api mereka dulu menyatu sempurna. Perlahan, api emas di dantiannya mulai bergerak mengikuti aliran air. Tiba-tiba, uap tipis muncul di permukaan kolam—api dan air bertemu tanpa saling menghancurkan.

Bai Yue Chan bertepuk tangan kegirangan. “Wah! Lihat itu! Uap jingga! Cantik banget! Saudara Ling, kau genius!”

Qing Lin tersenyum bangga. “Ini baru awal. Tapi kau cepat sekali menyesuaikan. Api leluhurmu memang luar biasa.”

Peri Qing Yi mengangguk dari kejauhan. “Baik. Besok kita tingkatkan. Ling Chen, kau akan belajar **Gelombang Api Laut**—teknik gabungan yang hanya bisa dikuasai jika hati dan qi selaras.”

Sore itu, setelah latihan, ketiganya duduk di tepi pantai sambil makan buah laut segar yang dipetik Yue Chan. Bai Yue Chan bercerita tentang petualangannya dulu saat tersesat di pulau kecil, Qing Lin mendengarkan dengan sabar sambil menyisir rambut Yue Chan yang kusut, dan Ling Chen… hanya diam menikmati.

Tapi di tengah cerita, Yue Chan tiba-tiba memeluk bahu Ling Chen dari samping. “Hei, Saudara Ling. Mulai sekarang, kalau kangen sama Yan’er-mu, bilang aja ke kami. Kita bisa bikin pesta kecil di pantai, nyanyi bareng, atau aku bikin ombak buat kau teriak sepuasnya!”

Qing Lin tertawa pelan. “Yue Chan benar. Kami di sini bukan hanya senior dan junior. Kami keluarga.”

Ling Chen menatap ombak yang bergulung pelan, hatinya terasa lebih ringan. “Terima kasih… Kakak Qing Lin, Yue Chan. Kalian membuatku merasa… tidak sendirian lagi.”

Bai Yue Chan menyeringai lebar. “Nah gitu dong! Sekarang, siapa mau lomba renang ke karang tengah? Yang kalah traktir makan malam!”

Qing Lin menggeleng sambil tersenyum. Ling Chen tertawa, lalu ikut berdiri. “Aku ikut. Tapi jangan curang ya, Yue Chan.”

Tawa mereka bergema di pantai Pulau Dewa Laut, tiga murid yang berbeda kepribadian tapi saling melengkapi. Di tempat tersembunyi ini, Ling Chen mulai menyembuhkan lukanya—dan membangun kekuatan baru untuk suatu hari kembali ke Yue Yan.

Di kejauhan, Peri Qing Yi mengamati dari paviliun, senyum tipis di bibirnya. “Mereka bertiga… akan menjadi kekuatan yang tak terduga.”

1
Nanik S
Cukup menarik diawal
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ: hehehe, terimakasih 🙏
total 1 replies
Akagami
mantap
Akagami
Lanjit
Akagami
ok
Akagami
seru
Akagami
mantap
Akagami
Awal yang menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!