Demi menyelamatkan perusahaan ayahnya, Alina menerima pernikahan kontrak dengan pewaris konglomerat yang dingin dan kejam. Di mata semua orang, ia hanyalah wanita murahan yang menikah demi uang.
Tak ada yang tahu, Alina sebenarnya pewaris keluarga finansial terbesar yang sengaja menyembunyikan identitasnya.
Saat kontrak hampir berakhir dan rahasianya terbongkar, sang suami justru jatuh cinta. Kini, ketika kebenaran terungkap siapa yang sebenarnya sedang mempermainkan siapa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laskar Bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanpa Perisai
Ruang tamu terasa terlalu luas malam itu.
Lampu hanya menyala setengah, menciptakan bayangan panjang di lantai marmer. Tidak ada lagi jarak formal seperti di ruang rapat. Tidak ada meja panjang sebagai pembatas.
Hanya Arsen dan Alina, berdiri beberapa langkah terpisah.
“Kau ingin tahu semuanya?” tanya Alina lagi, suaranya lebih tenang dari yang ia rasakan.
“Ya,” jawab Arsen tanpa ragu.
Tidak ada tuntutan dalam nada suaranya. Hanya ketegasan.
Alina menarik napas panjang, lalu duduk perlahan di sofa. Arsen tetap berdiri beberapa detik sebelum akhirnya duduk di seberangnya.
Tidak terlalu dekat.
Tidak terlalu jauh.
“Namaku tetap Alina,” katanya pelan. “Itu bukan kebohongan. Tapi nama lengkapku Alina Ardhana.”
Arsen tidak menyela.
“Ardhana Capital adalah perusahaan yang dibangun kakekku. Setelah beliau meninggal, kepemimpinan sementara dipegang pamanku. Secara hukum… aku pemegang saham mayoritas.”
Keheningan.
“Mayoritas?” ulang Arsen pelan.
Alina mengangguk.
“Kenapa kau menyembunyikan itu?” tanyanya lagi.
“Karena jika aku datang sebagai Alina Ardhana, semua orang akan melihatku sebagai pewaris manja yang ingin bermain bisnis,” jawabnya jujur. “Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa berdiri tanpa nama itu.”
“Dan kau memilihku sebagai bagian dari pembuktian itu?” Nada Arsen masih terkendali, tapi kini lebih dalam.
“Awalnya, ya.”
Ia tidak ingin memoles kebenaran.
“Perusahaan ayahku hampir bangkrut. Aku tahu satu-satunya cara menyelamatkannya adalah mengikat kerja sama dengan pihak yang kuat. Kau kandidat terbaik. Tapi kau dikenal tidak mudah percaya pada siapa pun.”
Arsen tersenyum tipis. “Jadi kau memutuskan untuk masuk lewat pintu pernikahan.”
“Itu kesepakatan yang saling menguntungkan,” jawab Alina pelan. “Kau butuh citra stabil di tengah tekanan keluarga. Aku butuh waktu dan perlindungan untuk menyelamatkan perusahaan ayahku.”
“Dan pengujian?” tanya Arsen.
Alina menunduk sejenak sebelum menatapnya lagi. “Aku ingin tahu seperti apa pria yang akan berdiri di puncak Wijaya Group. Apakah dia hanya kuat di angka, atau juga di prinsip.”
“Aku tikus laboratoriummu,” gumam Arsen.
“Tidak,” Alina cepat-cepat membantah. “Aku tidak pernah menganggapmu objek. Aku hanya—”
“Kau hanya tidak percaya padaku,” potongnya.
Kata itu terasa seperti batu yang jatuh ke dalam dada Alina.
“Aku tidak percaya siapa pun,” bisiknya. “Termasuk diriku sendiri.”
Arsen terdiam.
Ia melihat sesuatu di wajah Alina yang belum pernah ia lihat sebelumnya kerentanan yang nyata.
“Aku tumbuh dalam keluarga di mana setiap keputusan dinilai berdasarkan manfaat,” lanjut Alina. “Aku belajar sejak kecil bahwa perasaan adalah kelemahan. Jadi ketika aku mulai… merasa berbeda tentangmu, aku tidak tahu harus bagaimana.”
Arsen menatapnya lama.
“Berbeda bagaimana?” tanyanya pelan.
Alina tersenyum pahit. “Kau benar-benar ingin aku menjawab itu sekarang?”
“Aku butuh kejujuran.”
Ia menarik napas dalam.
“Aku tidak lagi melihat pernikahan ini sebagai kontrak,” katanya akhirnya. “Dan itu menakutkan.”
Keheningan menyelimuti ruangan.
Arsen tidak bergerak.
“Jika aku mengatakan aku juga tidak ingin ini berakhir sebagai kontrak,” ucapnya perlahan, “apakah itu bagian dari rencanamu juga?”
Alina menggeleng pelan. “Itu bagian yang tidak pernah bisa kukendalikan.”
Untuk pertama kalinya malam itu, ketegangan sedikit mereda.
Namun belum sepenuhnya hilang.
“Tekanan saham,” lanjut Arsen. “Apakah itu sepenuhnya darimu?”
Alina menggeleng lagi. “Tidak. Dewan Ardhana memang melihat peluang. Aku hanya meminta mereka memperlambat serangan awal. Aku ingin melihat bagaimana kau merespons tanpa menghancurkanmu.”
“Itu tetap manipulasi.”
“Ya,” akunya.
Kejujuran itu pahit, tapi perlu.
Arsen berdiri dan berjalan beberapa langkah menjauh, lalu kembali lagi.
“Kau tahu apa yang paling membuatku marah?” tanyanya.
“Apa?”
“Bukan karena kau pewaris besar. Bukan karena kau punya kekuatan lebih. Tapi karena kau memilih menanggung semuanya sendiri.”
Alina terdiam.
“Aku berdiri di sampingmu di depan media. Di depan keluargaku. Aku membelamu tanpa tahu siapa kau sebenarnya. Tapi kau tidak pernah memberiku kesempatan melakukan hal yang sama dengan informasi lengkap.”
Kata-kata itu membuat matanya memanas.
“Aku takut kau akan melihatku berbeda,” bisiknya.
“Aku memang melihatmu berbeda,” jawab Arsen tegas.
Jantungnya terasa berhenti sesaat.
“Lebih kuat,” lanjutnya. “Lebih berbahaya. Dan lebih sendirian dari yang kukira.”
Air mata akhirnya jatuh juga.
Bukan karena marah.
Bukan karena kalah.
Tapi karena beban yang selama ini ia pikul sendirian akhirnya retak.
“Aku tidak ingin sendirian lagi,” katanya pelan.
Arsen mendekat, berhenti tepat di depannya.
“Kau tidak harus,” jawabnya.
Keheningan kali ini terasa berbeda.
Lebih hangat.
Namun Arsen belum selesai.
“Ada satu hal lagi,” katanya. “Jika keluarga Ardhana mencoba mengambil alih perusahaanku lewatmu, aku tidak akan tinggal diam.”
“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi,” tegas Alina.
“Bisakah aku percaya padamu?”
Pertanyaan itu sederhana.
Tapi jawabannya menentukan segalanya.
Alina menatapnya tanpa ragu. “Ya.”
Arsen memegang dagunya pelan, memaksanya menatap lurus.
“Tidak ada lagi setengah kebenaran,” katanya.
“Tidak ada lagi.”
“Tidak ada lagi permainan.”
“Tidak ada lagi.”
Untuk beberapa detik, mereka hanya berdiri saling menatap.
Tanpa perisai.
Tanpa strategi.
Tanpa topeng.
Lalu Arsen memeluknya.
Bukan pelukan penuh gairah.
Bukan juga formalitas.
Tapi pelukan seseorang yang memilih untuk tetap tinggal meski tahu risikonya.
Alina merasakan sesuatu yang tak pernah ia izinkan tumbuh kini berdetak jelas di dadanya.
Cinta.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak mencoba menahannya.
Namun di balik kehangatan itu, ia tahu satu hal:
Mengungkap kebenaran hanyalah langkah pertama.
Sekarang, ia dan Arsen harus menghadapi dunia luar keluarga Ardhana, Livia, dewan, pasar bukan lagi sebagai dua orang yang saling menguji…
Melainkan sebagai pasangan yang benar-benar berdiri di sisi yang sama.
Dan itu, mungkin, adalah ujian yang jauh lebih berat.
(BERSAMBUNG)