NovelToon NovelToon
Cinta Kontrak Seorang CEO

Cinta Kontrak Seorang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ana Sutiana

Ketika hidupmu dipenuhi dengan rutinitas dan kesibukan, tiba-tiba sebuah kontrak cinta muncul di depan mata. Sakira Anindya, seorang wanita muda yang mandiri, harus menjalani perjanjian unik dengan seorang CEO tampan dan misterius, Rafael Pratama. Awal dari perjanjian itu hanyalah formalitas, tapi hati tak pernah bisa diajak kompromi.

bisakah Sakira menjaga jarak tanpa terjerat perasaan? Ataukah kontrak ini justru membuka jalan bagi cinta yang tak pernah ia duga? Drama, romansa, dan rahasia CEO menanti untuk mengubah hidup Sakira selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Sutiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 23. Garis yang mulai mengabur

Sakira berdiri lama di depan jendela kamar apartemen mewah itu. Kota masih sama—ramai, gemerlap, tidak peduli pada hati siapa pun yang sedang berantakan.

Di atas meja, kontrak itu masih terbuka.

Kontrak pernikahan.

Dokumen yang dulu terasa seperti penyelamat, kini terasa seperti penjara tak terlihat.

Bab 22 telah meninggalkan luka yang tidak ia duga. Rafael mencium keningnya bukan sebagai formalitas. Bukan sebagai sandiwara di depan keluarga. Tapi sebagai seorang pria yang mulai kehilangan kendali atas perasaannya sendiri.

Dan Sakira…

ia tidak menarik diri.

Itulah yang paling membuatnya takut.

Pintu kamar terbuka pelan Rafael masuk tanpa banyak suara. Ia tidak lagi mengetuk seperti biasanya. Seolah batas-batas yang dulu mereka sepakati perlahan memudar.

“Kita perlu bicara.”

Sakira menutup mata sesaat sebelum berbalik. “Tentang apa? Pasal tambahan?”

Rafael menatapnya lama. Tatapan itu berbeda. Tidak dingin. Tidak datar. Ada sesuatu yang hidup di sana.

“Jangan sembunyi di balik kontrak lagi.”

Jantung Sakira berdetak lebih cepat.

“Aku tidak bersembunyi,” katanya pelan.

“Lalu kenapa kamu menghindar sejak tadi pagi?”

Karena aku takut.

Tapi kalimat itu tidak pernah keluar.

Rafael mendekat. Tidak terlalu dekat. Tapi cukup untuk membuat jarak di antara mereka terasa seperti benang tipis yang bisa putus kapan saja.

“Semalam,” Rafael memulai dengan suara rendah, “apa yang kamu rasakan?”

Sakira menelan ludah. “Itu tidak ada di dalam kontrak.”

Rafael menghela napas panjang, jelas menahan sesuatu.

“Aku tidak peduli pada kontrak itu lagi.”

Kalimat itu membuat Sakira terdiam.

Kontrak itu adalah alasan ia bisa berdiri di apartemen ini. Alasan keluarganya selamat dari tekanan utang. Alasan hidupnya berubah.

“Rafael, jangan bicara seperti itu,” katanya akhirnya.

“Kenapa? Karena kamu takut semuanya jadi nyata?”

Sakira memalingkan wajah.

Rafael melangkah lebih dekat. Kini hanya sejengkal jarak yang tersisa.

“Aku tidak pernah menyentuhmu tanpa alasan,” lanjutnya pelan. “Aku tidak pernah mencium keningmu hanya untuk akting.”

Sakira mengangkat wajahnya perlahan. Mata mereka bertemu.

Dan di detik itu, tidak ada CEO. Tidak ada wanita dalam pernikahan kontrak.

Hanya dua manusia yang sama-sama jatuh tanpa peringatan.

“Aku tidak ingin jadi kesalahanmu,” bisik Sakira.

Rafael langsung menjawab, “Kamu bukan kesalahan.”

Suasana mendadak hening.

Rafael mengangkat tangannya, menyentuh ujung rambut Sakira yang tergerai. Gerakan sederhana, tapi membuat napas Sakira goyah.

“Kesalahan terbesarku adalah berpikir aku bisa menjalani ini tanpa melibatkan perasaan.”

Sakira tersenyum pahit. “Itu memang tujuan awalnya.”

“Tujuan bisa berubah.”

“Kontrak tidak.”

Rafael menatap meja tempat dokumen itu tergeletak.

Tanpa peringatan, ia berjalan ke sana dan mengambilnya.

“Rafael—”

Namun pria itu sudah membuka halaman terakhir.

“Pasal 12,” bacanya pelan. “Hubungan ini berakhir setelah satu tahun tanpa keterikatan emosional.”

Ia mengangkat pandangannya.

“Kita bahkan belum setengah jalan, dan aku sudah melanggar pasal itu.”

Jantung Sakira bergetar.

“Kalau kamu ingin mengakhirinya, kita bisa batalkan sekarang.”

Ucapan itu terdengar seperti keberanian, tapi sebenarnya adalah perlindungan diri.

Rafael mendekat lagi, kini berdiri tepat di depannya.

“Kalau aku mengakhirinya… itu bukan karena aku ingin pergi.”

Sakira menatapnya, bingung.

“Tapi karena aku ingin kamu tinggal tanpa kontrak.”

Sunyi.

Hanya suara napas mereka yang terdengar.

“Aku tidak bisa membiarkanmu terikat karena uang, Sakira.”

Nama itu terdengar lembut dari bibirnya.

“Aku tidak pernah merasa terikat karena uang,” jawab Sakira jujur. “Awalnya mungkin iya. Tapi sekarang…”

Ia terdiam.

Rafael menunggu.

“Sekarang aku takut kehilangan sesuatu yang bahkan belum benar-benar dimulai.”

Kalimat itu akhirnya keluar.

Rafael terdiam beberapa detik, lalu—untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka—ia tersenyum tanpa topeng.

“Kita sudah memulainya sejak lama. Kita hanya terlalu keras kepala untuk mengakuinya.”

Sakira tertawa pelan, nyaris tanpa suara.

Tiba-tiba ponsel Rafael berdering. Nama asisten pribadinya muncul di layar.

Rafael mengangkatnya.

“Ya.”

Ekspresinya berubah dalam hitungan detik.

“Apa maksudnya bocor?”

Sakira langsung tegang.

Rafael berjalan menjauh sedikit, tapi suaranya masih terdengar jelas.

“Siapa yang menyebarkan?”

Wajahnya mengeras.

Beberapa detik kemudian, ia mematikan panggilan.

“Apa yang terjadi?” tanya Sakira.

Rafael menatapnya.

“Media mendapatkan salinan kontrak kita.”

Dunia terasa berhenti.

Sakira membeku.

“Tidak mungkin…”

“Semua mungkin dalam dunia bisnis.”

“Kalau itu tersebar…” suara Sakira melemah.

Reputasinya. Keluarganya Semua alasan ia menerima kontrak ini akan jadi konsumsi publik.

Rafael berjalan kembali mendekat.

“Aku akan tangani.”

“Bagaimana caranya? Kalau mereka tahu pernikahan ini hanya kesepakatan—”

Rafael memegang kedua bahunya.

“Dengarkan aku.”

Tatapannya tajam, tapi bukan dingin.

“Mulai sekarang, kita bukan lagi pasangan kontrak.”

Sakira mengerutkan kening.

“Kita akan jadi pasangan yang benar-benar menikah.”

Jantungnya seolah berhenti berdetak.

“Itu satu-satunya cara,” lanjut Rafael. “Kalau mereka mencari celah, mereka tidak akan menemukannya.”

“Rafael… itu berarti—”

“Berarti aku memilihmu. Bukan karena kontrak. Bukan karena kesepakatan.”

Suara Rafael merendah.

“Tapi karena aku ingin.”

Air mata Sakira hampir jatuh, tapi ia menahannya.

“Dan kalau semua ini hanya strategi bisnis lagi?” tanyanya lirih.

Rafael tidak langsung menjawab.

Sebagai CEO, ia terbiasa menghitung risiko. Mengambil keputusan berdasarkan logika.

Tapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia mengambil keputusan berdasarkan perasaan.

Ia menarik Sakira ke dalam pelukan.

Bukan pelukan formal.

Bukan pelukan untuk dilihat orang.

Tapi pelukan seorang pria yang tidak ingin kehilangan wanita yang berdiri di depannya.

“Kalau ini strategi,” bisiknya, “maka ini satu-satunya strategi yang tidak menguntungkanku.”

Sakira akhirnya membalas pelukan itu.

Dan di antara ketegangan media, ancaman reputasi, dan kontrak yang mulai retak—

Mereka menyadari satu hal:

Perasaan memang tidak pernah tercantum dalam kontrak.

Dan sekarang, garis itu benar-benar mulai mengabur.

Pelukan itu tidak berlangsung lama, tapi cukup untuk mengubah sesuatu yang tak terlihat.

Rafael melepaskan Sakira perlahan, seolah takut jika terlalu cepat, semua keberanian yang baru saja ia ucapkan akan menguap begitu saja.

“Kita punya waktu sebelum berita itu benar-benar meledak,” katanya tenang, meski sorot matanya menunjukkan perhitungan yang cepat. “Aku akan atur konferensi pers besok pagi.”

“Besok?” Sakira terkejut. “Secepat itu?”

“Semakin cepat kita bergerak, semakin kecil ruang bagi mereka untuk membentuk opini.”

Sakira menatapnya. Inilah Rafael yang dikenal dunia—tegas, strategis, selalu selangkah di depan lawan. Tapi malam ini ada sesuatu yang berbeda. Ia tidak hanya melindungi nama perusahaan. Ia melindungi mereka.

“Aku harus ikut?” tanya Sakira pelan.

Rafael tidak langsung menjawab. Ia mendekat ke meja, merapikan dokumen kontrak itu, lalu menutupnya dengan satu gerakan pasti.

“Kalau kamu tidak siap, aku bisa menghadapi mereka sendiri.”

Sakira menggeleng pelan. “Ini tentang kita. Aku tidak mau bersembunyi.”

Rafael menatapnya lama. Ada kebanggaan tipis di wajahnya.

“Kamu yakin?”

“Aku mungkin bukan bagian dari dunia bisnismu,” jawab Sakira, suaranya lembut tapi tegas, “tapi aku adalah bagian dari hidupmu sekarang.”

Kalimat itu menggantung di antara mereka.

Rafael melangkah mendekat lagi, kali ini tanpa ragu. Tangannya menyentuh jemari Sakira, menggenggamnya ringan.

“Besok,” katanya pelan, “apa pun yang terjadi, tetap di sampingku.”

Sakira tersenyum kecil. “Selama kamu tidak menjadikanku sekadar tameng.”

Rafael mengangkat alisnya tipis. “Aku tidak pernah menjadikan sesuatu yang berharga sebagai tameng.”

Wajah Sakira memanas. Ia memalingkan muka, tapi jantungnya berdegup tak terkendali.

Di luar, langit mulai gelap sempurna. Lampu kota menyala satu per satu, seperti ribuan mata yang siap mengawasi kehidupan mereka esok hari.

Ponsel Sakira tiba-tiba bergetar.

Nama ibunya muncul di layar.

Sakira membeku.

Rafael memperhatikan perubahan ekspresinya. “Angkat.”

Dengan tangan sedikit gemetar, Sakira menerima panggilan itu.

“Sakira… ini benar?” Suara ibunya terdengar cemas. “Tetangga bilang ada berita tentang pernikahanmu…”

Sakira menutup mata sesaat. “Ibu, jangan percaya apa pun sebelum mendengar dariku.”

“Jadi itu tidak benar?”

Sakira melirik Rafael. Pria itu berdiri di dekatnya, tatapannya memberi kekuatan tanpa perlu kata-kata.

“Pernikahanku bukan kebohongan,” jawab Sakira pelan. “Aku baik-baik saja.”

Hening sejenak sebelum ibunya menghela napas panjang. “Yang penting kamu tidak terluka.”

Kalimat sederhana itu justru menusuk paling dalam.

“Aku tidak akan terluka, Bu,” katanya, tanpa sadar menggenggam tangan Rafael lebih erat.

Setelah panggilan berakhir, Sakira terdiam beberapa saat.

“Aku tidak pernah membayangkan semuanya akan seperti ini,” bisiknya.

Rafael mengangkat dagunya pelan agar menatapnya. “Hidup jarang berjalan sesuai rencana.”

“Termasuk perasaan?”

Rafael tersenyum tipis. “Terutama perasaan.”

Detik itu terasa lebih jujur daripada semua pasal dalam kontrak mereka.

Sakira menghela napas panjang, lalu berkata,

“Kalau besok dunia tahu semuanya… dan mereka tetap meragukan kita?”

Rafael mendekat, jarak di antara mereka kembali memudar.

“Biarkan mereka meragukan,” ujarnya rendah. “Kita tidak perlu membuktikan apa pun pada dunia.”

“Lalu pada siapa?”

Rafael menatapnya dalam.

“Pada diri kita sendiri.”

Dan untuk pertama kalinya sejak kontrak itu ditandatangani, Sakira tidak merasa seperti pihak kedua dalam kesepakatan.

Ia merasa dipilih.

Bukan karena kewajiban.

Bukan karena strategi.

Tapi karena hati.

Malam semakin larut.

Dan di antara ancaman skandal serta sorotan publik yang menunggu, dua insan itu berdiri berdampingan—bukan lagi dibatasi garis tinta

hitam di atas kertas.

Melainkan oleh keberanian untuk memperjuangkan sesuatu yang tak pernah tercantum dalam kontrak:

Cinta yang mulai tumbuh…

Dan tak bisa lagi dipungkiri.

bersambung...

1
Ana Sutiana
bagus dan menarik ceritanya untuk di baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!