NovelToon NovelToon
MAWAR DI TANGAN GAARA

MAWAR DI TANGAN GAARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam
Popularitas:799
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

Aku punya segalanya, tapi aku tidak punya hak atas hatiku sendiri."
Juliet adalah putri mahkota dari kerajaan bisnis properti yang hidup dalam sangkar emas. Baginya, bunga adalah satu-satunya teman yang tidak pernah menghakimi. Namun, dunianya jungkir balik saat ia mempekerjakan Gaara, tukang kebun misterius dengan tatapan sedingin es namun memiliki sentuhan tangan yang ajaib pada tanaman.
Saat benih cinta mulai tumbuh di sela-sela duri mawar, Adam—tunangan sempurna dari masa lalu—datang menagih janji pernikahan. Di tengah kecemburuan Vina yang licik dan tekanan keluarga, Juliet harus memilih: Menjadi mawar indah di dalam vas kaca milik Adam, atau tumbuh liar dan bahagia di tanah bersama Gaara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: DINGINNYA LANTAI MARMER

Jakarta menyambut kepulangan Juliet dan Gaara dengan kepungan polusi dan riuh rendah klakson yang memekakkan telinga. Jauh berbeda dengan sunyinya lereng Puncak yang baru saja mereka tinggalkan. Pagi ini, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menjadi panggung utama bagi babak baru peperangan mereka.

Juliet turun dari mobil jip putih milik kementerian dengan anggun. Ia mengenakan setelan blazer berwarna biru navy yang tegas, rambutnya disanggul rapi, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang kini tampak lebih dewasa. Di sampingnya, Gaara berjalan dengan langkah tegap. Luka bakar di bahunya masih terasa berdenyut di balik kemeja batiknya, namun ia menyembunyikannya dengan sempurna.

"Kau siap?" bisik Gaara saat mereka menaiki anak tangga marmer yang dingin.

Juliet meremas jemari Gaara sejenak sebelum melepaskannya demi protokol. "Aku tidak pernah sesiap ini, Gaara. Aku ingin melihat wajahnya saat kebohongannya terkelupas satu per satu."

Di dalam ruang sidang yang pengap oleh aroma kayu tua dan kertas, Adam sudah duduk di kursi penggugat. Ia tampak sangat rapi dengan setelan jas abu-abu perak, namun lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa disembunyikan oleh bedak tipis sekalipun. Saat Juliet masuk, mata Adam berkilat—sebuah campuran antara obsesi, kebencian, dan rasa kehilangan yang mendalam.

"Sidang perkara nomor 402 perdata sengketa lahan dan hak kekayaan intelektual dibuka," ketukan palu hakim menggema, menandakan dimulainya pertempuran legal yang akan menentukan nasib Golden Hope.

Tiga jam pertama adalah neraka teknis. Pengacara Adam, seorang pria paruh baya dengan suara yang melengking, mencoba membedah kesehatan mental Pak Wijaya saat menyerahkan aset Puncak. Mereka membawa saksi—seorang dokter sewaan yang mengklaim bahwa Pak Wijaya berada di bawah pengaruh obat-obatan penenang saat menandatangani dokumen penyerahan.

Juliet menahan napas. Ia menatap ayahnya yang hadir melalui sambungan video dari rutan. Pak Wijaya tampak tenang, meski wajahnya pucat.

"Dokter," pengacara Gaara, seorang pemuda idealis bernama Baskoro, berdiri. "Anda bilang Tuan Wijaya tidak sadar? Lalu bagaimana Anda menjelaskan rekaman video saat penandatanganan di mana beliau menyebutkan detail sejarah mawar ibunya yang bahkan tidak diketahui oleh notaris?"

Skakmat pertama. Video yang sempat direkam Juliet secara diam-diam sebelum rumahnya disita kini menjadi senjata makan tuan bagi Adam.

Namun, Adam tidak tinggal diam. Ia menoleh ke arah bangku penonton dan memberi isyarat. Seorang wanita masuk dengan langkah ragu. Vina.

Juliet tersentak. Vina? Bukankah dia berjanji akan membantuku?

Vina duduk di kursi saksi. Wajahnya pucat pasi. Ia melirik Adam yang menatapnya dengan pandangan mengancam, lalu melirik Juliet yang menatapnya penuh harap.

"Saudari Vina," pengacara Adam memulai. "Benarkah Anda melihat Nona Juliet memaksa Tuan Wijaya menandatangani dokumen itu di bawah ancaman?"

Ruangan mendadak senyap. Juliet merasa dunianya berputar. Pengkhianatan di depan mata adalah duri yang paling menyakitkan. Vina membuka mulutnya, bibirnya bergetar.

"Saya... saya melihat..." Vina terhenti. Ia melihat ke arah Gaara yang menatapnya dengan tenang, seolah sudah memprediksi ini. Gaara sedikit mengangguk, sebuah isyarat yang hanya dipahami oleh Vina.

"Saya melihat Tuan Adam memberikan uang sebesar dua miliar ke rekening luar negeri saya tadi malam untuk berbohong di sini!" teriak Vina tiba-tiba, suaranya melengking tinggi, memecah kesunyian sidang.

Adam berdiri dengan kasar. "KEBERATAN! Saksi mengalami delusi!"

"SAYA PUNYA BUKTI TRANSFERNYA!" Vina mengeluarkan ponselnya, menangis histeris. "Dia mengancam akan membunuhku jika aku tidak menurut! Tapi aku tidak bisa, Juliet! Aku melihat mawar itu mekar di tengah api... aku tidak bisa mematikan harapan itu!"

Suasana sidang menjadi ricuh. Hakim berkali-kali mengetuk palu. Adam tampak pucat pasi, sementara para wartawan di barisan belakang mulai mengetik berita dengan kecepatan cahaya.

Sidang ditunda untuk pemeriksaan bukti baru. Juliet dan Gaara berhasil menyelinap keluar lewat pintu belakang untuk menghindari serbuan media. Mereka bersembunyi di dalam sebuah ruangan arsip kecil yang gelap di sudut gedung pengadilan.

Napas Juliet memburu. Adrenalinnya masih memuncak. Begitu pintu tertutup, ia langsung jatuh ke pelukan Gaara.

"Dia melakukannya, Gaara! Vina benar-benar melakukannya!" Juliet tertawa di sela tangisnya. "Aku pikir dia mengkhianatiku lagi."

Gaara memeluknya erat, menaruh dagunya di puncak kepala Juliet. "Aku sudah bicara dengannya sebelum sidang dimulai tadi. Aku bilang padanya bahwa mawar emas itu tidak akan pernah tumbuh di tangan orang yang penuh dengan duri beracun. Sepertinya nuraninya masih ada sedikit."

Gaara melepaskan pelukannya, lalu menangkup wajah Juliet dengan kedua tangannya yang terasa kasar namun sangat menenangkan. Di ruang arsip yang sempit, di antara tumpukan dokumen hukum yang berdebu, suasana mendadak berubah menjadi sangat intim.

"Juliet," bisik Gaara.

"Ya?"

"Kau hebat hari ini. Kau berdiri di sana seperti pejuang."

Gaara merunduk, menempelkan keningnya pada kening Juliet. Aroma tubuh Gaara yang maskulin bercampur dengan sisa wangi mawar yang masih melekat di kemejanya membuat Juliet merasa pusing karena rasa cinta yang meluap.

Gaara mencium ujung hidung Juliet, lalu perlahan beralih ke bibirnya. Ciuman itu terasa sangat dalam, sebuah ungkapan rasa syukur karena mereka berhasil melewati satu lagi rintangan besar. Tangan Gaara merayap ke pinggang Juliet, menariknya lebih dekat hingga Juliet bisa merasakan detak jantung suaminya yang berpacu cepat.

"Jangan pernah ragukan aku, Juliet," gumam Gaara di antara ciuman mereka. "Bahkan jika dunia ini terbakar lagi, aku akan tetap menjadi tanah tempatmu berpijak."

Juliet membalas ciuman itu dengan penuh gairah, melingkarkan lengannya di leher Gaara, seolah tidak ingin melepaskan pria itu sedetik pun. Di tengah dinginnya lantai marmer gedung pengadilan dan kaku-nya hukum manusia, cinta mereka adalah satu-satunya hal yang terasa nyata dan hidup.

"Aku tidak akan ragu," bisik Juliet saat mereka melepaskan tautan bibir. "Aku tahu kita masih punya 74 bab lagi untuk dilewati, tapi jika setiap babnya sesukses ini, aku siap menghadapinya."

Gaara terkekeh, mencium kening Juliet sekali lagi. "74 bab? Kau sudah menghitungnya?"

"Aku menghitung setiap detik bersamamu, Gaara."

Mereka keluar dari ruangan itu dengan wajah yang lebih tenang. Namun, saat mereka mencapai lobi utama, sebuah kejutan lain menunggu.

Ayah Adam, seorang konglomerat tua yang lebih dingin dan kejam dari putranya, berdiri di sana dengan barisan pengawal. Ia menatap Juliet dan Gaara dengan tatapan merendahkan.

"Putraku mungkin ceroboh," ucap pria tua itu dengan suara bariton yang menggelegar. "Tapi jangan pikir kemenangan kecil di ruang sidang ini berarti segalanya. Kami baru saja membeli seluruh saham perusahaan distribusi pupuk dan bibit di Jawa Barat. Tidak akan ada satu pun mawar emas kalian yang bisa keluar dari Puncak tanpa izin saya."

Juliet menatap pria itu tanpa gentar. "Tuan, Anda bisa membeli perusahaan, tapi Anda tidak bisa membeli musim semi. Mawar kami tidak butuh pupuk kimia Anda. Kami punya abu dari api putra Anda sebagai nutrisi."

Pria tua itu menyipitkan mata, lalu berbalik pergi tanpa kata.

Gaara merangkul bahu Juliet. "sepertinya akan tentang perang ekonomi, Sayang."

Juliet tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Gaara saat mereka berjalan menuju mobil. "Bawa saja semuanya. Selama aku punya kau, aku punya segalanya."

Malam itu, saat mereka berkendara kembali menuju Puncak, mawar Golden Hope di kursi belakang tampak bersinar samar di bawah cahaya lampu jalan. Perjalanan menuju kesuksesan masih panjang, penuh dengan jebakan dan duri yang lebih tajam, namun di dalam jip tua itu, hanya ada kehangatan dan tekad yang tak tergoyahkan.

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!