NovelToon NovelToon
Cinta Yang Kembali Di Hari Vonis

Cinta Yang Kembali Di Hari Vonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dark Romance / Angst
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: linda huang

Rasa putus asa menyelimuti Jessica Zhou saat hakim menjatuhkan vonis hukuman mati atas dirinya karena dituduh membunuh kedua orang tuanya demi warisan.

Bandingnya ditolak. Harapan seakan habis.

Hingga kasus itu sampai ke tangan Hakim Li—Adrian Li—yang dijuluki “Hakim Gila” karena ketegasan dan caranya yang tak biasa dalam mencari kebenaran.

Adrian, yang selama ini hanya fokus pada pekerjaannya, dicintai oleh dua wanita: Jessica Zhou dan Holdie Fu. Holdie berambisi tinggi dan berusaha mendapatkan hati pria dingin itu, sementara Jessica memilih memendam perasaannya setelah cintanya ditolak sepuluh tahun lalu.

Kini, nasib Jessica berada di tangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Julian menjerit histeris, tubuhnya semakin tertimbun tanah.

“Tolong… jangan bunuh aku! Berapa pun yang kau mau, akan kuberikan! Tolong beri aku kesempatan!” teriaknya panik. Tanah mulai menutupi pakaian mahalnya, masuk ke mulut dan hidungnya.

Adrian tak menghentikan gerakannya. Sekop demi sekop tanah dilemparkan tanpa ragu.

“Hakim Li… maafkan aku. Aku masih ingin hidup. Aku masih muda… belum menikah…” suara Julian pecah oleh tangis dan ketakutan yang nyata.

Adrian berhenti sejenak. Tatapannya tajam menembus kegelapan malam.

“Kesempatan?” ulang Adrian dingin. “Apakah kau memikirkan kesempatan yang kau rampas dari gadis itu? Ia punya orang tua. Punya masa depan. Tapi kau menghancurkannya dengan cara paling keji.”

Julian menangis tersedu. “Aku salah… aku salah. Katakan apa yang harus kulakukan agar aku tetap hidup…”

Adrian kembali mengayunkan sekop.

“Mengaku di pengadilan. Akui semua kejahatanmu. Jika kau masih berani menyangkal, bukan hanya kau yang akan menderita. Keluargamu dan makam leluhurmu juga akan aku datangi."

Tak lama kemudian, suara deru mobil memecah kesunyian. Lampu sorot menyapu lahan gelap itu.

Beberapa mobil polisi berhenti mendadak.

Para detektif turun dengan wajah tegang. Mereka terdiam melihat Julian yang sudah tertimbun tanah hingga hanya kepalanya yang terlihat.

Julian masih menangis lemah, darah mengalir dari pelipisnya.

“Gila…,” gumam salah satu detektif yang juga adalah teman dekat Adrian, Max Fu.

Kapten Joss menoleh pada rekannya. “Max, ini ulah dia lagi?”

"Iya, kalau bukan dia siapa lagi yang bisa bertindak segila ini," jawab Max.

Kapten Joss menoleh cepat ke sekitar. “Di mana dia?”

Max mengedarkan pandangan ke lahan kosong itu. Hanya ada sekop yang tergeletak di tanah dan bekas jejak ban mobil yang masih jelas.

“Sudah pergi,” jawab Max pelan. “Seperti biasa.”

Kapten Joss menghela napas panjang. “Cepat keluarkan dia! Panggil ambulans!”

Beberapa petugas segera menggali tanah dengan tergesa, berusaha mengangkat tubuh Julian sebelum terlambat.

Di kejauhan, suara sirene ambulans mulai terdengar.

Saat para petugas berhasil menarik Julian keluar dari timbunan tanah, tubuhnya gemetar hebat. Wajahnya pucat, napasnya memburu, dan matanya liar dipenuhi ketakutan.

Ia tiba-tiba merangkak lalu berlutut di hadapan para detektif.

“Tolong… jangan bunuh aku. Aku yang membunuh gadis itu. Semuanya aku yang melakukannya!” teriaknya histeris.

Para petugas saling pandang.

“Bukankah sebelumnya kau mengatakan dia yang menggodamu?” tanya Kapten dengan tatapan tajam.

Julian menggeleng cepat, air matanya bercampur tanah di wajahnya.

“Bukan! Aku yang menculiknya… memperkosanya berkali-kali… lalu menenggelamkannya. Sebelum mati, aku menyiksanya sampai dia tak bisa bernapas. Aku yang salah… aku yang salah…” ucapnya terputus-putus.

Keheningan menyelimuti tempat itu. Tak ada satu pun yang berbicara.

Beberapa petugas mengepalkan tangan, menahan emosi.

“Seandainya boleh,” gumam Max pelan, rahangnya mengeras, “aku ingin menghajarnya sekarang juga.”

Sementara itu, di jalan raya yang gelap, sebuah mobil melaju tenang meninggalkan lokasi.

Di balik kemudi, Adrian Li menatap lurus ke depan dengan wajah tanpa ekspresi, seolah malam itu tak pernah terjadi apa-apa.

**

Tiga hari setelah pengakuan mengejutkan Julian Hu di hadapan polisi, berita itu mengguncang seluruh Kota S.

Media menyorotnya tanpa henti. Publik marah. Nama pengadilan tercoreng karena seorang pelaku keji pernah divonis bebas.

Pengadilan tinggi bergerak cepat.

Hakim yang sebelumnya menangani perkara itu diperiksa secara internal. Jaksa mengajukan pembukaan kembali kasus karena adanya pengakuan baru dan saksi dari pihak kepolisian.

Hari persidangan tiba.

Julian Hu dibawa masuk dengan tangan diborgol. Wajahnya pucat, matanya tampak cekung. Ia tak lagi terlihat angkuh seperti beberapa hari lalu.

Ketika ia mengangkat wajahnya ke depan…

Langkahnya mendadak terhenti.

Di kursi hakim tengah, Adrian Li sudah duduk tegak dengan wajah dingin tanpa ekspresi.

Julian gemetar hebat.

“Itu… dia…” gumamnya pelan.

Petugas mendorongnya agar terus berjalan.

Adrian menatap berkas di tangannya, seolah tak mengenali pria di hadapannya.

Sidang dimulai.

Sidang dimulai.

“Terdakwa Julian Hu,” ucap Adrian datar, “apakah benar Anda ingin memberikan pernyataan di persidangan ini tanpa paksaan?”

Julian menelan ludah. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.

“S-saya… saya ingin mengaku,” jawabnya terbata.

Suasana ruang sidang langsung hening.

“Saya yang menculik korban… memperkosanya… dan membunuhnya. Semua yang saya katakan sebelumnya adalah kebohongan.”

Beberapa hadirin menutup mulut tak percaya.

Adrian mengangkat pandangannya perlahan, menatap Julian dengan sorot tajam yang membuat pria itu semakin gemetar.

“Apakah ada yang mengancam Anda untuk memberikan pengakuan ini?” tanya Adrian tenang.

Julian langsung menggeleng cepat.

“Tidak! Tidak ada! Saya mengaku karena memang saya pelakunya!”

Palu sidang diketuk pelan.

“Baik. Pengadilan menerima pengakuan terdakwa dan akan melanjutkan proses persidangan sesuai hukum yang berlaku.”

Adrian Li membuka berkas di hadapannya dengan tenang.

“Terdakwa Julian Hu terbukti melakukan penculikan, pemerkosaan berulang, penyiksaan, dan pembunuhan berencana.”

“Kejahatan yang Anda lakukan tidak hanya merenggut nyawa korban, tetapi juga menghancurkan martabatnya sebagai manusia.”

Julian mulai menangis.

Adrian mengangkat palu sidang.

“Dengan ini, pengadilan menjatuhkan hukuman mati kepada terdakwa Julian Hu.”

"Selain menjatuhkan hukuman mati, pengadilan juga memerintahkan penyitaan seluruh aset pribadi Julian Hu dan mewajibkan keluarganya membayar kompensasi kepada orang tua korban atas penderitaan yang mereka alami."

Palu diketuk keras.

“Putusan bersifat final.”

Tangis Julian pecah di ruang sidang.

Sementara Adrian Li tetap duduk tegak, wajahnya tanpa emosi, seolah vonis itu hanyalah satu dari sekian banyak keputusan yang pernah ia buat.

Kedua orang tua korban saling berpelukan. Air mata mereka jatuh tanpa suara, namun wajah mereka memperlihatkan kelegaan yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata.

Akhirnya… keadilan benar-benar datang.

Di kursi terdakwa, Julian Hu menangis tak terkendali. Tubuhnya gemetar, emosinya tak stabil.

“Aku tidak ingin mati… tolong beri aku kesempatan…” ratapnya dengan suara parau.

Namun tak ada lagi yang menoleh padanya.

Tak ada lagi yang peduli pada tangisannya.

Berita putusan Adrian Li mengguncang Kota S.

Julian Hu, putra tunggal keluarga terpandang, akhirnya dijatuhi hukuman mati. Keputusan itu menyebar cepat, memenuhi layar berita dan menjadi perbincangan di seluruh penjuru kota.

Bukan hanya Julian. Dua temannya yang terbukti terlibat dalam penculikan turut dijatuhi hukuman penjara sesuai undang-undang.

Penyelidikan yang berkembang menyeret nama orang tua Julian. Keterlibatan mereka dalam upaya menyuap hakim pada persidangan sebelumnya terungkap.

Hakim yang dahulu memvonis bebas Julian resmi ditahan. Ia dicopot dari jabatannya dan kini menjadi tersangka, menunggu proses hukum yang akan menjeratnya.

***

Di sisi lain, Jessica Zhou menunggu hari eksekusinya di dalam sel yang gelap dan sempit. Dinding lembap itu seolah menekan napasnya. Ia duduk memeluk lutut, tatapannya kosong dipenuhi keputusasaan.

“Aku tidak membunuh papa dan mama… siapa yang bisa menolongku?” bisiknya lirih, air matanya jatuh tanpa henti.

Dari sel sebelah, terdengar suara seorang wanita tua.

“Nona, kau masih muda. Mengapa kau sampai membunuh demi warisan? Kejam sekali hatimu.”

Jessica menggeleng pelan, bahunya bergetar menahan tangis.

“Aku tidak membunuh sama sekali. Mana mungkin aku melakukan itu pada orang yang sangat mencintaiku,” jawabnya parau.

Wanita itu terdiam sejenak, lalu kembali berbicara dengan nada lebih pelan.

“Kalau kau benar tidak bersalah, kau hanya bisa pasrah karena hakim sudah menjatuhkan hukuman. Andaikan kau berada di Kota S… ada satu orang yang mungkin bisa membantumu.”

Jessica mengangkat wajahnya sedikit. “Siapa yang mau membantu narapidana yang sudah divonis mati?”

“Adrian Li,” jawab wanita itu mantap. “Ia hakim paling tegas dan adil. Tidak ada rahasia yang tidak bisa ia bongkar. Jika kau tidak membunuh, dia pasti akan menemukan kebenarannya.”

Jessica terdiam sesaat saat nama itu disebut.

Dadanya terasa sesak. Ingatan lama yang berusaha ia kubur kembali menyeruak ke permukaan.

“Dia… mana mungkin akan membantuku,” batinnya lirih. “Bahkan menatapku saja dulu dia tak sudi.”

1
Raine
nah sesuai dugaan sebelumnya, kalau jj dalangnya dan cuman pura pura koma
erviana erastus
ya jj itu pura2 koma 🤭🤭🤭
Nadila Fathania Alfi
makin seru 😍😍
Melinda Cen
seruu lanjutkan lg
Nadila Fathania Alfi
min bikin cerita jangan pendek", panjang panjang aja 😄😄
erviana erastus
apakah dalangx JJ pura² koma🤔🤔🤔
Anonymous
Seru2…. Up yg bnyk Thor 💪💪💪
Melinda Cen
lanjut bykkan eps nya
Dian Fitriana
update
Melinda Cen
perbyk dong eps nya kk lg seru nih
Dian Fitriana
update
erviana erastus
selamat hakim chen kamu bakalan habis sama Adrian Li 🤭
Maria Mariati
kapokkk hadapin tuh hakin neraka ,main2 sama nyawa orang,siap2 hadapin hakim neraka
Dian Fitriana
update
erviana erastus
habis hidup mu chen ckckck keluar kadang harimau masuk ke kandang macan 🤣
Melinda Cen
lanjut kan kk, perbyk eps nya biar ga penasaran😄
Dian Fitriana
update
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
seru kayaknya
Melinda Cen
perbyk dong eps nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!