Putri Duke dari Kerajaan Aurelius, Elara Ravens, dikenal sebagai pewaris pedang keluarga. Namun sejak kecil ia selalu kalah dari kembarannya, dan selalu dibandingkan dan dicemooh sebagai kegagalan.
Tanpa menyadari bahwa tubuh Elara menyimpan sihir besar yang pernah meledak saat ia berusia tiga tahun dan kemudian disegel.
Sampai sebuah undangan datang dari Kerajaan sihir, Elara memilih pergi ke akademi sihir dan ingin menaklukkan kekuatan dalam dirinya.
Di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Oberyn, Rank 1 akademi dan teman masa kecilnya. Di tengah sistem ranking yang kejam dan tatapan meremehkan, Elara harus membuktikan bahwa ia bukanlah kegagalan atau aib keluarga.
Apakah Elara akan menjadi kesatria pedang atau memilih menjadi penyihir kelak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7. PILIHAN
Cahaya lingkaran sihir yang melayang di udara masih berputar perlahan, memantulkan bayangan biru keperakan di dinding kamar Elara. Udara terasa berat oleh sisa energi yang belum sepenuhnya tenang. Bau logam samar masih tertinggal di ruangan itu.
Duke Arram Oberyn berdiri di sisi ranjang, satu tangannya terangkat, jemarinya membentuk simbol kuno yang berdenyut pelan. Keringat mulai membasahi pelipisnya, namun sorot matanya tetap tajam, penuh perhitungan.
Di belakangnya, Alaric, Liora, dan Evan berdiri dalam diam yang tegang.
"Itu terlalu berisiko," Arram akhirnya mengakui setelah diskusi yang nyaris berubah menjadi pertengkaran sengit. "Segel hanya menunda masalah. Dan kali ini, jika retak lagi, tubuhnya mungkin tidak akan bertahan."
Alaric sempat menentang keras. Ia lebih memilih ancaman yang bisa ia lihat, segel yang jelas dan terkendali, dari pada sesuatu yang liar dan tak terprediksi.
Namun Evan tidak mundur.
"Jika kita terus menyegelnya, kita hanya menunggu waktu sampai ia mati karena tekanannya sendiri," kata Evan dengan suara yang tidak biasa bagi seorang pemuda seusianya. "Lebih baik kita ajari dia mengendalikannya."
Namun akhirnya, dengan hati yang gemetar, Liora mengangguk.
Putrinya tidak bisa terus hidup di balik penjara sihir.
Jika Elara ingin hidup, ia harus belajar menguasai kekuatannya.
Namun ironi yang kejam menyentak mereka semua. Mereka telah memutuskan untuk membebaskan segel itu.
Tapi kini ...
Elara berada di ambang kematian.
Tubuhnya terlalu lemah setelah ledakan energi sore tadi.
Segel itu bukan hanya retak, tapi hancur dari dalam.
Energi yang selama ini ditekan tiba-tiba mengalir tanpa arah, seperti sungai yang bendungannya runtuh.
"Kita harus menstabilkannya dulu," kata Arram akhirnya, suaranya tegas. "Aku akan menggunakan sihir penyembuhan tingkat tinggi. Tapi ini akan menguras tenagaku."
"Lakukan," jawab Alaric tanpa ragu.
Arram mengangguk.
Lingkaran sihir di udara berubah bentuk. Simbol-simbolnya berputar lebih cepat, saling terhubung membentuk pola yang jauh lebih rumit.
Cahaya yang tadi lembut kini berubah menjadi terang dan hangat.
Liora mundur sedikit, memberi ruang.
Evan tetap menggenggam tangan Elara.
Dingin itu masih terasa.
Seperti es yang merambat ke tulangnya sendiri.
Arram mulai melantunkan mantra dalam bahasa kuno Oberyn. Suaranya rendah namun bergema.
Udara di sekitar mereka bergetar.
Cahaya biru berubah menjadi emas pucat. Perlahan, cahaya itu menyelimuti tubuh Elara. Urat-urat hitam kemerahan di lehernya mulai berpendar. Seperti melawan.
Arram mengerutkan kening. "Energinya memberontak," gumamnya.
Cahaya emas semakin terang.
Keringat menetes di pelipis Arram. Tangannya sedikit gemetar, tanda ia mendorong sihirnya ke batas maksimal.
Alaric tidak bergerak. Namun jemarinya mengepal kuat di sisi tubuhnya.
Jika ini pertempuran fisik, ia bisa membantu. Tapi ini ... ia hanya bisa menonton.
Menunggu.
Berharap.
Waktu terasa melambat.
Detik demi detik seperti jam pasir yang berputar terlalu pelan.
Napas Elara yang tadinya nyaris tak terdengar mulai sedikit terangkat.
Namun urat-urat gelap itu masih ada.
Arram mengucapkan mantra lain, lebih panjang, lebih berat.
Cahaya emas berubah menjadi putih terang.
Ruang kamar seperti dipenuhi matahari kecil.
Evan memejamkan mata sejenak, namun tidak melepaskan genggamannya.
Tiba-tiba ...
Elara mengerang pelan.
Semua menegang.
Mata gadis itu masih terpejam, tapi tubuhnya sedikit melengkung seperti menahan sakit.
"Bertahanlah," bisik Arram.
Cahaya itu meresap lebih dalam.
Ke dalam kulit.
Ke dalam darah.
Ke dalam inti energi yang tak terlihat.
Urat-urat hitam mulai memudar.
Perlahan.
Sangat perlahan.
Seperti tinta yang larut dalam air.
Liora menangis tanpa suara.
Alaric menahan napas.
Dan akhirnya ...
Cahaya itu meredup.
Lingkaran sihir di udara pecah menjadi partikel kecil, lalu menghilang.
Arram terhuyung satu langkah.
Alaric segera menopangnya. "Kau baik-baik saja?"
Arram tersenyum tipis, napasnya berat. "Aku belum setua itu."
Namun wajah Arram pucat. Ia hampir kehabisan tenaga.
Semua mata tertuju pada Elara. Kulitnya tidak lagi sepucat tadi. Urat-urat gelap itu telah lenyap. Napasnya kini teratur.
Pelan.
Stabil.
Hidup.
Liora langsung tersungkur di sisi ranjang, menggenggam tangan putrinya dan menangis lega.
"Elara, terima kasih ... terima kasih," ucap Liora.
Evan merasakan hangat samar di kulit tangan kembarannya. Ia hampir tidak percaya..Dingin itu telah hilang.
Alaric menatap Arram. "Bagaimana keadaannya?"
Arram mengusap keringat di dahinya. "Untuk sementara dia akan baik-baik saja."
Kata sementara menggantung berat di udara.
"Tapi?" tanya Evan.
Arram menghela napas. "Segelnya sudah kulepaskan sepenuhnya."
Alaric mengangguk pelan. Itu keputusan bersama.
"Artinya, energinya sekarang mengalir bebas. Tubuhnya akan mencoba beradaptasi. Tapi selama ia belum bisa mengendalikan kekuatan itu, dia harus sering mendapatkan sihir penyembuhan," beritahu Arram.
"Sampai kapan?" tanya Evan.
Arram menatap Elara. "Sampai dia bisa mengendalikan energi dalam dirinya. Jadi itu tergantung dirinya sendiri."
Keheningan kembali menyelimuti ruangan.
Liora menunduk, air mata syukur masih mengalir. "Setidaknya ... dia selamat."
Alaric berdiri lama memandang putrinya. Wajahnya yang keras kini melembut. Ia menyentuh rambut Elara pelan.
"Untuk ke depannya apa yang harus kulakukan agar dia benar-benar baik-baik saja?" tanya Alaric pada Arram.
Arram terdiam cukup lama. Sorot matanya berubah serius. "Ada satu cara."
Liora mengangkat wajahnya. "Apa itu?"
Arram menatap Alaric. "Masukkan dia ke Akademi Sihir Oberyn."
Ruangan itu kembali sunyi.
Akademi Sihir Oberyn. Tempat semua jenis sihir diteliti, ditempa, dan diuji. Tempat para penyihir terbaik dilahirkan.
"Di sana," lanjut Arram, "energi seperti miliknya bukan sesuatu yang akan ditakuti. Mereka memiliki arsip tentang sihir kuno. Kepala akademi mungkin tahu bagaimana mengendalikan sihir tua dalam dirinya."
Evan langsung mengangkat kepala. "Tapi Elara selalu bermimpi menjadi kesatria."
Kata-kata itu tidak ringan. Mimpi Elara bukan sekadar ambisi. Itu identitasnya.
Elara berlatih pedang setiap hari. Bangun lebih pagi dari siapa pun. Tidak pernah absen.
Arram tersenyum kecil. "Siapa bilang akademi sihir hanya mencetak penyihir yang berdiri di belakang garis pertempuran?"
Evan mengerutkan kening.
"Di Oberyn, ada kelas khusus. Mereka menggunakan senjata yang diolah dengan sihir. Pedang, tombak, busur. Mereka bertarung di garis depan. Dan setelah lulus ... mereka menjadi kesatria kerajaan Oberyn," beritahu Arram.
Mata Evan berbinar. "Jadi dia tetap bisa menjadi kesatria?"
"Tentu saja," jawab Arram tanpa ragu.
Senyum tipis muncul di wajah Evan. "Kalau begitu aku setuju."
Alaric menatap putranya. "Kau tampak terlalu cepat menyetujui."
Evan terdiam sejenak. Lalu ia berkata pelan, "Aku juga sedang kecewa dengan akademi kesatria di sini."
Alaric menyipitkan mata. "Apa yang terjadi di akademi?"
Evan ragu. Ia tahu jika orang tuanya tahu maka konsekuensinya tidak akan kecil.
Namun setelah apa yang terjadi hari ini ia tidak ingin lagi menyembunyikan apa pun.
"Selama ini ... Elara selalu direndahkan di akademi," kata Evan.
Liora menoleh cepat. "Direndahkan?"
"Mereka membandingkannya denganku. Mengatakan dia lemah. Tidak akan pernah bisa menjadi kesatria karena Elara lemah," adu Evan.
Wajah Alaric mengeras. "Siapa mereka?"
"Para murid, Senior dan beberapa instruktur," jawab Evan tanpa ragu.
Liora berdiri. "Kenapa kau tidak pernah memberitahu kami?"
Evan menunduk. "Karena Elara memintaku diam."
Keheningan tegang menyelimuti ruangan.
"Dan hari ini," lanjut Evan, "dia diskors."
"Apa?" suara Liora bergetar.
"Kenapa?" tanya Alaric dingin.
"Dia memukul seniornya. Dan ... gurunya," jawab Evan.
Hening.
Alaric menatap tajam. "Alasannya?"
Evan menarik napas. "Aku dengar mereka merundung Elara, merendahkannya. Mencemoohnya. Bahkan membawa-bawa nama Mama. Mereka bilang Elara tidak akan pernah seperti Mama. Bahwa Elara hanya anak tidak berguna di keluarga Duke."
Urat di pelipis Alaric menegang.
"Dan ..." Evan menelan ludah. "Mereka menyebutnya Putri yang Gagal."
Ruangan itu terasa mendadak lebih dingin.
Amarah memuncak di mata Alaric.
"Berani sekali," suara Alaric rendah dan berbahaya, "mereka mengatakan itu pada putriku."
"Bahkan kepala akademi tidak berpihak," lanjut Evan. "Katanya dia tidak ingin memihak demi kesetaraan. Tapi menskors Elara saat ujian kenaikan peringkat ... sama saja menutup jalannya menjadi kesatria."
Liora mengepalkan tangan. "Kurang ajar pria tua bangka itu."
"Aku dan Elara sempat bertengkar setelah dia keluar dari ruangan kepala akademi," tambah Evan pelan. "Dia sangat marah."
Alaric terdiam. Lalu berkata pelan namun tegas, "Sepertinya aku terlalu lembut beberapa tahun ini. Akan kupastikan bahkan kepala akademi pun membayar atas apa yang mereka lakukan pada putriku."
Arram, yang sejak tadi mendengarkan, akhirnya berkata, "Pindahkan dia ke Oberyn."
Arram menatap Alaric serius.
"Aku tidak menjanjikan jalan yang mudah. Akademi di sana keras. Sangat kompetitif. Tapi mereka keras karena ingin muridnya kuat. Bukan karena merendahkan kemampuan," lanjut Arram.
Alaric menatap Elara. Gadis itu masih tertidur, napasnya teratur.
Untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya terlihat damai.
"Baik," kata Alaric akhirnya. "Aku setuju."
Alaric menatap Arram. "Aku serahkan urusan akademi sihir kepadamu. Aku titip putriku."
Arram tersenyum hangat. "Sepertinya akan ada seseorang yang sangat senang dia tinggal di Oberyn nanti."
Evan langsung tersenyum kecil. Ia tahu siapa yang dimaksud.
Seseorang yang mungkin sudah lama menunggu pertemuan ini.
Malam semakin larut.
Mereka memeriksa kondisi Elara beberapa kali.
Arram menambahkan lapisan sihir penstabil tipis, memastikan aliran energinya tidak kembali melonjak.
Sampai akhirnya Elara stabil.
tapi lucu banget, kebayang Lala ngejar" temen temennya
bukan nya takut malah tambah makin gemes 😜🤣🤣
𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐧𝐲𝐚𝐧𝐲𝐢 𝐥𝐚𝐠𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐩 🤪🤪
menjadi dewasa,dengan beban dan kewajiban yg mengikuti.
bahkan kita sudah lupa kapan terakhir kita bisa tertawa lepas 🥹
panik donk😜🤣🤣