NovelToon NovelToon
Penjaga Hati Di Wisma Lavender

Penjaga Hati Di Wisma Lavender

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Bad Boy / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:486
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Penjaga Hati di Wisma Lavender mengisahkan perjalanan Arka,mahasiswa tingkat akhir Teknik Informatika yang terhimpit masalah finansial setelah kontrakan lamanya digusur. Di tengah keputusasaan, ia menemukan iklan kos misterius dengan harga sangat murah dan fasilitas mewah, termasuk internet super cepat.

Namun, Arka terjebak dalam situasi yang tidak terduga setelah menandatangani kontrak dengan Oma Rosa, sang pemilik wisma yang eksentrik dan gemar bermain TikTok. Ternyata, Wisma Lavender adalah sebuah kos-kosan putri. Arka terpaksa menjadi satu-satunya laki-laki di sana dan harus mematuhi aturan ketat serta tugas tambahan yang diberikan oleh para penghuni wanita yang beragam karakternya, terutama Sari, sang ketua kos yang disiplin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Surga di Kecepatan 1 Gbps

Suara putaran kipas laptop Arka yang sudah berumur empat tahun itu terdengar seperti mesin jet yang hendak lepas landas. Namun, Arka tidak peduli. Matanya terpaku pada bilah progres di layar yang bergerak dengan kecepatan yang belum pernah ia saksikan seumur hidupnya. File berukuran 2 Gigabyte yang biasanya membutuhkan waktu ditinggal tidur, kini tuntas dalam hitungan detik.

"Gila... ini beneran surga," bisik Arka sembari menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang kokoh.

Ia merasa seperti baru saja mendapatkan kekuatan super. Sebagai mahasiswa Teknik Informatika yang selama ini harus mengungsi ke perpustakaan kampus atau menumpang WiFi minimarket hanya untuk mengunduh modul kuliah, kecepatan 1 Gbps di kamarnya sendiri terasa seperti sebuah privilese kelas atas. Arka mencoba membuka sepuluh tab video resolusi 4K secara bersamaan, dan semuanya berjalan tanpa ada satu pun lingkaran buffering yang biasanya menghantui hidupnya.

Untuk sesaat, segala kecemasan tentang "jebakan" Oma Rosa atau identitas para penghuni lain menguap begitu saja. Selama ada koneksi internet sekencang ini, Arka merasa sanggup menghadapi naga sekalipun.

Setelah puas melakukan "ritual" pamer kecepatan di grup WhatsApp teman-teman kampusnya yang langsung menangis iri, Arka teringat satu hal: ia belum merapikan pakaiannya. Ia membuka kardus besarnya, mengeluarkan beberapa kaos yang sudah mulai menipis dan celana jins satu-satunya yang ia miliki. Pakaian itu lembap karena keringat dan polusi jalanan tadi siang.

"Mending gue jemur sekarang, mumpung masih ada sisa angin sore," gumamnya.

Arka menyampirkan handuk di bahunya, mengambil keranjang kecil berisi baju kotor, dan melangkah keluar kamar. Koridor lantai dua masih sepi, meski sayup-sayup ia mendengar suara musik pop Korea dari salah satu kamar dan bunyi dentuman keyboard yang ditekan dengan beringas dari kamar lainnya. Arka berjalan menuju balkon di ujung lorong yang berfungsi sebagai area jemuran.

Begitu ia membuka pintu kaca menuju balkon, langkah Arka terhenti. Matanya membelalak.

Matahari sore yang mulai berwarna oranye menyinari deretan tali jemuran yang membentang luas. Di sana, berjejer rapi puluhan—mungkin ratusan—helai pakaian. Namun, bukan jumlahnya yang membuat Arka mematung, melainkan warnanya.

Warna merah muda, dalam berbagai gradasi, mendominasi pemandangan.

Ada daster pink fanta, kaos pink pastel dengan gambar kucing, kemeja pink salem, hingga pakaian dalam berbagai bentuk yang semuanya berwarna senada. Bahkan handuk-handuk yang tergantung pun memiliki nuansa merah muda yang sangat kuat. Balkon itu tampak seperti pabrik permen kapas yang baru saja meledak.

Arka menatap kaos hitamnya yang kusam dan celana pendek birunya dengan perasaan ngeri. Jika ia meletakkan pakaiannya di sana, bajunya akan terlihat seperti noda tinta di atas kertas stroberi.

"Lho, penghuni baru ya?"

Sebuah suara ceria mengejutkan Arka. Ia menoleh dan melihat seorang gadis dengan rambut dikuncir dua, mengenakan hoodie kebesaran berwarna—tentu saja—pink pucat. Gadis itu sedang membawa botol semprotan air dan tampak sedang mengajak bicara sebuah tanaman di pojok balkon.

"Eh, iya. Saya Arka," jawab Arka kaku.

Gadis itu mendekat, matanya berbinar menatap keranjang baju Arka. "Aku Fanya. Wah, akhirnya ada warna gelap di jemuran ini! Selama ini mata aku capek lihat warna pink terus. Tapi hati-hati ya, Kak Arka. Kalau jemur di sini harus pakai jepitan warna kuning, jangan yang biru."

"Kenapa?" Arka mengernyit bingung.

"Soalnya kalau pakai jepitan biru, nanti dianggap punya Lulu. Dia sensitif banget soal kepemilikan jepitan jemuran," bisik Fanya seolah sedang membocorkan rahasia negara.

Arka hanya bisa mengangguk pelan, otaknya mencoba memproses informasi absurd itu. Ia kemudian memperhatikan sisi lain balkon.

Di sana, terdapat sebuah papan pengumuman kecil yang tertempel di dinding.

Aturan Jemuran Wisma Lavender:

Dilarang menimpa jemuran orang lain.

Warna pink adalah prioritas utama cahaya matahari.

Segala bentuk kerut pada kain adalah tanggung jawab pemilik.

Arka menelan ludah. Ia mulai menyadari bahwa setiap sudut rumah ini memiliki hukum rimba yang sangat spesifik. Sambil perlahan menyampirkan kaos hitamnya di antara lautan daster merah muda, Arka melirik ke bawah, ke arah taman belakang.

Di bawah sana, ia melihat Oma Rosa sedang berdiri dengan tripod ponsel, tampak sedang melakukan goyang TikTok yang sedang tren, sementara seorang gadis lain yang tampak sangat atletis sedang melakukan push-up di dekatnya.

"Satu giga per detik," Arka mengulang kalimat itu dalam hati sebagai mantra penenang.

"Demi internet, Arka. Lu cuma perlu berbagi jemuran sama warna pink. Ini bukan akhir dunia."

Namun, saat ia hendak masuk kembali ke dalam, matanya menangkap sesuatu yang lebih mengkhawatirkan di rak sepatu balkon. Ada sebuah sepatu hak tinggi berwarna merah darah yang diletakkan terbalik, dan tepat di sampingnya, tertempel sebuah catatan kecil dengan tulisan tangan yang rapi: Siap-siap, penghuni baru.

Malam ini adalah jadwal ospek.

Arka merasakan bulu kuduknya meremang. Kegembiraan internet satu giganya mendadak terasa sangat mahal harganya. Saat ia melangkah masuk ke koridor, jam besar di ruang tengah berdentang lima kali. Dua jam menuju makan malam. Dua jam menuju kenyataan yang sebenarnya.

"Selamat datang di sarang lebah, Arka," bisiknya pada bayangannya sendiri di kaca pintu balkon.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!