Sebuah jam tangan tua milik sang ibu menghilang, membawa Ustadz Adnan pada sebuah nazar yang menguji keimanannya di mata manusia. Ia berjanji: jika pria yang menemukannya, akan ia beri sawah; jika wanita, akan ia jadikan istri.
Namun, semesta seolah sedang menguji nuraninya saat jam tersebut kembali melalui tangan Kinan—seorang wanita penghibur yang merasa dirinya telah ternoda oleh pekatnya dunia malam.
"Saya ini bukan bidadari surga, Ustadz. Mana mungkin saya bisa bersanding dengan Anda?"
Bagi Adnan, Kinan bukanlah sebuah kesalahan, melainkan pintu dakwah yang paling nyata. Namun, keputusan Adnan melamar Kinan memicu badai penolakan. Keluarga, santri, hingga masyarakat mengecam sang Ustadz karena dianggap mencoreng martabat gelarnya demi seorang "pendosa."
Di antara cibiran dunia dan upaya Kinan untuk lari dari masa lalunya, Adnan tetap teguh pada prinsipnya: "Saya mencari teman menuju surga, bukan seseorang yang merasa sudah memilikinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Adnan yang sejak tadi terpaku di balik pintu, perlahan melangkah masuk.
Ia melihat pemandangan yang mengharukan: Kinan sedang mengusap rambut Athar dengan penuh kasih, sementara bocah itu menyandarkan kepalanya di tepi ranjang.
Adnan masuk dan berkenalan dengan Athar, mencoba membangun suasana keluarga kecil yang selama ini diam-diam ia impikan bersama Kinan.
"Halo, jagoan. Nama kamu Athar, ya?" tanya Adnan lembut sambil berlutut di samping bocah itu agar tinggi mereka sejajar.
Athar mengangguk malu-malu, lalu menunjukkan mobil kayunya.
Adnan tersenyum dan mulai mengajak Athar mengobrol tentang mobil-mobilan itu.
Untuk sejenak, ketegangan di antara Adnan dan Kinan mencair, digantikan oleh tawa kecil Athar yang memenuhi ruangan.
Kinan menatap interaksi tulus Adnan dengan Athar.
Entah mengapa, melihat Adnan yang begitu kebapakan, amarah di dadanya sedikit melunak. Ia melihat sebuah harapan di sana.
"Ustadz, bagaimana kalau kita mengadopsi Athar?" tanya Kinan tiba-tiba. Suaranya tidak lagi dingin, melainkan sarat akan permohonan.
Ia merasa Athar adalah jawaban dari doa-doanya yang kesepian.
Adnan terdiam sejenak. Ia menatap Kinan dengan tatapan yang sangat pedih.
"Tidak bisa, Sayang. Bukankah kamu ingin bercerai dengan aku?" bisik Adnan pahit. "Syarat mengadopsi anak adalah keluarga yang utuh dan stabil. Bagaimana kita bisa memberikan rumah untuk Athar jika kita sendiri sedang di ambang perpisahan?"
Pertanyaan Adnan bagai siraman air dingin yang menyadarkan Kinan.
Ia menatap Athar, lalu menatap suaminya. Rasa ego dan luka hatinya kini berbenturan dengan keinginan luhur untuk melindungi bocah yatim piatu ini.
"Ustadz, aku tidak mau bercerai. Aku hanya kecewa," ucap Kinan akhirnya.
Pengakuan itu keluar begitu saja dari bibirnya, meruntuhkan semua dinding pertahanan yang ia bangun sejak kemarin.
Air mata kembali mengalir, namun kali ini adalah air mata kejujuran.
"Aku hanya ingin kamu percaya padaku, bukan hanya mengikatku dengan nazar."
Adnan tertegun. Ia meraih tangan Kinan dan kali ini Kinan tidak menariknya.
Di tengah momen emosional itu, suara polos Athar memecah suasana.
"Bunda, cerai itu apa?" tanya Athar dengan mata bulatnya yang menatap Kinan penuh rasa ingin tahu.
Kinan dan Adnan tersentak. Panggilan "Bunda"
itu terasa begitu sakral sekaligus menyesakkan.
Kinan langsung memeluk Athar erat, menyembunyikan wajahnya di bahu kecil bocah itu agar Athar tidak melihat air matanya.
"Cerai itu, tidak ada apa-apa, Nak," bisik Kinan serak.
"Artinya, Bunda dan Ayah sedang belajar untuk saling menyayangi lebih baik lagi. Athar jangan takut, ya."
Adnan ikut memeluk mereka berdua, melingkarkan lengannya di bahu Kinan dan Athar.
Di kamar rumah sakit yang sempit itu, sebuah janji baru sedang dirajut—bukan lagi atas dasar nazar yang membebani, tapi atas dasar kasih sayang yang ingin memberi rumah bagi jiwa yang kesepian.
Suasana hangat yang baru saja tercipta mendadak pecah oleh ketukan pintu yang terburu-buru.
Seorang perawat masuk yang akan membawa Athar ke panti karena tidak ada wali sah yang menjemputnya setelah observasi singkat di UGD.
"Maaf, Ustadz, Bu Kinan. Anak ini harus segera dipindahkan ke panti asuhan sosial sesuai prosedur, karena pihak rumah sakit tidak menemukan keluarga dari pihak orang tuanya," ucap perawat itu sambil mengulurkan tangan hendak meraih jemari kecil Athar.
Mendengar kata "panti", Athar langsung mencengkeram erat daster rumah sakit yang dikenakan Kinan.
Wajahnya yang ceria seketika pucat karena ketakutan.
"Kinan memeluk Athar dan menggelengkan kepalanya" dengan tegas.
Ia tidak membiarkan perawat itu menyentuh seujung kuku pun dari bocah itu.
"Tidak! Dia tidak boleh dibawa ke mana-mana. Dia akan tetap di sini bersamaku!" seru Kinan, suaranya naik satu oktav, menunjukkan insting seorang ibu yang tidak ingin anaknya direnggut.
Dokter masuk mendengar keributan tersebut. Ia melihat Kinan yang masih dalam kondisi pemulihan namun tampak begitu protektif terhadap Athar, sementara Adnan berdiri pasrah mencoba menenangkan suasana.
"Ada apa ini? Pasien tidak boleh terlalu emosional," tanya Dokter dengan tegas.
"Dokter, tolong. Anak ini yatim piatu. Kami ingin mengadopsinya. Jangan biarkan dia dibawa ke panti," rintih Kinan dengan mata yang memohon.
Dokter menatap Adnan, meminta konfirmasi. Adnan mengangguk mantap, meski hatinya masih berdebar karena pengakuan Kinan tentang pembatalan cerai tadi.
Adnan menyadari inilah saatnya ia membuktikan dukungannya pada Kinan.
"Benar, Dok. Kami akan mengurus semua prosedurnya. Saya menjamin penuh keselamatan dan kesejahteraan Athar di bawah tanggung jawab saya," tegas Adnan.
Melihat kesungguhan di mata pasangan itu, dan melihat bagaimana Athar sama sekali tidak mau lepas dari dekapan Kinan, dokter itu menghela napas panjang.
Ia tahu aturan memang kaku, namun nuraninya tidak bisa berbohong melihat ikatan batin yang begitu cepat terbentuk.
"Baiklah. Untuk sementara, saya akan buatkan memo penundaan pemindahan demi kondisi psikologis anak dan pasien," ucap Dokter.
Akhirnya dokter memberikan surat persetujuan di mana mereka akan mengadopsi Athar secara administratif sementara, sebagai wali darurat hingga proses hukum di pengadilan agama dan dinas sosial selesai.
Perawat itu pun mundur setelah menerima disposisi dari dokter.
Athar yang sejak tadi menahan napas, perlahan mulai tenang kembali.
Ia mendongak, menatap Kinan dengan mata yang berair.
"Athar maunya sama Bunda," bisik bocah itu sambil menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Kinan.
Kinan menciumi puncak kepala Athar berkali-kali, air matanya jatuh—kali ini bukan air mata luka, melainkan air mata syukur.
Adnan mendekat, mengusap punggung Kinan dan kepala Athar secara bersamaan.
"Kita akan jadi keluarga, Nak. Ayah janji," bisik Adnan lirih.
Keputusan telah diambil. Meski raga Kinan masih harus bersandar pada tumpukan bantal rumah sakit, jiwanya seolah menemukan kekuatan baru sejak kehadiran Athar.
Kamar yang tadinya terasa dingin dan penuh dengan aroma obat, kini mulai dipenuhi dengan kehangatan kecil yang sangat ia rindukan.
Adnan memperhatikan Athar yang mulai tenang dalam dekapan Kinan.
Ia menyadari banyak hal yang harus disiapkan untuk anggota keluarga baru mereka, terutama kebutuhan gizinya.
"Mas beli susu buat Athar dulu ya, Sayang. Susu apa yang bagus?" tanya Adnan sambil merogoh kunci mobilnya, ia tampak sangat antusias namun sekaligus bingung karena ini adalah pengalaman pertamanya sebagai seorang ayah.
Kinan mengusap rambut Athar yang mulai tertidur pulas.
Ia teringat penjelasan suster saat memeriksa kondisi fisik Athar tadi pagi di ruang anak.
"Mas, belikan susu soya untuk anak usia 4 tahun, tapi harganya sedikit mahal," jawab Kinan dengan nada sedikit ragu.
Ia tahu kondisi keuangan mereka sedang banyak terpakai untuk biaya rumah sakit dan tabungan modal usahanya.
"Athar memiliki alergi laktosa," lanjut Kinan lagi, menjelaskan alasan mengapa ia tidak memilih susu sapi biasa.
"Dia tidak bisa minum susu sembarangan, Mas."
Adnan terdiam sejenak, menatap Kinan yang tampak sangat memperhatikan detail kesehatan Athar seolah-olah ia telah melahirkan bocah itu sendiri.
Rasa kagum Adnan pada Kinan semakin dalam. Ia sadar, Kinan sedang berusaha memberikan yang terbaik bagi anak yang bahkan belum sehari menjadi milik mereka.
Adnan mendekati ranjang, mengecup kening Kinan dengan lembut sebelum beralih mencium puncak kepala Athar.
"Sayang, untuk anak kita tidak ada yang mahal," ujar Adnan dengan suara yang mantap dan penuh keyakinan.
"Uang bisa dicari, tapi kesehatan dan kebahagiaan Athar adalah prioritas Mas sekarang. Begitu juga dengan kamu."
Adnan menatap mata Kinan, seolah ingin meyakinkan istrinya bahwa ia tidak akan lagi bersikap perhitungan atau ragu dalam menjaga keluarga kecil mereka.
"Mas akan beli susu soya kualitas terbaik. Kamu istirahatlah, jaga jagoan kita sebentar ya."
Kinan tersenyum tulus pertama yang ia berikan kepada Adnan sejak tragedi di pondok pesantren.
"Hati-hati di jalan, Mas."
Adnan melangkah keluar dengan semangat baru.
Di dalam hatinya, ia bertekad bahwa setiap tetes susu yang ia beli dan setiap usaha yang ia lakukan mulai hari ini, adalah bentuk penebusan dosanya kepada Kinan dan bentuk baktinya sebagai ayah bagi Athar.
Langkah kaki Adnan terdengar ringan saat ia kembali menyusuri lorong rumah sakit.
Di tangannya, sebuah kantong plastik berisi kaleng susu kedelai kualitas terbaik ia jinjing dengan penuh rasa tanggung jawab.
Perasaan hangat menyelimuti dadanya; ia merasa memiliki tujuan hidup yang baru selain menjadi seorang ustadz dan suami, kini ia adalah seorang ayah.
Saat ia membuka pintu kamar secara perlahan, pemandangan di dalamnya membuat langkahnya terhenti.
Di atas ranjang, Kinan duduk bersandar dengan bantal yang ditumpuk. Dengan gerakan yang sangat telaten, Kinan sedang menyuapi Athar makanan rumah sakit.
Athar menerima setiap suapan bubur itu dengan
patuh, matanya yang besar menatap Kinan dengan binar kekaguman yang murni.
Setelah suapan terakhir, bocah itu tiba-tiba meletakkan tangannya yang mungil di pipi Kinan.
"Bunda, terima kasih sudah menerima Athar..." bisik bocah itu dengan suara yang polos namun sarat akan rasa syukur.
Kata-kata itu bagaikan kunci yang membuka bendungan emosi di dada Kinan. Pertahanannya runtuh seketika.
Kinan memeluknya erat dan menangis sesenggukan di bahu kecil Athar.
Segala rasa sakit hati karena tuduhan Adnan, rasa lelah karena masa lalunya, dan rasa sepi yang selama ini ia pendam, tumpah menjadi satu
dalam pelukan itu.
"Seharusnya Bunda yang terima kasih karena Athar mau bersama Bunda," rintih Kinan di sela tangisnya.
"Terima kasih sudah memilih Bunda yang penuh kekurangan ini, Nak..."
Adnan terpaku di ambang pintu, menyaksikan pemandangan yang menyayat sekaligus menyejukkan hati itu.
Ia melihat bagaimana seorang wanita yang baru saja ia hancurkan hatinya, justru mampu memberikan cinta yang begitu besar kepada seorang anak yang bahkan tidak memiliki hubungan darah dengannya.
Adnan meletakkan susu soya itu di atas meja kecil, lalu berjalan mendekat.
Ia tidak berani langsung menyela, ia hanya berdiri di samping ranjang dengan mata yang ikut berkaca-kaca.
Ia menyadari bahwa Kinan bukan hanya seorang desainer hebat atau koki yang handal, tapi ia adalah wanita dengan jiwa seluas samudra yang bahkan ampunannya—meski baru sedikit—terasa begitu mahal.
Kinan mendongak, menyadari kehadiran Adnan. Ia menyeka air matanya, namun tangannya masih mendekap erat Athar yang kini tampak tenang di pelukannya.
"Susunya sudah ada, Mas?" tanya Kinan, suaranya masih serak karena tangis.
"Sudah, Sayang. Ini susu yang paling bagus untuk Athar," jawab Adnan lembut.
Ia memberanikan diri duduk di pinggir ranjang, mengusap punggung Kinan dengan sangat hati-hati.
"Terima kasih, Kinan. Terima kasih karena sudah menjadi ibu yang luar biasa, bahkan di saat hatimu sendiri sedang tidak baik-baik saja."
Kinan terdiam, ia menatap Adnan dengan tatapan yang jauh lebih dalam dari sebelumnya.
Di dalam pelukannya ada Athar, dan di sampingnya ada Adnan yang sedang mencoba memperbaiki diri.
Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu, Kinan merasa bahwa mungkin, hanya mungkin, masa depannya tidak sesuram yang ia bayangkan.
ustadz jg manusia bysa😁
Syok berat tuh pak ustadz Adnan😅