"Ya Allah, ini ayah mertuaku... yang memberiku restu... yang kutitipi janji menjaganya."
Pedang di tangannya bergetar. Antara cinta pada Halimah dan cinta pada tanah air, ia harus memilih yang satu.
"Ayah... maafkan menantumu. Bukan karena aku tega, tapi karena tanah ini lebih besar dari cinta kita semua."
Pedang itu melesak. Bersamaan dengan ruh ayah mertuanya, ruh Maringgih pun ikut mati separuh.
---
Suara Nurani Halimah
Ia melihat dari kejauhan. Mulut terbuka, suara mati di tenggorokan.
"Suamiku... kau membunuh ayahku?"
Bukan marah yang pertama hadir. Tapi tanya yang lebih dalam:
"Berapa luka yang kau pendam, Maringgih, sampai kau sanggup melakukan ini?"
Air matanya jatuh untuk dua lelaki sekaligus. Untuk ayah yang rebah. Untuk suami yang kini harus hidup dengan bayangan mayat ayah mertuanya sendiri.
"Aku kehilangan ayah hari ini... tapi aku juga kehilanganmu, Maringgih."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: DUA KEPUTUSAN
Pada malam yang sama, dua keputusan lahir—dan keduanya menuntut korban.
Malam semakin larut. Bulan menyembunyikan wajahnya di balik awan hitam. Angin berdesir pelan, membawa dingin yang menusuk tulang.
Di dua ujung kampung yang berbeda, dua rumah masih menyala. Dua laki-laki masih terjaga. Dua keputusan mengeras di dua arah yang berlawanan.
Di gudang Maringgih, lampu minyak hampir padam. Tapi Maringgih masih duduk di kursinya. Di tangannya, surat dari Rahman—sudah dibaca berkali-kali, dilipat, dibuka lagi, dilipat lagi.
Dullah datang dengan langkah pelan. Ia meletakkan secangkir kopi hangat di atas meja.
"Tuan, sudah larut. Istirahatlah."
Maringgih tidak menjawab. Matanya masih menatap surat itu.
Dullah menunggu. Lalu bertanya pelan, "Tuan memikirkan adik Tuan?"
Maringgih menghela napas. "Ia memilih jalan yang berbeda, Dullah. Jalan yang tidak bisa kuikuti."
"Tapi Tuan sudah merestuinya."
"Restu tidak selalu menenangkan hati." Maringgih menekan surat itu ke dadanya—tepat di atas jantung. "Aku merestuinya dengan doa. Tapi aku juga takut kehilangan."
Dullah diam. Ia mengerti.
Maringgih berdiri. Berjalan ke jendela. Memandang ke luar—kampung yang gelap, sunyi, seperti kuburan raksasa.
"Ia bilang, 'Jika aku gugur, kubur aku dekat rakyat kecil'." Suara Maringgih serak. "Ia sudah siap mati, Dullah. Sementara aku di sini, hanya bisa menulis surat."
"Tuan juga berjuang, Tuan. Dengan cara Tuan sendiri."
Maringgih tersenyum getir. "Apakah cukup, Dullah? Apakah surat-suratku cukup berarti dibanding nyawa yang melayang?"
Dullah tidak menjawab. Ia tidak tahu jawabannya.
Maringgih kembali ke kursi. Surat itu ia lipat rapi, lalu diselipkan di dalam bajunya—dekat dada, dekat jantung.
"Ia akan selalu di sini," bisiknya. "Apa pun yang terjadi."
Dullah mengangguk. Ia tahu tuannya sedang menyimpan sesuatu yang lebih berharga dari rempah.
Mata Maringgih beralih ke gudangnya. Tumpukan karung rempah di sudut—hasil perjuangan sunyi. Kemenangan yang tidak boleh dirayakan. Kemenangan yang hanya bisa dinikmati dalam diam.
"Kita menang, Dullah," katanya pelan. "Tapi lihatlah. Tidak ada sorak. Tidak ada pesta. Hanya kita berdua dan rempah-rempah ini."
"Tapi petani bisa makan, Tuan. Itu lebih penting dari pesta."
Maringgih tersenyum. "Kau benar. Itu yang terpenting."
Tapi di matanya, ada kecemasan yang tidak bisa disembunyikan. Kecemasan tentang adiknya. Tentang masa depan. Tentang apa yang akan terjadi jika Rahman benar-benar gugur.
Dullah tahu. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Di ujung kampung yang lain, rumah besar Sulaiman juga masih menyala.
Tapi di sini, tidak ada ketenangan. Hanya amarah yang dipelihara seperti api kecil—tidak padam, tidak membesar, tapi selalu ada.
Sulaiman duduk di ruang tamu. Di tangannya, kontrak dengan VOC. Kertas itu sudah kusut karena dibaca berulang kali.
Tiga puluh hari. Rempah pengganti. Harga VOC. Keuntungan dua persen.
Kata-kata itu seperti belenggu di lehernya.
Samsul masuk. "Tuan, semua anak buah sudah istirahat. Hanya tinggal saya dan dua orang yang jaga."
Sulaiman mengangguk. "Bagus. Kau boleh istirahat juga, Samsul."
"Saya tidak bisa tidur, Tuan. Pikiran saya kacau."
Sulaiman menatapnya. "Kau juga merasakannya?"
Samsul menghela napas. "Orang-orang kampung... mereka memandang kami seperti sampah, Tuan. Istri saya tidak berani keluar rumah. Anak-anak saya diejek di sekolah."
Sulaiman diam. Ia tahu perasaan itu. Karena ia juga merasakannya.
"Tapi saya tetap di sini, Tuan." Samsul melanjutkan. "Karena saya percaya, suatu hari nanti—"
"Suatu hari nanti kita akan bangkit kembali." Sulaiman menyelesaikan kalimatnya. "Suatu hari nanti mereka akan tahu, siapa sebenarnya Maringgih itu."
Samsul mengangguk. Tapi di matanya, ada keraguan.
"Kau boleh pergi, Samsul. Istirahatlah."
Samsul keluar. Sulaiman kembali menatap kontrak itu.
Api kecil di sudut ruangan terus menyala. Menari-nari seperti kebencian yang ia pelihara.
Maringgih. Kau kira kau menang? Kau kira dengan kontrak ini kau bisa mengikatku?
Ia meremas kertas itu. Tapi tidak merobeknya. Karena ia tahu, kontrak ini adalah satu-satunya yang masih membuatnya bertahan di VOC.
Tanpa ini, Van der Berg akan menghancurkannya.
Dengan ini, ia masih punya sedikit ruang untuk bergerak.
Tapi untuk apa? pikirnya. Untuk apa aku bertahan kalau semua orang sudah membenciku?
Ia teringat Halimah. Putrinya yang semakin pendiam. Yang jarang bicara, tapi matanya mengatakan sesuatu yang tidak bisa ia artikan.
Ia teringat Usman dan Hasan. Anak-anaknya yang pulang sekolah dengan mata sembab karena diejek teman.
Ia teringat Siti. Istrinya yang setia, tapi diam-diam meragukannya.
Mereka semua perlahan menjauh. Dan itu semua karena Maringgih.
Api kecil di sudut ruangan seolah ikut menyala lebih besar.
Sulaiman berdiri. Berjalan ke jendela. Memandang ke luar—ke arah gudang Maringgih yang tidak terlihat dari sini.
Kau di sana, Maringgih. Duduk tenang. Merasa menang.
Tapi kau lupa satu hal: orang yang terpojok adalah yang paling berbahaya.
Ia mengepalkan tangan. Kontrak itu ia letakkan di atas meja.
"Samsul!" panggilnya.
Samsul masuk lagi. "Ya, Tuan?"
"Besok, kau cari informasi. Apa pun tentang Maringgih. Kelemahannya. Kebiasaannya. Orang-orangnya. Aku ingin tahu semua."
Samsul mengangguk. "Baik, Tuan."
"Aku tidak akan tinggal diam, Samsul. Aku tidak akan kalah begitu saja."
Samsul pergi. Sulaiman kembali ke kursinya.
Api kecil terus menyala. Menjaga kebencian yang ia rawat dengan sabar.
Di kamar Halimah, lampu minyak juga masih menyala.
Halimah duduk di meja belajarnya. Buku-buku terbuka di depannya, tapi matanya kosong menatap dinding.
Ia memikirkan hari ini. Perjalanan ke sekolah. Tatapan orang-orang. Bisikan-bisikan yang tidak bisa ia dengar, tapi bisa ia rasakan.
Mengapa semua jadi begini?
Ia teringat Datuk Maringgih. Sosok yang dulu sering bermain dengannya saat kecil. Yang selalu membawakan kue. Yang selalu tersenyum ramah.
Apakah benar ia jahat? Atau ayahku yang salah?
Ia menggeleng. Membuang pikiran itu.
Tapi pikiran itu selalu kembali.
Di gudang Maringgih, Dullah mengecek pintu belakang. Semua terkunci rapat.
"Tuan, saya pulang dulu. Besok pagi saya kembali."
Maringgih mengangguk. "Hati-hati di jalan."
Dullah pergi. Maringgih sendirian.
Ia meraba dadanya. Surat Rahman masih di sana. Hangat. Seperti detak jantung kedua.
Dik, apa kau baik-baik saja di sana? Apa kau masih hidup?
Ia memejamkan mata. Berdoa dalam hati.
Ya Allah, lindungi adikku. Jika ia harus gugur, berikan ia kematian yang mulia. Tapi jika masih ada waktu, pulangkan ia padaku.
Di luar, angin malam berdesir. Membawa pesan yang tak bisa dijawab.
Malam semakin larut. Kedua rumah itu akhirnya mulai meredup.
Di rumah Sulaiman, api kecil di sudut ruangan akhirnya padam. Tapi kebencian tidak padam. Ia hanya menunggu waktu.
Di gudang Maringgih, lampu minyak mati dengan sendirinya. Tapi surat di dada Maringgih terus berdenyut. Mengingatkan bahwa ada nyawa yang dipertaruhkan di tempat lain.
Dua keputusan telah lahir.
Satu keputusan untuk bertahan dan membalas.
Satu keputusan untuk merestui dan berdoa.
Dan keduanya—keduanya menuntut korban.
Ketika fajar mulai merekah, kampung perlahan bangun.
Petani berangkat ke ladang. Ibu-ibu ke pasar. Anak-anak ke sekolah. Hidup berjalan seperti biasa.
Tapi di dua rumah itu, dua laki-laki masih terjaga. Masih memikirkan apa yang akan terjadi.
Maringgih membuka matanya. Surat Rahman ia keluarkan, ia baca sekali lagi. Lalu ia lipat dan simpan kembali di dada.
Pergilah, Dik. Berjuanglah. Aku di sini mendoakanmu.
Sulaiman juga membuka matanya. Kontrak VOC ia pandangi sebentar. Lalu ia letakkan di atas meja.
Maringgih. Kau menang hari ini. Tapi perang belum selesai.
Dua tekad mengeras di dua arah.
Dan ketika malam itu benar-benar berlalu, satu hal menjadi pasti:
konflik berikutnya tak lagi soal rempah—melainkan manusia.
Manusia dengan segala cinta, benci, dan harga dirinya.
[Bersambung...]