NovelToon NovelToon
COLD MAFIA, WILD FLAME

COLD MAFIA, WILD FLAME

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Damian Alveros adalah CEO berwajah dingin yang memimpin jaringan mafia berbahaya di balik kekuasaannya. Hidupnya terkontrol, tanpa emosi, tanpa celah.

Semua berubah ketika ia bertemu Lyra Arsetha—gadis bar-bar yang tak sengaja menyelamatkannya di negara asing dan tanpa sadar terseret ke dunia gelap yang seharusnya tak pernah ia sentuh.

Ia adalah badai yang tak bisa dikendalikan.
Ia adalah es yang tak bisa dicairkan.

Namun di tengah pengkhianatan, kejar-kejaran maut, dan perang mafia internasional, mereka menemukan satu kebenaran berbahaya:

Semakin mereka mencoba menjauh…
semakin takdir memaksa mereka bertahan bersama.

Ketika cinta lahir di medan perang, hanya ada dua pilihan—
hidup berdampingan… atau hancur bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Kendaraan berhenti di depan bangunan tua berlantai tiga yang tampak seperti gudang tak terpakai.

Cat dindingnya mengelupas. Jendela-jendela tertutup rapat. Tidak ada lampu di luar. Tidak ada tanda kehidupan.

Lyra menatap tempat itu lama.

“Serius?” tanyanya. “Ini tempat aman?”

Lucian membuka pintu mobil sambil tersenyum santai.

“Tempat aman terbaik selalu terlihat seperti tempat yang sudah mati.”

Kael turun lebih dulu, matanya menyapu area sekitar dengan gerakan otomatis. Aidan berdiri di sisi lain kendaraan, tangannya tidak pernah jauh dari tas panjang yang dibawanya.

Damian keluar terakhir.

Ia tidak banyak bicara, tapi kehadirannya saja membuat udara terasa lebih berat.

“Masuk,” katanya singkat.

Pintu gudang terbuka dengan bunyi berderit panjang.

Di dalam, suasananya kontras total dengan luar. Bersih. Rapi. Penerangan redup namun cukup. Beberapa monitor menyala di dinding, menampilkan peta kota, jalur komunikasi, dan rekaman kamera tersembunyi.

Lyra mengangkat alis.

“Oke… aku tarik kata-kataku. Ini sarang rahasia.”

Lucian membungkuk dramatis.

“Selamat datang di markas sementara.”

Kael langsung memberi instruksi, “Aidan, posisi atap. Lucian, jaringan internal. Damian—”

Damian sudah duduk di kursi logam, napasnya sedikit berat.

Lyra melihat itu.

Tanpa berkata apa-apa, ia berjalan mendekat dan mendorong kursi lain di depannya.

“Duduk lebih nyaman,” katanya.

Damian menatapnya sebentar, lalu mengikuti tanpa protes.

Aneh.

Ia jarang mengikuti saran siapa pun.

Beberapa menit berlalu dalam aktivitas cepat dan terkoordinasi.

Monitor menyala satu per satu. Jalur komunikasi terbuka. Sistem keamanan aktif.

Lyra berdiri di tengah ruangan, memperhatikan semuanya.

Dunia ini bergerak cepat. Terlalu cepat.

Ia baru saja masuk… dan sudah tidak ada jalan keluar.

Tiba-tiba—

Monitor di sisi kiri berkedip.

Lucian langsung menegang.

“Gangguan sinyal.”

Kael menoleh tajam. “Sumber?”

Lucian mengetik cepat. “Tidak stabil… mereka menyusup dari jaringan eksternal.”

Aidan muncul di tangga atas.

“Ada kendaraan berhenti dua blok dari sini.”

Hening jatuh.

Damian berdiri perlahan.

Tubuhnya belum sepenuhnya pulih, tapi auranya kembali berubah menjadi sesuatu yang mematikan.

“Waktu kita habis,” katanya pelan.

Lyra menelan ludah.

“Cepat sekali mereka menemukan kita.”

Kael menjawab singkat, “Mereka tidak menemukan. Tapi Mereka mengikuti kita sejak awal.”

Semua mata mengarah pada satu kemungkinan.

Lyra.

Ia mengangkat tangan defensif.

“Jangan lihat aku begitu. Aku bahkan tidak tahu cara mereka bekerja.”

Damian menatap layar monitor yang mulai menampilkan bayangan bergerak di luar bangunan.

“Bukan kau,” katanya pelan. “Mereka membiarkan kita sampai ke sini.”

Lucian bersiul pelan.

“Itu artinya mereka ingin kita terjebak.”

Lampu berkedip.

Satu detik.

Dua detik.

Lalu—

BRAK!

Ledakan keras mengguncang sisi bangunan.

Debu berjatuhan dari langit-langit. Alarm berbunyi nyaring.

Lyra refleks menutup telinga.

“Aku benci bagian ini!”

Kael sudah bergerak menuju posisi tempur.

“Aidan, sisi timur!”

“Sudah,” jawab Aidan dari atas.

Lucian mengamankan data di monitor.

“Jika mereka masuk ke sistem, kita buta.”

Damian meraih pistolnya. Gerakannya tenang. Terlalu tenang.

Lyra menatapnya.

“Kau masih lemah.”

Damian menoleh.

Untuk sesaat, ekspresinya bukan pemimpin mafia.

Bukan CEO.

Tapi pria yang benar-benar mempertimbangkan sesuatu.

“Kau tetap di belakangku,” katanya.

Lyra menyeringai tipis.

“Kita sudah bahas ini.”

Damian menghela napas pendek.

Lalu terdengar suara kaca pecah dari lantai atas.

Langkah kaki.

Banyak langkah kaki.

Aidan berseru dari atas, “Kontak visual. Lima orang bersenjata.”

Kael menjawab, “Biarkan mereka masuk.”

Lyra menatap mereka.

“Kalian gila.”

Lucian tersenyum.

“Strategi.”

Damian berdiri di depan Lyra, tubuhnya menjadi perisai alami.

“Jika sesuatu terjadi,” katanya pelan tanpa menoleh, “lari ke pintu belakang.”

Lyra menatap punggungnya. Untuk pertama kalinya, ia tidak membantah.

Suara tembakan pertama meledak di dalam bangunan.

Pertempuran dimulai. Dan tidak ada lagi ruang untuk ragu. Lyra menarik napas dalam. Dunia normalnya telah berakhir. Sekarang hanya ada satu pilihan— Bertahan… bersama mereka.

Suara tembakan kedua memekakkan telinga.

Percikan api dari peluru yang menghantam logam membuat ruangan dipenuhi bau mesiu dan debu.

Lyra menunduk refleks saat serpihan dinding beterbangan. Jantungnya berdetak keras, tapi pikirannya anehnya jernih. Ini nyata Bukan mimpi buruk. Bukan adegan film danIni hidup barunya.

Aidan melompat turun dari tangga dengan gerakan cepat dan presisi, mendarat tanpa suara di samping Kael.

“Dua di koridor,” lapornya singkat.

Kael hanya mengangguk. Gerakannya efisien, seperti mesin yang sudah diprogram sejak lama.

Lucian tetap di depan monitor, tapi tangan kirinya kini memegang pistol kecil.

“Jaringan eksternal mereka mencoba mengunci pintu otomatis,” katanya cepat. “Beri aku tiga puluh detik.”

“Terlalu lama,” jawab Kael.

Tembakan kembali meledak dari arah lorong.

Peluru menembus dinding tipis dan menghantam rak logam, membuat suara dentang keras memantul di seluruh ruangan.

Lyra menoleh ke arah Damian.

Ia berdiri tegak, satu tangan memegang senjata, tangan lainnya menekan luka di sisi tubuhnya. Wajahnya tetap dingin, tapi napasnya sedikit berat.

Tanpa berpikir, Lyra meraih kotak medis kecil dari meja dan mendekat.

“Jangan bergerak terlalu banyak,” bisiknya.

Damian melirik sekilas, namun tidak menolak ketika Lyra menekan perban baru di lukanya. Sentuhan singkat. Hangat. Nyata. Sesuatu bergetar di udara di antara mereka—sesuatu yang lebih kuat dari suara tembakan.

Tiba-tiba Kael berteriak,

“Mereka masuk!”

Pintu samping jebol dengan dentuman keras. Dua pria bersenjata menyerbu masuk. Aidan bergerak lebih cepat dari bayangan. Dua tembakan pendek dan tepat mengenai target. Dua tubuh jatuh.

Lyra membeku sejenak.

Ia pernah melihat kekerasan. Pernah melihat perkelahian. Tapi ini… berbeda. Ini dunia di mana keputusan diambil dalam sepersekian detik.

Lucian berseru,

“Pintu belakang terkunci dari luar!”

Damian langsung memahami.

“Mereka ingin kita tetap di dalam.”

Lampu berkedip lagi. Kali ini lebih lama.

Ruangan setengah gelap.

Bayangan bergerak di setiap sudut.

Lyra merasakan tangan Damian menyentuh pergelangan tangannya. Bukan keras. Tapi pasti.

“Tetap dekat,” katanya pelan.

Lyra mengangguk tanpa sadar.

Suara langkah kaki baru terdengar dari atas.

Aidan mengangkat kepala sedikit.

“Tiga lagi.”

Kael mengisi ulang pelurunya.

“Kita tidak punya cukup waktu.”

Lucian akhirnya berseru,

“Jaringan mereka terputus! Sistem kita kembali!”

Lampu menyala penuh. Monitor kembali aktif. Namun kelegaan itu hanya berlangsung satu detik. Ledakan kecil mengguncang lantai atas. Debu kembali berjatuhan.

Aidan menatap ke atas, ekspresinya berubah lebih serius dari sebelumnya.

“Mereka membawa bahan peledak.”

Hening menelan ruangan.

Lyra merasakan tangan Damian menegang di pergelangan tangannya.

Keputusan harus diambil sekarang.

Damian menatap seluruh timnya.

Tatapan yang tidak perlu dijelaskan.

Kael langsung memahami.

“Evakuasi?”

Damian mengangguk sekali.

Aidan bergerak lebih dulu menuju jalur alternatif di sisi belakang ruangan.

Lucian mulai mematikan sistem dengan cepat.

Kael memberi perlindungan tembakan.

Lyra menatap Damian.

“Apa rencananya?”

Damian menatap balik.

Suaranya rendah, namun mantap.

“Kita keluar hidup-hidup.”

Tembakan kembali meledak. Dinding retak. Udara dipenuhi debu.

Namun di tengah kekacauan itu, Lyra menyadari satu hal yang tidak bisa ia pungkiri lagi— Ia tidak lagi hanya bertahan karena keadaan. Ia bertahan… karena ia tidak ingin meninggalkan pria di sampingnya.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai— Damian tidak melepaskan tangannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!