"Mereka mengira aku boneka porselen yang siap pecah. Mereka pikir aku buta, bodoh, dan lemah. Biar aku tunjukkan, dari balik duri-duri ini, ada mahkota yang menungguku."
Alana Wijaya adalah putri tunggal konglomerat yang jatuh miskin. Setelah ayahnya wafat, ia menikah dengan pria yang diam-diam berselingkuh dengan sahabatnya sendiri—tepat di bawah atapnya, selama tiga tahun. Alana memilih diam. Bukan karena takut, tapi karena sedang menyusun takhta.
Di balik gaun mahal dan senyum palsunya, ia diam-diam membangun kembali kerajaan ayahnya. Ia masuk ke klub eksklusif dengan pakaian usang, diremehkan, dicemooh—sampai suatu hari, para investor paling disegani di negeri ini berlutut menawarkan kerja sama.
Saat sang suami dan sahabatnya mulai menyadari bahwa mereka bukan lagi predator, melainkan mangsa... Alana baru benar-benar tersenyum.
"Kau pikir kau yang memainkanku? Sayang sekali. Permainan baru saja dimulai—dan akulah pembuat aturannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: VIOLA KEMBALI DENGAN SENJATA BARU
🥀 PUISI: REKAMAN LUKA
Ada masa di mana mawar hampir layu
Saat duri-durinya tak mampu menusuk
Saat kelopaknya luruh dimakan waktu
Dan akarnya hampir tercabut patah pukul
Lalu seseorang merekam kerapuhan itu
Menyimpannya dalam kotak kaca
Untuk suatu hari, saat sang mawar tumbuh
Ia lemparkan pecahan itu—berharap luka kembali membara
Tapi ia lupa
Mawar yang pernah hampir mati
Telah belajar hidup dari tanah paling duri
Dan dari luka terdalam, justru lahir mahkota sejati
Namun—
Rekaman itu tetap menyala di layar kaca
Dan dunia menatap dengan mata picik
Luka lama menganga, darah kembali menitik
Mawar terguncang di atas takhta yang baru ia raih
Akankah ia jatuh lagi?
Atau justru bangkit dengan cara yang lebih kejam?
Sebab mawar sejati tak pernah benar-benar mati
Ia hanya menunggu waktu untuk mekar kembali
Dengan duri yang lebih tajam dari sebelumnya.
---
📍 BAB 32: VIOLA KEMBALI DENGAN SENJATA BARU
---
Jakarta, 2 tahun lalu
Rumah Sakit Dharmais — Ruang Isolasi
Layar monitor berdetak lambat.
Alana terbaring di ranjang rumah sakit dengan tangan terpasang infus. Perban melilit kedua pergelangan tangannya—tepat di atas urat yang tiga jam lalu ia sayat dengan pecahan kaca dari bingkai foto pernikahannya.
Dokter bilang ia beruntung. Lucas yang kebetulan datang mengantarkan dokumen warisan menemukannya tergeletak di kamar mandi, genangan air merah mengalir perlahan di lantai marmer putih.
"Denyut nadinya hampir hilang," kata dokter itu pada Lucas. "Kalau datang lima menit lagi..."
Lucas tidak melanjutkan kalimat itu. Ia hanya duduk di kursi plastik dekat jendela, menatap Alana yang pucat pasi dengan mata sembab.
Hujan deras di luar.
Alana tak menangis. Air matanya sudah habis tiga jam sebelumnya—saat ia pulang lebih awal dan membuka pintu kamar utamanya. Saat ia melihat Richard dan Viola di atas ranjang yang ia beli dengan uang warisan ayahnya. Saat Viola menoleh, tersenyum, lalu berkata:
"Oh, kamu pulang? Maaf, kita lagi sibuk. Bisa nanti?"
Pintu ditutup kembali.
Dan Alana berjalan ke ruang tengah, mengambil bingkai foto pernikahan, memecahkannya di lantai, memungut pecahan terbesar, lalu menguncikan diri di kamar mandi.
---
Di sudut ruangan, tersembunyi
Viola berdiri di balik pintu kaca ruang ICU, ponsel di tangan terangkat diam-diam. Jendela kaca besar memperlihatkan Alana terbaring dengan selang oksigen di hidung.
Rekam.
Jempol Viola menekan layar. Lampu merah kecil menyala.
Alana terlihat begitu rapuh. Wajahnya pucat seperti mayat hidup. Matanya kosong menatap langit-langit. Tangannya yang terluka terbaring lemah di atas selimut putih.
Viola merekam dari berbagai sudut. Wajah Alana dari dekat. Perban di tangan. Monitor jantung. Bahkan air mata Lucas yang jatuh diam-diam di kursi plastik.
Ini aset berharga, pikir Viola. Suatu hari, saat Alana berani menatapku lagi... aku akan menunjukkan padanya siapa yang sebenarnya punya kuasa.
Ia menyimpan video itu di folder tersembunyi. Diberi nama: "MAWAR LAYU — JANGAN DIHAPUS"
---
Jakarta, hari ini
Apartemen Viola — Pinggiran Jakarta
Viola duduk di lantai kamar kontrakannya yang sempit. Dinding kusam, lampu temaram, dan tumpukan tagihan yang tak terbayar berserakan di meja ripek.
Dua minggu sejak Richard ditangkap. Dua minggu sejak Alana mengusirnya dari rumah mewah itu. Dua minggu sejak semua pintu tertutup di wajahnya.
Viola menatap layar ponselnya.
Folder tersembunyi itu masih ada. Ia tak pernah berani membukanya selama ini—rasa bersalah? Takut? Atau mungkin sisa-sisa kemanusiaan yang masih tersisa di dasar hatinya yang busuk?
Malam ini, ia membukanya.
Video itu diputar. Alana di ranjang rumah sakit. Pucat. Hampir mati. Luka di tangan.
Viola tersenyum. Lalu senyum itu melebar jadi tawa kecil yang mengerikan.
"Kau pikir kau sudah menang, Alana?" bisiknya pada layar. "Kau pikir kau ratu sekarang? Semua orang memujamu? CEO muda terkaya? Wanita inspiratif?"
Ia menjeda video, tepat di bagian close-up wajah Alana yang sekarat.
"Bagaimana kalau semua pengagummu tahu... bahwa ratu mereka pernah mencoba bunuh diri karena tak sanggup hidup tanpanya?"
Viola mengambil napas panjang. Lalu ia membuka kontak seorang wartawan infotainment—wartawan gosip paling keji di kota ini, yang terkenal tak punya etika dan selalu haus skandal.
Viola (23:47): "Halo, Mas. Ada bocoran panas. Tentang Alana Wijaya. Mau?"
Balasan datang dalam satu menit.
Wartawan (23:48): "Berapa?"
Viola (23:48): "Gratis. Tapi aku minta satu: hancurkan dia. Hancurkan total."
---
Keeseokan harinya
Wijaya Tower — Lantai 38
Alana sedang memimpin rapat dewan direksi.
Layar besar menampilkan proyeksi pertumbuhan kuartal keempat. Angka-angka hijau berkilau. Para direktur tersenyum puas. Alana duduk di kursi utama—setelan putih elegan, rambut tersanggul sempurna, wajah tenang penuh wibawa.
Pintu rapat terbuka mendadak.
Sekretaris Alana, Maya, masuk dengan wajah pucat. Ia membawa tablet, gemetar.
"Bu... Bu Alana..."
Alana menoleh sedikit terganggu. "Ada apa, Maya? Kita sedang rapat."
Maya mendekat, berbisik di telinga Alana. Wajah Alana berubah.
Ia merebut tablet dari tangan Maya.
Layar menampilkan YouTube. Sebuah video berjudul:
"TERBONGKAR! RATU BISNIS ALANA WIJAYA PERNAH COBA BUNUH DIRI? INI BUKTI EKSKLUSIF!"
Views: 200 ribu dalam 20 menit pertama.
Alana menekan play.
Video amatir itu muncul. Rumah sakit. Dua tahun lalu. Dirinya sendiri terbaring dengan perban di tangan. Wajah pucat. Mata kosong. Monitor jantung.
Komentar bergulir di bawah video:
"Buset, selama ini dikira wanita kuat, ternyata cengeng."
"Gila, dia mau bunuh diri karena putus cinta? CEO segitu lemahnya?"
"Malu-maluin jadi panutan. Gak kuat dikit bunuh diri."
"Pantangannya lucu, pake perban segala."
"Sekarang sok kuat di depan kamera, padahal dagingnya udah pernah mau dipotong."
"Mending mati aja sekalian dulu, biar gak jadi aib."
"Wanita inspiratif? Inspiratif bunuh diri kali."
Tablet itu hampir jatuh dari tangan Alana.
Napasnya memburu.
Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, ia merasakan sensasi yang sama seperti malam itu: dada sesak, dunia berputar, tanah seakan terbuka hendak menelannya.
Para direktur menatapnya heran.
"Bu Alana? Ada masalah?"
Alana berdiri. Tersendat.
"Rapat... rapat ditunda."
Ia keluar dari ruangan dengan langkah limbung. Maya mengikutinya cemas.
Di koridor, ponsel Alana berdering tak henti. Notifikasi dari semua media. Semua kontak. Semua orang yang pernah menghormatinya—kini mengirim pertanyaan dengan nada menghakimi.
Dan di layar ponsel yang lain, sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal:
"Hai, Alana. Ingat malam itu? Aku merekamnya. Dan aku akan membuat semua orang tahu siapa kamu sebenarnya. Bukan ratu. Hanya perempuan lemah yang hampir mati karena laki-laki. Selamat menikmati kehancuranmu, sahabatku. ❤️"
---
Dua jam kemudian
Apartemen Alana — Lantai 52
Alana duduk di lantai kamar mandi.
Punggungnya bersandar di dinding dingin batu marmer. Matanya kosong menatap lantai. Gaun putih mahalnya kusut, riasannya luntur oleh air mata yang tak henti jatuh.
Di luar, ponselnya berdering terus. Maya sudah menelepon 27 kali. Nathan 15 kali. Lucas puluhan kali.
Ia tak menjawab satu pun.
Di depannya, di lantai kamar mandi yang sama—dua tahun lalu—ia hampir mati.
Kini sejarah seakan berulang.
Tapi kali ini, ia tak punya pecahan kaca.
Yang ia punya hanyalah guncangan yang lebih dalam: dunia tahu. Semua orang tahu. Mereka melihatku paling rapuh. Mereka menghakimi. Mereka menertawakan.
Air mata jatuh satu per satu.
"Apa gunanya semua ini?" bisiknya. "Apa gunanya jadi kuat, kalau masa lalu bisa menghancurkanmu kapan saja?"
---
Di luar apartemen
Nathan berdiri di depan pintu. Ia sudah menelepon puluhan kali, mengetuk puluhan kali, bahkan hampir memanggil manajer gedung untuk membuka paksa.
Tak ada jawaban.
Di tangannya, ponsel menampilkan video yang sama. Komentar-komentar keji. Dan satu artikel baru dari portal berita ternama:
"MAWAR BERDURI ATAU MAWAR RAPUH? PSIKOLOG BONGKAR TRAUMA ALANA WIJAYA"
Di dalam artikel itu, seorang psikolog yang bahkan tak pernah bertemu Alana berbicara panjang lebar tentang "kepribadian rapuh di balik topeng kuat", tentang "wanita kaya yang tak siap menghadapi tekanan", tentang "bahaya mengidolakan figur bermasalah mental".
Nathan menggenggam ponselnya erat-erat. Tulang jarinya memutih.
"Viola..." desisnya.
---
Di sisi lain kota
Viola duduk di kafe murah dengan senyum puas. Di depannya, laptop menampilkan trending topic di Twitter:
#AlanaBunuhDiri — trending 1
#RatuhRapuh — trending 2
#MawarLayu — trending 4
#BoikotWijayaGroup — trending 7
Ia melihat saham Wijaya Group mulai turun di layar aplikasi trading.
Ia melihat komentar-komentar publik yang menghujat.
Ia melihat semua yang ia inginkan.
"Ini dia," bisiknya. "Ini balasanku."
Viola mengangkat gelas wine murah di depannya, memberi toast pada bayangannya sendiri di layar laptop.
"Untuk kehancuranmu, Alana. Kau ambil semua milikku? Sekarang kulihat kau kehilangan semua milikmu. Kita sama-sama jatuh. Tapi aku akan menari di atas reruntuhanmu."
---
Kembali di apartemen Alana
Tak ada suara dari dalam.
Nathan sudah memanggil manajer gedung. Mereka akan membuka paksa dalam lima menit.
Di dalam kamar mandi, Alana masih duduk di lantai. Air matanya mulai kering. Ia menatap lengan kirinya—bekas luka dua tahun lalu masih samar, hampir tak terlihat.
Ia ingat rasa sakit itu.
Rasa takut itu.
Kesepian itu.
Dan tiba-tiba, di tengah kehancuran itu, ia teringat kata-kata ayahnya di ranjang kematian:
"Jangan pernah tunjukkan semua kartumu, Nak. Biar mereka mengira kau tak punya apa-apa."
Alana tersentak.
Matanya yang kosong perlahan berfokus.
"Tapi... aku sudah menunjukkan kartuku?" bisiknya. "Atau... ini justru saatnya aku menunjukkan kartu yang tak pernah mereka duga?"
Ia mendengar ketukan keras di pintu utama. Suara Nathan berteriak panik.
Alana bangkit perlahan. Tubuhnya lemas, tapi ia berpegangan pada wastafel. Menatap cermin.
Wanita di cermin itu kacau. Make-up luntur. Mata bengkak. Rambut berantakan.
Tapi matanya...
Matanya mulai berbinar lagi.
"Viola mengira ini akhirku," bisiknya. "Dia mengira aku akan kembali ke titik nol. Bahwa aku akan patah lagi."
Ia membuka keran, membasuh wajah.
"Dia lupa sesuatu."
Pintu apartemen terbuka paksa. Suara Nathan dan manajer gedung gempar masuk.
Nathan berlari mencari, menemukan Alana di ambang pintu kamar mandi—basah, tanpa riasan, tapi berdiri tegak.
Nathan terkesiap. "Alana! Kau... kau tidak apa-apa?"
Alana menatapnya. Lalu tersenyum—senyum yang tak pernah Nathan lihat sebelumnya. Bukan senyum lemah. Bukan senyum palsu.
Tapi senyum seorang pemain catur yang baru menyadari bahwa lawannya justru masuk ke dalam jebakan.
"Nathan," suaranya serak tapi tenang. "Bantu aku memanggil Lucas. Dan hubungi tim hukum. Sekarang."
Nathan bingung. "Tapi... video itu... media... saham..."
Alana berjalan melewatinya menuju ruang tengah. Ia mengambil ponsel yang bergetar tak henti. Melihat ribuan notifikasi. Lalu mematikannya dengan tenang.
"Viola pikir dia menguburku," katanya tanpa menoleh. "Padahal dia baru saja memberi aku kesempatan untuk menunjukkan pada dunia satu hal."
Nathan menatap punggungnya. "Apa?"
Alana berbalik. Senyum itu masih ada—tapi kini matanya... matanya seperti api.
"Bahwa mawar ini tidak hanya berduri. Mawar ini juga bisa membakar."
---
🔥 CLIFFHANGER
Lampu apartemen berkedip sejenak—gangguan listrik biasa.
Tapi saat lampu menyala kembali, Alana sudah duduk di sofa dengan laptop terbuka. Jari-jarinya menari di atas keyboard.
Nathan mendekat, melihat layar.
"Apa yang kau lakukan?"
Alana tak menjawab. Ia membuka file demi file—dokumen yang bahkan Nathan tak pernah tahu ada. Data transfer rahasia. Rekaman percakapan. Foto-foto. Dan satu folder bernama: "MAWAR BERACUN - CADANGAN"
Nathan membaca beberapa baris. Wajahnya berubah.
"Ini... ini semua tentang Viola?"
Alana menekan enter.
"Bukan hanya Viola. Richard. Semua orang yang pernah bersekongkol dengan mereka. Semua yang ikut menikmati penderitaanku selama ini."
Layar menampilkan jadwal rilis: BESOK, 08.00 PAGI — SERENTAK DI 27 PLATFORM MEDIA.
Nathan menelan ludah. "Kau yakin? Ini perang total. Tak akan ada yang tersisa. Termasuk..." ia ragu, "...termasuk dirimu yang dulu."
Alana menutup laptop. Menatap Nathan lekat-lekat.
"Dia menunjukkan videoku yang paling rapuh, Nathan. Dia ingin dunia melihatku hancur. Sekarang giliranku menunjukkan pada dunia—"
Ponsel Alana berdering. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal:
"Kau pikir kau punya senjata? Aku sudah menyebarkan video lain. Lebih parah. Tunggu satu jam lagi. Dan kali ini... aku kirim juga ke ibumu yang di Swiss. Selamat menyaksikan dunia runuh, Alana. Lagi."
Alana membaca pesan itu.
Tangannya gemetar sesaat.
Lalu ia mendongak ke arah Nathan—dan untuk pertama kalinya malam itu, ada sesuatu yang Nathan lihat di matanya:
Bukan ketakutan. Bukan amarah.
Tapi... kebingungan yang nyaris tak pernah ada pada wanita ini.
"Nathan..." suaranya nyaris berbisik. "Dia bilang... ibuku? Ibuku sudah meninggal 15 tahun lalu. Waktu aku masih SMA."
Nathan membeku.
Mereka saling tatap.
Dan di luar, di langit malam Jakarta yang gelap, sebuah helikopter melintas rendah—terlalu rendah untuk sekadar patroli biasa—dengan lampu sorot menyapu gedung demi gedung, seolah mencari sesuatu.
Atau seseorang.
---
📱 Breaking News — 15 menit kemudian
Layar TV di apartemen menyala otomatis—entah bagaimana—menampilkan siaran darurat.
Seorang penyiar berwajah tegang:
"Kami putuskan hubungan dengan peringatan darurat. Sebuah video baru saja diunggah oleh sumber anonim, menampilkan sosok yang diklaim sebagai... ibu kandung Alana Wijaya, yang selama ini dianggap telah meninggal. Video tersebut memperlihatkan seorang wanita paruh baya yang mengatakan—"
Layar TV mati.
Listrik padam total.
Gedung Wijaya Tower di kejauhan ikut gelap.
Dan di kegelapan apartemen itu, Alana merasakan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sejak malam dua tahun lalu:
Rasa takut yang sesungguhnya.
Bersambung...(*❛‿❛)→