NovelToon NovelToon
CEO IMPIAN MONTIR IDAMAN

CEO IMPIAN MONTIR IDAMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ais_26

Ia berlutut pelan di depan ibunya.

“Bu…” suaranya hampir tak terdengar.

Ibunya bergerak sedikit. Mata itu terbuka perlahan.

Butuh dua detik untuk menyadari.

“Ara?”

Ara tersenyum, air mata akhirnya jatuh.

“Iya Bu. CEO-nya belum dapat tapi anaknya pulang dulu”

Ibunya duduk tegak, lalu memeluknya tanpa kata.

“Eleh. Kaya raya siapa yang mau sama modelan kaya kamu tuh? Paling ada Mang Diman. Itu baru kaya tujuh turunan gak habis-habis. Mau Ibu jodohin?” katanya sambil ketawa terbahak-bahak

Ara langsung panik setengah jengkal

“Eh jangan Diman dong Bu! Nanti anak Ibu jadi istri ketiga terus Ara punya anak tiri enam!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 AKHIRNYA...

Sementara itu, di rumah Danu, suasana juga mulai berbeda. Ayahnya sedang duduk di ruang tamu membaca koran, ibunya menyiapkan daftar tamu yang akan ikut saat lamaran.

Danu turun dari kamar membawa map kecil berisi dokumen dan catatan.

“Sudah siap semua?” tanya ibunya.

“InsyaAllah, Bu”

Ayahnya melipat koran. “Yang penting bukan acaranya besar atau kecil. Yang penting sikap kamu di depan keluarga Ara.”

Danu mengangguk mantap. “Iya, Yah.”

Siang itu, Ara menerima foto dari EO. Seserahan sudah dimasukkan ke dalam box transparan dengan dekorasi bunga lembut sesuai konsep yang dipilih.

Cantik. Rapi. Elegan.

Ara tanpa sadar tersenyum lebar.

Ia langsung mengirim foto itu ke Danu.

Ara: Udah jadi.

Danu membalas cepat.

Danu: MasyaAllah… cantik.

Ara: Iya… jadi makin nyata ya.

Danu: Iya. Dek?

Ara: Iya?

Danu: Nanti pas hari itu, kalau kamu gugup… lihat aku aja.

Ara terdiam.

Ara: Kamu yakin nggak yang gugup duluan?

Danu: Kalau aku gugup, kamu pegang tanganku sebentar aja.

Ara tersenyum, pipinya memerah meski tidak ada yang melihat.

Ara: Baik, Mas.

Sore menjelang. Matahari turun pelan, menyisakan warna jingga di langit.

Ara berdiri di teras rumah, menghirup udara dalam-dalam. Ia sadar, hidupnya memang tidak berubah dalam semalam. Tapi arah langkahnya sudah jelas.

Di sisi lain, Danu juga berdiri di halaman rumahnya, menatap langit yang sama.

Ia tidak lagi bertanya apakah dirinya cukup.

Ia hanya memastikan satu hal dalam hati—

Bahwa apa pun yang datang setelah ini, ia akan tetap berjalan di samping Ara. Bukan di depan. Bukan di belakang.

Di samping.

Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai, keduanya merasa bukan hanya siap untuk lamaran…

Tapi siap untuk belajar menjadi pasangan.

Pelan-pelan.

Di kamar Ara, lampu meja menyala lembut. Ia duduk di ranjang, ponselnya di tangan, memikirkan hari esok. Ia membuka chat dengan Danu.

Ara: Mas… kamu udah makan malam?

Danu: Udah, Dek. Kamu sendiri?

Ara: Aku juga. Cuma teh hangat sama kue aja.

Danu: Hm… harusnya kamu makan yang lebih kenyang, biar kuat besok.

Ara: Tapi aku gugup, Mas… rasanya perut nggak enak.

Danu: Hehe… aku juga sama gugup. Yaudah sana tidur jangan begadang. Besok kan hari besar, harus fit.

Ara: Hehe… iya, Mas. Aku juga udah ngantuk sebenernya. Kamu juga jangan terlalu malam tidurnya ya.

Danu: Tenang, aku bakal tidur juga. Jangan datang di mimpiku nanti.

Ara: Hahaha… jangan sampai aku muncul di mimpimu sambil marah-marah.

Danu: Aduh…

Ara: Hahaha… baiklah, Mas. Selamat malam ya.

Danu: Selamat malam, Dek. Tidur yang nyenyak… dan mimpi indah tentang kita.

Ara: Iya… Mas juga.

Pagi hari lamaran itu akhirnya datang.

Langit cerah setelah semalam sempat diguyur hujan. Udara terasa lebih segar dari biasanya, seolah ikut merapikan suasana hati yang sejak subuh sudah tidak tenang.

Di rumah Ara, aktivitas dimulai lebih awal. Ibunya sudah bangun sejak sebelum azan Subuh, memastikan dapur rapi dan ruang tamu siap menerima tamu. Karpet digelar, meja disusun ulang, bunga segar diletakkan di sudut ruangan.

Ara duduk di depan meja rias, rambutnya sedang ditata oleh MUA langganan keluarga. Wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya.

“Tarik napas dulu” ujar sang MUA lembut “Hari ini bukan ujian skripsi”

Ara tersenyum kecil “Rasanya lebih deg-degan dari sidang”

Ibunya masuk ke kamar, membawa segelas air hangat “Minum dulu. Jangan sampai haus ditahan”

Ara menerima gelas itu dengan tangan sedikit dingin. Ia menatap dirinya di cermin. Dress sage dengan outer lace lembut yang dipilih beberapa hari lalu kini tergantung rapi di sisi lemari, menunggu dikenakan.

Hari ini bukan tentang tampil sempurna.

Hari ini tentang kesiapan.

Sementara itu, di rumah Danu, suasananya juga tidak kalah tegang.

Danu sudah rapi dengan setelan broken white yang dipilihnya. Rambutnya disisir lebih formal dari biasanya. Di ruang tamu, kotak-kotak seserahan telah disusun dengan hati-hati, siap dibawa.

Ayahnya berdiri memperhatikan.

“Sudah siap jadi calon kepala keluarga?” tanyanya setengah bercanda, tapi nadanya serius.

Danu menarik napas pelan “Belajar, Yah”

Ibunya tersenyum bangga “Yang penting niat dan tanggung jawab”

Rombongan keluarga inti berkumpul. Paman, tante, dan dua sepupu ikut mendampingi. Bukan rombongan besar, tapi cukup untuk mewakili.

Sebelum berangkat, Danu menyempatkan diri membuka ponsel.

Danu: Sudah siap?

Balasan masuk beberapa detik kemudian.

Ara: Iya tapi agak deg-degan.

Danu: Sama.

Ara: Jangan lupa senyum ya nanti.

Danu: Kamu juga.

Ara: Mas…

Danu: Iya?

Ara: Terima kasih ya.

Danu terdiam sejenak sebelum membalas.

Danu: Hari ini aku datang bukan cuma buat melamar. Aku datang buat bertanggung jawab.

Ara menatap layar ponselnya cukup lama sebelum akhirnya meletakkannya.

Matanya terasa sedikit hangat.

Menjelang pukul sebelas pagi, mobil rombongan Danu memasuki halaman rumah Ara.

Jantung Danu berdetak lebih cepat dari biasanya.

Pintu mobil dibuka. Ia turun lebih dulu, membantu ibunya. Kotak seserahan diangkat satu per satu dengan hati-hati.

Di teras, keluarga Ara sudah menyambut.

Ayah Ara berdiri paling depan, wajahnya tenang tapi penuh wibawa.

“Assalamu’alaikum” ucap ayah Danu lebih dulu.

“Wa’alaikumsalam” jawab ayah Ara.

Jabat tangan pertama itu terasa lebih berat dari biasanya. Bukan karena beban, tapi karena makna.

Rombongan dipersilakan masuk.

Ruang tamu yang biasanya terasa biasa saja kini menjadi saksi langkah baru dua keluarga.

Danu duduk di sisi ayahnya. Tangannya bertaut di atas lutut, berusaha tetap tenang.

Beberapa menit berlalu dengan obrolan ringan tentang perjalanan, tentang cuaca, tentang kabar keluarga. Namun semua tahu, inti pertemuan belum dimulai.

Akhirnya ayah Danu meluruskan duduknya

“Kedatangan kami hari ini” ucapnya tenang “ingin menyampaikan niat baik. Anak kami Danu dengan izin Allah ingin melamar putri Bapak dan Ibu”

Suasana mendadak lebih hening.

Ara yang berada di kamar mendengar suara itu samar-samar. Tangannya mengepal pelan di atas pangkuan.

Di ruang tamu, ayah Ara mengangguk perlahan.

“Terima kasih atas niat baiknya” jawabnya. “Kami sebagai orang tua tentu ingin yang terbaik untuk anak kami”

Ia menoleh pada Danu.

“Danu”

Danu mengangkat wajahnya.

“Kamu yakin dengan keputusan ini?”

Pertanyaan itu sederhana tapi berat.

Danu menarik napas pelan.

“Saya yakin, Pak. Bukan karena saya merasa sudah sempurna. Tapi karena saya siap belajar dan bertanggung jawab.”

Tidak ada kalimat puitis. Tidak ada janji berlebihan.

Hanya kejujuran.

Ayah Ara menatapnya beberapa detik, seolah menilai bukan hanya kata-kata, tapi keteguhan.

Lalu ia mengangguk.

“Kalau begitu kami selalu orang tua menerima lamaran ini”

Kalimat itu terasa seperti angin yang melepaskan beban panjang.

Ibunda Ara menahan senyum haru. Ibu Danu mengusap sudut matanya pelan.

Danu menunduk hormat “Terima kasih, Pak”

Ara akhirnya dipanggil keluar.

Langkahnya pelan. Dress sage itu jatuh ringan di tubuhnya, sederhana tapi anggun. Rambutnya ditata natural, riasannya lembut.

Begitu ia duduk di samping ibunya, matanya tanpa sadar mencari Danu.

Dan menemukannya.

Danu menatapnya dengan senyum kecil senyum yang sama seperti saat di butik, tapi kini lebih dalam.

Kotak cincin dibawa ke tengah.

Tidak besar

Tidak mencolok

Danu menerimanya dengan tangan yang sedikit gemetar.

Ia berdiri, melangkah satu langkah mendekat

“Ara” ucapnya pelan, cukup untuk terdengar semua orang.

Ara mengangkat wajahnya.

“Aku datang hari ini dengan niat baik. Bukan cuma ingin memintamu jadi calon istriku… tapi ingin berjalan bersamamu ke depan. Pelan-pelan. Saling belajar”

Ruangan terasa sunyi.

“Ara, maukah kamu menerima lamaranku?”

Ara tidak langsung menjawab.

Matanya berkaca-kaca, tapi senyumnya utuh.

“Aku mau”

Jawaban itu sederhana tapi penuh kesadaran

Danu mengambil cincin, menyematkannya perlahan di jari manis Ara. Tepuk tangan kecil terdengar dari keluarga.

Bukan tepuk tangan meriah tapi hangat.

Ara menunduk sejenak, lalu berbisik pelan saat Danu kembali duduk.

“Mas”

“Iya?”

“Tangan kamu tadi dingin”

Danu tersenyum kecil “Kamu juga”

Mereka tertawa kecil, cukup untuk meredakan sisa tegang.

Setelah prosesi utama selesai, suasana berubah lebih santai. Foto keluarga diambil. Seserahan dibuka satu per satu. Canda kecil mulai terdengar.

Sepupu Ara menggoda “Akhirnya resmi ya Dek”

Ara hanya tersenyum, masih memandangi cincin di jarinya.

Di sudut ruangan, Danu dan ayah Ara sempat berbincang berdua.

“Ingat” ucap ayah Ara pelan “melamar itu langkah awal. Menjaga itu yang panjang”

Danu mengangguk mantap “Iya, Pak. Saya akan ingat”

1
Irmha febyollah
ko di ulang2 kk
Irmha febyollah
lah kmren si Danu ngantarin gorengan ini ngantar motor SMA karyawan blg gak tau rumah si Ara.
Wati Anja
ko ga ada lanjutannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!