Ia berlutut pelan di depan ibunya.
“Bu…” suaranya hampir tak terdengar.
Ibunya bergerak sedikit. Mata itu terbuka perlahan.
Butuh dua detik untuk menyadari.
“Ara?”
Ara tersenyum, air mata akhirnya jatuh.
“Iya Bu. CEO-nya belum dapat tapi anaknya pulang dulu”
Ibunya duduk tegak, lalu memeluknya tanpa kata.
“Eleh. Kaya raya siapa yang mau sama modelan kaya kamu tuh? Paling ada Mang Diman. Itu baru kaya tujuh turunan gak habis-habis. Mau Ibu jodohin?” katanya sambil ketawa terbahak-bahak
Ara langsung panik setengah jengkal
“Eh jangan Diman dong Bu! Nanti anak Ibu jadi istri ketiga terus Ara punya anak tiri enam!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 BANYAK YANG GAK SUKA...
Keesokan paginya, Ara terbangun bukan karena alarm melainkan karena notifikasi yang tak berhenti berbunyi.
Ia mengerjap pelan, lalu meraih ponselnya.
Puluhan DM.
Ratusan likes.
Komentar terus bertambah.
Ia langsung teringat sesuatu.
Tadi malam… ia memang sempat mengunggah foto.
Bukan hanya foto cincin.
Ia mengunggah satu foto saat Danu menyematkan cincin di jarinya angle samping, wajah mereka tidak terlalu jelas, tapi cukup untuk dikenali. Dan untuk pertama kalinya, ia menandai akun Danu.
Caption-nya sederhana:
“Bismillah. Resmi melangkah ke tahap baru 🤍 @danu…”
“Ya ampun…”
Kolom komentar penuh ucapan selamat. Beberapa teman SMA bahkan menulis “Plot twist banget sih ini!” Ada juga yang menandai teman-teman lain, membuat unggahan itu makin cepat menyebar.
Tak butuh waktu lama sampai story teman-temannya ikut meramaikan.
Ara menarik napas panjang.
Belum sepuluh menit ia bangun dan cek hp, telepon masuk dari Nisa sahabat SMA dulu.
“Ara! Kenapa kamu nggak bilang mau lamaran sama Danu?!” suara di seberang terdengar campuran terkejut dan heboh
Ara tertawa kecil, masih setengah sadar “Kan belum resmi nikah, Nis”
“LAMARAN ITU RESMI!” balas Nisa cepat “Kamu tuh dari dulu paling anti update relationship, tahu-tahu langsung tunangan mana sama kating waktu SMA!”
Ara tersenyum tipis.
“Memang nggak direncanakan buat diumumkan cepat-cepat”
“Terus itu siapa sih? Serius aku nggak pernah lihat kamu posting dia waktu jalan bareng atau apa keh”
Ara terdiam sepersekian detik sebelum menjawab pelan “Orang minta sama Ayah mau niat serius langsung tanpa pacaran lama”
“HAH?”
Ara hanya tertawa kecil.
Di sisi lain, Danu juga mengalami hal yang sama.
Ia baru selesai sarapan ketika ponselnya terus berbunyi.
Grup alumni.
Grup remaja kampung
Lalu ia membuka Instagram.
Tag dari Ara muncul paling atas.
Ia terdiam cukup lama menatap foto itu.
Momen itu terlihat hangat. Natural. Tidak dibuat-buat.
Tapi yang membuatnya lebih diam adalah fakta bahwa Ara memilih untuk menandainya.
Terbuka.
Tidak lagi disembunyikan.
Arif: Brooo fix banget ya akhirnya?!
Danu tersenyum kecil.
Danu: Iya.
Arif: Diam-diam kamu. Dari dulu nggak pernah kelihatan pacaran.
Danu membaca pesan itu sambil menggeleng pelan.
Memang dari awal, danu gak bicara dia lagi ngincer sama siapa
Bukan karena disembunyikan.
Tapi karena dijaga takut ada yang rebut dan dia ketika dia siap dia langsung minta ke orang tianya langsung tanpa pacaran.Di sisi lain, saat Danu bangun ponselnya nyaris tak berhenti bergetar.
Ponselnya kemudian berdering. Nama yang muncul Arif setelah tadi chat mungkin tidak percaya
“BROOOOOO!” suara Arif langsung meledak “Itu beneran kamu kan?!”
Danu tertawa kecil “Iya”
“Dari dulu nggak pernah publish pacar, tahu-tahu langsung tunangan. Gila sih”
Danu hanya tersenyum “Memang nggak semua proses perlu diumbar”
“Tapi sekarang resmi diumbar dong”
Danu tidak membantah.
Karena memang iya.
Ibunya keluar dari dapur, melihat Danu tersenyum sendiri menatap layar.
“Sudah ramai ya?”
Danu mengangguk. “Iya Ma ternyata cepat juga nyebarnya apalagi Ara post foto jadi tambah ramai”
Ibunya tersenyum lembut “Hal baik memang cepat terdengar”
Menjelang siang, berita itu benar-benar meluas.
Bukan viral besar, tapi cukup untuk lingkaran sosial mereka.
Bahkan beberapa teman lama SMA mulai mengirim pesan.
Rama (teman sekelas dulu): Ara? Ini Danu yang dulu kakak kelas itu bukan?
Ara membaca pesan itu dengan alis terangkat.
Rama: Yang dulu pendiam banget?
Ara tersenyum kecil.
Ara: Iya.
Balasan datang cepat.
Rama: Gila. Plot twist banget sih.
Ara tidak membalas panjang.
Tapi hatinya terasa hangat.
Plot twist.
Mungkin benar.
Dulu, saat SMA, Danu hanya sosok kakak kelas yang jarang bicara. Sementara Ara dikenal cukup selektif, bahkan sering menolak saat ada yang mendekati.
Tak ada yang tahu kalau di waktu yang sama, Danu pernah diam-diam menyimpan rasa lalu menguburnya karena merasa tidak cukup.
Kini, justru ia yang datang melamar.
Siang itu, Ara dan Danu akhirnya saling menelepon.
“Kamu juga ramai?” tanya Ara lebih dulu.
Danu tertawa kecil “Lumayan”
“Aku sampai ditanya kenapa nggak pernah publish”
“Kamu jawab apa?”
Ara tersenyum.
“Aku bilang nggak semua yang serius harus diumumkan dulu”
Danu terdiam beberapa detik.
“Dek”
“Iya?”
“Kamu keberatan nggak kalau orang-orang mulai tahu?”
Ara berpikir sejenak.
“Enggak. Selama kita tetap sama”
“Maksudnya?”
“Selama kita nggak berubah cuma karena sekarang orang tahu”
Danu mengangguk pelan, meski Ara tak bisa melihatnya
“Aku nggak mau hubungan ini jadi tontonan”
Ara tersenyum lembut “Aku juga”
Hening sejenak.
Lalu Ara berkata pelan “Mas… kamu kepikiran nggak?”
“Apa?”
“Dulu kamu pendiam waktu SMA. Sekarang orang-orang justru kaget kamu yang melamar aku”
Danu tertawa kecil, tapi ada napas panjang di baliknya.
“Aku nggak peduli kagetnya mereka”
“Lalu?”
“Aku cuma peduli kamu nggak pernah lihat aku dari latar belakang”
Ara terdiam.
“Aku lihat kamu dari cara kamu konsisten dan berani” jawabnya pelan.
Di seberang sana, Danu tersenyum tanpa sadar.
Sore harinya, satu unggahan lagi baru muncul.
Bukan dari sepupu.
Bukan dari teman.
Tapi dari Ara sendiri.
Foto sederhana cincin di jarinya dengan latar belakang cahaya matahari sore.
Caption-nya singkat:
“Bismillah. Langkah baru, pelan-pelan.”
Tidak ada tag berlebihan.
Tidak ada cerita panjang.
Hanya itu.
Dalam hitungan menit, komentar berdatangan.
Ucapan selamat.
Doa-doa.
Emoji hati.
Danu melihat unggahan itu beberapa menit kemudian.
Ia tidak langsung berkomentar.
Ia hanya menekan tombol like.
Lalu mengirim pesan pribadi.
Danu: Pelan-pelan ya
Ara: Iya.
Danu: Aku nggak mau kita kebawa euforia
Ara: Iya maaf ya ini foto terakhir kok yang di post hehehe.....
Malamnya, saat suasana kembali tenang, Ara duduk sendirian di kamar.
Ia memikirkan satu hal
Hari ini, banyak orang tahu tentang status barunya.
Tapi tidak satu pun dari mereka benar-benar tahu
Di sisi lain, Danu menatap layar ponselnya yang kini lebih sepi.
Ia teringat masa SMA.
Saat hanya bisa memandang dari jauh.
Saat merasa selera Ara terlalu tinggi untuk anak petani sepertinya.
Dan ia datang dengan itu.
Sebelum tidur, Danu mengirim satu pesan lagi.
Danu: Dek
Ara: Iya?
Danu: Kangen heheheh...
Ara tersenyum di balik layar.
Ara: Iya
Tak lama, pesan dari Ara masuk.
Ara: Mas?
Danu: Iya?
Ara: Maaf ya
Danu mengernyit kecil.
Danu: Maaf kenapa?
Ara: Tadi malam aku post dan tag kamu. Nggak bilang dulu.
Danu tersenyum tipis.
Danu: Kamu takut aku nggak nyaman?
Ara: Sedikit
Beberapa detik berlalu sebelum balasan datang.
Danu: Aku nggak masalah
Ara menatap layar cukup lama.
Danu: Justru aku senang kamu nggak sembunyiin aku tapi jangan terlalu terumbar banget
Kalimat itu membuat dada Ara terasa hangat.
Ara: Iya...
Pagi harinya kabar lamaran mereka benar-benar menyebar luas di lingkaran pertemanan.
Grup alumni SMA ramai dari semalam waktu Ara tidur
“INI SERIUS DONG?”
“Danu yang dulu pendiem itu?”
“ARA SELERANYA TURUN APA NAIK NIH?”
Komentar terakhir membuat Ara menghela napas.
Ia menunjukkan layar ponselnya pada Nisa yang sedang video call.
“Kenapa sih orang masih suka bercanda kayak gitu?” gumam Ara pelan
Nisa mengangkat bahu “Namanya juga netizen lingkaran sendiri. Jangan diambil hati”
Ara terdiam.
Di sisi lain, Danu juga menerima pesan serupa.
Teman lama: Wah bro, keren juga ya akhirnya dapet Ara.
Kalimat itu terasa aneh.
Bukan karena Ara bukan sosok yang membanggakan.
Tapi karena seolah-olah ini kompetisi.
Danu membaca pesan itu tanpa membalas panjang.
Ia hanya menjawab “Bukan dapet. Kita sama-sama milih”
Sore harinya, Ara dan Danu akhirnya menelepon.
“Kamu baca komentar yang aneh-aneh?” tanya Ara pelan
“Baca” jawab Danu jujur.
“Kamu kesel?”
“Enggak”
Ara terdiam.
Danu melanjutkan "Dulu aku mungkin bakal minder karena dulu selera kamu CEO”
Ara langsung menegakkan duduknya “Ihhh itu mah dulu sekarang cintanya sama mas montir hahahah"
"Kalo Sekarang?” ucap Ara kelanjutannya
“Sekarang aku tahu kamu milih aku bukan karena komentar orang”
Hening sejenak.
Ara berkata pelan “Mas… aku nggak pernah lihat kamu dari latar belakang”
“Aku tahu”
“Dan aku nggak pernah merasa kamu ‘beruntung dapet aku’. Kita cuma sama-sama beruntung ketemu di waktu yang pas”
Danu tersenyum.
“Itu yang bikin aku tenang”
Setelah selesai beberapa menit telfonan
Bunyi pesan masuk di hp Ara
Danu: Kalau nanti makin banyak yang komentar, jangan sampai kita berubah ya.
Ara: Berubah gimana?
Danu: Jadi terlalu ingin terlihat baik-baik saja
Ara menatap layar cukup lama sebelum menjawab.
Ara: Kalau ada masalah, kita selesaikan di dalam. Bukan di kolom komentar.
Danu tersenyum puas.
Danu: Deal.
Setelah itu Ara memandangi foto yang ia unggah tadi malam.
Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa perlu menyembunyikan hubungan ini.
Bukan untuk pamer.
Tapi untuk mengakui.
Bahwa ia bangga dengan pilihan hatinya.
Dan di sisi lain kota, Danu mematikan lampu kamar dengan satu pikiran yang jelas
Dulu ia menyembunyikan rasa karena merasa tak cukup.