Haneen, mantan agen intelijen elit, dikhianati dan tewas di dunia modern. Namun, dia terbangun di tubuh gadis lemah yang namanya sama di dunia kultivasi, murid luar Sekte Pedang Langit dengan merdian rusak yang sering di-bully.
Beruntung, Haneen membawa Sistem Agen Bayangan yang memungkinkannya mengeluarkan senjata modern seperti pistol, drone intai, dan granat di dunia yang mengandalkan pedang dan jurus.
Awalnya hanya ingin bertahan hidup, Haneen justru mengungkap jaringan korupsi besar di dalam sekte. Para tetua yang terlihat suci ternyata saling melindungi sambil mencuri sumber daya. Bersama Yan Ling, murid luar yang juga jadi korban, Haneen mulai membongkar kejahatan satu persatu.
Namun setiap kebenaran yang terungkap, mereka semakin diburu. Dari tambang ilegal hingga ruang bawah tanah rahasia, Haneen dan Yan Ling harus terus berlari sambil mencari cara untuk bertahan.
Mampukah Haneen bertahan di dunia yang mengagungkan kekuatan spiritual sambil membongkar rahasia kelam para tetua?
Akankah teknologi modern dari sistemnya cukup untuk mengalahkan kultivator tingkat tinggi yang terus memburunya? Dan yang terpenting, bisakah dia dan Yan Ling saling percaya di tengah bahaya yang mengintai setiap langkah?
Penuh Aksi, strategi cerdas, dan intrik yang tak terduga.
Ikuti perjalanan Haneen membuktikan bahwa di dunia yang kejam ini, pinter dan siap bisa mengalahkan yang kuat.
Siapkah kamu mengikuti setiap langkah berbahaya mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sands Ir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 : Danau dan Pulau Terlarang
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kabut tebal menyelimuti permukaan Danau Kabut. Airnya berwarna hitam pekat, tidak memantulkan cahaya matahari pagi yang mulai naik di ufuk timur. Suasana di tepi danau itu sangat sunyi, terlalu sunyi untuk ukuran tempat alami. Tidak ada suara burung, tidak ada desir angin di pepohonan. Hanya ada keheningan yang menekan dada.
Haneen berdiri di balik semak belukar, mengamati permukaan air yang tenang itu. Matanya menyipit, menganalisis setiap riak kecil yang muncul. Dia merasakan adanya energi gelap yang mengalir di dalam air. Ini bukan danau biasa. Ini adalah kuburan bagi siapa pun yang tidak diundang.
"Monster airnya aktif disiang hari?" tanya Yan Ling. Dia berdiri di samping Haneen, tangannya sudah menggenggam gagang pedang erat-erat.
"Biasanya tidak," jawab Haneen sambil memeriksa peta hologram di sistem. "Tapi ada gangguan energi sejak kita mendekat. Mereka merasa ada penyusup."
Haneen memanggil item dari sistem. [Perahu Stealth Siluman. Harga: 1000 IP.]
Sebuah perahu kecil berbahan komposit hitam muncul di atas rumput. Bentuknya ramping, tidak memiliki sudut tajam yang bisa memantulkan cahaya. Mesinnya dirancang untuk tidak menimbulkan suara sama sekali.
"Naik," perintah Haneen. Dia melompat masuk ke perahu terlebih dahulu, lalu membantu Yan Ling.
Mereka mendorong perahu itu masuk ke air. Tidak ada ombak besar yang terbentuk. Perahu itu meluncur halus, membelah kabut tanpa meninggalkan jejak belakang yang signifikan. Haneen mengaktifkan mesin. Perahu bergerak perlahan menjauh dari tepian.
Selama sepuluh menit pertama, perjalanan berjalan lancar. Kabut semakin tebal, membatasi pandangan mereka hanya beberapa meter ke depan. Haneen mengandalkan sensor sistem untuk navigasi. Titik merah di peta menunjukkan posisi pulau target semakin dekat.
Tiba-tiba, air di sebelah kanan perahu bergolak hebat. ‘Gubrak!’
Sebuah ekor raksasa muncul dari permukaan air, menghantam permukaan danau dengan kekuatan dahsyat. Ombak besar terbentuk, menggoyangkan perahu mereka dengan keras.
"Serangan dari kanan!" teriak Yan Ling. Dia sudah berdiri, menjaga keseimbangan tubuh.
Haneen melihat ke arah sumber gangguan. Seekor ular air raksasa sedang melingkari perahu mereka. Sisiknya berwarna hijau lumut, matanya merah menyala seperti bara api. Panjangnya mencapai tiga puluh meter.
"Ular Tingkat Tinggi," gumam Haneen. Dia tidak panik. Tangannya bergerak cepat mengambil kendali perahu. "Jangan pakai aura spiritual. Itu akan memancing lebih banyak monster."
"Lalu bagaimana cara membunuhnya?" tanya Yan Ling. Pedangnya sudah terhunus, memantulkan cahaya redup dari kabut.
"Pakai ini," jawab Haneen. Dia melemparkan sebuah tabung kecil pada Yan Ling. "Racun instan untuk monster air. Tusukkan ke sisik yang paling lunak."
Yan Ling menangkap tabung itu. Dia mengangguk paham. Saat ular itu membuka mulutnya untuk menyambar, Yan Ling melompat. Dia tidak menyerang kepala, melainkan bagian leher di mana sisiknya terlihat lebih renggang.
Gerakan Yan Ling sangat cepat. Dia mendarat di atas kepala ular itu, lalu menusukkan tabung racun tepat ke celah leher. ‘Cek!’
Ular itu meraung kesakitan. Suaranya menggetarkan udara. Tubuhnya menggeliat hebat, mencoba melempar Yan Ling. Tapi Yan Ling sudah melompat kembali ke perahu dengan sigap.
"Haneen, kendalikan perahu!" seru Yan Ling.
Haneen memutar kemudi perahu secara drastis. Mereka meluncur menjauh dari lokasi ular itu sedang sekarat. Racun sistem bekerja sangat cepat. Dalam waktu satu menit, ular raksasa itu tenggelam ke dasar danau, tidak muncul lagi.
"Bagus," puji Haneen singkat. Dia tidak menoleh, fokusnya tetap pada navigasi. "Kita hampir sampai. Pulau itu ada di depan."
Kabut mulai menipis sedikit. Di tengah danau, sebuah pulau kecil terlihat samar. Bangunan bergaya kuno berdiri megah di atasnya. Tembok batu tinggi mengelilingi pulau itu. Menara penjaga berdiri di setiap sudut.
"Itu markas utama mereka," bisik Yan Ling. Dia merasakan aura jahat yang memancar dari pulau itu. "Banyak sekali penjaga."
"Mereka tidak menduga kita akan datang siang hari," kata Haneen. Dia mematikan mesin perahu saat masih berjarak seratus meter dari pantai. "Kita sisa jarak ini pakai dayung manual. Mesin terlalu berisik untuk jarak dekat."
Mereka mendayung perlahan. Oar perahu dibuat dari bahan khusus yang tidak menimbulkan suara saat menyentuh air. Mereka mendarat di sisi belakang pulau, area tebing curam yang tidak dijaga.
Haneen mengeluarkan alat panjat tebing dari tasnya. Dia menancapkan pengait ke celah batu. "Aku naik dulu. Kau ikuti."
Haneen memanjat tebing itu dengan gerakan efisien. Kakinya menemukan pijakan kecil di batu yang licin. Yan Ling mengikuti di belakang, memastikan tidak ada batu yang longsor dan jatuh ke air.
Sesampainya di puncak tebing, mereka langsung merunduk. Area dalam pulau terlihat jelas dari sini. Ada sebuah aula besar di tengah. Beberapa orang berbaju hitam sedang berjalan mondar-mandir membawa kotak kayu.
"Mereka sedang memindahkan aset," observasi Haneen. "Sepertinya perintah palsu kita kemarin berhasil membuat mereka panik."
"Kita serang sekarang?" tanya Yan Ling. Napasnya masih sedikit berat setelah memanjat.
"Tunggu," kata Haneen. Dia melihat ke arah aula utama. Pintu besar tertutup rapat. Ada dua penjaga berdiri di depan pintu. Aura mereka sangat kuat. Tingkat Inti.
"Kita tidak bisa lewat pintu depan," kesimpulan Haneen. "Kita masuk lewat sistem ventilasi atap."
Mereka merayap menyusuri atap bangunan yang terbuat dari genteng tanah liat. Haneen memimpin jalan, mengecek setiap ubin agar tidak ada yang berbunyi saat diinjak. Yan Ling mengikuti langkah kaki Haneen dengan presisi.
Sampai di atas aula utama, Haneen mengeluarkan alat pemotong dengan laser. Dia membuat lubang lingkaran kecil di atap, cukup untuk memasukkan kamera drone.
Drone kecil terbang turun ke dalam ruangan. Gambar yang dikirimkan ke retina Haneen menunjukkan sebuah ruang rapat besar. Di tengah ruangan, ada sebuah meja panjang. Namun, ruangan itu kosong. Tidak ada orang.
"Aneh," gumam Haneen. "Harusnya ada pemimpin mereka di sini."
"Mungkin mereka sedang di ruang bawah tanah," saran Yan Ling.
Haneen menggerakkan drone menjelajahi sudut ruangan. Tiba-tiba, drone itu menangkap sinyal panas di bawah lantai. Ada ruang rahasia.
"Ada ruang bawah tanah," lapor Haneen. "Tapi ada jebakan di lantai. Sensor tekanan."
"Bagaimana cara masuknya?" tanya Yan Ling. Dia sudah bosan menunggu. Adrenalinnya mulai naik.
Haneen tersenyum tipis. "Kita tidak masuk lewat lantai. Kita ledakkan atapnya."
Yan Ling melotot. "Kau gila? Itu akan mengundang semua penjaga."
"Justru itu tujuannya," jawab Haneen tenang. Dia mengeluarkan beberapa blok bahan peledak plastik dari sistem. "Kita butuh kekacauan untuk menutupi gerakan kita mengambil data inti. Kalau kita diam-diam, mereka akan tahu kita ada di sini sebelum kita sempat keluar."
Haneen memasang bahan peledak di sekeliling lubang ventilasi. Dia mengatur timer selama satu menit.
"Siap-siap," perintah Haneen. Mereka mundur ke bagian atap yang lebih aman.
‘Boom!’
Ledakan itu tidak terlalu besar, tapi cukup untuk membuat lubang besar di atap aula. Debu beterbangan ke dalam ruangan. Alarm berbunyi nyaring di seluruh pulau.
"Penyusup! Ada penyusup di atap!" teriak suara dari bawah.
Haneen dan Yan Ling tidak menunggu. Mereka melompat turun melalui lubang ledakan itu. Mendarat di atas meja rapat dengan ringan.
"Cepat, cari terminal data," perintah Haneen. Dia langsung menembak dua penjaga yang baru saja masuk melalui pintu. ‘Tss! Tss!’
Yan Ling berlari ke sudut ruangan. Ada sebuah kristal besar yang tertanam di dinding. Itu adalah pusat penyimpanan data mereka.
"Haneen, ini dia!" seru Yan Ling. Dia mencoba mencabut kristal itu, tapi terkunci oleh formasi energi.
"Mundur!" teriak Haneen. Dia melihat puluhan anggota Naga Merah berlari masuk ke ruangan. Mereka mengepung meja rapat.
Pemimpin Naga Merah yang mereka lihat semalam muncul dari kerumunan. Wajahnya penuh luka bakar kecil, sepertinya dia selamat dari ledakan gudang utara.
"Kalian benar-benar berani datang ke tempat kami." geram pemimpin itu. Aura merah gelap menyelimuti tubuhnya. Tekanan udaranya membuat napas Haneen dan Yan Ling terasa berat.
"Aku sudah mengatakan," kata Haneen sambil mengangkat pistolnya. Dia tidak gentar meski dikepung. "Urusan kita belum selesai."
"Bunuh mereka!" perintah pemimpin itu.
Anggota Naga Merah menyerbu maju. Pedang dan panah terbang menuju Haneen dan Yan Ling.
Haneen mengaktifkan item baru. [Pelindung Energi Personal. Durasi: 3 Menit.]
Sebuah lapisan cahaya biru transparan muncul di sekitar tubuh mereka. Panah dan pedang memantul saat menyentuh lapisan itu.
"Yan Ling, ambil kristalnya pakai ini!" Haneen melemparkan alat pemotong formasi pada Yan Ling.
Yan Ling menangkap alat itu. Dia langsung menempelkannya pada dasar kristal. ‘Krrrek!’ Suara energi formasi yang retak terdengar nyaring.
"Jangan biarkan mereka!" teriak pemimpin Naga Merah. Dia sendiri melompat maju, pedang panjangnya diayunkan ke arah Haneen.
Haneen tidak menghindar. Dia menunggu sampai pedang itu hampir menyentuh perisai energinya. Tepat saat benturan terjadi, Haneen mengaktifkan fitur kejut pada perisai.
‘Zzrt!’
Listrik tegangan tinggi mengalir dari perisai ke pedang pemimpin Naga Merah. Pemimpin Naga Merah terlempar mundur karena kejutan listrik. Jubahnya terbakar sedikit.
"Sekarang!" teriak Haneen.
Kristal itu terlepas dari dinding. Yan Ling menangkapnya dan memasukkannya ke tas dimensi.
"Mundur, lari ke atap!" perintah Haneen. Dia menembakkan granat asap ke lantai. Asap berwarna ungu keluar, membuat siapa pun yang menghirupnya menjadi pusing dan mual.
Mereka melompat kembali ke atas melalui lubang atap. Di atas, mereka sudah menyiapkan tali zip line menuju tepi pulau.
"Kejar mereka! Jangan biarkan lolos!" teriak pemimpin Naga Merah dari bawah. Suaranya serak karena marah.
Haneen dan Yan Ling meluncur turun menggunakan zip line. Mereka mendarat di tebing belakang, tempat mereka naik tadi.
"Lari!" seru Haneen.
Mereka tidak turun ke perahu. Itu sudah pasti dijaga. Mereka langsung melompat ke air danau, menyelam ke bawah permukaan.
Haneen mengaktifkan [Insulator Oksigen Cair]. Mereka bisa bernapas di dalam air selama satu jam.
Mereka berenang di bawah permukaan danau, menjauhi pulau. Dari dalam air, mereka bisa melihat bayangan orang-orang berdiri di tepi pulau, mencari-cari ke mana mereka pergi.
Setelah berenang sejauh lima ratus meter, mereka muncul ke permukaan di area yang dipenuhi tanaman air. Mereka menarik napas panjang.
"Kita berhasil," kata Yan Ling. Dia mengangkat kristal data itu. "Kita punya semua bukti mereka."
Haneen melihat ke arah pulau yang semakin jauh. Asap masih mengepul dari atap aula utama.
"Belum selesai," kata Haneen dingin. "Kita memang punya bukti, tapi pemimpin utamanya masih hidup. Selama dia hidup, Naga Merah akan terus bangkit."
"Lalu apa rencana selanjutnya?" tanya Yan Ling. Dia mulai menggigil karena air danau yang dingin.
Haneen memanggil perahu stealth lagi. Mereka naik ke atasnya.
"Kita bawa bukti ini ke otoritas tertinggi di benua ini," jawab Haneen sambil mengeringkan rambutnya. "Kita buat mereka tidak punya pilihan selain membasmi Naga Merah sampai ke akar-akarnya."
"Berbahaya," komentar Yan Ling. "Otoritas tertinggi juga mungkin sudah disuap."
"Mungkin," aku Haneen. Dia menyalakan mesin perahu. "Tapi kalau kita sebarkan datanya ke publik. Semua orang akan tahu."
Yan Ling tersenyum. Dia mulai mengerti cara berpikir Haneen. "Kau mau pakai opini publik sebagai senjata?"
"Senjata paling kuat," jawab Haneen. Dia mengarahkan perahu menjauh dari Danau Kabut. "Di dunia ini, kebenaran itu relatif. Tapi kalau semua orang percaya itu benar, maka itu menjadi kebenaran."
Perahu mereka melaju cepat, meninggalkan pulau terlarang itu di belakang. Matahari mulai tenggelam, mewarnai langit dengan warna merah darah.
Haneen memegang kristal data itu erat-erat. Di dalamnya tersimpan nasib banyak orang. Nasib sekte, nasib kota, dan nasib mereka sendiri.
"Yan Ling," panggil Haneen tiba-tiba.
"Ya?"
"Siap untuk perang yang lebih besar?" tanya Haneen. Matanya menatap lurus ke depan, ke arah cakrawala yang gelap.
Yan Ling menarik napas dalam. Dia memikirkan semua yang sudah mereka lalui. Dari sekte yang korup, kota yang terbakar, hingga danau penuh monster.
"Selalu," jawab Yan Mantap. "Di mana ada kau, di situ ada aku."
Haneen tidak menjawab. Dia hanya mengangguk kecil. Tapi ada senyuman tipis di sudut bibirnya. Senyuman yang jarang terlihat.
Malam semakin gelap. Perahu mereka menghilang di balik kabut danau, membawa serta rahasia yang bisa mengguncang seluruh dunia kultivasi.
Perang bayangan telah berubah menjadi perang terbuka. Dan Haneen baru saja menyatakan dirinya sebagai pemain utama di papan catur ini.
Sistem berbunyi pelan di kepala Haneen. [Misi Utama Diperbarui: Ekspos Jaringan Naga Merah. Status: Dalam Progress.]
Haneen mematikan notifikasi. Dia tidak butuh sistem untuk memberitahu apa yang harus dilakukan. Instingnya sudah cukup.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Bersambung…...
Jangan lupa like, komen dan share 😄