Katarina Ayudia adalah siswi genius penerima beasiswa yang hidup sederhana, sementara Alarick Valerius adalah putra tunggal konglomerat sekaligus ketua geng motor yang ditakuti. Cinta mereka yang membara harus menghadapi tembok besar bernama Victoria Valerius, ibu Alarick, yang merancang fitnah keji untuk memisahkan mereka. Victoria mengancam masa depan Kate dan memanipulasi Alarick hingga pria itu percaya bahwa Kate adalah gadis oportunis yang telah mengkhianatinya dengan banyak pria.
Perpisahan pahit selama bertahun-tahun meninggalkan luka mendalam, Kate hidup dalam kemiskinan dan kerja keras demi bertahan hidup, sementara Alarick tumbuh menjadi CEO dingin yang menderita trauma psikologis berupa rasa mual hebat setiap kali menyentuh Kate karena bayangan fitnah masa lalu.
langsung baca aja dear😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Yang Tertinggal
Pagi itu, kantin SMA Pelita terasa lebih gerah dari biasanya. Maya, dengan semangat berapi-api, menunjukkan layar ponselnya kepada Kate. Di sana ada video amatir yang buram, memperlihatkan tawuran besar di perbatasan kota tadi malam.
"Gila, Kate! Lo lihat nggak?" Maya menunjuk sesosok laki-laki yang sedang menghajar tiga orang sekaligus dengan gerakan yang sangat efisien. "Ini Alarick Valerius. Dia beneran kayak monster kalau lagi berantem. Tapi anehnya..." Maya menyipitkan mata, mendekatkan layar ke wajah Kate. "Di video ini dia pakai jaket hitam-putih yang nggak biasa dia pakai. Kayak ada inisialnya gitu. Keren banget, kan?"
Kate tersedak susu kotaknya. Ia tahu persis jaket itu, kembaran dari jaket yang sekarang tersembunyi di dasar lemari pakaiannya.
"Yah, palingan dia cuma hobi cari mati," jawab Kate sedatar mungkin, mencoba menutupi kegugupannya.
"Cari mati tapi tetep ganteng itu bakat, Kate! Kalau gue jadi pacarnya, tiap malam gue bakal serangan jantung denger dia tawuran," canda Maya sambil tertawa renyah. "Tapi tenang aja, cowok kayak gitu nggak bakal level sama kita yang rakyat jelata ini. Dia itu unreachable Kate, Tak tersentuh."
Kate hanya bergumam tidak jelas. Tak tersentuh matamu, May. Semalam dia baru saja tidur di lantai kamarku lagi, batin Kate.
"Kate!"
Suara bariton yang berat menghentikan tawa Maya. Bara Mahendra berjalan mendekat dengan langkah angkuh. Seragam basketnya yang rapi dan senyum yang dibuat-buat adalah pemandangan yang paling dihindari Kate.
"Hai, Kate. Masih sibuk sama buku-bukunya?" Bara berdiri di depan meja mereka, mengabaikan Maya sepenuhnya. Matanya menatap Kate dengan binar posesif. "Nanti sore ada pertandingan persahabatan. Gue harap lo dateng. Gue udah pesen kursi paling depan buat lo."
"Maaf, Bara. Aku harus bantu Bibiku di toko kue sore ini," jawab Kate sopan namun dingin. Ini sudah ke-20 kalinya dia menolak Bara dalam bulan ini.
Bara tidak menyerah. Ia membungkuk sedikit, menumpukan tangannya di meja. "Ayolah, Kate. Sekali-sekali lo harus keluar dari zona pintar lo. Jangan kaku banget."
Saat Bara bergerak maju, kerah seragam Kate sedikit bergeser karena hembusan angin dari kipas angin kantin. Mata tajam Bara menangkap sesuatu di sana, sebuah bercak kemerahan samar di balik tulang selangka Kate yang coba ditutupi dengan plester medis.
Alis Bara bertaut. "Leher lo kenapa, Kate? Digigit serangga?"
Kate refleks menarik kerah bajunya ke atas, wajahnya memucat. "I-iya. Alergi debu di gudang sekolah kemarin."
Bara terdiam sejenak. Instingnya sebagai laki-laki yang sering terlibat persaingan jalanan merasa ada yang salah. Warna merah itu... tidak terlihat seperti alergi. Namun sebelum ia bisa bertanya lebih lanjut, Maya memotong.
"Aduh Bara, mending lo urusin tuh tim basket lo. Kate itu sensitif kulitnya, nggak usah kepo deh!"
Bara menegakkan tubuh, matanya menatap Kate dengan tatapan menyelidik sebelum akhirnya berbalik pergi. Namun, Kate tahu, Bara bukan tipe orang yang mudah percaya.
Pukul 23.30. Jendela balkon terbuka. Alarick masuk dengan napas yang masih sedikit memburu, efek dari tawuran yang dibicarakan Maya tadi siang.
Begitu masuk, Alarick langsung menarik Kate ke dinding, mengurungnya dengan kedua tangan. "Bara Mahendra deketin lo tadi siang?"
Kate terbelalak. "Kamu tahu dari mana?"
"Gue punya mata di mana-mana, Sayang," bisik Alarick, suaranya mengandung nada cemburu yang kental. Ia menarik plester di leher Kate dengan kasar namun hati-hati, menatap hasil perbuatannya semalam yang membuat Bara curiga. "Bilang sama dia, kalau dia berani nyentuh milik gue, bukan cuma lapangan basketnya yang gue bakar, tapi semua yang dia punya."
"Alarick, jangan mulai..."
"Gue nggak suka berbagi, Kate. Terutama sama pecundang kayak dia." Alarick kemudian mencium ceruk leher Kate lagi, tepat di atas bekas yang lama, seolah ingin mempertegas klaimnya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading😍😍