NovelToon NovelToon
Yang Selalu Ada

Yang Selalu Ada

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Persahabatan / Mantan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Silly Girls

Ada orang yang pergi tanpa benar-benar hilang.
Dan ada yang tetap ada, meski seharusnya sudah selesai.

Lala tidak pernah menyangka bahwa kepindahannya ke kantor cabang justru mempertemukannya kembali dengan Brian, seseorang yang dulu ia kenal terlalu baik, dan terlalu ia sayangi.

Bukan pertemuan yang ia rencanakan.
Bukan juga yang ia harapkan.

Namun di tempat asing itu, di antara rutinitas baru dan wajah-wajah baru, masa lalu justru muncul tanpa permisi. Lengkap dengan perasaan yang belum benar-benar mati.

Di sisi lain, ada Rendra. Teman lama yang selalu ada di setiap fase hidupnya. Hadir tanpa janji, tanpa tuntutan, tapi entah sejak kapan keberadaannya terasa berbeda.

Lala terjebak di antara dua hal.
kenangan yang belum usai,
dan kenyamanan yang perlahan tumbuh.
Karena ternyata, tidak semua yang selalu ada memang ditakdirkan untuk pergi.
Dan tidak semua yang kembali, datang untuk tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silly Girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rendra yang terluka

Keesokan harinya, Lala kembali tenggelam dalam rutinitas kantor. Ia mengerjakan job desk yang diberikan kepadanya sejak pagi, berpindah dari satu file ke file lain dengan fokus yang terjaga. Hingga dari bilik ruangannya, suara Mba Rina terdengar memanggil.

“Lala, laporan company visit kemarin tolong dibantu buatin ya,” ujar Mba Rina. “Nanti kalau sudah jadi draft-nya, kirimin ke saya.”

Lala menoleh dan mengangguk.

“Oke, Mba. Nanti aku kirimin draft-nya.”

Tak lama setelah itu, ia langsung membuka file laporan kegiatan dan mulai merangkai kembali rangkaian acara kemarin mulai dari penyambutan, sesi diskusi, hingga penutup. Jemarinya bergerak lincah di atas papan ketik, mencoba tetap fokus meski pikirannya sesekali melayang ke rencana pertemuannya dengan Rendra nanti sore.

Saat jam istirahat makan siang usai, Lala tak langsung kembali ke mejanya. Rasa kantuk yang sejak tadi mengganggu membuatnya memutuskan mampir ke pantry untuk membuat kopi.

Begitu sampai di sana, langkahnya sedikit melambat.

Ia tidak sendiri.

Di dekat mesin kopi, berdiri seseorang yang sedang menuangkan air panas ke dalam gelas. Sosok itu terasa begitu familiar. Lala menarik napas pelan sebelum akhirnya menyapa.

“Ngopi, Mas?” ucapnya dengan nada basa-basi.

Orang itu menoleh.

“Iya,” jawabnya singkat.

“Kamu juga ngopi? Tumben.”

Lala tersenyum tipis, berusaha terlihat biasa saja.

“Hehe, iya. Lagi pengen aja. Ngantuk banget dari tadi.”

Ia bisa merasakan kecanggungan yang menggantung di udara, namun memilih mengabaikannya. Brian mantannya sudah selesai membuat kopi, tapi bukannya pergi, ia justru duduk di salah satu bangku pantry dan mulai menyeruput minumannya.

Lala menahan diri untuk tidak terlalu memikirkan hal itu. Ia segera menyiapkan kopinya sendiri, bergerak cepat seolah ingin segera keluar dari ruangan yang terasa semakin sempit. Begitu gelasnya terisi penuh, ia berbalik tanpa banyak basa-basi.

“Duluan ya, Mas.”

Tanpa menunggu jawaban, Lala langsung melangkah pergi, kembali ke mejanya dengan secangkir kopi di tangan. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. Bukan karena rindu, bukan pula karena cemburu hanya rasa canggung yang tak sepenuhnya bisa ia kendalikan, meski ia pikir semuanya sudah lama selesai.

Sesampainya di ruangan, Lala langsung duduk di kursinya dan meletakkan gelas kopi di sudut meja. Ia menghembuskan napas pelan, berusaha menormalkan detak jantungnya yang sejak tadi terasa tidak biasa.

“Kenapa, La, kayak dikejar-kejar setan begitu?” celetuk salah satu rekan satu divisinya sambil tertawa kecil, melihat Lala yang masuk dengan langkah tergesa.

Lala menoleh sekilas.

“Enggak kenapa-kenapa, Mas,” jawabnya cepat.

“Mau ngerjain laporan, ini belum kelar-kelar,” tambahnya, berusaha terdengar meyakinkan.

“Hahaha, yang semangat yaa,” balasnya lagi.

“Habis ikut kegiatan emang gitu. Bukannya capek jalan-jalan, malah dikejar-kejar laporan.”

Tawa kecil kembali terdengar. Lala hanya tersenyum tipis, lalu menyalakan laptopnya dan kembali menatap layar. Ia mencoba memfokuskan diri pada laporan company visit, merapikan kalimat demi kalimat, meski pikirannya sesekali teralihkan antara bayangan pantry siang tadi dan janji Rendra sore ini.

Waktu berjalan tanpa terasa. Hingga akhirnya jarum jam mendekati waktu pulang.

Lala menyandarkan punggungnya ke kursi dan merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku setelah berjam-jam duduk dan mengetik.

“Huft... pulang, pulang, pulang,” gumamnya pelan dengan nada antusias.

“Loh, emang laporan kamu udah selesai?” celetuk seseorang dari balik meja sambil tertawa.

“Kalau belum, lanjutin dulu. Jangan kabur.”

“Duh, Pak,” jawab Lala sambil mulai membereskan barang-barangnya.

“Mba Rina ngasih deadline masih lumayan lama kok.”

“Ini juga udah setengah jalan, nanti saya lanjutin lagi. Tenang ajaa.”

“Hahaha, becanda saya,” balasnya.

“Kerja ya kerja, tapi nggak usah ngoyo-ngoyo banget juga.”

Itu Pak Adi, rekan satu divisi Lala. Orangnya santai, humoris, dan hampir selalu berhasil mencairkan suasana. Karena itu pula Lala cepat merasa nyaman bekerja satu tim dengannya.

“Yowes, Mba Lala,” ucap Pak Adi sambil berdiri.

“Saya duluan yaaa.”

“Iya, Pak. Hati-hati,” balas Lala.

Satu per satu karyawan mulai meninggalkan ruangan. Suasana yang tadinya ramai perlahan menjadi sepi. Hingga akhirnya hanya Lala yang masih berada di sana.

Ia pun berdiri, mematikan laptop, dan keluar ruangan menuju lift. Sambil menunggu, Lala membuka ponselnya. Ada satu notifikasi yang langsung menarik perhatiannya.

Rendra: otw (15 menit lalu).

“Lah, udah lama juga,” gumamnya pelan.

Begitu sampai di lobi, Lala memilih menunggu di sana. Kantor mereka tidak terlalu jauh, jadi ia yakin Rendra tak lama lagi akan tiba. Ia duduk di salah satu sofa lobi, memainkan ponselnya sekadar mengisi waktu.

Tiba-tiba, seseorang berdiri di hadapannya.

“Kamu belum pulang?”

Lala mengangkat kepala. Melihat sekeliling yang sudah hampir kosong, ia langsung tahu pertanyaan itu ditujukan padanya.

“Eh, iya, Mas,” jawabnya.

“Belum... dikit lagi.”

“Lagi nunggu orang?” tanyanya lagi.

“Iya,” jawab Lala singkat. Tidak ingin percakapan itu berlanjut terlalu jauh.

Belum sempat suasana menjadi lebih canggung, ponsel Lala bergetar. Panggilan masuk dari Rendra.

Lala segera mengangkatnya.

“Hallo, La,” suara Rendra terdengar dari seberang.

“Gue udah di depan nih, deket gerbang masuk.”

“Iya, gue ke sana,” jawab Lala singkat, lalu mematikan panggilan.

Ia berdiri dan meraih tasnya.

“Mas, saya duluan yaaa,” ucapnya sopan sebelum berlalu, meninggalkan orang itu di lobi.

Langkahnya sedikit dipercepat. Entah karena tidak ingin membuat Rendra menunggu, atau karena ada rasa lain yang sejak tadi ikut mengiringi langkahnya perasaan yang belum sepenuhnya ia pahami.

Dari kejauhan, Lala sudah melihat sosok Rendra berdiri di dekat motornya. Tanpa sadar, langkahnya sedikit dipercepat.

“Ren,” panggilnya.

Rendra menoleh. Begitu melihat Lala, senyum lebarnya langsung terbit, cengiran khas yang rasanya tak banyak berubah sejak dulu.

“Nunggu lama, ya?” tanyanya begitu Lala sampai di hadapannya. Tanpa menunggu jawaban, Rendra langsung menyodorkan helm ke arahnya.

“Enggak kok, gue juga baru selesai,” jawab Lala sambil menerima helm itu. Ia memakainya, lalu naik ke motor Rendra dengan gerakan yang sudah terasa akrab seolah mereka tak pernah benar-benar berjauhan.

Tak lama, motor itu pun melaju, menyusup di antara kemacetan ibu kota yang mulai padat menjelang sore.

“Kita mau ke mana?” tanya Lala, sedikit menaikkan suara agar terdengar.

Rendra terkekeh.

“Ke mana ya enaknya...”

“Ren,” tegur Lala sambil tertawa kecil.

“Tenang,” balas Rendra. “Gue ada satu tempat. Nanti lo liat aja.”

Sepanjang perjalanan, suasana terasa ringan. Rendra melempar candaan-candaan receh yang entah kenapa selalu berhasil membuat Lala tertawa. Selera humor mereka ternyata masih sama garing, tapi nyambung. Sesekali Lala menggelengkan kepala sambil tertawa, merasa aneh sekaligus nyaman.

Sekitar dua puluh menit kemudian, Rendra memperlambat laju motornya dan berbelok masuk ke sebuah area yang terasa lebih tenang. Begitu turun, Lala langsung menyadari pemandangan di hadapannya.

Sebuah danau terbentang, airnya memantulkan cahaya sore yang mulai menguning. Tempat itu tampak seperti area wisata umum, namun sore itu tidak terlalu ramai. Hanya beberapa orang terlihat duduk berjauhan, menikmati suasana dengan cara mereka masing-masing.

“Wah... bagus tempatnya,” ujar Lala spontan.

“Kok lo nemu aja sih tempat kayak gini di Jakarta?”

Rendra tersenyum puas.

“Siapa dulu dong,” jawabnya sambil sedikit membusungkan dada. “Rendra.”

Lala terkekeh.

Mereka membeli minuman dan beberapa camilan di kios kecil tak jauh dari sana. Setelah itu, Rendra mengajak Lala ke sebuah bangku panjang yang menghadap langsung ke danau. Mereka duduk berdampingan, jaraknya cukup dekat namun tidak canggung.

Angin sore berembus pelan, membawa aroma air dan dedaunan. Lala menyesap minumannya sambil menatap permukaan danau yang tenang. Untuk sesaat, pikirannya terasa lebih ringan.

Tempat itu sederhana. Tidak mewah, tidak istimewa tapi cukup untuk membuat seseorang ingin bercerita.

Dan Lala tahu, alasan Rendra mengajaknya ke sini bukan sekadar untuk jalan-jalan.

“Ada yang mau lo ceritain?” tanya Lala akhirnya, memecah keheningan yang sejak tadi menggantung. Sejak duduk, Rendra lebih banyak diam, menatap danau tanpa benar-benar melihat apa pun.

Rendra menoleh. Ia menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk mengeluarkan sesuatu yang sudah lama tertahan.

“Kayak yang gue bilang kemarin,” ucapnya pelan.

“Gue udah nggak sama dia.”

Nada suaranya terdengar datar, tapi Lala tahu itu bukan karena Rendra tidak merasa apa-apa, justru sebaliknya.

“Dia selingkuh di belakang gue,” lanjutnya.

“Gue nggak tahu ya, apa kurangnya gue. Padahal selama ini gue selalu ngusahain apa yang dia mau.”

“Gue selalu nyempetin waktu buat dia, La. Selalu.”

Lala tetap diam. Ia menatap Rendra sekilas, lalu kembali mengalihkan pandangan ke danau, memberinya ruang untuk bercerita tanpa merasa dihakimi.

“Tapi ternyata itu nggak cukup buat dia,” ujar Rendra lirih.

Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang sedikit lebih berat.

“Waktu itu gue mergokin dia lagi jalan sama cowok lain.”

“Padahal sebelumnya gue ajak dia ketemu, tapi dia nolak. Katanya ada acara keluarga.”

Rendra terkekeh hambar.

“Nggak mungkin dong acara keluarga cuma berdua doang.”

Tangannya mengepal pelan di atas pahanya.

“Akhirnya gue samperin,” katanya lagi.

“Gue minta kejelasan.”

Rendra menunduk.

“Dia keliatan panik. Tapi anehnya, di satu sisi… kayaknya dia juga lega.”

“Kayak akhirnya nggak perlu main kucing-kucingan lagi.”

Lala bisa merasakan ada sesuatu yang tertahan di dada Rendra. Ia tetap memilih diam, hanya sesekali mengangguk kecil sebagai tanda ia mendengarkan.

“Dia bilang udah nggak bisa sama gue,” lanjut Rendra.

“Alasannya... jujur aja, menurut gue nggak masuk akal.”

Ia menarik napas lagi, lebih dalam kali ini.

“Lo tau sendiri kan,” katanya sambil menoleh ke arah Lala.

“Gue sama dia pacaran udah lama. Hampir lima tahun.”

“Kita bahkan udah mulai ngomongin ke jenjang yang lebih serius.”

Rendra terdiam cukup lama. Pandangannya kosong, seolah sedang mengulang kembali semua rencana yang kini tak lagi punya tempat.

“Tapi kenyataannya,” ucapnya akhirnya, suaranya melemah,

“dia milih selingkuh.”

Untuk pertama kalinya sejak bercerita, ekspresi sedih itu benar-benar terlihat jelas di wajah Rendra. Bukan tangisan, bukan amarah hanya kelelahan dan kecewa yang bercampur jadi satu.

Dan Lala, yang sejak tadi mendengarkan, tahu satu hal pasti: luka itu belum sembuh, bahkan mungkin baru saja terbuka.

Lala terdiam beberapa saat sebelum akhirnya membuka suara. Ia menatap danau di hadapannya, bukan karena menghindari tatapan Rendra, tapi karena ingin merangkai kata yang tidak terdengar menghakimi.

“Ren...” ucapnya pelan.

“Kadang tuh, orang selingkuh bukan karena pasangannya kurang.”

Ia berhenti sebentar, memastikan nada suaranya tetap tenang.

“Bisa aja karena dia sendiri yang nggak tau apa yang dia mau,” lanjut Lala.

“Dan itu bukan tanggung jawab lo.”

Lala menoleh ke arah Rendra.

“Lo udah usaha. Dari cerita lo aja, gue tau lo bukan tipe orang yang setengah-setengah kalo soal hubungan.”

Ia menghela napas kecil.

“Yang bikin sakit itu bukan cuma karena dia selingkuh,” katanya lagi,

“tapi karena lo ngerasa semua yang udah lo bangun bareng dia... tiba-tiba jadi nggak ada artinya kan.”

Lala terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis hukan senyum bahagia, tapi senyum pahit yang penuh pengertian.

“Lima tahun itu bukan waktu yang sebentar, Ren. Wajar kalo lo ngerasa hancur.”

“Dan wajar juga kalo sekarang lo capek.”

Ia kembali menatap danau.

“Tapi satu hal yang perlu lo inget,” ucapnya pelan,

“kesetiaan itu pilihan. Dan lo nggak bisa maksa orang buat milih lo, kalo dari awal dia emang nggak siap buat setia.”

Lala tidak mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia tidak bilang Rendra harus kuat. Ia hanya duduk di sana, menemani.

Dan terkadang, itu lebih dari cukup.

Rendra terdiam lama setelah mendengar ucapan Lala. Pandangannya lurus ke danau, tapi jelas pikirannya ke mana-mana. Rahangnya mengeras, napasnya terlihat lebih berat dari sebelumnya.

“Masalahnya…” suaranya tiba-tiba terdengar lebih tinggi, lalu ia tertawa kecil tawa yang sama sekali tidak terdengar lucu.

“Gue ngerasa goblok, La.”

Lala menoleh, tapi tidak menyela.

“Gue ngerasa selama ini gue yang berjuang sendirian,” lanjut Rendra.

“Gue bela-belain nolak banyak hal, ngalah, sabar… demi hubungan itu.”

Ia mengusap wajahnya kasar, lalu menghela napas panjang.

“Tapi ternyata di belakang gue, dia bisa segampang itu milih orang lain,” katanya dengan suara bergetar.

“Kayak… apa yang gue lakuin selama lima tahun tuh nggak ada nilainya sama sekali.”

Rendra tertawa lagi, kali ini lebih pendek.

“Lucunya, gue masih nyalahin diri gue sendiri,” katanya lirih.

“Masih mikir, apa gue kurang perhatian? Kurang mapan? Kurang ini, kurang itu.”

Tangannya mengepal, bahunya sedikit turun seolah menahan beban yang berat.

“Padahal yang selingkuh dia,” ucapnya, kali ini nyaris berbisik.

“Tapi yang ngerasa gagal kok gue.”

Untuk pertama kalinya, suaranya benar-benar pecah. Bukan tangisan keras, hanya jeda panjang saat ia menelan ludah, mencoba mengendalikan diri.

“Gue capek, La,” katanya akhirnya.

“Capek ngerasa harus kuat terus.”

Lala tetap duduk di sana. cukup untuk menunjukkan bahwa Rendra tidak sendirian.

Angin sore berhembus pelan, membawa keheningan yang berat. Dan di momen itu, Rendra akhirnya membiarkan emosinya jatuh tanpa perlu berpura-pura baik-baik saja.

Lala menatap Rendra beberapa detik, lalu menghela napas pelan.

“Ren,” ucapnya pelan, “gue ngerti lo capek.”

Ia berhenti sebentar, memastikan suaranya tetap stabil.

“Tapi yang gue mau bilang… lo juga jangan salahin diri lo terus,” lanjut Lala.

“Lo udah berusaha. Gue nggak bakal ngelihat lo jadi orang yang salah hanya karena dia selingkuh.”

Rendra menatapnya, wajahnya masih terlihat hancur, tapi seolah ada sedikit harapan yang muncul dari kalimat Lala.

“Lo boleh sedih,” Lala melanjutkan, “tapi jangan sampai lo ngerasa lo yang salah.”

Ia menegakkan punggung sedikit, menjaga jarak emosional agar tetap netral.

“Gue cuma mau bilang,” kata Lala, “lo harus berhenti nyiksa diri sendiri.”

Rendra mengalihkan pandangan kembali ke danau, tapi suaranya tetap terdengar.

“Gue nggak nyiksa diri... gue cuma... nyari alasan,” katanya.

Lala menatapnya dengan tenang, lalu menjawab dengan tegas tapi tetap lembut.

“Kalau lo nyari alasan, cari yang bener,” ucapnya.

“Bukan yang bikin lo makin jatuh.”

Rendra menatapnya lagi, kali ini lebih tajam. Seolah pertanyaan muncul di matanya.

Lala melanjutkan, suaranya tetap netral.

“Lo bilang lo capek,” kata Lala.

“Yaudah, capek itu wajar. Tapi jangan sampai lo jadi orang yang stuck di situ terus.”

Ia meneguk minumnya, lalu menambahkan.

“Lo nggak bisa ngontrol orang lain,” katanya.

“Tapi lo bisa ngontrol diri lo sendiri.”

Lala tidak mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia tidak memberikan jawaban manis.

Ia hanya berkata dengan jelas, seperti teman yang peduli.

“Lo boleh sedih,” ucap Lala lagi.

“Tapi lo jangan jadi orang yang terus-terusan terpuruk. Lo punya hidup yang harus jalan.”

Rendra terdiam. Ia menunduk, lalu menghela napas.

“Gue tau,” katanya akhirnya.

“Tapi… gue nggak tau gimana caranya.”

Lala menatapnya sebentar, lalu menjawab

“Mulai dari berhenti nyalahin diri sendiri” katanya.

“Terus lo jalanin hari lo lagi kaya biasanya”

Lala berhenti sejenak, lalu menambahkan.

“Kalau lo butuh ngomong, ya ngomong,” katanya.

“Tapi jangan sampai lo mengorbankan hidup lo cuma karena dia.”

Mereka melanjutkan obrolannya dan duduk di bangku itu sampai langit perlahan berubah gelap. Suasana sore yang tenang berubah menjadi malam yang hangat, dengan lampu-lampu kecil di sekitar danau mulai menyala satu per satu.

Suara air yang tenang, angin yang berhembus pelan, dan kerlip lampu membuat suasana jadi lebih syahdu.

Mereka diam sejenak, menikmati suasana. Tak lama kemudian, Rendra mengajak Lala untuk beribadah. Mereka melakukannya dengan tenang, seolah rutinitas itu memberi jeda yang damai di tengah kepenatan hari.

Usai beribadah, mereka berjalan menyusuri area sekitar danau. Di malam hari, tempat itu berubah menjadi lebih hidup. Banyak penjual makanan berjejer di pinggir jalan, lampu-lampu gerobak menyala, dan suara tawa orang-orang yang sedang menikmati malam membuat suasana terasa lebih ramai.

“Gue lapar,” ucap Lala tiba-tiba, sambil tersenyum.

“Yaudah, kita cari makan,” jawab Rendra.

Setelah berkeliling sebentar, akhirnya mereka memutuskan untuk membeli sate. Mereka makan sambil berdiri di pinggir jalan, sesekali bercanda dan tertawa kecil. Rasanya sederhana, tapi momen itu terasa hangat seperti dua orang yang sedang mencoba menenangkan diri setelah hari yang berat.

Tidak lama setelah itu, mereka memutuskan untuk pulang. Rendra mengantar Lala sampai ke stasiun. Lala memang hampir setiap hari berangkat kerja dengan transportasi umum, jadi stasiun adalah titik terakhir mereka sebelum berpisah.

Rumah mereka pun cukup jauh. Lala masih tinggal dengan orang tuanya, sementara Rendra sudah tinggal sendiri sejak setahun terakhir. Perjalanan pulang itu terasa panjang, namun anehnya, Rendra merasa lebih ringan setelah berbicara dengan Lala.

Sesampainya di rumah, Rendra langsung membuka room chatnya dengan Lala. Ia mengetik pesan dengan cepat.

⌨️

Rendra:

Sekali lagi makasih ya, La. Udah dengerin cerita gue.

Lala yang masih kereta dalam perjalanan pulang langsung melihat pesan itu dan membalas.

⌨️

Lala:

Lo temen gue, Ren. Masa iya gue nggak mau dengerin lo cerita?

Kalo ada masalah jangan lo pendem sendiri ya. Ada gue. Ada temen-temen yang lain juga.

Rendra membaca pesan itu, lalu membalas kembali.

⌨️

Rendra:

Hati-hati. Kabarin kalo udah sampai rumah.

Lala tersenyum tipis, lalu mengetik.

⌨️

Lala:

Okeee.

Sesampainya di rumah lala.memberi kabar ke Rendra, lalu Lala meletakkan ponselnya di samping bantal. Ia menatap langit-langit kamar sebentar, membiarkan perasaan hari itu mengendap. Meski lelah, ada rasa tenang yang mengalir pelan di dalam dada.

Ia membersihkan diri, mengganti pakaian, lalu merebahkan tubuhnya. Mata Lala terasa berat, dan tanpa sadar, ia tertidur dengan tenang.

Sementara di rumah Rendra, setelah memastikan semua pintu terkunci dan lampu dipadamkan, ia juga duduk sebentar di sofa. Ia menatap layar ponselnya yang masih menyala, membaca kembali chat Lala. Sebuah senyum kecil muncul di bibirnya senyum yang jarang ia tunjukkan akhir-akhir ini.

Rendra menghela napas pelan, lalu menutup ponselnya. Ia mematikan lampu, dan membiarkan tubuhnya mengikuti rasa lelah yang sudah lama menumpuk.

Tak lama, Rendra pun tertidur.

Di malam itu, kedua orang yang sama-sama lelah akhirnya menemukan ketenangan meski dari sisi yang berbeda. Dan tanpa mereka sadari, hari itu menjadi titik awal yang perlahan akan mengubah hubungan mereka.

1
malamlarut
duuh laki-laki tu ya emang demam dikit udah lebay
falea sezi
rumah tangga macam apa ini mereka ini g bs move on dr mantan apa gimana hadeh
kyle
waah tambah seruu😍
La Viola
ceritanya reuni bertemu mantan ? duh, bikin susah move on gak sih? 😍

semangat kak... salam dari Edelweiss...
kyle
baguss sekali
Anggrekbulan: terimakasih kak
total 1 replies
malamlarut
ayo kak up lagii
Anggrekbulan: ditunggu yaaa
total 1 replies
malamlarut
update lagi ka
Anggrekbulan: siyaaap staytune yaa
total 1 replies
malamlarut
teman apa teman nih la🤭🤭🤭🤭
malamlarut
baru awal udah seru
malamlarut
coba dibaca aja langsung
babygurls
sukak banget, buat yang kejebak friendzone cocok deh
Anggrekbulan: yakaan, yuk ajak temen-temennya buat baca karyaku
total 1 replies
babygurls
ayo kak up lagie😄
Anggrekbulan: okaaai ditunggu yah🤭
total 1 replies
Anggrekbulan
👍
Anggrekbulan
terimakasih sudah membaca😄
Anonymous
ditunggu update bab selanjutnya😍
Anggrekbulan: hihihi siyaap🙏
total 1 replies
Anonymous
bagus alur ceritanya, jarang menemukan yang seperti ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!