NovelToon NovelToon
PEMBASKET GANTENG DAN JANDA SEXY

PEMBASKET GANTENG DAN JANDA SEXY

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / One Night Stand
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Anela adalah janda muda beranak satu yang telah belajar bangkit setelah pernikahan pertamanya hancur karena pengkhianatan. Hidup mandirinya membawanya menjadi wanita dewasa yang kuat, anggun, dan memikat—dengan aura sensual alami yang membuatnya mudah menarik perhatian pria.

Rico adalah pembasket terkenal, tampan, kaya, dan dominan dalam cara yang tenang namun penuh karisma. Pertemuan mereka dimulai dari satu malam yang penuh ketegangan hasrat dan rasa penasaran yang sulit dijelaskan.

Apa yang awalnya hanya percikan gairah berubah menjadi hubungan yang semakin dalam—dipenuhi tarikan emosional, ketegangan hasrat, dan keinginan untuk memiliki satu sama lain di tengah dunia mereka yang berbeda. Namun cinta mereka harus menghadapi masa lalu, tekanan karir, dan kenyataan bahwa cinta panas tidak selalu mudah untuk dipertahankan.

Semakin mereka mendekat, semakin kuat pula rasa ingin memiliki… dan semakin berbahaya cinta yang mereka sembunyikan dari dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PINTU YANG BENAR-BENAR TERBUKA

Malam setelah Rico pulang dari rumahnya, Anela mengira semuanya akan kembali seperti biasa.

Rico mungkin akan datang lagi.

Atau mengirim pesan.

Atau berdiri lagi di parkiran showroom dengan kopi di tangan.

Tapi yang terjadi justru… berbeda.

Selama tiga hari berikutnya—

Rico menghilang.

Tidak ada pesan.

Tidak ada telepon.

Tidak ada mobil hitam di depan showroom.

Tidak ada sosok tinggi bersandar santai di parkiran.

Awalnya Anela merasa lega.

Benar.

Ia bahkan berkata pada dirinya sendiri saat menyetir ke kantor,

“Bagus. Akhirnya dia menyerah.”

Tapi anehnya… ada bagian kecil yang terasa kosong.

Dan itu membuatnya semakin kesal pada dirinya sendiri.

Hari keempat, Anela pulang sedikit lebih malam.

Ziyo sedang di rumah ibunya hari itu, jadi rumahnya terasa lebih sunyi.

Ia baru saja membuka pintu ketika ponselnya berbunyi.

Pesan masuk.

Rico.

Anela berhenti di ruang tamu.

Ia menatap layar beberapa detik sebelum membuka pesan itu.

Rico:

Besok kamu kerja?

Hanya itu.

Tidak ada rayuan.

Tidak ada kalimat manis.

Anela mengerutkan kening.

Ia mengetik balasan singkat.

Anela:

Kenapa?

Beberapa detik.

Balasan datang.

Rico:

Mau minta bantuan.

Anela mengangkat alis.

Ini baru.

Ia menatap pesan itu beberapa detik sebelum menjawab.

Anela:

Bantuan apa?

Balasan Rico datang agak lama kali ini.

Rico:

Bukan buat aku.

Keesokan paginya, Rico benar-benar muncul lagi di showroom.

Tapi kali ini ia tidak datang dengan sikap santai seperti biasanya.

Ia mengenakan hoodie sederhana dan topi.

Tanpa aura “atlet terkenal” yang biasanya mencuri perhatian.

Anela menghampirinya dengan ekspresi curiga.

“Kamu bilang mau minta bantuan.”

Rico mengangguk.

“Iya.”

“Apa?”

Rico menunjuk ke luar.

“Bisa ikut sebentar?”

Anela menyipitkan mata.

“Kalau ini trik buat ngajak aku ngopi, aku pulang.”

Rico menggeleng.

“Bukan.”

Nada suaranya kali ini… berbeda.

Lebih serius.

Anela akhirnya mengikuti Rico keluar.

Di parkiran ada mobil van putih yang terlihat agak tua.

Di sampingnya berdiri dua anak laki-laki sekitar umur sepuluh atau sebelas tahun.

Memegang bola basket.

Mata mereka berbinar begitu melihat Rico.

“Bang Rico!”

Keduanya langsung berlari menghampiri.

Rico tersenyum lebar—senyum yang belum pernah Anela lihat sebelumnya.

Hangat.

Tulus.

Ia menepuk kepala salah satu anak.

“Latihan kemarin gimana?”

“Menang, Bang!”

“Bagus.”

Anela berdiri beberapa langkah di belakang.

Memperhatikan.

Salah satu anak menoleh ke arah Anela.

“Ini kakaknya Bang Rico?”

Rico tertawa kecil.

“Bukan.”

Anela mengangkat alis.

“Untung.”

Anak-anak itu tertawa tanpa benar-benar mengerti.

Rico kemudian menoleh ke Anela.

“Aku bantu latihan basket anak-anak kampung dekat sini seminggu dua kali.”

Anela sedikit terkejut.

“Kamu… pelatih?”

“Bukan. Cuma bantu-bantu.”

Ia menunjuk van putih itu.

“Masalahnya mobil mereka rusak.”

Anela mulai mengerti.

“Kamu mau…?”

Rico mengangguk.

“Pinjam mobil showroom buat jemput mereka ke lapangan latihan hari ini.”

Anela terdiam beberapa detik.

Ia melihat anak-anak itu lagi.

Melihat cara mereka menatap Rico dengan kagum.

Salah satu dari mereka memegang bola yang sudah agak usang.

Tiba-tiba gambaran Rico sebagai playboy atlet terkenal terasa… tidak lengkap.

Anela menatapnya lagi.

“Kamu lakukan ini sejak kapan?”

“Beberapa tahun.”

“Kamu gak pernah bilang.”

Rico mengangkat bahu.

“Kamu gak pernah nanya.”

Anela terdiam.

Ia melihat Rico berbicara lagi dengan anak-anak itu, bercanda, mengacak rambut mereka.

Energinya berbeda dari pria yang suka menggoda dirinya.

Lebih ringan.

Lebih… manusia.

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Anela melihat sesuatu yang tidak ia duga.

Sisi Rico yang tidak ada di media.

Tidak ada di gosip.

Tidak ada di artikel tentang mantan model.

Rico kembali menghampirinya.

“Jadi?”

Anela masih menatapnya seperti sedang menyusun ulang gambar di kepalanya.

“Jadi kamu datang ke showroom bukan buat ganggu aku.”

“Sebagian sih buat itu juga.”

Anela hampir tersenyum.

“Tentu saja.”

Rico menatapnya hati-hati.

“Boleh?”

Anela menghela napas panjang.

Lalu akhirnya berkata,

“Ya sudah. Aku uruskan.”

Wajah anak-anak itu langsung bersinar.

“Serius, Kak?”

Anela mengangguk.

“Iya.”

Mereka bersorak kecil.

Rico menatap Anela dengan ekspresi yang sulit dibaca.

“Terima kasih.”

Anela menatapnya balik.

Untuk pertama kalinya, nadanya tidak sinis.

“Kamu penuh kejutan ya.”

Rico tersenyum tipis.

“Kamu baru lihat sedikit.”

Dan anehnya—

Untuk pertama kalinya sejak semua konflik ini dimulai—

Anela merasa penasaran dengan Rico bukan karena daya tariknya…

Tapi karena pria itu ternyata memiliki sisi yang selama ini tidak pernah ia tunjukkan.

Sisi yang membuat Anela mulai bertanya dalam hati:

Mungkin selama ini… aku salah menilai dia.

----------

Beberapa hari setelah kejadian dengan anak-anak basket itu, sesuatu dalam sikap Anela terhadap Rico mulai berubah.

Bukan berarti ia langsung percaya.

Bukan juga berarti ia tiba-tiba lunak.

Tapi tembok yang sebelumnya rapat sekali… kini mulai punya celah kecil.

Dan Rico tampaknya sadar akan itu.

Sore itu latihan anak-anak selesai lebih cepat.

Lapangan basket kecil di pinggir kota mulai sepi. Matahari sudah turun, meninggalkan warna oranye lembut di langit.

Anela duduk di bangku pinggir lapangan sambil memperhatikan Ziyo—yang hari itu ikut bermain dengan anak-anak lain.

Awalnya ia ragu membawa Ziyo ke sini.

Tapi Rico hanya berkata dengan santai,

“Dia bakal senang.”

Dan ternyata benar.

Ziyo sedang berlari-lari kecil mengejar bola dengan tawa lepas.

Anela melirik ke samping.

Rico duduk beberapa meter darinya, memegang botol air, napasnya masih sedikit berat setelah ikut bermain dengan anak-anak tadi.

Kaosnya basah keringat.

Rambutnya sedikit acak-acakan.

Entah kenapa… pria itu terlihat lebih nyata seperti ini.

Bukan atlet yang ada di berita.

Bukan pria menyebalkan yang suka muncul tiba-tiba di hidupnya.

Hanya… seorang pria yang terlihat damai di lapangan basket kecil.

Sunyi beberapa saat.

Lalu Anela berkata tanpa menatapnya,

“Perempuan di café itu.”

Rico berhenti minum.

Anela masih menatap lapangan.

“Namanya siapa?”

Sunyi.

Rico menghela napas pelan.

“Clara.”

Akhirnya.

Anela menoleh.

“Model itu?”

“Iya.”

“Yang di berita.”

“Iya.”

Anela menunggu.

Rico tidak langsung melanjutkan.

Ia menatap anak-anak yang masih bermain sebentar sebelum akhirnya berkata,

“Kami pacaran tiga tahun.”

Anela sedikit terkejut.

Tiga tahun bukan waktu yang sebentar.

“Kenapa putus?”

Rico terdiam cukup lama sebelum menjawab.

“Karena hidup kami beda.”

“Beda bagaimana?”

Rico menggosok tengkuknya.

Seperti seseorang yang tidak terbiasa membicarakan hal ini.

“Dia suka dunia kamera. Acara. Party. Publik.”

“Dan kamu?”

“Aku lebih suka lapangan.”

Anela hampir tersenyum kecil.

Itu terdengar sederhana.

Tapi nada Rico membuatnya tahu ada sesuatu yang lebih dalam.

“Dia juga… terbiasa dengan perhatian,” lanjut Rico pelan.

“Sebagai model?”

Rico mengangguk.

“Dan sebagai pacarku.”

Anela mengangkat alis.

“Artinya?”

“Hubungan kami sering jadi konsumsi media.”

Anela mulai mengerti.

“Dan kamu gak suka.”

Rico menggeleng.

“Aku gak masalah kalau orang tahu aku atlet.”

Ia berhenti sebentar.

“Tapi aku gak suka hidup pribadiku jadi tontonan.”

Sunyi sebentar.

Anela mengingat artikel-artikel yang pernah ia lihat.

Foto Rico dengan berbagai perempuan.

Judul sensasional.

“Makanya kamu terlihat seperti playboy di berita,” kata Anela pelan.

Rico menoleh padanya.

“Iya.”

Anela mengerutkan dahi.

“Kenapa?”

Rico tersenyum tipis—senyum yang tidak sepenuhnya bahagia.

“Karena setelah putus, Clara sering muncul di tempat-tempat yang sama.”

Anela langsung mengerti arah cerita itu.

“Seperti di café mall itu.”

Rico mengangguk.

“Dia tahu wartawan sering ada di sana.”

Anela menatapnya tajam.

“Jadi ciuman itu…”

“Dia lakukan karena kamera.”

Sunyi jatuh di antara mereka.

Anela mengingat ekspresi wanita itu di café.

Emosional.

Intens.

“Dia masih ngejar kamu?” tanya Anela.

Rico menatap lapangan lagi.

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena dia gak mau putus.”

Jawaban itu terlalu sederhana.

Anela memperhatikannya lebih lama.

“Dan kamu?”

“Aku sudah selesai.”

“Tapi kamu gak bisa kasar sama dia.”

Rico terdiam.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia menjawab dengan suara lebih pelan.

“Clara bantu aku waktu awal karier.”

Anela menunggu.

“Waktu aku belum terkenal. Belum punya apa-apa.”

Rico menatap tangannya sendiri.

“Dia yang ngenalin aku ke sponsor pertama.”

Anela tidak menyangka itu.

“Dia juga yang bantu ibuku waktu aku cedera dulu.”

Sekarang semuanya mulai terasa berbeda.

Ini bukan sekadar mantan yang belum move on.

Ada sejarah.

Ada utang emosional.

“Makanya kamu gak bisa mengusir dia dengan keras,” kata Anela.

Rico mengangguk.

“Aku gak mau menyakiti dia.”

“Padahal dia menyakiti kamu.”

Rico tersenyum kecil.

“Hubungan jarang sesederhana itu.”

Sunyi kembali.

Di lapangan, Ziyo berhasil memasukkan bola ke ring kecil.

“Ma! Lihat!”

Anela tersenyum dan melambaikan tangan.

“Bagus!”

Rico memperhatikan momen itu sebentar.

Lalu berkata pelan,

“Makanya aku gak nyium dia balik di café.”

Anela menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

“Aku sudah selesai dengan masa lalu itu.”

Ada kejujuran di suara Rico yang tidak terdengar seperti rayuan.

Tidak seperti pria yang mencoba memikat perempuan.

Lebih seperti seseorang yang akhirnya membuka bagian hidupnya yang selama ini disembunyikan.

Anela menatapnya cukup lama.

Lalu berkata pelan,

“Sekarang ceritanya lebih masuk akal.”

Rico mengangkat alis.

“Kamu mulai percaya?”

Anela berdiri dari bangku.

“Belum.”

Rico tertawa kecil.

“Tentu saja.”

Anela berjalan menuju lapangan, memanggil Ziyo.

Tapi sebelum benar-benar pergi, ia menoleh lagi ke Rico.

Untuk pertama kalinya, tatapannya tidak dingin.

Tidak sinis.

Hanya… penuh pertimbangan.

“Minimal sekarang aku tahu kamu bukan cuma playboy yang suka bikin masalah.”

Rico tersenyum tipis.

“Perkembangan bagus.”

Anela mengangkat alis.

“Jangan senang dulu.”

Ia berbalik lagi.

“Tapi… kamu mulai kelihatan seperti pria yang lebih rumit dari yang aku kira.”

Rico duduk di bangku itu beberapa detik setelah Anela pergi.

Melihat wanita itu berjalan ke lapangan bersama anaknya.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai—

Ia merasa mungkin… perlahan-lahan Anela mulai melihat dirinya yang sebenarnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!