Karena hutang budi kedua orang tuaku, aku dipaksa menikah dengan duda yang berstatus ayah dari dua anaknya.
Aku yang baru saja lulus kuliah harus dihadapkan dengan dua anak yang aktif dan juga suami yang dingin dan menganggap semua wanita itu sama. Sama-sama pengkhianat dan murahan, meskipun sudah aku jelaskan beberapa kali tapi anehnya suamiku tidak pernah mengerti itu.
Apa yang membuat suamiku sampai setrauma itu?? Nantikan jawabannya hanya di Novel toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Hari-hari berlalu begitu cepat, seolah tak memberi Melati cukup waktu untuk benar-benar memahami apa yang sedang ia jalani. Dalam hitungan minggu, semua persiapan rampung. Undangan disebar sederhana, tanpa pesta besar. Semuanya berjalan cepat, rapi, dan tanpa banyak tanya.
Pagi itu, Melati duduk di depan cermin kamarnya. Gaun akad berwarna putih gading membalut tubuhnya dengan sederhana namun anggun. Riasan di wajahnya tidak berlebihan, cukup untuk menegaskan mata dan senyum yang tampak lebih tenang dari isi hatinya. Rambutnya disanggul rapi, beberapa helai dibiarkan jatuh membingkai wajahnya.
Cantik. Itu yang orang-orang katakan padanya pagi itu. Namun Melati tahu, kecantikan tak selalu sejalan dengan kebahagiaan.
Ia menarik napas dalam-dalam saat ibunya merapikan kerudung di kepalanya.
“Kamu baik-baik saja?” tanya sang ibu pelan.
Melati mengangguk. “Iya, Bu.”
Padahal jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya, setelah itu Melati beranjak dari kursinya, sang ibu langsung membawanya ke ruang tamu yang sudah disulap menjadi tempat akad.
Akad dilangsungkan di ruang tamu rumah. Kursi disusun berhadapan. Suasana tenang, bahkan terasa khidmat. Cokro duduk di seberang, mengenakan setelan putih sederhana. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seorang pria yang sedang menikah.
Tatapan mereka sempat bertemu sesaat. Melati menunduk lebih dulu, entah kenapa perempuan itu sedikit takut melihat wajah calon suaminya yang terlihat begitu dingin.
Ketika wali dan saksi telah siap, ruangan menjadi hening. Nafas Melati tertahan. Tangannya dingin, namun genggaman ibunya di bahu memberi sedikit kekuatan.
Cokro mengucapkan ijab kabul dengan suara mantap. Tidak tergesa. Tidak bergetar.
“Saya terima nikahnya Melati Ayu Purba binti Ahsan Purba dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.”
“Sah.”
Satu kata itu terdengar bersahut. Mengikat. Mengubah segalanya. Melati menunduk lebih dalam. Dadanya terasa penuh. Bukan karena bahagia yang meluap, melainkan karena sadar, hidupnya kini benar-benar berpindah tangan.
Doa dipanjatkan. Air mata tipis menggenang di pelupuk matanya, jatuh tanpa suara. Bukan tangis haru, melainkan pelepasan atas hidup yang selama ini ia kenal.
Ketika akad selesai, Melati berdiri di samping Cokro. Mereka difoto bersama. Senyum yang sama-sama ditampilkan, meski isinya berbeda.
Di sudut ruangan, dua anak laki-laki itu berdiri bersama Sus. Anak kecil menatap Melati dengan mata berbinar, sementara anak yang lebih besar memalingkan wajah, enggan melihat terlalu lama.
Dan tanpa Melati sadari, sejak tadi pria di ujung sana menatap wajahnya dengan tatapan yang sulit diartikan bukan lembut, bukan pula dingin sepenuhnya. Hanya tenang, seperti seseorang yang baru saja memasuki bab hidup yang belum ingin ia baca.
Hari itu, Melati resmi menjadi istri, senyum tipis terukir di bibirnya, ia tidak tahu, kehidupan apa yang akan ia jalani setelah pernikahan, meskipun dirinya sendiri tahu jika pernikahan ini terjadi tidak karena cinta.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Malam itu, rumah terasa jauh lebih sunyi daripada yang Melati bayangkan. Setelah akad dan perpisahan dengan keluarga, Melati mengikuti langkah Cokro masuk ke rumah yang kini menjadi tempat tinggalnya. Tak ada kalimat sambutan. Tak ada senyum kecil. Hanya bunyi pintu yang tertutup perlahan di belakang mereka.
Cokro meletakkan kunci di atas meja, lalu menggantung jasnya. Gerakannya rapi, efisien, seolah Melati belum sepenuhnya hadir di sana.
“Kamar kita di ujung,” ucapnya singkat tanpa menoleh. “Kamar anak-anak terpisah.”
Melati mengangguk. “Baik.”
Ia melangkah pelan, membawa tas kecilnya sendiri. Dadanya terasa sesak, tapi ia berusaha menjaga wajah tetap tenang.
Di ruang tengah, anak kecil itu berlari mendekat. Wajahnya cerah, tak tahu apa-apa soal jarak dan dinding yang baru saja dibangun orang dewasa.
“Mama....!" seru Mehesa.
Cokro berhenti melangkah.
“Panggil Tante dulu,” katanya tenang, namun tegas.
Deg!
Satu kalimat itu cukup membuat langkah Melati terhenti. Senyum yang hampir muncul di wajahnya menghilang begitu saja, harinya mendadak sesak saat ucapan larangan itu terdengar.
Anak kecil itu, ingin protes, namun tatakan tegas ayahnya membuatnya menunduk ke lantai.
Melati mendekat. “Tidak apa-apa,” ucap Melati cepat, suaranya pelan.
"Tapi aku pingin punya Mama," sahut anak itu polos.
Melati berjongkok agar tinggi badannya sejajar dengan anak itu. "Anak tampan, gak apa-apa panggilnya Tante dulu ya," ucapnya pelan.
Mahesa tetap berdiri namun wajah manyunnya tidak bisa disembunyikan dari siapapun. "Baiklah," sahutnya akhirnya. Karena memang kedua anak itu sedikit takut dengan ayahnya.
Cokro yang melihat adegan itu menoleh sebentar. Tatapannya datar. “Belum waktunya.”
Ia lalu melanjutkan langkahnya, meninggalkan Melati dan Mahes berdiri di tempat semula.
Dari arah dapur, Sus muncul dengan wajah ragu. “Tuan, makan malam sudah ....”
“Anak-anak sudah makan,” potong Cokro. “Aku tidak.”
Ia melepas arlojinya dan meletakkannya di meja, lalu masuk ke kamar tanpa menoleh lagi.
Melati menelan ludah. Anak kecil itu menatapnya bingung, lalu kembali bermain sendiri. Sementara dari ujung lorong, suara pintu kamar anak sulung terdengar tertutup agak keras.
Melati berdiri beberapa detik di ruang tengah, sendirian. Istri, tapi tak disambut. Hadir, tapi terasa seperti tamu.
Ia melangkah ke dapur. Sus menatapnya dengan sorot iba yang tak bisa disembunyikan.
“Maaf, Nyonya,” ucap wanita itu pelan. “Tuan memang begitu… sejak dulu.”
Melati tersenyum tipis. “Tidak apa-apa.”
Padahal di dadanya, sesuatu terasa runtuh.
Di kamar, Melati duduk di tepi ranjang. Gaun akadnya belum ia ganti. Cermin di hadapannya memantulkan wajah perempuan yang masih cantik, tapi matanya tampak kosong.
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Cokro masuk, melepaskan kancing kemejanya satu per satu.
“Kamu bisa pakai kamar ini,” ucapnya datar. “Aku tidur di ruang kerja.”
Melati menoleh cepat. “Kenapa?”
Cokro berhenti sejenak. Bukan karena ragu melainkan memilih kata. “Aku butuh waktu,” katanya akhirnya. “Dan kamu juga.”
Ia lalu melangkah keluar, menutup pintu pelan.
Melati menatap daun pintu itu lama, entah kenapa hatinya terasa teriris. Malam pertama seharusnya menjadi malam terindah bagi pasangan pengantin namun malam pernikahan itu berlalu tanpa sentuhan, ataupun ucapan manis.
Melati membaringkan tubuhnya di atas ranjang empuk itu, terasa nyaman, tapi tidak dengan hatinya, pernikahan ini terlalu kosong atas sikap dinginnya Cokro terhadapnya.
"Ayah, anakmu sekarang sudah menikah, aku harap dengan pernikahan ini hutang budi Ayah lunas terhadap keluarga Mas Cokro," batin Melati.
Bersambung ....
Selamat membaca semoga suka ya