Sejak kecil, Lolitta telah melewati begitu banyak penderitaan hidup. Berbagai masalah bahkan menyeretnya hingga ke penjara, menempa dirinya menjadi seorang gadis yang tangguh dan mandiri. Ia selalu menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Meski bertunangan dengan pria kaya dan tampan, Lolitta tak pernah menjadi manja atau bergantung pada tunangannya.Di
balik ketegarannya, ia menyimpan luka yang hanya bisa ia tangisi dalam diam.
Dev Zhang, seorang konglomerat berpengaruh, menerima pertunangan itu hanya demi memenuhi permintaan sang kakek. Ia tak pernah menyadari bahwa gadis yang berdiri di sisinya telah mencintainya selama sepuluh tahun. Kedekatan Dev dengan cinta pertamanya membuat Lolitta memilih menjauh dan selalu menjaga jarak, mengubur perasaannya dalam diam.
Akankah Lolitta akhirnya berani mengungkapkan perasaan yang selama ini ia pendam pada Dev Zhang?
Dan di antara Lolitta dan cinta pertamanya, siapakah yang benar-benar dicintai Dev?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Pandangan Dev Zhang turun perlahan ke tangan Lolitta yang berlumuran darah. Alisnya sedikit berkerut.
“Tanganmu terluka?” tanyanya tenang, namun sorot matanya tajam.
Lolitta melirik sekilas, lalu mengangkat tangannya santai. “Bukan darahku. Barusan aku memukul seekor anjing. Dia tidak jinak. Hanya saja aku tidak tahu apakah dia terkena rabies atau tidak.”
Sindiran itu meluncur halus, tetapi tajam. Eric yang masih kesakitan hanya bisa menatap Lolitta dengan rahang mengeras menahan amarah.
Dev mengalihkan pandangan ke arah Eric yang mulutnya berlumuran darah dan giginya tampak patah. Ia tidak berkata apa-apa, tetapi tatapannya cukup membuat suasana semakin tegang.
“Lolitta, jangan bicara sembarangan di depan Tuan Zhang. Cepat persilakan tamu kita duduk,” tegur Alex, berusaha menjaga wibawa.
Lolitta kemudian duduk menyandarkan tubuhnya ke sofa. “Di sini banyak sofa. Silakan duduk di mana pun Anda suka,” ucapnya malas. Ia mulai membuka lilitan kain di telapak tangannya, memperlihatkan memar di kulitnya.
“Maaf, Tuan. Kakakku ini dibesarkan di desa, jadi cara bicaranya sedikit kasar,” sindir Yunny dengan senyum manis.
Lolitta tertawa pelan tanpa menoleh. “Tapi orang desa tidak suka bermain dengan tunangan orang… apalagi suami orang.”
Sindiran itu jelas mengarah pada Yunny dan Lolla. Wajah keduanya langsung menegang.
“Tuan Zhang, silakan duduk,” ucap Alex cepat, menahan emosi.
Tanpa memedulikan yang lain, Dev melangkah mendekat dan memilih duduk tepat di samping Lolitta.
Kehadirannya begitu dekat hingga Lolitta bisa merasakan wangi samar parfum pria itu. Namun wajahnya tetap datar, seolah pria di sampingnya bukan siapa-siapa.
“Kedatanganku hari ini memang mendadak,” ucap Dev tenang. “Kakekku mengatakan agar aku dan Nona Fang segera menikah. Tapi menurutku itu terlalu cepat. Jadi aku ingin kita bertunangan dulu bulan depan. Bagaimana pendapat Nona Fang?”
Alex langsung menyela dengan wajah berseri. “Lolitta, ini kabar baik. Kau dan Tuan Zhang akan segera bertunangan. Jadi mulai sekarang kau harus menjaga sikapmu dan patuh.”
Dev tetap menatap Lolitta. “Nona Fang, apakah kau punya saran?”
“Tidak ada,” jawab Lolitta santai.
"Seorang Dev Zhang bertunangan denganku… ini awal yang baik atau buruk? Dia bukan pria yang bisa disentuh. Semua orang tahu dia hanya setia pada satu orang... cinta pertamanya, "batin Lolitta.
“Kalau begitu, bulan depan kita bertunangan. Semua persiapan biar keluarga Zhang yang menyiapkan,” putus Dev tegas.
“Kakak, Tuan Zhang sangat baik padamu. Jangan sampai kau mengecewakannya,” sindir Yunny manis.
Lolitta menoleh tajam. “Sepertinya kau yang sangat tertarik. Bagaimana kalau kau saja yang bertunangan dengannya?”
“Lolitta, jangan bercanda!” hardik Alex.
“Tuan Zhang, maaf kalau putriku asal bicara. Aku akan memberinya pelajaran agar lebih berhati-hati,” kata Alex, berusaha meredakan suasana.
Tatapan Dev berubah dingin. “Memberi pelajaran? Tuan Fang, jangan lupa… Nona Fang sudah menjadi tunanganku. Cara Anda menyebutnya barusan tidak pantas.”
Suasana langsung membeku.
Dev berdiri. “Pembicaraanku sudah selesai. Sampai jumpa bulan depan.”
“Lolitta, antar Tuan Zhang keluar!” perintah Alex.
Lolitta bangkit dan berjalan di samping Dev. Mereka melangkah keluar rumah, diikuti asisten Dev.
Sesampainya di pagar, Dev menghentikan langkahnya dan menoleh pada Lolitta.
“Aku ingin mengundangmu bertemu kakekku.”
“Bagaimana kabar Kakek? Sudah lama aku tidak melihatnya,” tanya Lolitta.
“Kakek merindukanmu,” jawab Dev singkat.
“Sebenarnya kau bisa menolak pertunangan ini. Kalau kakek merindukanku, aku bisa datang sebagai tamu. Tidak perlu sampai ada hubungan antara dua keluarga kita,” ucap Lolitta jujur.
Dev menatapnya dalam. “Lolitta Fang, apakah selama ini kau di luar negeri? Dan baru kembali hari ini?”
Lolitta tersenyum tipis. “Keluar negeri? Itu yang dikatakan keluargaku?” Ia menatap Dev serius. “Tuan Zhang, apa pun alasanmu ingin bertunangan denganku, kita harus membuat perjanjian. Hubungan ini ada batasnya.”
“Baik. Aku setuju. Kita bertemu besok,” jawab Dev. Ia menyerahkan kartu namanya. “Simpan nomorku.”
Tak lama kemudian Dev masuk ke mobil. Setelah asistennya berpamitan.
Lolitta menatap kartu nama di tangannya.
Dev Zhang — Presiden Direktur Zhang Xing Group.
“Di saat aku ingin menjauh, kau malah datang. Pria yang bersinar seperti matahari… yang tak mungkin bisa kugapai,” gumam Lolitta pelan. “Di dunia ini tidak ada pria yang bisa dipercaya. Pria yang dicintai mamaku… tunanganku yang dulu kuharapkan… semua pengkhianat. Termasuk kau, Dev Zhang.”
Tanpa ragu, ia membuang kartu nama itu ke tong sampah.
Di saat yang sama, Dev yang berada di dalam mobil tanpa sengaja melihat ke arah spion samping.
Gerakan tangan Lolitta tertangkap jelas di sana.
Ia melihat gadis itu menatap kartu namanya beberapa detik… lalu tanpa ragu melemparkannya ke dalam tong sampah di depan pagar rumah.