NovelToon NovelToon
Tunangan Selingkuh, Dekati Abangnya

Tunangan Selingkuh, Dekati Abangnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rinnaya

Selama ini Nana selalu mengalah pada tunangannya, dia bagaikan gadis bodoh yang tidak ingin kehilangan cinta Tris. Sampai Tris mempermalukan Nana di depan orang banyak, karena kejadian itu Nana dihujat di internet. Lalu Nana mulai berubah usai mendapatkan uluran tangan acuh tak acuh dari abangnya Tris, yaitu Aska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Live Action.

Minggu pertama produksi Live Action dimulai dengan tensi yang jauh lebih tinggi daripada yang dibayangkan Nana. Lokasi syuting hari ini adalah sebuah ruang sidang lama di pinggiran Jakarta yang disewa untuk mendapatkan kesan autentik. Udara di dalam ruangan itu terasa pengap, dipenuhi dengan kabel-kabel hitam yang melintang, lampu-lampu sorot raksasa, dan puluhan kru yang bergerak dengan ritme cepat serta kasar.

Nana berdiri di pojok ruangan, mengenakan kemeja linen sederhana dan celana panjang, memegang tablet grafisnya sekaligus tumpukan naskah yang sudah penuh dengan coretan tinta merah. Sebagai pencipta asli, ia memikul beban berat: ia harus memastikan visual karakternya diterjemahkan dengan benar oleh departemen kostum, sekaligus menjaga agar dialog hukum yang ia susun tidak diacak-acak oleh sutradara.

"Nona Nana, kemari sebentar!" teriak Pak Bram, sutradara senior yang dikenal bertangan dingin dan bermulut tajam.

Nana melangkah mendekat. Di sana, di kursi pengawas yang sedikit lebih jauh, Aska sudah duduk dengan laptop di pangkuannya. Pria itu mengenakan kemeja hitam dengan lengan digulung, tampak seperti hakim yang siap menjatuhkan vonis. Ia hadir bukan sebagai pemberi semangat, melainkan sebagai pengawas legal dan finansial untuk memastikan tidak ada sepeser pun uang investor yang terbuang sia-sela.

"Lihat dialog di adegan 14 ini," Bram menunjuk naskah dengan kasar. "Karakter utamanya, si pengacara wanita ini, terlalu kaku. Dia baru saja kalah di sidang pertama, tapi kenapa dialognya masih sangat teknis? Penonton butuh drama, Nana. Mereka butuh melihat dia menangis atau setidaknya mencari sandaran pada rekannya. Saya ingin mengubah bagian ini agar lebih 'manusiawi'."

Nana melirik Aska. Pria itu tidak memberikan pembelaan. Ia justru menatap Nana dengan tatapan menantang, seolah sedang menunggu apakah Nana akan goyah oleh tekanan sang sutradara atau tetap pada prinsip yang mereka diskusikan di mobil tempo hari.

Nana menarik napas panjang, menenangkan gemuruh di dadanya. "Pak Bram, saya mengerti kebutuhan akan drama. Tapi karakter ini adalah seorang profesional yang sedang berada di titik terendahnya. Jika kita membuatnya menangis atau mencari sandaran saat ini, kita menghancurkan pertumbuhan karakternya di episode akhir nanti. Dia harus berdiri sendiri di sini. Kekuatannya bukan pada air matanya, tapi pada bagaimana dia menahan diri untuk tidak hancur di depan lawannya."

"Tapi ini membosankan bagi penonton!" potong Bram keras.

"Tidak jika kita mengambil close-up pada tangannya yang gemetar namun tetap menggenggam map dengan kuat," balas Nana tegas, suaranya tidak meninggi namun penuh keyakinan. "Penonton tidak bodoh, Pak. Mereka bisa melihat kehancuran tanpa harus ada air mata. Saya tetap ingin dialognya teknis, karena itulah senjatanya. Karakter ini tidak butuh sandaran, dia hanya butuh waktu untuk berdiri kembali."

Ruangan menjadi sunyi. Bram menatap Nana dengan tajam, lalu melirik Aska yang masih diam. Setelah beberapa detik yang mencekam, Bram mendengus. "Baik. Kita coba versi artistikmu. Tapi kalau hasilnya hambar di ruang editing, kita ambil ulang dengan caraku. Mengerti?"

Nana mengangguk. "Mengerti, Pak."

Saat Nana berbalik untuk kembali ke posisinya, ia sempat menangkap kilat tipis di mata Aska. Bukan senyum, tapi semacam pengakuan bahwa Nana baru saja melewati satu ujian kemandirian.

Di kediaman keluarga Tedi, suasana jauh dari kata profesional. Saat Aska sedang berada di lokasi syuting, Tris diam-diam menyelinap masuk melalui pintu belakang. Wajahnya tampak kuyu, dengan lingkaran hitam di bawah mata yang tidak bisa disembunyikan.

"Ibuk..." bisik Tris saat mendapati Tusi sedang duduk sendirian di ruang tengah.

Tusi tersentak, lalu langsung memeluk anak kesayangannya itu dengan air mata berlinang. "Tris? Ya ampun, Nak, kamu kurus sekali. Makan apa kamu di sana?"

"Tris lapar, Buk. Uang Tris habis untuk bayar sewa apartemen dan cicilan yang belum lunas. Abang benar-benar memblokir semua akses Tris," keluh Tris dengan suara parau. "Tolong Tris, Buk. Sedikit saja uang tunai..."

Tusi menoleh ke arah tangga, memastikan suaminya tidak melihat. "Bapakmu juga tidak punya uang banyak, Tris. Semua keuangan rumah ini dipantau ketat oleh sistem digital Aska. Setiap pengeluaran di atas satu juta akan muncul notifikasinya di ponsel Aska."

"Aska keterlaluan!" Tris memukul meja dengan pelan namun penuh dendam. "Dia memperlakukan keluarganya sendiri seperti narapidana!"

Tusi yang tidak tega melihat penderitaan Tris, akhirnya teringat akan brankas kecil di kamar utama. Di sana ada beberapa perhiasan emas dan jam tangan mewah yang dulu dibelikan Aska untuk hadiah ulang tahunnya.

"Tunggu di sini, Nak. Ibuk ambilkan sesuatu," bisik Tusi.

Tusi masuk ke kamar dengan tangan gemetar. Ia membuka brankas, mengambil sebuah jam tangan emas yang jarang ia pakai. Ia pikir, jika jam ini dijual, Tris bisa bertahan untuk beberapa bulan ke depan. Namun, saat ia baru saja mengeluarkan jam itu, ponsel di atas nakas bergetar hebat. Sebuah pesan singkat muncul dari sistem keamanan rumah yang terhubung langsung ke ponsel Aska di lokasi syuting.

Tusi tidak tahu bahwa brankas itu memiliki sensor tekanan. Begitu barang berharga di dalamnya dipindahkan tanpa prosedur, alarm senyap telah terkirim.

Kembali ke lokasi syuting, Aska melihat ponselnya bergetar di atas meja. Matanya menyipit saat membaca notifikasi dari rumah. Ia tahu persis apa yang sedang terjadi. Ia tidak langsung menelepon rumah, melainkan mematikan layar ponselnya dengan gerakan perlahan yang dingin.

Syuting hari itu berakhir pukul sepuluh malam. Semua kru tampak kelelahan, termasuk Nana yang wajahnya sudah pucat pasi namun tetap bertahan hingga frame terakhir selesai diambil.

"Biar kuantar," ujar Aska tiba-tiba saat Nana sedang merapikan tabletnya.

Nana tidak menolak. Tubuhnya terlalu lelah untuk berdebat soal "efisiensi waktu" lagi. Di dalam mobil, Aska mengemudi dengan kecepatan yang lebih tinggi dari biasanya.

"Kau melakukan tugasmu dengan baik di depan Bram tadi," ujar Aska tiba-tiba.

Nana menoleh, sedikit terkejut. "Terima kasih, Bang. Aku hanya mencoba menjalankan apa yang Abang katakan semalam."

"Bagus. Karena mulai besok, tekanan akan semakin berat. Bukan hanya dari lokasi syuting, tapi dari keluargaku," Aska menjeda, suaranya merendah dan semakin dingin. "Adikku baru saja mencoba 'mencuri' dari rumahku lewat tangan ibuku sendiri. Dan aku ingin kau melihat bagaimana cara aku menangani pengkhianatan, agar kau tahu dinding seperti apa yang sedang kau hadapi dalam satu tahun ini."

Nana menahan napas. Ia menyadari bahwa Aska bukan sekadar pria sukses yang dingin. Dia adalah pria yang tidak segan menghancurkan siapa pun yang mencoba meruntuhkan otoritasnya, bahkan keluarganya sendiri.

"Kenapa Abang memberitahuku soal ini?" tanya Nana pelan.

Aska menghentikan mobil tepat di depan apartemen Nana. Ia menatap Nana dengan pandangan yang membuat Nana merasa telanjang secara mental.

"Entahlah." Aska juga heran, sepertinya dengan Nana ia jadi lebih banyak bicara bahkan untuk hal yang tidak penting, hal yang tidak mempengaruhi hidup Aska sendiri.

Nana keluar dari mobil dengan perasaan yang berkecamuk. Lalu melambaikan tangan dengan senyum cerah sebelum masuk ke dalam gedung.

Bersambung....

1
jekey
lama" emosi sm aska 😡
Desi Santiani
lanjut thor seruu bgttt
jekey
akhirnyaa 😌😌
jekey
sinting tusi
jekey
thank you thor
Ayu
/Coffee/
Ayu
hahaa sukurin semoga kapok 🤭
Ayu
aku ga bisa kasih banyak ulasan tapi yang pasti bagus bangetttt
Ayu
kayak ginilah nyeseknya kalo baca novel yg baru up ,, mana bagus lagi ceritanya 😍
Ayu
/Coffee/ yuk
Ayu
kalo aku jadi kamu Na ... pasti aku bakalan cepet move on dari Tris🤭
Nilasartika Yusuf
😍
Ayu
hai Thor aku mampir ya
Rinnaya: Silahkan
total 1 replies
jekey
nunggu up thor
Rinnaya: Aman, up tiap hari.
total 1 replies
jekey
mampus eli
Nilasartika Yusuf
suka ceritanya😍
jekey
smngt update thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!