NovelToon NovelToon
Hanya Wanita Pelarian

Hanya Wanita Pelarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Dijodohkan Orang Tua / Pernikahan rahasia / Selingkuh / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Cahaya Tulip

"AYA!! Ingat kamu cuma istri formalitas. Kamu tak punya hak mengatur dengan siapa aku berhubungan, " teriak Rama.

BLAMM!!

Aya terduduk di sisi ranjang dengan air mata yang berderai.

"Aku tahu, aku hanya pelarian buatmu. Setidaknya, jangan buat aku merasa semakin hina dengan menemui wanita itu terang-terangan, " gumam Aya lirih.

Cahaya Insaniah, seorang wanita yang mendapat amanah menjadi istri seorang pemuda penerus perusahaan sawit di Kalimantan bernama Rama.

Rama yang jatuh hati dengan seorang Model lokal, terpaksa menikahi Cahaya karena pesan terakhir mamanya yang tak sadarkan diri akibat kecelakaan mobil.

Mampukah Cahaya menjalankan amanah menjadi istri Rama? Akankah Rama berpaling dari Model lokal itu?

Ikuti kisah mereka dalam Karya HANYA WANITA PELARIAN

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan

Rama duduk di kursi tunggu dengan kepala tersandar di dinding. Pelipis kirinya tertutup kasa, begitu juga di punggung tangan kiri.

"Nak Rama, bagaimana kondisi orang tuamu?" tanya Usman yang lebih dulu sampai di rumah sakit.

"Mama, masih belum sadar Om. Papa masih di rontgen, kaki Papa terjepit tadi. Semoga saja tidak sampai patah tulang."

"Ya Allah. Semoga keduanya baik-baik saja, Nak."

Usman menepuk pelan punggung Rama memberinya kekuatan.

"Om, sebelum mama tak sadarkan diri, mama sempat panggil nama Aya. Rama..akan nikahi Aya Om...secepatnya."

"Bagaimana Rama? " tanya Haura yang baru sampai, ia masih tersengal.

"Pak Jaka masih ditangani dokter, dek. Bu Harum belum sadar, " jawab Usman mewakili Rama yang masih syok.

Aya datang tergopoh, membawa sebotol air mineral lengkap dengan sedotan dan sebungkus nasi.

"Rama, minum dulu."

Aya menyodorkan air mineral yang sudah berisi sedotan di dalamnya.

Rama terpaku melihat perhatian kecil itu, lalu mengangguk. Air yang ia minum melegakan tenggorokannya, dan juga... hatinya.

Entah kenapa ia merasa tenang melihat wajah teduh Aya meski wajah wanita itu terlihat cemas menatapnya.

"Kamu belum makan, kan? Aku bawa nasi padang. Semoga saja kamu bisa makan menu seperti ini."

"Nak Rama makan dulu, biar Saya dan umi Haura yang berjaga di sini. Aya, ajak Rama ke tempat yang lebih nyaman."

Aya mengangguk, lalu memegang lengan Rama membantunya berdiri.

Rama seolah terhipnotis dengan perhatian dari keluarga sederhana itu, hatinya merasa hangat. Ia berjalan beriringan dengan langkah gontai.

Setelah keluar dari gedung rumah sakit, Aya membawa Rama ke teras Masjid rumah sakit.

"Makan di sini ya, biar lebih tenang. "

Aya membuka sarung tangan motornya lalu membuka bungkusan nasi padang dan meletakkannya hadapan Rama.

Rama menatap lama makanan itu, ia terlihat ragu tapi akhirnya mulai menyendok perlahan.

Tubuhnya memang sangat lemah karena belum sempat makan siang.

"Aya, sebenarnya aku mau bilang. Aku sudah punya pacar. Aku berharap kamu bisa membantuku menolak tawaran orang tua ku. "

Aya diam menyimak, tak ada emosi di raut wajahnya. Hanya rasa iba melihat kejadian yang menimpa Rama dan orang tuanya.

"Tapi... "

Rama mulai menunduk, bayangan wajah mamanya yang memanggil nama Aya berkelebat di ingatannya.

"Tapi mamaku memanggil namamu sebelum akhirnya pingsan. Darah mengalir banyak dari kepalanya. Itu.. situasi yang sangat membuatku terpukul."

Aya menyodorkan botol air mineral ke hadapan Rama. Ia tahu, Rama tak butuh banyak kata saat ini. Hanya telinga dan perhatian.

Rama mengambil air itu, meminumnya perlahan. Seteguk, lalu seteguk lagi.

Ia mengendalikan emosinya.

"Jadi... Aku mau.. Kita segera menikah."

Aya tercekat. Niatnya ingin menolak lamaran itu menjadi gamang. Ada rasa bersalah kalau ia menolak permintaan itu saat ini. Ia berpikir cepat, mengambil kesempatan untuk bernegosiasi. Dia butuh jaminan, semua keraguannya soal pernikahan itu harus ada solusi.

Aya menarik nafas panjang.

"Baiklah, Aku setuju kita menikah. Tapi.. aku punya beberapa permintaan."

Rama menatapnya dalam.

"Aku ingin, pernikahan ini di rahasiakan. Ini yang pertama. Lalu, aku ingin tetap bekerja seperti biasa. Yang ketiga, aku melayanimu yang lain, tapi tidak untuk hubungan badan. Yang ke empat, aku tidak akan mengatur soal hubunganmu, tapi kamu tidak boleh bertemu dengannya terang-terangan di tempat umum."

"Sampai kapan semua permintaan ini berlaku?" tanya Rama.

"Sampai kamu benar-benar lepas dari pacarmu. Kalau kamu tak yakin bisa melepasnya.. Kamu bisa segera memutuskan untuk menceraikan ku."

Rama tertunduk, lalu menghela nafas. Ia masih ragu apakah bisa melepas Amel, tapi ia juga tak bisa selamanya merahasiakan pernikahan ini.

"Oke, aku setuju dengan permintaan mu. Bagaimana kalau kita menikah besok siang? di depan mamaku. Aku yakin, meski tak sadar beliau mendengar kita. Kalau kamu setuju, aku sampaikan pada Om Usman dan segera mencari penghulu untuk mempersiapkan berkasnya."

Aya memejamkan matanya, memantapkan hati atas pilihannya, lalu mengangguk.

Rama bernafa lega, "Terima kasih."

Aya tersenyum dan mengangguk lagi.

Handphone Rama berdering kencang. Ia lupa sudah berjanji menjemput Amel jam tiga. Terang saja Amel menghubunginya karena saat itu sudah jam tiga tapi Rama tak kunjung ada kabar.

"Jawab saja," suruh Aya.

Rama menggeleng lalu mematikan deringnya dan membiarkan handphone itu terus memanggil.

Lima belas menit kemudian, Rama sudah merasa lebih baik. Mereka kembali menghampiri Haura dan Usman yang sedang berbicara dengan dokter.

"Baik dokter, Terima kasih, " ujar Usman.

Dokter berlalu dari keduanya.

"Bagaimana Om, Apa kata dokter? "

"Kaki Papamu retak di bagian tulang kering, tapi tenang saja bisa di operasi. Cuma mungkin butuh waktu agak lama untuk pemulihan karena faktor usia. Dokter akan melakukan operasi saat ini juga. Kamu ke bagian nurse station untuk tanda tanga persetujuannya. Papamu sudah di dalam ruang operasi."

Rama mengangguk lalu menuju nurse station seperti arahan Usman.

Usman, Haura dan Aya menunggu Rama sambil di ruang tunggu.

"Umi, Biar Aya yang temani Rama di sini. Umi istirahat saja. Ami juga bisa pulang istirahat, kalau ada apa-apa Aya kabari."

"Jangan, Nak. Kamu bukan mahramnya. Coba tanya Rama, dia sudah hubungi keluarga nya yang lain belum, " ujar Haura.

"Terima kasih Om, Umi. Alhamdulillah saya merasa lebih baik. Maaf seharusnya saya menghubungi keluarga yang lain. Tapi yang saya pikirkan saat itu hanya menghubungi Aya."

Haura dan Usman tertegun.

Rama menceritakan awal kejadian kecelakaan itu dan pesan mamanya, Harum.

"Jadi Om, Umi. Saya sudah bicarakan dengan Aya tadi. Aya setuju kami menikah besok siang. Di depan mama. Ini janji Rama pada mama. Berharap, mama bisa sembuh setelah ini."

Usman dan Haura saling pandang lalu menatap Aya.

"Kamu yakin, Aya? " tanya Usman.

Aya tertegun, lalu mengangguk.

"Bismillah Ami, Aya juga akan jalankan amanat almarhum Aba."

Haura dan Usman menghela nafas panjang. Bukan bernafas lega. Keduanya memutuskan menikah karena keadaan, bukan kesadaran membangun sebuah keluarga impian. Mungkin nanti...setelah ini, harap mereka.

"Baiklah, kalau kalian sudah memutuskan Ami akan ikut. Bagaimana, dek?" tanya Usman memandang Haura yang terlihat berat.

"Iya, Bang. In syaa Allah Haura juga ikut keputusan mereka."

KEESOKAN HARINYA

"Saya Terima nikah dan kawinnya Cahaya insanul binti Amran Abdullah dengan mas kawin Emas 50 gram dan seperangkat alat sholat di bayar tu..nai."

"Sah?" tanya penghulu

"Saaah, " sahut keluarga yang hadir di acara akad nikah dadakan itu.

Haura menyeka air matanya, melihat Putri semata wayang akhirnya melepas masa lajang di situasi yang tidak pada umumnya.

Aya kemudian membaca talak shigat setelah menandatangani buku nikah.

Dengan tangan gemetar, Ia meraih tangan Rama dan mencium punggung tangannya.

"Alhamdulillah.. " seru keluarga di ruangan itu.

Rama menghampiri Harum, ada setitik bulir air disudut mata mamanya.

"Ma, Rama sudah penuhi janji. Aya sekarang menantu Mama. Mama cepat sembuh ya, " bisiknya.

Aya bernafas lega, hatinya tersentuh dengan keharuan dihadapannya.

Mereka berfoto bersama disamping brankar Harum. Senyuman penuh kesedihan.

"Aya, kita ke kamar inap Papa ya, " ajak Rama.

Aya mengangguk. Haura dan Usman mengiringi langkah mereka.

Tatapan pengunjung rumah sakit dan perawat penuh kebingungan melihat pakaian yang mereka pakai.

"Ada akad nikah? Kok masnya familiar ya?" ujar seorang pengunjung dengan kerabatnya yang sedang duduk di kursi tunggu.

"Sepertinya itu putra pak Jaka.. Bos sawit, " sahut kerabatnya itu.

"Wah, ada akad nikah ya? kejadian langka ini, memang boleh? " bisik perawat di nurse station.

"Sudah ijin dengan pimpinan rumah sakit, nikah mendadak putra sulungnya bos sawit. Mereka kecelakaan mobil kemarin, " sahut rekannya.

Aya menduduk agak dalam. Bisikan-bisikan itu membicarakan Rama yang ternyata cukup terkenal. Aya merasa canggung. Haura memegang lengan putrinya dan mengelus pundaknya lembut. Aya tersenyum, seakan mengatakan. 'Tenang Umi, Aya baik-baik saja.'

"Assalamu'alaikum Pak Jaka, " sapa Usman.

"Wa'alaikumussalamwrwb. Pak Usman. "

Jaka tertegun melihat penampilan Rama dan Aya.

"Kalian, sudah menikah?" tanyanya tak menyangka.

"Iya, Pa baru saja. Maaf tidak menunggu Papa sadar. Rama baru dikasih tahu Bayu kalau Papa sudah siuman. Bagaiman kondisi Papa?"

"Alhamdulillah, Nak. Papa baik-baik saja. Papa senang kalian akhirnya menikah. Rama, jaga Aya baik-baik ya."

Rama mengangguk, lalu mengambil tangan kanan papanya dan mencium punggung tangan. Aya juga menghampiri Jaka dan melakukan hal yang sama.

"Terima kasih Pak Usman, Bu Haura. Saya merasa lega, amanah sudah saya tunaikan. Meski... dalam situasi seperti ini. Kami minta maaf, " ujar Jaka penuh kesedihan.

"Pak Jaka tenang saja, mereka yang memutuskan bersama. Yang penting, Pak Jaka fokus pemulihan, " sahut Usman.

Jaka mengangguk. "Rama, resepsinya bagaimana? "

"Tenang saja Pa, tunggu Mama pulih dulu. Kami sudah sepakat, yang penting akad nikah dulu."

Haura terdiam, ia ingat apa saja yang disampaikan putrinya semalam.

"Umi, Aya awalnya berat, tapi kondisi kami sama-sama punya beban memenuhi amanah. Jadi, Aya mengajukan permintaan pada Rama dan ia menyanggupi. Aya mau tetap bekerja, jadi aya minta pernikahan ini di rahasiakan. Karena, kalau ketahuan kami satu kantor Aya akan di pecat mi. Aya tidak mau kehilangan pekerjaan ini begitu saja. Umi tahu sendiri bagaimana kerja keras Aya sampai bisa diterima kan? Semoga Umi mengerti dan bisa menerima keputusan Aya. "

'Kenapa harus di rahasiakan? padahal dalam syariat pernikahan harus di umumkan. Apa ada sesuatu hal lain yang membuat Aya berat mengungkap hubungan mereka?' batin Haura.

Haura hanya berharap suatu hari nanti, Aya akan memberi tahu alasannya.

1
Retno Harningsih
lanjut
Retno Harningsih
up
Retno Harningsih
lanjut
Retno Harningsih
up
Retno Harningsih
lanjut
Cahaya Tulip: masih review ya kak🥰🙏
total 1 replies
Retno Harningsih
up
Cahaya Tulip: masih direview sistem kak.. ditunggu ya🥰🙏
total 1 replies
Retno Harningsih
lanjut
Cahaya Tulip: siap kak.. on progress🙏😁
total 1 replies
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷❀ ⃟⃟ˢᵏ
waalaikumsalam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!