NovelToon NovelToon
Senja Di Ruang Kelas

Senja Di Ruang Kelas

Status: tamat
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Laila Kim

Mengangkat sudut pandang unik dari perspektif guru yang terjebak dalam hubungan dengan dua murid sekaligus, mempertanyakan apakah dirinya korban atau pemangsa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perhatian Yang Berlebih

Dua minggu berlalu sejak Rizky mulai sadar akan kehadiran Bu Ima. Dua minggu yang terasa aneh. Ia jadi lebih sering ke sekolah, lebih sering duduk di kantin saat jam istirahat, dan yang paling mengganggu—lebih sering memikirkan Bu Ima di waktu-waktu yang tidak seharusnya.

"Lo kenapa sih, Zky? Akhir-akhir ini melamun terus," Wira mengaduk es teh manisnya dengan sedotan, mata menyipit curiga.

Rizky mengangkat bahu. "Nggak papa. Loe aja yang kepo."

"Gue tahu lo lagi ada masalah. Biasanya lo kalau istirahat main bola. Sekarang duduk di kantin melulu."

Rizky tak menjawab. Matanya justru tertuju pada pintu kantor guru yang terbuka. Dari sana, ia bisa melihat Bu Ima sedang berbicara dengan guru lain. Beliau tertawa kecil, tangannya menutup mulut.

"Lo ngeliatin Bu Ima lagi?" tebak Wira dengan nada geli. "Gila lo, Zky. Udah dua minggu gue perhatiin, lo kayak anak ayam kehilangan induk."

"Gue nggak—"

"Udah ah, ngaku aja. Tapi gue peringatin, lo jangan kebanyakan mimpi. Beliau tuh udah punya suami. Laki-laki mana lagi yang mau istrinya digodain murid sendiri?"

Rizky menatap Wira tajam. "Gue nggak ngedeketin, Ra. Cuma... ngelihat doang."

"Lo pikir gue nggak lihat cara lo ngeliatin dia? Sialan, mata lo kayak mau makan." Wira menggeleng. "Gue temen lo, jadi gue ngomong apa adanya. Jangan terlalu dalam, Zky. Bahaya."

Rizky menghela napas. "Gue tahu, Ra. Gue tahu."

---

Siang itu, usai jam pelajaran terakhir, Rizky bersiap pulang. Ia baru saja sampai di parkiran saat ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal.

"Rizky, ini Bu Ima. Ibu mau bicara sebentar. Bisa ke ruang guru?"

Rizky menatap layar ponselnya. Jantungnya berdegup kencang. Jari-jarinya gemetar saat membalas: "Iya Bu, sebentar lagi."

Ia berbalik dan berjalan menuju gedung utama. Sepanjang perjalanan, ia mencoba menebak-nebak apa yang ingin dibicarakan Bu Ima. Jangan-jangan beliau tahu? Jangan-jangan beliau melihat cara Rizky memandangnya?

Sampai di depan ruang guru, Rizky menghela napas panjang sebelum mengetuk pintu.

"Masuk," suara dari dalam.

Rizky membuka pintu. Ruang guru tak terlalu besar, berisi meja-meja kayu tua berjejer. Bu Ima duduk di meja paling pojok dekat jendela. Di hadapannya ada tumpukan kertas ulangan.

"Ah, Rizky. Duduk, Nak."

Rizky mendekat. Ia duduk di kursi plastik di samping meja Bu Ima. Dari jarak sedekat ini, ia bisa mencium wangi parfum yang sama seperti waktu itu. Wangi melati.

"Ibu lihat nilai matematika kamu terus naik. Ibu senang," Bu Ima membuka percakapan sambil merapikan kertas-kertas di hadapannya.

"Terima kasih, Bu. Saya coba belajar lebih giat."

"Bagus. Kamu punya potensi. Tapi Ibu lihat, akhir-akhir ini kamu sering melamun di kelas. Tidak seperti biasanya. Ada masalah?"

Rizky terkejut. Beliau memperhatikan? "Nggak, Bu. Mungkin cuma kecapekan."

Bu Ima menatapnya lekat. Matanya tajam, tapi tak menghakimi. "Kamu yakin? Ibu bisa jadi tempat curhat kalau ada apa-apa. Anggap Ibu seperti kakak."

Deg.

Jantung Rizky bertalu-talu. "Saya baik-baik aja, Bu. Makasih."

Bu Ima tersenyum. Tangan kirinya menggeser gelas air mineral ke hadapan Rizky. "Minum dulu. Kamu kelihatan tegang."

Rizky mengambil gelas itu. Tanpa sadar, jari-jarinya menyentuh jari Bu Ima yang masih memegang gelas. Kontak singkat, tapi cukup membuat Rizky tersentak dalam hati.

Bu Ima tak bereaksi. Ia malah membuka lemari di samping mejanya dan mengeluarkan map coklat. "Ini, Ibu punya soal-soal latihan buat persiapan UTBK. Kamu boleh fotokopi kalau mau."

Rizky menerima map itu. "Makasih banyak, Bu."

"Eh, Rizky... boleh Ibu tanya sesuatu?"

"Iya, Bu?"

Bu Ima menatapnya. "Apa benar kamu pernah bilang ke Wira kalau Ibu ini... menarik?"

Rizky membeku.

Darahnya serasa berhenti mengalir. Wira? Dasar mulut longgar! "B-Bu, saya nggak—"

"Tenang, tenang." Bu Ima tertawa kecil. Suara tawanya lembut, tak seperti tertawaan guru-guru lain yang kadang keras. "Ibu nggak marah. Justru Ibu senang kalau murid respect sama gurunya."

Rizky masih panik. "Bu, saya nggak bermaksud apa-apa—"

"Rizky." Bu Ima mencondongkan tubuh ke depan. Sikunya bertumpu di meja. Posisi itu membuat kerah bajunya sedikit melonggar. Dari sudut mata, Rizky bisa melihat sedikit kulit putih di balik hijabnya. "Ibu tahu kamu anak baik. Tapi kamu harus ingat, Ibu ini guru kamu. Dan Ibu sudah punya suami."

Nada suaranya masih lembut, tapi ada peringatan jelas di dalamnya. Rizky menunduk dalam-dalam.

"Maaf, Bu. Saya nggak tahu diri."

"Hap, jangan begitu." Tiba-tiba, tangan Bu Ima menyentuh dagu Rizky dan mengangkatnya. "Lihat Ibu kalau bicara."

Rizky terpaku. Sentuhan itu lembut, tapi terasa seperti setrum di sekujur tubuhnya.

Bu Ima tersenyum. "Ibu cuma mau kamu fokus belajar. Jangan kepikiran hal-hal yang nggak perlu. Paham?"

"P-Paham, Bu."

"Bagus." Bu Ima melepas tangannya. "Sekarang pulang. Sudah sore."

Rizky berdiri, masih limbung. "Makasih, Bu."

"Iya, sama-sama. Oh iya..." Bu Ima memanggilnya lagi saat Rizky sudah di pintu. "Jaga rahasia kita, ya? Jangan bilang siapa-siapa Ibu pernah ngomong gini sama kamu."

Rizky mengangguk cepat. Ia ke luar dari ruang guru dengan perasaan campur aduk. Jantungnya masih berdegup kencang, tapi ada juga rasa bersalah yang menggerogoti.

Wira benar. Ini berbahaya.

Tapi kenapa, saat ia ingat sentuhan Bu Ima di dagunya, yang muncul justru rasa hangat di dada?

---

Malam itu, Rizky tak bisa tidur.

Ia bolak-balik di kasur, memikirkan kata-kata Bu Ima. "Ibu nggak marah." "Jaga rahasia kita." Apa maksudnya? Kenapa beliau bilang begitu? Kenapa harus dirahasiakan?

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk.

"Rizky, ini Bu Ima. Sudah makan malam? Jangan lupa makan. Besok ada ulangan, tidur yang cukup."

Rizky membaca pesan itu berulang kali. Kenapa Bu Ima peduli? Kenapa beliau mengirim pesan pribadi?

Jempolnya bergerak mengetik balasan: "Sudah Bu. Makasih."

Tak sampai semenit, balasan masuk: "Bagus. Selamat malam, Nak. Mimpi indah."

Rizky memeluk ponselnya. "Mimpi indah," gumamnya.

Ia memejamkan mata. Dan malam itu, ia memang bermimpi indah. Mimpi yang tak seharusnya ia mimpikan tentang gurunya sendiri.

---

Keesokan harinya, Rizky datang ke sekolah dengan mata sembab. Wira langsung menyergapnya di gerbang.

"Lo begadang? Main game?"

"Bukan."

"Terus?"

Rizky diam. Ia tak bisa cerita ke Wira. Temannya itu benar tentang bahaya, dan ia tak mau Wira ikut terbawa masalah.

Sepanjang pagi, Rizky tak bisa konsentrasi. Ia terus memikirkan pesan semalam. Dan saat jam matematika tiba, ia seperti duduk di atas bara api.

Bu Ima masuk kelas dengan senyum biasanya. Ia berpapasan dengan Rizky saat berjalan ke meja guru. Tanpa suara, tanpa gerakan berarti, tapi Rizky bersumpah melihat bibir Bu Ima membentuk kata "Hai".

Atau mungkin itu hanya imajinasinya?

"Selamat pagi, anak-anak. Siap ulangan?" sapa Bu Ima.

"Belum, Buuu..." jawab siswa kompak.

Bu Ima tertawa. "Yaudah, kerjakan saja dulu. Yang jujur ya."

Ulangan berlangsung. Rizky mengerjakan soal dengan setengah hati. Sesekali ia melirik ke meja guru. Bu Ima sedang membaca sesuatu, tapi sesekali matanya terangkat dan menatap ke arahnya.

Atau ke arah kelas pada umumnya? Rizky tak yakin.

Saat waktu ulangan tersisa lima belas menit, Bu Ima berjalan di antara bangku. Ia berhenti di samping meja Rizky. Rizky menegang.

"Sudah selesai?" tanya Bu Ima pelan.

"Tinggal satu nomor, Bu."

"Coba lihat." Bu Ima membungkuk sedikit untuk melihat lembar jawaban Rizky. Posisinya begitu dekat. Rizky bisa mencium wangi rambutnya yang tersembunyi di balik hijab. Bisa melihat bulu matanya yang lentik.

"Nomor delapan salah itu. Coba dicek lagi." Suara Bu Ima hampir berbisik di telinganya.

Rizky mengangguk kaku. Napas Bu Ima terasa hangat di daun telinganya.

Bu Ima lalu beranjak, berjalan kembali ke mejanya. Tapi sebelum sampai, ia menoleh sekali lagi dan tersenyum pada Rizky.

Senyum itu...

Rizky menghela napas dalam-dalam. Ia mencoba fokus pada soal, tapi bayangan Bu Ima terlalu kuat.

---

Usai ulangan, Rizky mengumpulkan lembar jawaban. Saat ia meletakkannya di meja guru, Bu Ima menyodorkan selembar kertas kecil.

"Baca nanti," bisiknya.

Rizky mengambil kertas itu dan memasukkannya ke saku celana. Ia langsung ke toilet dan membuka kertas itu dengan tangan gemetar.

"Ibu suka cara kamu lihat Ibu. Tapi jangan tunjukkan ke orang lain. Nanti kita bicara lagi. -Ima"

Rizky membaca kertas itu sampai lima kali. Tangannya gemetar. Kepalanya pusing. Campuran antara rasa bersalah, takut, dan... senang.

Ia sadar ini salah. Sangat salah. Tapi kenapa ada getar bahagia di dadanya?

Di luar, suara bel berbunyi. Rizky meremas kertas itu dan membuangnya ke kloset, lalu menyiramnya.

Dari luar toilet, seseorang memanggil. "Rizky? Lo di dalem? Cepetan, gue mau pipis!"

Rizky membuka pintu. Wira melongo melihat ekspresi wajahnya.

"Lo kenapa? Pucet gitu?"

"Gue nggak papa."

"Bohong lo." Wira menatapnya tajam. "Ini soal Bu Ima, kan? Gue tahu dari muka lo. Ada apa?"

Rizky diam. Ia tak bisa bohong, tapi juga tak bisa jujur.

Wira menghela napas panjang. "Zky, gue temen lo. Lo boleh bohong ke orang lain, tapi jangan ke gue. Cerita."

Rizky menunduk. "Gue... gue nggak tahu harus cerita apa."

"Ya udah, nanti kalau lo siap. Tapi gue ingetin sekali lagi..." Wira menunjuk wajah Rizky. "Dia guru. Dia udah nikah. Lo itu muridnya. Jangan main api."

Rizky mengangguk lemas. "Gue tahu, Ra."

"Cuma tahu doang? Atau lo bakal sadar diri?"

Rizky tak menjawab. Dan Wira tahu, temannya itu sudah terlalu dalam.

---

Dua hari kemudian, sepulang sekolah, Rizky menerima pesan lagi dari Bu Ima.

"Rumah Ibu di Perumahan Bukit Indah Blok C15. Jam 4 sore. Ada yang mau Ibu kasih. Jangan bilang siapa-siapa."

Rizky membaca pesan itu dengan jantung berdebar. Ia tahu ini sangat salah. Tapi kakinya seperti sudah bergerak sendiri menuju parkiran.

Wira memanggil dari kejauhan. "Lo mau ke mana, Zky? Bukannya lo katanya mau ngerjain tugas kelompok?"

"Nanti aja, Ra. Ada urusan."

"Urusan apa? Lo kok aneh gitu?"

Rizky tak menjawab. Ia sudah menyalakan motor dan melaju ke luar gerbang.

Di kaca spion, ia melihat Wira masih berdiri di tempat, menatapnya dengan raut khawatir.

Maaf, Ra, batin Rizky. Tapi gue harus tahu.

---

Perumahan Bukit Indah tak terlalu jauh dari sekolah. Hanya sekitar lima belas menit. Rizky berhenti di depan gerbang blok C. Tangannya berkeringat di stang motor.

Ia mengirim pesan: "Bu, saya sudah di depan."

Tak lama, pintu pagar terbuka. Bu Ima muncul dengan daster rumah berwarna cream, rambutnya tertutup hijab tipis. Di tangannya ada plastik berisi sesuatu.

"Masuk, Nak," panggilnya lembut.

Rizky mematikan motor dan masuk ke halaman. Rumah itu tak terlalu besar, tapi terawat. Ada pot-pot bunga di teras.

"Sepi, Bu?" tanya Rizky canggung.

"Suami Ibu kerja di luar kota. Pulang dua minggu lagi. Duduklah."

Rizky duduk di kursi teras. Bu Ima duduk di depannya. Dari dekat, tanpa riasan, wajah Bu Ima terlihat lebih muda. Mungkin usianya sekitar 30-an, tapi kulitnya masih kencang. Matanya sendu.

"Ini, Ibu bikinin kue. Bawain buat kamu." Bu Ima menyodorkan plastik itu.

"Makasih, Bu." Rizky menerimanya, tak berani menatap Bu Ima terlalu lama.

"Rizky."

"Iya, Bu?"

"Lihat Ibu."

Rizky mengangkat muka. Bu Ima menatapnya lekat. Pandangan yang berbeda dari biasanya. Lebih dalam, lebih hangat, lebih... sesuatu.

"Kamu suka Ibu, ya?"

Rizky membeku. Pertanyaan langsung seperti itu membuatnya kehilangan kata-kata.

"Jujur aja sama Ibu."

Rizky menelan ludah. "Saya... saya..."

Bu Ima tersenyum. Tangannya meraih tangan Rizky yang tergeletak di meja. "Tenang. Ibu nggak marah."

Sentuhan itu lagi. Lembut, hangat, dan berbahaya.

"Tapi Ibu harus jujur juga sama kamu..." Bu Ima menjeda. Matanya menatap Rizky dengan intensitas yang membuat napas Rizky terengah. "Ibu juga suka cara kamu lihat Ibu. Selama ini, nggak ada yang lihat Ibu seperti itu."

Rizky tak percaya dengan apa yang didengarnya. "B-Bu..."

"Panggil Ima aja kalau sendiri. Angkat ibu-nya."

DEG!

Jantung Rizky seperti copot. "I... Ima?"

Bu Ima—Ima—tersenyum manis. "Kamu tahu, Rizky? Umur Ima 31. Suami Ima jarang di rumah. Sering dinas keluar. Kadang berbulan-bulan Ima sendiri di rumah ini."

Tangannya masih menggenggam tangan Rizky. Jempolnya mengelus punggung tangan Rizky pelan.

"Sementara kamu..." Ima menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Kamu muda, segar. Mata kamu saat lihat Ima... Ima suka itu."

Rizky seperti kehilangan kendali atas tubuhnya. Ia ingin menarik tangan, tapi tak mampu. Ia ingin lari, tapi kakinya seperti membatu.

"Ima nggak minta apa-apa, kok. Cuma..." Ima menggenggam tangannya lebih erat. "Kadang Ima butuh ditemani. Butuh diperhatikan. Kamu ngerti, kan?"

Napas Rizky memburu. "Tapi... tapi Bu... Ima... ini salah."

"Iya, Ima tahu." Ima mengangguk pelan. "Tapi kadang hal yang salah itu terasa paling benar, Nak."

Ia melepas genggaman dan berdiri. "Udah, kamu pulang saja. Nanti keburu malam. Terima kasih sudah mau mampir."

Rizky berdiri, masih limbung. Ia memegang plastik berisi kue yang tadi diberikan.

"Ima..." suaranya serak. "Apa kita... maksud saya..."

Ima menatapnya. "Kita lihat nanti, Rizky. Jangan dipaksakan. Kalau kamu merasa nggak nyaman, lupakan saja semua ini."

Rizky menggeleng pelan. "Saya... saya nggak bisa lupakan."

Ima tersenyum. Senyum penuh kemenangan. "Bagus. Tapi untuk sekarang, pulang dulu. Kita chat nanti."

Rizky berjalan ke motornya dengan langkah gontai. Ia menyalakan mesin, melaju keluar dari perumahan. Di kaca spion, ia melihat Ima masih berdiri di depan pintu, melambai pelan.

Sepanjang perjalanan pulang, Rizky tak bisa berpikir jernih. Ia baru saja menerima kenyataan yang tak pernah ia bayangkan.

Gurunya, Bu Ima, perempuan berhijab yang selalu ia lihat dengan diam-diam, ternyata juga merasakan hal yang sama.

Atau setidaknya, itu yang ia pikirkan.

Rizky tak sadar, di balik senyum manis Ima tadi, ada sesuatu yang jauh lebih rumit dari sekadar ketertarikan sederhana. Tapi untuk saat ini, ia terlalu mabuk untuk melihatnya.

Malam itu, ia membuka ponsel dan menemukan pesan dari Ima.

"Terima kasih sudah datang hari ini. Kamu membuat hari Ima lebih cerah. Selamat malam, Rizky. Mimpi indah."

Rizky membalas: "Selamat malam, Ima."

Ia mematikan lampu dan memejamkan mata. Malam itu, ia kembali bermimpi tentang gurunya. Mimpi yang jauh lebih dalam dari sekadar pandangan di kelas.

Mimpi yang tak seharusnya ia mimpikan.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!