Seorang siswa SMA miskin yang baru saja ditinggalkan oleh kekasihnya secara tak sengaja memperoleh sebuah kitab pusaka milik Santo Cinta—sebuah buku misterius yang menyimpan tak terhitung kemampuan luar biasa, khusus digunakan untuk menaklukkan hati para gadis. Sejak saat itu, hidupnya pun berubah drastis.
Tak hanya meraih keberhasilan dalam urusan asmara, ia juga mulai menapaki jalan kesuksesan dalam dunia bisnis. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan beragam perempuan menawan: teman sekelas yang cantik, putri seorang tokoh dunia bawah tanah, gadis super imut yang menggemaskan, hingga selebritas terkenal dengan pesona memikat.
Di antara cinta, kekuatan rahasia, dan perubahan nasib, kisahnya berkembang menjadi perjalanan penuh romansa, peluang, dan godaan yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Senyum tipis terlukis di bibir Guo Xiaolu ketika matanya menangkap sosok Zhang Yuze di seberang jalan. Tanpa ragu, ia melangkah mendekat. Sorot matanya jernih, seolah menyimpan cahaya yang hanya menyala untuk satu orang.
Zhang Yuze pun telah melihatnya sejak tadi.
Begitu Guo Xiaolu berjalan ke arah mereka, mata pemuda di samping Zhang Yuze langsung membelalak. Tatapannya terpaku lurus pada gadis itu, kilatan takjub tak mampu ia sembunyikan.
“Hei, bocah, itu gadis yang tadi kubicarakan! Lihat, kan? Cantik, bukan?” ujarnya sambil menyeringai lebar, bahkan tak peduli dengan wajah cemberut sang pacar yang berdiri di sisinya. Tangannya dengan santai melingkari bahu Zhang Yuze, seolah mereka sahabat karib.
Zhang Yuze tersenyum ringan. “Tentu saja aku melihatnya. Dia memang orang yang sudah kutunggu.”
Nada suaranya tenang, tetapi tatapannya tegas.
Guo Xiaolu telah tiba di hadapan mereka. Ia terlebih dahulu melirik tajam ke arah Zhang Yuze—sebuah tatapan yang sulit ditebak artinya—baru kemudian menyapa pemuda yang kini tampak membeku seperti patung.
“Hai, Yuze. Kenapa kamu ada di sini?” sapanya lembut.
Pemuda tadi benar-benar tidak menyangka bahwa Zhang Yuze mengenal Guo Xiaolu. Melihat cara mereka berbicara, jarak yang begitu dekat, serta ekspresi yang tak dibuat-buat, ia tak lagi meragukan hubungan keduanya. Tiba-tiba teringat taruhan konyol yang baru saja ia buat—jika Zhang Yuze berhasil mendekati gadis itu, ia harus memanggilnya “Ayah”—rasa dingin merambat di punggungnya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia buru-buru menyalakan sepeda motornya, menarik pacarnya naik, lalu melesat pergi secepat kilat. Bahkan ucapan perpisahan pun tak sempat ia lontarkan.
Zhang Yuze hanya tersenyum samar. Ia sama sekali tidak pernah berniat menagih taruhan itu.
Namun sebelum ia sempat berbicara lagi dengan Guo Xiaolu, sebuah mobil Bentley hitam mengilap tiba-tiba berhenti di samping mereka. Kaca jendelanya perlahan turun, menampilkan wajah seorang pria muda yang tampan dan rapi.
“Xiaolu, aku kebetulan searah. Biar kuantar saja,” ucapnya dengan senyum lembut yang tampak sempurna.
Nama pria itu Lan Zhenglong.
Senyum yang terlalu sempurna itu justru membuat dada Zhang Yuze terasa sesak. Ada kesan arogan tersembunyi di balik kelembutannya. Dan kini, mendengar tawaran itu, perasaan tak senang semakin menguat.
Searah?
Zhang Yuze hampir ingin tertawa sinis. Ia dan Guo Xiaolu tinggal di kawasan perumahan Jiangbin—wilayah hunian biasa. Tak mungkin seorang tuan muda pengendara Bentley memiliki tujuan di sana. Niatnya terlalu jelas untuk disembunyikan.
“Jangan meremehkan sepeda,” kata Zhang Yuze santai, meski nadanya sedikit menantang. “Sekarang sepeda justru sedang tren. Benar begitu, Kak Xiaolu?”
Begitu kata-kata itu meluncur, penyesalan langsung menyergapnya.
Ia baru mengenal Guo Xiaolu kurang dari tiga hari. Sementara Lan Zhenglong adalah senior di sekolahnya, mungkin sudah mengenalnya bertahun-tahun. Ucapan barusan seolah memaksanya untuk memilih.
Jika Guo Xiaolu menyetujui perkataannya, situasi akan menguntungkan. Namun jika tidak… bukan hanya harga dirinya yang terluka, kesan pertama yang ia bangun pun bisa runtuh.
Sementara itu, Lan Zhenglong tetap tersenyum tenang. “Bukan meremehkan sepeda,” katanya lembut, pandangannya tetap tertuju pada Guo Xiaolu. “Hanya saja, sepeda itu terlihat agak tua. Tidak aman membawa dua orang.”
Nada suaranya halus, penuh perhatian. Tidak ada kemarahan terbuka, tidak ada sindiran kasar. Namun justru karena itulah Zhang Yuze merasa waspada.
Pria ini… bukan lawan yang sederhana.
Ia muncul tiba-tiba, tetapi sama sekali tidak menunjukkan emosi negatif. Seolah-olah ia berada di atas situasi, mengendalikan semuanya dengan senyum.
Guo Xiaolu tampaknya memahami sesuatu. Matanya yang jernih berkilau lembut saat ia menoleh kepada Lan Zhenglong.
“Senior, kali ini tidak usah. Temanku sudah datang menjemput. Aku tidak ingin merepotkanmu,” ujarnya dengan senyum meminta maaf.
Sesaat, ekspresi Lan Zhenglong berubah tipis. Hampir tak terlihat, tetapi cukup bagi Zhang Yuze untuk menangkapnya. Bibir pria itu sedikit terbuka, seolah hendak berkata sesuatu, namun akhirnya ia menahan diri.
Ia tetap mempertahankan sikap anggun yang tak bercela.
“Kalau begitu, sampai jumpa besok,” katanya ringan.
Sebelum kaca jendela kembali menutup, ia menatap Zhang Yuze dalam-dalam. Tatapan itu tenang, tetapi menyimpan arti. Tantangan yang tak terucap.
Mesin mobil menyala, lalu Bentley itu meluncur pergi dengan anggun.
Keheningan sejenak menyelimuti mereka.
Begitu mobil itu menghilang di tikungan, Guo Xiaolu menoleh dan menatap Zhang Yuze dengan pura-pura kesal.
“Adik kecil, kenapa kamu tiba-tiba datang? Tidak bilang dulu.”
Zhang Yuze tertawa kecil. “Bukankah aku sudah menelepon? Bagaimana bisa dibilang tidak memberi tahu?”
Guo Xiaolu mengerutkan kening, lalu tiba-tiba teringat sesuatu. Matanya yang indah menatapnya lekat-lekat.
“Ngomong-ngomong, aku penasaran. Dari mana kamu tahu nomor ponselku? Seingatku, aku tidak pernah memberikannya.”
Zhang Yuze terdiam.
Tentu saja ia tidak mungkin menjelaskan bahwa informasi itu muncul di Kartu Penilaian dari Cermin Pusaka Dewa—sebuah rahasia yang bahkan sulit ia pahami sepenuhnya.
“Uh… itu…”
“‘Itu’ apa?” Guo Xiaolu menyipitkan mata. “Siapa yang membocorkannya? Siapa yang berkhianat?”
Nada suaranya terdengar galak, tetapi ada senyum samar di sudut bibirnya. Zhang Yuze tahu, ia tidak benar-benar marah. Ia hanya ingin menggoda.
Dengan cepat ia mengalihkan topik. “Kak Xiaolu, ayo naik. Akan kuantar pulang.”
Tatapan Guo Xiaolu beralih ke sepeda di sampingnya.
Itu adalah sepeda merek Phoenix yang sudah sangat tua. Catnya pudar, rangkanya berkarat di beberapa bagian, dan setiap kali disentuh, terdengar bunyi berderit pelan yang membuat hati waswas.
Ia memiringkan kepala, menatap Zhang Yuze dengan ragu. “Sepeda ini… benar-benar bisa membawa orang?”
Zhang Yuze sendiri sebenarnya tidak sepenuhnya yakin. Namun ia tetap memasang ekspresi percaya diri.
“Kita tidak akan tahu kalau tidak mencoba.”
Jawaban yang sangat tidak bertanggung jawab.
Guo Xiaolu terdiam beberapa detik. Lalu, entah karena keberanian atau sekadar rasa ingin tahu, ia akhirnya duduk di boncengan belakang.
Jam sibuk telah tiba di Kota Nanmin. Jalanan padat, kendaraan berlalu-lalang tanpa henti. Klakson bersahutan, lampu lalu lintas berganti warna silih berganti.
Di tengah hiruk-pikuk itu, muncul pemandangan yang benar-benar mencolok.
Sebuah sepeda Phoenix kuno, seolah peninggalan zaman purba, bergerak pelan di antara arus kendaraan modern. Rangkanya yang berkarat berkilau redup diterpa cahaya senja. Rantai berdecit setiap kali pedal diputar. Sesekali terdengar bunyi aneh, membuat orang-orang yang melihatnya tanpa sadar menahan napas, khawatir sepeda itu akan terlepas menjadi potongan-potongan kapan saja.
Namun yang lebih mengejutkan adalah pengendaranya.
Zhang Yuze tampak bersemangat, wajahnya bersinar oleh rasa percaya diri yang aneh. Angin sore meniup rambutnya, sementara kedua tangannya menggenggam setang dengan mantap.
Di belakangnya duduk seorang gadis yang begitu cantik hingga membuat banyak orang menoleh dua kali.
Guo Xiaolu memegang ringan bagian belakang kursi, rambut panjangnya berkibar lembut. Wajahnya memerah, entah karena angin atau karena situasi yang tak biasa ini.