Ara tidak pernah berencana menyebut nama Gill.
Tapi ketika sahabatnya mendesak soal perasaannya, nama yang keluar justru nama cowok paling aneh di sekolah. Cowok yang bahkan tidak ingat wajahnya setelah insiden nasi tumpah di kantin.
Cowok yang memanggilnya wanita gila di minimarket. Cowok yang lebih peduli sama game-nya daripada pendapat seluruh sekolah.
Masalahnya, nama itu sudah terlanjur keluar.
Dan Gill, dengan logikanya yang tidak masuk akal tapi entah kenapa selalu benar, malah menawarkan solusi yang lebih tidak masuk akal lagi.
"Kalau mau berbohong, berbohonglah sampai akhir."
Satu perjanjian palsu. Satu hubungan yang tidak seharusnya nyata. Dan satu atap sekolah yang entah bagaimana menjadi satu-satunya tempat di dunia di mana Tiara Alexsandra bisa berhenti menjadi sempurna.
Siapa sangka kebohongan terbaik dalam hidupnya justru terasa seperti kebenaran yang paling sungguhan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 3 - PRIA YANG TAK TAHU SOPAN SANTUN
Malam di kamar Ara selalu tenang.
Terlalu tenang, kadang.
Lampu belajar menyala kuning di sudut meja, melempar bayangan panjang ke dinding. Buku-buku tersusun rapi di raknya, catatan sekolah tertumpuk dengan rapi di pojok kiri meja, dan semua itu terlihat seperti kamar milik seseorang yang hidupnya teratur dan terkendali.
Ara berbaring telentang di kasurnya, menatap langit-langit, dan merasa bahwa hidupnya sama sekali tidak teratur dan tidak terkendali.
Pikirannya tidak mau diam.
Lina dan Diana minta tolong dicomblangin ke Mike. Itu masalah pertama yang berputar di kepalanya. Bukan karena ia tidak bisa bilang tidak, tapi karena sebenarnya ia tidak yakin apa yang ia rasakan kalau benar-benar harus melakukan itu. Mendekatkan orang lain ke Mike. Bicara baik-baik tentang Mike ke orang lain. Membantu seseorang mendekati Mike.
Ara memejamkan mata.
Kenapa itu terasa tidak nyaman?
Ia tidak mau menjawab pertanyaan itu malam ini. Terlalu banyak hal yang harus dipikirkan dan kepalanya sudah penuh.
Karena masalah kedua juga muncul tanpa diundang, seperti biasa.
Cowok itu.
Gian William. Rambut hitam, mata dingin, seragam yang sudah belepotan makanan karena kesalahan Ara, dan ekspresi wajah yang sama sekali tidak berubah dari awal sampai akhir. Tidak marah. Tidak memaafkan. Tidak bereaksi apa pun.
Hanya pergi.
Ara membalik badan, menghadap tembok, menarik selimut sampai ke bahunya.
Ia ingin meminta maaf dengan benar. Bukan minta maaf setengah-setengah di tengah keramaian kantin dengan suara yang hampir tenggelam oleh kebisingan sekitar. Minta maaf yang sungguhan, yang didengar, yang diakui.
Tapi Via sudah bilang tadi sore, saat mereka jalan pulang bersama.
"Gian itu bukan orang yang gampang didekati, Ra. Dia nggak suka keramaian, nggak suka basa-basi, dan yang paling penting, dia nggak peduli sama siapa pun di sekolah itu termasuk kamu." Via mengucapkannya tanpa niat menyakiti, hanya menyampaikan fakta seperti biasa. "Lupain aja. Dia juga pasti udah lupa."
Ara menghela napas panjang ke arah tembok kamarnya.
Mungkin Via benar.
Mungkin cowok itu sudah tidak ingat wajah Ara bahkan sejak lima menit setelah kejadian. Mungkin ia sudah pulang, ganti baju, dan melanjutkan hidupnya tanpa satu pun pikiran tentang cewek yang menumpahkan ayam opor ke bahunya.
Mungkin ini hanya Ara yang terlalu memikirkan sesuatu yang tidak perlu.
Kemungkinan besar memang begitu.
Ara menutup matanya, berniat tidur lebih awal supaya kepalanya bisa istirahat dari semua itu.
Pintu kamarnya diketuk.
"Ara." Suara ibunya, dari balik pintu. "Nak, tolong ke minimarket bentar. Beli susu sama sabun cuci muka. Yang biasa ya, jangan yang lain."
Ara membuka mata. Menatap langit-langit sebentar.
"Iya, Bu. Sebentar."
---
Angin malam di Eldria City selalu punya cara tersendiri untuk membuat orang merasa sedikit lebih waras.
Ara berjalan pelan di trotoar, kedua tangan masuk ke saku jaket tipisnya, menghirup udara malam yang lebih segar dari udara di dalam kamarnya yang pengap karena terlalu banyak pikiran. Minimarket yang biasa dituju keluarganya hanya berjarak tiga blok dari rumah, cukup dekat untuk jalan kaki, cukup jauh untuk menenangkan diri di sepanjang jalan.
Ia masuk ke minimarket dengan bunyi pintu geser yang familiar, disambut udara dingin dari AC dan cahaya lampu neon putih yang terlalu terang setelah kegelapan di luar. Ia langsung menuju rak produk perawatan, mengambil sabun cuci muka yang diminta ibunya, lalu berpindah ke rak minuman untuk mencari susu.
Susu full cream. Ukuran sedang. Kotak biru.
Ara mengambilnya, mengecek tanggal kedaluwarsa seperti kebiasaan ibunya yang sudah menular ke dirinya, lalu menuju kasir.
Antrean hanya satu orang di depannya. Ia berdiri menunggu, menatap deretan permen dan cokelat di etalase kecil di samping kasir tanpa benar-benar melihat apa pun.
Pikirannya sudah mulai tenang sekarang. Udara malam tadi berhasil melakukan tugasnya.
Ia akan pulang, mandi, tidur, dan besok semua akan terasa lebih ringan. Itu rencananya.
Tapi..
Rencananya langsung runtuh begitu ia selesai membayar, berbalik, dan melihat siapa yang sedang duduk di bangku panjang di depan minimarket itu.
Gian William.
Ia duduk santai dengan satu kaki dilipat ke atas bangku, sedang memegang es krim cone yang tinggal separuh, matanya menatap layar ponsel di tangannya dengan ekspresi yang sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia baru saja pulang dari hari dimana bajunya kena tumbahan nasi.
Di sebelahnya, seorang anak perempuan kecil berusia sekitar enam tahun sedang memegang es krim yang jauh lebih besar dari wajahnya, menjilatinya dengan konsentrasi yang sangat serius.
Ara berdiri di depan pintu minimarket selama dua detik penuh tanpa bergerak.
Lalu ia memutuskan untuk bersikap dewasa.
Ia menghampiri mereka.
"Eh, hei," Ara membuka suara, berusaha terdengar santai. "Kamu... Gian, kan? Dari Eldria International?"
Cowok itu tidak langsung menengok. Ia menyelesaikan satu swipe di layar ponselnya lebih dulu, baru kemudian mengangkat kepala dengan kecepatan yang sama sekali tidak mencerminkan urgensi apa pun.
Matanya menatap Ara.
Kosong.
"Siapa?"
Ara berkedip. "Aku... Tiara. Dari sekolah yang sama. Tadi siang di kantin—"
"Kantin?" Ia mengernyit tipis, lalu pandangannya kembali ke layar ponselnya. "Nggak ingat."
Ara menarik napas.
Baik. Tidak apa-apa. Mungkin memang tidak ingat. Manusia kan bisa lupa.
"Tadi siang aku nggak sengaja numpahin makanan ke baju kamu," Ara mencoba lagi, suaranya tetap tenang meski mulai ada sesuatu yang mendidih pelan di dalam dadanya. "Aku mau minta maaf yang bener, soalnya tadi kamu langsung pergi."
Cowok itu mengangkat kepala lagi. Kali ini lebih lama ia menatap wajah Ara, seperti benar-benar sedang mengingat sesuatu dari arsip paling belakang di otaknya.
Lalu sesuatu berubah di matanya. Bukan kehangatan. Bukan pun pengakuan yang melegakan.
"Ah." Ia bersuara akhirnya. "Cewe gila tadi siang."
Ara membeku.
"Cewe... apa?"
"Gila." Ia mengulangnya dengan santai yang menyebalkan. "Yang numpahin makanan terus bengong di tengah kantin."
"Aku tidak gila." Ara merapatkan bibirnya. "Aku tersandung. Tali sepatuku—"
"Sama saja."
"Sama saja bagaimana?" Suara Ara naik setengah oktaf sebelum ia sempat mengontrolnya. "Itu namanya kecelakaan, bukan—"
"Kak." Anak kecil di sebelah Gian tiba-tiba menyela, menatap Ara dengan mata bulatnya yang polos. "Kakak cantik ya."
Ara tersentak. Amarah yang tadi mulai mengepul langsung terputus di tengah jalan.
Ia menatap anak kecil itu. Rambut hitam sedikit ikal, pipi chubby, dan es krim yang sudah mulai meleleh di tangannya sampai menetes ke jarinya tanpa ia sadari.
Ara tidak bisa marah di depan anak kecil selucu ini.
Tidak mungkin.
"Makasih," Ara menjawab, berusaha mengembalikan senyuman ke tempatnya. "Kamu juga imut banget. Siapa namamu?"
"Fio!" Anak itu menjawab dengan antusias yang tidak proporsional, es krimnya bergoyang mengikuti kepalanya yang mengangguk-angguk. "Nama lengkapnya Fio William tapi Kak Gill cuma panggil Fio. Kakak namanya siapa?"
"Tiara." Ia melirik sekilas ke arah Gian yang kini disebut Fio dengan nama Gill itu. Cowok itu masih menatap ponselnya, sama sekali tidak tertarik pada percakapan yang terjadi di sebelahnya. "Fio, es krimnya mau jatuh tuh."
"Hah?" Fio menengok ke tangannya dan langsung panik dengan cara yang menggemaskan, tangannya bergerak cepat menyelamatkan es krimnya sebelum meleleh lebih banyak.
"Pelan-pelan," Ara tersenyum.
"Makasih Kak Ara!" Fio tersenyum lebar, memperlihatkan gigi depannya yang satu sudah tanggal.
Yang tak dia sangka adalah Gian yang dari tadi hanya fokus pada ponsel nya bergerak. Dia mengelap sisa icecream dari bibir Fio menggunakan lengan bajunya.
"Cepat habisin icecream nya." Ucap Gian lembut, penuh perasaan, dan cara yang sangat berbeda dari cara bicaranya ke Ara.
"Oke." Sahut Fio dengan polosnya.
Ara berdiri di sana selama beberapa detik, memandangi Fio yang kembali serius dengan es krimnya. Lalu ia menoleh ke Gian.
Ia sudah minta maaf. Sudah dua kali bahkan. Dan tidak satu pun di antaranya benar-benar diakui. Cowok itu bahkan memanggilnya cewe gila.
Seharusnya Ara berbalik dan pulang sekarang. Itu yang paling masuk akal.
Tapi ada satu hal yang membuatnya tidak langsung bergerak.
Ara baru sadar bahwa sejak tadi, sejak ia berdiri di sini dan berbicara, Gian tidak memperlakukannya seperti siapa pun yang biasanya memperlakukannya.
Tidak ada tatapan kagum. Tidak ada usaha untuk terlihat lebih baik di hadapannya. Tidak ada senyum manis yang dibuat-buat. Bahkan tidak ada rasa tidak nyaman yang biasanya muncul ketika orang-orang bicara dengan Tiara Alexsandra dan tidak tahu harus bersikap bagaimana.
Ia hanya cuek. Cuek yang sungguhan, bukan pura-pura.
Dan entah mengapa, itu terasa lebih mengganggu dari tatapan dinginnya tadi siang.
Karena Ara tidak tahu harus berbuat apa dengan seseorang yang tidak memberikan reaksi apa pun terhadapnya.
"Aku tetap minta maaf soal tadi siang," Ara mengucapkannya sekali lagi, kali ini dengan nada yang lebih pelan. Bukan merendah, tapi lebih... sungguhan. "Selamat malam."
Ia berbalik dan mulai berjalan.
"Hm."
Hanya itu. Satu suara dari tenggorokan, bukan kata, bukan balasan yang sebenarnya. Tapi cukup untuk membuat Ara tahu bahwa kali ini suaranya benar-benar didengar.
Ara tidak menoleh.
Ia meneruskan langkahnya pulang, kantong minimarket di tangannya, angin malam yang tadi terasa menenangkan sekarang terasa berbeda. Bukan lebih hangat, bukan lebih dingin.
Hanya berbeda.
Dan di sepanjang jalan pulang, ia tidak memikirkan Lina atau Diana atau Mike satu kali pun.
Yang ada hanya satu pertanyaan kecil yang menempel di sudut pikirannya, pelan tapi tidak mau pergi.
Kenapa orang itu begitu menyebalkan, tapi entah mengapa rasanya Ara yang justru kesal pada dirinya sendiri?