Black--- Seorang pria misterius yang menjadi pelindung bumi. Di balik pakaian hitam dan topeng hitam nya, tidak ada yang tau wajah nya. Kecuali satu--- Sang kekasih hati-- Evelyn Savana Alexa.
Sampai sebuah kasus tiba - tiba muncul yang memaksa Black harus turun tangan untuk menyelesaikan nya.. Kasus tentang kematian misterius yang tidak bisa di pecahkan oleh pihak detektif kepolisian terpaksa harus melibatkan Black.
Namun.. Apa yang terjadi jika pelaku dari kasus tersebut tiba - tiba memanggilnya. " Ayah!"
Rahasia apakah yang ada di balik kasus kematian para korban. Dan Siapakah sosok pelaku misterius itu? Apakah dia kawan atau lawan?
----------
Update Senin & Kamis... Setiap Update 3 Bab.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wajah Yang Sama
Masih Flashback Back--- tahun 2072
Di sebuah tempat tersembunyi yang jauh dari penderitaan rakyat, tawa kemenangan pecah layaknya simfoni neraka. Rodrigo, sang dalang di balik petaka ini, duduk dengan senyum penuh kebencian yang terukir di wajahnya.
Di hadapannya, hologram kematian menampilkan angka korban yang terus merangkak naik, sebuah statistik yang ia anggap sebagai mahakarya.
Di sekelilingnya, para pejabat korup yang berkhianat saling membenturkan gelas kristal, merayakan kehancuran moral dan fisik Arcania. Mereka yakin bahwa sebentar lagi, reputasi Black sebagai pahlawan agung akan runtuh bersimbah debu kemarahan rakyat, mengubah sosok penyelamat menjadi kambing hitam dalam tragedi yang mereka ciptakan sendiri.
Rodrigo memutar gelas wine, menatap hologram jumlah kematian. "Lihat angka-angka ini. Cantik, bukan? Setiap nyawa yang hilang adalah satu paku tambahan untuk peti mati reputasi Sang Kaisar Black."
Pejabat Korup tertawa sinis. "Luar biasa, Tuan Rodrigo! Rakyat yang dulu memuja 'pahlawan bertopeng' itu kini mulai mengutuk namanya. Mereka pikir dia mengabaikan mereka demi kenyamanan istana."
Rodrigo mengangkat satu sudut bibirnya. "Biarkan mereka berteriak minta tolong sampai suara mereka hilang. Biarkan Black memeras otaknya di laboratorium itu. Dia tidak akan pernah bisa mengalahkan sesuatu yang tidak bisa dia serang dengan pedang atau sihirnya. Malam ini, kita bersulang untuk runtuhnya sebuah legenda!"
Ketegangan mencapai puncaknya saat Viona, putri Rodrigo yang telah membuang persahabatannya dengan Elvira demi ambisi gelap sang ayah, melangkah maju dengan kabar yang mengerikan. "Rencana selanjutnya sudah siap, Ayah!" ucapnya dingin.
Di belakang mereka, sebuah robot manusia berdiri tegak dengan wajah yang identik dengan sang Kaisar—sebuah replika sempurna yang diciptakan Rodrigo menggunakan formula rahasia milik Angel yang pernah dia curi.
Dengan senjata biologis dan klon mekanis ini, Rodrigo bersiap melancarkan serangan terakhir--- sebuah skenario di mana "Black" sendiri yang akan terlihat menghancurkan rakyatnya, mengubah pahlawan yang dicintai menjadi monster yang akan dikutuk oleh sejarah selamanya.
" Robot prototipe itu telah selesai. Dia memiliki detak jantung, suhu tubuh, dan wajah yang identik dengan Black."
Rodrigo tersenyum licik. "Bagus, Viona. Berkat formula yang aku curi dari Angel, kita punya senjata pamungkas. Bayangkan ekspresi rakyat saat mereka melihat 'Kaisar Black' yang mereka cintai justru membantai mereka dengan keji. Itulah paku terakhir di peti matinya."
•
•
Fajar berikutnya, Arcania tidak mendapatkan keselamatan yang mereka tangisi. Sosok bertopeng hitam yang mereka cintai muncul di pusat kota, namun alih-alih mengulurkan tangan bantuan, ia justru membawa kiamat. Dengan kekuatan luar biasa yang melampaui logika, sosok "Black" itu mulai meruntuhkan gedung-gedung pencakar langit dan menghancurkan apa pun yang bernapas di hadapannya.
Seorang warga terbatuk darah, tersungkur. "Kaisar Black... tolong kami... virus ini..."
Ledakan besar terdengar. Sosok pahlawan Black mendarat di tengah kerumunan, namun ia langsung menghunuskan pedang energinya ke gedung pencakar langit.
"Kaisar? Apa yang Anda lakukan?! Itu rumah sakit darurat! Berhenti!"
Robot Black, suara Monoton. "Pembersihan dimulai. Arcania tidak butuh yang lemah." menghancurkan bangunan dengan satu serangan.
Dalam satu malam yang berdarah, simbol perlindungan berubah menjadi momok kehancuran, menyisakan tanya yang memilukan--- apakah sang pahlawan telah berkhianat, ataukah Arcania sedang menyaksikan kelahiran monster yang mereka ciptakan sendiri dari rasa puja yang buta?
Sementara--- Black yang sebenarnya tengah berjuang bersama ketiga anak nya untuk menemukan penawar dari virus yang kian semakin menjadi.
Wajah Kaisar Black tampak lelah, memegang botol sampel. "Sedikit lagi... Jika molekul ini stabil, virus ini bisa kita hentikan. Kalian, tetaplah fokus. Kita tidak punya waktu untuk beristirahat."
Arthur menjawab namun matanya fokus. "Ayah, ada laporan aneh dari luar. Sensor keamanan menangkap getaran ledakan di sektor pusat."
Kaisar Black terhenti sejenak. "Mustahil. Kenzie menjaga gerbang. Tidak ada musuh yang bisa menembus pertahanan istana tanpa laporanku. Fokus pada penawar ini, atau semua nyawa yang tersisa akan melayang."
Sementara di gerbang istana Arcania yang di jaga ketat oleh Kenzie-- laporan di Terima, sosok yang menyerupai Kaisar Black telah membantai beberapa warga sipil.
Kenzie melihat layar pemantau dengan ngeri. "Itu... Wajah Kaisar? Tidak... siapa makhluk di luar sana yang berani menggunakan jubah itu untuk membantai rakyat kita?!
Prajurit satu berkata. "Jenderal! Perintah Anda? Rakyat mulai berteriak bahwa Kaisar telah mengkhianati mereka!"
Kenzie mengepalkan tangan."Siapkan pasukan elit. Jika dunia ingin membenci Black, maka mereka harus melewati mayatku dulu untuk membuktikan kebenarannya."
Namun, situasi memburuk secara eksponensial ketika para petinggi militer, yang dibutakan oleh amarah dan tipu daya Rodrigo, mengerahkan seluruh kekuatan aparat untuk menggulingkan takhta sang Kaisar.
Terhimpit di antara kewajiban menjaga pos dan urgensi kebenaran, Kenzie terpaksa meninggalkan garis depan demi melaporkan pengkhianatan visual ini kepada tuannya.
Pintu laboratorium terbanting terbuka. Kenzie masuk dengan napas tersengal, baju zirah peraknya ternoda debu ledakan.
"Yang Mulia! Hentikan semuanya! Anda harus melihat apa yang terjadi di luar sana!"
Black perlahan mengangkat tabung reaksi berisi cairan berpendar biru safir. Wajahnya pucat, matanya letih setelah berminggu-minggu tidak tidur bersama ketiga putranya.
"Tenang, Kenzie. Jaga suaramu. Sedikit guncangan saja, dan penawar ini akan stabil. Rakyat sedang sekarat di luar sana... virus ini harus segera di bersihkan."
"Rakyat tidak hanya sekarat karena virus, Yang Mulia! Mereka mati karena Anda! Setidaknya, sosok yang memakai topeng dan wajah Anda! Dia menghancurkan sektor enam. Dia membakar rumah sakit yang penuh dengan korban virus. Rakyat berteriak memanggil nama Anda, tapi 'Anda' yang di sana hanya membalas mereka dengan ledakan!"
Black tertegun. Tabung di tangannya bergetar. Arthur mendekat, namun Black memberi isyarat untuk tetap di posisi. "Mustahil. Aku tidak meninggalkan ruangan ini sejak satu bulan yang lalu. Siapa yang berani memakai wajahku untuk menumpahkan darah rakyatku sendiri?"
"Aparat petinggi telah mengerahkan seluruh pasukan penghancur. Mereka pikir Anda telah gila karena beban kekuasaan. Jika Anda tidak keluar sekarang dan membuktikan bahwa itu bukan Anda, Arcania akan rata dengan tanah sebelum virus itu sempat membunuh mereka." kata Kenzie dengan nafas memburu. " Tolong perintahkan hamba untuk mengerahkan pasukan Kekaisaran, Yang Mulia!"
" Tidak ada pasukan! Aku tidak akan membiarkan pertumpahan darah terjadi! Aku akan menghadapinya."
" Tapi---" Kenzie tidak melanjutkan kalimat nya karena Black mengangkat tangan nya. Dia hanya bisa menunduk.
Di sebuah bunker rahasia, Rodrigo menatap layar monitor yang menampilkan kekacauan tersebut dengan senyum penuh kepuasan.
"Lihatlah, mahakaryaku. Dunia melihat pahlawan mereka berubah menjadi monster. Wajah itu, topeng itu... akan menjadi simbol kehancuran Arcania. Black membangun kekaisaran ini dengan harapan semua orang, dan aku akan meruntuhkannya dengan keputusasaan yang identik."
Kembali ke Laboratorium. Black memakai jubah identitas nya dengan tegas.
"Kenzie, pergilah ke tempat persembunyian. Lindungi keluargaku dengan nyawamu. Biarkan putra-putri ku membantu mendistribusikannya melalui jalur udara. Aku akan keluar. Jika dunia menginginkan monster, aku akan menunjukkan kepada mereka apa yang terjadi jika seorang monster asli bertemu dengan tiruannya."
•
•
•
BERSAMBUNG