NovelToon NovelToon
Rahasia Di Saung Langit

Rahasia Di Saung Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / CEO / Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Arroels

Aroel Mahardika kembali ke desa setelah lima tahun pergi, diam-diam tanpa memberi tahu siapa pun. Tujuannya hanya satu: menenangkan hati yang selalu gelisah. Tapi desa itu menyimpan lebih dari sekadar ketenangan.
Di Saung Langit, tempat yang pernah menjadi saksi masa lalunya, Aroel dipukul secara misterius. Tidak ada saksi, tidak ada jejak, hanya rasa sakit yang nyata. Di tengah sawah, seorang bocah kecil muncul dan menghilang dengan tatapan yang penuh teka-teki. Warga desa terlalu tenang, terlalu diam, seolah menyimpan sesuatu yang tidak ingin mereka ungkapkan.
Siapa yang memukulnya?
Apa maksud bocah itu selalu muncul di tempat yang salah?
Dan rahasia apa yang selama ini disembunyikan oleh desa dan Saung Langit?
Setiap langkah Aroel menimbulkan pertanyaan baru, dan setiap jawaban yang ia dapat justru menimbulkan lebih banyak ketegangan. Dalam atmosfer yang menekan, emosinya meledak antara marah, takut, salah tingkah, dan penasaran. Masa lalu yang kelam, rahasia yang tersembunyi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arroels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benih benih Asmara

Aroel menaruh gelasnya di meja.

“Kalau Rahman tahu kita cuma duduk minum kopi begini, dia pasti kecewa,” katanya santai.

“Kenapa kecewa?” tanya Putri.

“Mungkin dia pikir kita akan debat besar atau saling lempar gelas.”

Putri tertawa kecil. “Kita pernah separah itu ya?”

Aroel mengangkat bahu. “Kamu pernah lihat aku seperti penjahat besar.”

Putri menatapnya, lalu menggeleng pelan. “Sekarang nggak.”

“Sekarang apa?”

“Sekarang kamu cuma… cerewet.”

Aroel pura-pura tersinggung. “Cerewet itu tanda peduli.”

“Oh ya?”

“Iya. Orang yang diam itu yang berbahaya.”

Putri tersenyum tipis. “Berarti dulu kamu berbahaya.”

“Dulu aku bingung.”Putri terdiam sebentar.

“Aroel,” katanya lebih pelan, “kalau semua ini ternyata salah paham dari awal… kamu bakal marah nggak?”

“Marah ke siapa?”

“Ke aku.”

Aroel berpikir sebentar.

“Enggak.”

“Kenapa?”

“Karena kita sama-sama nggak tahu apa-apa waktu itu.”

Putri menunduk sedikit, memainkan ujung bajunya.

“Kamu gampang banget ya memaafkan.”

Aroel tersenyum kecil. “Enggak juga. Cuma capek kalau harus terus tegang.”Putri mengangguk pelan. Itu masuk akal.

Beberapa detik mereka hanya duduk dalam diam.

Putri tiba-tiba berdiri.

“Kamu sarapan belum?”

“Belum.”

“Pantesan banyak komentar.”

Aroel tertawa kecil. “Komentar itu bakat.”

Putri berjalan ke dapur kecil. “Kalau bakatmu cuma komentar, nanti aku potong jatah kopimu.”

Aroel langsung berdiri dan menyusul.

“Eh jangan. Itu ancaman serius.”

Putri menoleh sambil tersenyum tipis. “Berarti kamu butuh aku.”

Aroel berhenti satu langkah.

“Kopi atau kamu?”

Putri pura-pura sibuk membuka laci. “Kopi.”

Aroel mendekat sedikit. “Sayang sekali.”

Putri menoleh cepat. Wajahnya sedikit memerah, tapi ia menutupi dengan nada datar.

“Kamu percaya diri sekali.”

“Sedikit.”

“Berlebihan.”

“Biar seimbang sama kamu yang terlalu hati-hati.”

Putri terdiam.

Kalimat itu tepat.

Ia memang terlalu hati-hati.

Aroel menyadari perubahan ekspresinya.

“Eh, jangan serius lagi,” katanya cepat. “Nanti suasana rusak.”

Putri menghela napas kecil, lalu tersenyum lagi.

“Kamu ini… kalau lagi tenang malah lebih mengganggu.”

“Karena nggak ada yang bisa kamu salahkan.”

Putri menatapnya beberapa detik, lalu berkata pelan,

“Aku nyaman begini.”

Aroel tidak bercanda kali ini.

“Aku juga.”

Hening.

Tapi bukan hening canggung.

Putri mengambil piring dan mulai menata sarapan sederhana.

Aroel membantu tanpa diminta.

Gerakan mereka kadang hampir bersentuhan.

Kadang tangan mereka saling mendahului.

“Maaf,” kata Putri ketika jari mereka bertabrakan.

“Kamu sering minta maaf.”

“Kebiasaan.”

Aroel menatapnya lembut. “Nggak semua hal perlu minta maaf.”

Putri menatap balik.

“Kalau aku mulai percaya lagi… kamu jangan pergi.”

Aroel menghela napas pelan.

“Aku masih di sini.”

Putri mengangguk kecil.

Di luar, cahaya matahari masuk lebih terang ke dalam ruangan.

Rahman belum kembali.

Tidak ada yang mengawasi.

Tidak ada yang mengganggu.

Hanya dua orang yang pelan-pelan berhenti saling curiga.

Putri meletakkan piring di meja.

“Kita makan dulu. Habis itu kamu boleh komentar lagi.”

Aroel tersenyum.

“Baik. Tapi kalau makanannya enak, aku protes.”

“Kenapa?”

“Takut kamu makin percaya diri.”

Putri tertawa kecil.

Dan pagi itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama,tawa mereka terdengar ringan.

Sejenak suasana kembali sunyi,sementara Rahman Belum juga datang,Aroel memandang Putri mendalam,Putri merasa tersipu malu,Benih-benih cinta mulai terasa tumbuh,Sesaat mereka mulai terasa gak canggung berbicara.

Waktu terus berlalu.Situasi mereka saat ini dalam posisi sangat Aman dari pantauanAnak buah Herman.

Bersambung.......

1
anggita
like👍iklan👍, moga novelnya lancar.
Axelari
Alur cerita nya keren
Arroels: Thanks
total 1 replies
Axelari
Wow🔥🔥
Axelari
Yoww novel yang kerenn, btw mampir
Arroels: ok,bentar aku mampir,baru selesai bab 8
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!