NovelToon NovelToon
CEO IMPIAN MONTIR IDAMAN

CEO IMPIAN MONTIR IDAMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ais_26

Ia berlutut pelan di depan ibunya.

“Bu…” suaranya hampir tak terdengar.

Ibunya bergerak sedikit. Mata itu terbuka perlahan.

Butuh dua detik untuk menyadari.

“Ara?”

Ara tersenyum, air mata akhirnya jatuh.

“Iya Bu. CEO-nya belum dapat tapi anaknya pulang dulu”

Ibunya duduk tegak, lalu memeluknya tanpa kata.

“Eleh. Kaya raya siapa yang mau sama modelan kaya kamu tuh? Paling ada Mang Diman. Itu baru kaya tujuh turunan gak habis-habis. Mau Ibu jodohin?” katanya sambil ketawa terbahak-bahak

Ara langsung panik setengah jengkal

“Eh jangan Diman dong Bu! Nanti anak Ibu jadi istri ketiga terus Ara punya anak tiri enam!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30

Ara belum langsung masuk ke rumah.

Ia masih berdiri di dekat pagar, memandangi lampu-lampu kecil yang menggantung di tenda. Angin sore menggerakkan kainnya pelan.

“Mbak…” panggilnya pelan sebelum Mba Raina benar-benar menyalakan mobil lagi.

“Iya?”

Ara menoleh, ragu sebentar, lalu bertanya,

“Emang dulu waktu Mbak nikah sama Mas Reyhan gimana rasanya?”

Mba Raina terdiam sepersekian detik. Lalu ia tersenyum kecil—senyum yang berbeda dari biasanya. Tidak seceria tadi. Lebih dalam.

“Deg-degan,” jawabnya jujur. “Banget.”

Ara mendekat sedikit ke jendela mobil.

“Padahal Mbak kelihatannya santai.”

“Santai di luar. Dalamnya? Kayak drum band.”

Ara tertawa pelan.

Mba Raina melanjutkan, suaranya lebih tenang.

“Waktu aku nikah sama Mas Reyhan, aku juga takut. Takut nggak bisa jadi istri yang baik. Takut salah ngomong. Takut nggak bisa ngatur rumah.”

Ara menatapnya lekat.

“Terus gimana, Mbak?”

“Ya dijalanin.”

Jawabannya sederhana, tapi tidak ringan.

“Tapi kan Mbak beda…” Ara ragu-ragu. “Mbak LDR-an sama suami. Pasti lebih susah.”

Mba Raina mengangguk pelan.

“Iya. Setelah nikah, beberapa bulan bareng. Habis itu dia harus kerja di luar kota. Jauh.”

Ara terdiam.

“Awalnya berat,” lanjutnya. “Bangun pagi nggak ada orang di sebelah. Mau cerita hal kecil pun harus nunggu telepon. Kadang sinyal jelek. Kadang capeknya numpuk.”

Ia tersenyum tipis.

“Tapi justru di situ aku belajar. Nikah itu bukan soal tiap hari bareng terus. Tapi soal tetap merasa satu tim, walaupun lagi jauh.”

Ara menyimak dengan serius.

“Waktu akad dulu,” kata Mba Raina pelan, “aku juga sempat mikir, ‘Apa aku siap?’ Tapi ternyata kesiapan itu bukan rasa yang datang tiba-tiba. Itu keputusan yang kamu ulang tiap hari.”

Angin sore berembus lembut.

“Aku sama Mas Reyhan beda situasi sama kamu. Kamu nanti langsung bareng. Aku LDR. Tapi intinya sama.”

“Apa itu?” tanya Ara pelan.

“Komunikasi. Dan nggak gengsi buat bilang kalau lagi capek atau takut.”

Ara mengangguk perlahan.

“Mbak pernah nyesel?”

Pertanyaan itu keluar pelan, hampir seperti bisikan.

Mba Raina tersenyum.

“Enggak.”

Jawabannya mantap.

“Capek? Pernah. Nangis? Sering. Tapi nyesel? Enggak. Karena aku tahu aku pilih orang yang mau berjuang juga.”

Ara menarik napas dalam.

“Aku takut nggak sekuat Mbak.”

Mba Raina langsung menggeleng.

“Jangan bandingin. Aku punya ujian sendiri. Kamu nanti punya cerita sendiri. Nggak ada pernikahan yang sama persis.”

Ia menatap Ara lembut.

“Kamu cuma perlu satu hal: yakin sama keputusanmu. Sisanya, kalian pelajari bareng.”

Lampu tenda mulai menyala satu per satu saat langit semakin gelap.

“Dan satu lagi,” tambah Mba Raina sambil tersenyum tipis, “kalau nanti kamu ngerasa ‘kok susah ya’, ingat… Mbakmu ini pernah LDR-an habis nikah dan tetap waras.”

Ara tertawa kecil.

“Tuh kan, masih bisa bercanda,” lanjutnya. “Artinya bisa.”

Ara akhirnya tersenyum lebih lebar.

“Terima kasih, Mbak.”

“Sudah sana masuk. Calon pengantin nggak boleh kena angin sore lama-lama.”

Ara mengangguk, lalu melangkah masuk ke halaman.

Di belakangnya, mobil Mba Raina perlahan menjauh.

Ara melangkah perlahan ke dalam rumah, membiarkan mata dan hatinya menyerap suasana yang berbeda. Setiap langkah terasa berat sekaligus hangat.

Begitu sampai di kamarnya, ia terhenti sejenak di ambang pintu. Kamar itu sudah dihias rapi.

Tirai tipis berwarna pastel menggantung lembut, lampu-lampu kecil di sudut memancarkan cahaya hangat yang menenangkan, dan bunga-bunga segar tersusun di atas meja rias dan lemari.

Aroma lembut lavender dan vanilla menyelimuti

ruangan, membuat suasana terasa intim dan damai.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka, dan Ibu Ara masuk dengan senyum hangat di wajahnya. Mata Ibu berbinar melihat ruangan yang sudah dihias cantik dan Ara yang tampak segar.

“Ih, Ra… gimana tadi di treatment-nya? Enak kan?” tanya Ibu sambil melangkah lebih dekat, menatap Ara dari ujung kepala sampai kaki.

Ara tersenyum malu, sedikit menunduk. “Alhamdulillah, Bu… enak banget. Badan jadi rileks, wajah segar, dan aromanya juga nyaman. Mbak Raina tadi ikut juga, Bu…"

Ibu mengangkat alis, tertawa pelan “Ah, ya ampun…"

Ara menarik napas dalam-dalam, matanya menatap sekeliling kamar yang hangat dan nyaman. Perlahan ia tersenyum tipis.

“Ah… aku jadi sedikit relaks, Bu,” ucapnya pelan, suaranya penuh lega.

 “Iya Ra… " Ucap Ibu tersenyum lembut sambil menepuk bahu Ara lagi

“Yaudah, Ra… Mama ke depan dulu ya. Kamu istirahat biar besok siap buat siraman” ucapnya penuh kasih.

Ara mengangguk pelan, menahan senyum. “Iya, Bu… Makasih ya.”

Ibu menatapnya sebentar, lalu berbelok keluar kamar. “Jangan kebanyakan mikir, Ra. Santai aja. Mama percaya kamu bisa jalani semuanya dengan tenang.”

Setelah pintu tertutup, Ara duduk di tepi tempat tidur, menarik napas panjang. Ia menatap dekorasi kamar, lampu-lampu kecil, dan aroma harum yang masih tersisa.

“Hmm… bener juga ya… aku jadi lebih rileks,” gumamnya pelan, tersenyum tipis.

Ia menutup mata sebentar, membiarkan tubuh dan pikirannya tenang, mempersiapkan diri untuk hari besok yang akan penuh momen istimewa.

Lalu membuka mata perlahan dan menatap sekeliling kamar sekali lagi.

“Besok… siraman” gumamnya pelan, membayangkan momen keluarga dan doa-doa yang akan mengalir hangat untuknya. Setiap detail terasa nyata, tapi juga memberi rasa nyaman yang belum ia rasakan selama persiapan nikah yang sibuk.

Ara melangkah mendekati jendela, menatap langit malam yang mulai gelap, angin sore masih membawa harum dari taman.

Ia duduk kembali di tepi tempat tidur, menutup mata, dan membiarkan tubuhnya beristirahat.

“Semoga aku bisa jalani semua dengan tenang… dan bahagia,” bisiknya pelan.

1
Irmha febyollah
ko di ulang2 kk
Irmha febyollah
lah kmren si Danu ngantarin gorengan ini ngantar motor SMA karyawan blg gak tau rumah si Ara.
Wati Anja
ko ga ada lanjutannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!