NovelToon NovelToon
Ustadz, I’M In Love

Ustadz, I’M In Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa / Tamat
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

di bawah umur di larang membaca.

Rina adalah definisi dari "anak muda zaman now"—ekspresif, jahil, dan sedikit re-og. Baginya, dunia sosial adalah tempat bermain untuk menggoda siapa saja, termasuk seorang pria misterius di aplikasi HelloTalk yang ia panggil dengan sebutan "Mas Arab". Rina mengira ia sedang memegang kendali, sampai akhirnya takdir membawanya bertemu langsung dengan sosok tersebut.
​Ternyata, "Mas Arab" adalah Rohman, seorang Ustadz muda yang kaku, alim, namun memiliki tingkat kesabaran setebal kamus bahasa Arab. Pertemuan pertama mereka langsung meledak dengan kekonyolan Rina yang mencoba mengetes iman sang Ustadz.
​Namun, Rina salah besar. Di balik sikap tenangnya, Rohman adalah tipe pria "sat-set" yang tidak suka membuang waktu. Saat Rina terus-menerus menguji batasan kesabarannya, Rohman justru membalas dengan sebuah langkah skakmat: Mempercepat akad nikah sore itu juga!
​Kini, Rina terjebak dalam status sebagai istri sah. Niat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 14

Rina kembali menatap Rohman dengan tatapan penuh rasa ingin tahu yang polos sekaligus nakal. Tangannya yang mungil tampak bergerak-gerak gelisah di atas pangkuan, sementara matanya melirik ke arah sesuatu yang menonjol di saku kemeja koko Rohman.

​"Sayang, aku mau nanya," ucap Rina pelan, suaranya sedikit serak karena penasaran.

​"Nanya apa, Rina?" sahut Rohman tanpa menoleh, konsentrasinya terbagi antara menyetir dan mengantisipasi pertanyaan absurd apa lagi yang akan keluar dari mulut calon istrinya ini.

​"Itu punya kamu besar tidak? Boleh gak aku pegang?"

​CITTTTT!

​Rohman menginjak rem secara mendadak hingga tubuh Rina terdorong ke depan. Beruntung sabuk pengaman menahannya. Rohman langsung memarkirkan kembali mobilnya ke bahu jalan, wajahnya yang tadi tenang kini berubah merah padam sampai ke telinga.

​"Astagfirullah, Rina!" Rohman menoleh dengan napas yang sedikit memburu, matanya membelalak tak percaya. "Kamu terlalu agresif, Sayang. Itu tidak baik. Kita ini belum menikah, menjaga kehormatan dan lisan itu sebagian dari iman."

​"Ya kan aku cuma penasaran, Mas Arab! Pelit banget sih," jawab Rina sambil mengerucutkan bibirnya, sama sekali tidak merasa bersalah.

​Rohman mengusap wajahnya dengan telapak tangan, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang karuan. "Lagipula... apa yang mau kamu pegang? Kenapa tanyanya yang bukan-bukan?"

​Rina mendengus, lalu telunjuknya menunjuk ke arah saku kemeja koko Rohman yang tampak menggembung besar. "Itu! Dompet kamu! Isinya tebal banget kan? Aku cuma mau lihat kartu-kartunya, katanya kamu good rekening. Aku mau cek kamu beneran kaya atau cuma gaya doang bawa mobil mewah!"

​Hening seketika.

​Rohman tertegun, lalu perlahan menunduk menatap sakunya sendiri. Ia terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya tawa renyahnya pecah, bahkan sampai ia harus menyandarkan kepalanya di setir mobil karena terlalu geli.

​"Hahaha! Jadi... jadi kamu maksudnya dompet?" tanya Rohman sambil menyeka sudut matanya yang sedikit berair karena tertawa.

​"Iya! Memangnya apa?!" balas Rina dengan wajah polos tanpa dosa, meski sebenarnya ia sedikit bingung melihat reaksi Rohman yang berlebihan. "Kamu mikir apa, hah?! Mas Arab pikirannya jorok ya?! Ih, amit-amit!"

​Rohman segera berdehem, mencoba kembali berwibawa meski sisa tawanya masih ada. "Maaf, maaf. Saya kira... ah, lupakan. Ini, ambil," Rohman merogoh sakunya dan menyerahkan dompet kulit panjang berwarna hitam itu ke tangan Rina. "Silakan dicek sesuka hati. Isinya memang besar karena di sana ada tiket perjalanan kita nanti, beberapa kartu kredit, dan foto seseorang yang paling berisik yang pernah saya temui di aplikasi HelloTalk."

​Rina menyambar dompet itu dengan antusias. Benar saja, saat ia membukanya, selain tumpukan kartu yang menunjukkan kemapanan Rohman, terselip sebuah foto kecil—foto Rina yang sedang tersenyum manis saat wisuda S2 dulu.

​"Kok kamu punya foto ini?!" Rina berseru kaget.

​"Saya punya cara sendiri untuk mencari tahu tentang wanita yang saya cintai," sahut Rohman sambil kembali menjalankan mobilnya. "Nah, sekarang jangan tanya yang aneh-aneh lagi ya? Hati saya hampir copot tadi."

​Rina hanya nyengir lebar, merasa menang satu poin karena berhasil membuat Ustadz idola itu salah tingkah setengah mati. "Makanya, jangan suudzon dulu sama calon istri cerdas kayak aku!"

Rina tertawa licik melihat telinga Rohman yang masih memerah. Ia merasa di atas angin karena berhasil membuat pria setenang Rohman kelabakan hanya dengan satu pertanyaan jebakan.

​"Pasti mikirnya ke situ kan? Ngaku aja deh, Mas Arab!" goda Rina sambil menyenggol lengan Rohman dengan dompet tebal yang masih ia genggam. "Ternyata ustadz juga manusia ya, pikirannya bisa 'travelling' jauh sampai ke luar angkasa."

​Rohman mencoba kembali fokus ke jalanan, meski senyum tipis masih menghiasi wajahnya. "Rina, sudahlah. Saya hanya kaget. Kamu itu benar-benar tidak terduga."

​Rina menyandarkan punggungnya ke kursi mobil mewah itu dengan gaya angkuh yang dibuat-buat. "Makanya, Mas, jangan remehkan mahasiswi S2. Tapi tenang saja," Rina menjeda kalimatnya, membuat Rohman refleks melirik sekilas ke arahnya. "Kalau nanti kita sudah sah menikah, aku tidak akan mengasih hak kamu sebagai suami!"

​CITTT! Untuk kedua kalinya dalam waktu kurang dari sepuluh menit, Rohman menginjak rem, meski kali ini tidak semendadak tadi. Ia menoleh ke arah Rina dengan tatapan yang benar-benar bingung sekaligus kaget.

​"Maksud kamu apa, Rina? Tidak memberikan hak suami?" tanya Rohman dengan nada suara yang merendah, menunjukkan kewibawaannya yang mulai terusik. "Menikah itu ibadah, dan memenuhi hak suami adalah kewajiban istri. Kamu mau kita baru akad langsung perang dunia?"

​Rina malah terbahak-bahak sampai matanya menyipit. "Tuh kan! Emosian! Mas Arab beneran gampang baper ya kalau soal begini!"

​"Rina, saya serius. Kenapa kamu bicara begitu?"

​Rina berhenti tertawa, lalu menatap Rohman dengan tatapan nakal yang sulit diartikan. "Aku nggak akan mengasih hak kamu sebagai suami... kalau kamu cuma minta yang biasa-biasa saja. Aku mau kasih lebih! Aku mau jadi istri paling berisik, paling manja, dan paling bikin kamu pusing seumur hidup sampai kamu nggak punya waktu buat ngeliat perempuan lain!"

​Rohman tertegun sejenak, lalu mengembuskan napas panjang seolah baru saja melepaskan beban berat dari pundaknya. Ia menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum pasrah. "Astaga, Rina... jantung saya beneran bisa copot kalau setiap hari begini. Kamu pintar sekali memutar balikkan kata-kata."

​"Tapi suka kan?" tantang Rina sambil menaikkan alisnya.

​Rohman tidak menjawab dengan kata-kata. Ia kembali menjalankan mobilnya, namun kali ini tangan kirinya turun dari setir dan mengusap pelan punggung tangan Rina yang sedang memegang dompetnya. "Sangat suka. Tapi tolong, simpan tenaga kamu buat nanti setelah akad. Sekarang, kita harus fokus pilih baju pengantin. Saya tidak mau calon istri saya yang 'agresif' ini berubah pikiran karena bajunya kurang cantik."

​"Dih, siapa yang agresif! Aku cuma jujur!" balas Rina sambil memalingkan wajah ke jendela, menyembunyikan senyum kemenangannya yang makin lebar.

1
Putri Lauren
lanjuttt thor KLO bisa double
Putri Lauren
lanjut thor
Moza Tri Utami: lanjut dong thorr
total 2 replies
Putri Lauren
mantap
Putri Lauren
aku suka Thor lanjuttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!