Sepuluh tahun lalu, hujan merenggut segalanya dari seorang gadis lima belas tahun. Tanah longsor menelan kedua orang tuanya tanpa jejak, memaksanya tumbuh sebelum waktunya. Sejak hari itu, Nala belajar satu hal: hidup bukan tentang memilih, tapi tentang bertahan.
Bersama adiknya, Niskala, ia pindah ke ibu kota dengan harapan masa depan yang lebih baik. Namun kenyataan jauh lebih kejam. Pendidikan dirampas, masa kecil dipaksa hilang, dan mereka harus berdiri di lampu merah menjual tisu demi bertahan hidup. Hingga suatu malam, dengan uang receh yang dikumpulkan diam-diam selama bertahun-tahun, Nala memilih kabur—membawa satu-satunya hal yang tak boleh hancur: mimpi adiknya.
Di kota yang tak pernah benar-benar peduli, Nala bekerja tanpa henti. Pagi sebagai kasir, siang di minimarket, malam menjadi barista, bahkan memasak mi di warnet sempit yang pengap. Tubuhnya lelah, perutnya sering kosong, tapi satu hal tak pernah goyah: Niskala harus tetap sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saqila nur sasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesepakatan
“Mungkin yang paling menyakitkan dari menanggung banyak harapan bukanlah beratnya, melainkan kenyataan bahwa ia tak pernah di beri ruang untuk Lelah”
***
Jam menunjukkan hampir pukul enam sore ketika Nala keluar dari minimarket. Seragamnya masih melekat di tubuh. Ia bahkan tidak sempat pulang untuk berganti pakaian.
Tak ada waktu.
Tak ada ruang untuk ragu. Ia menatap alamat yang tadi ia tulis di secarik kertas kecil. Gedung perkantoran di pusat kota—wilayah yang bahkan jarang ia lewati. Ia naik angkutan umum, duduk di dekat jendela, memandang kota yang berubah wajah saat senja turun. Gedung-gedung tinggi mulai menyala. Lampu-lampu kaca berkilauan.
Dunia yang terasa… asing. Sesampainya di depan gedung bertuliskan Andhikara Group, langkahnya sempat terhenti. Bangunan itu menjulang tinggi. Kaca-kacanya memantulkan cahaya senja dengan elegan. Lobi terlihat luas, marmernya mengilap. Ia menunduk melihat sepatunya yang sederhana.
Lalu menarik napas.
Ini bukan soal gengsi.
Ini soal waktu.
Ia melangkah masuk.
Petugas resepsionis menyambut dengan senyum profesional.
“Selamat sore. Ada yang bisa dibantu?”
“Saya… Nala. Ada janji dengan Pak Baskara.”
Nama itu seperti kunci. Resepsionis langsung berubah sikap lebih formal.
“Silakan, Mbak Nala. Pak Baskara sudah menunggu di lantai atas.”
Sudah menunggu.
Tentu saja. Lift terasa terlalu sunyi. Setiap angka yang bertambah membuat jantungnya berdetak lebih keras.
Ting.
Pintu terbuka.
Seorang sekretaris menyambutnya dan mengantar ke sebuah ruangan besar dengan pintu kayu gelap.
Ketukan pelan.
“Masuk.”
Suara itu tegas. Dingin. Sama seperti kemarin.
Nala masuk.
Ruangan itu luas, jendela kaca besar memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian. Meja kerja besar dengan tumpukan dokumen tersusun rapi.
Dan di baliknya—
Baskara Andhikara duduk dengan jasnya yang sempurna. Tatapannya langsung tertuju pada Nala. Ia tidak terlihat terkejut. Tidak terlihat emosional. Seolah ini memang hasil yang sudah ia perkirakan.
“Kamu datang,” katanya singkat.
“Saya tidak punya banyak waktu,” jawab Nala tenang. “Saya ingin semuanya jelas.”
Ada jeda kecil.
Lalu Baskara memberi isyarat pada sekretarisnya. Beberapa lembar dokumen tebal diletakkan di atas meja.
Kontrak.
Tertulis rapi.
Hak dan kewajiban.
Durasi pernikahan.
Kompensasi bulanan lima puluh juta rupiah. Biaya pendidikan Kala ditanggung penuh. Kontrakan akan dipindahkan ke tempat yang lebih layak. Semua detail tercantum jelas. Seperti kesepakatan bisnis profesional. Nala berdiri di depan meja itu. Ia tidak lagi gemetar seperti semalam. Air matanya sudah habis. Sekarang yang tersisa hanya fokus.
“Jika saya setuju,” katanya pelan tapi tegas, “tunggakan kuliah Kala dilunasi besok.”
“Besok pagi,” jawab Baskara tanpa ragu.
“Kontrakan?”
“Akan ada orang yang mengurus.”
Nala mengangguk pelan.
Ia membaca sekilas halaman demi halaman. Tidak semua ia pahami secara hukum. Tapi ia tahu satu hal Ia sedang menjual kebebasannya. Namun ia juga sedang membeli masa depan adiknya. Ia menatap pria di depannya.
“Ini murni kesepakatan bisnis, kan?” tanyanya.
Baskara menatapnya balik. “Ya.”
“Baik.”
Jawaban itu keluar lebih mantap dari yang ia kira. Ia mengambil pena. Tangannya sempat berhenti satu detik di atas kertas.
Hanya satu detik.
Bukan untuk menangis.
Bukan untuk ragu.
Tapi untuk mengingat.
Bahwa keputusan ini bukan karena ia lemah. Melainkan karena ia memilih bertahan dengan caranya sendiri. Lalu Tinta itu menyentuh kertas.
Nama: Nala.
Tertulis jelas.
Di bawah cahaya lampu kantor yang terang, ia resmi melangkah ke dunia yang tidak pernah ia bayangkan. Dan malam itu, tidak ada waktu untuk bersedih. Karena sejak ia melangkah ke gedung itu Nala sudah berhenti menjadi gadis yang hanya bertahan. Ia kini menjadi seseorang yang berani membayar harga demi orang yang ia cintai.
Tinta tanda tangan itu bahkan belum benar-benar mengering ketika Baskara kembali membuka laci mejanya. Ia mengeluarkan satu map lain. Lebih tipis, tapi tampak sering dibuka. Ia mendorongnya ke arah Nala.
“Ini yang harus kamu pelajari.”
Nala mengernyit.
Saat ia membukanya, halaman pertama langsung menampilkan judul tebal:
Profil: Arsha Andhikara
Di bawahnya tertulis poin-poin rinci.
Riwayat pendidikan.
Kebiasaan sehari-hari.
Cara berbicara.
Makanan favorit.
Minuman yang tidak disukai.
Gaya berpakaian.
Bahkan—cara tertawa.
Nala mengangkat wajahnya perlahan.
“Apa ini?”
“Panduan,” jawab Baskara singkat. “Arsha adalah lulusan desain dari luar negeri. Ia memiliki studio desain sendiri. Kepribadiannya kuat, percaya diri, elegan, dan… terlatih.”
Terlatih.
Kata itu terasa seperti kode untuk: sempurna. Nala menunduk kembali ke berkas itu.
Arsha Andhikara — Fashion & Creative Designer
Lulusan universitas ternama di Eropa. Pemilik satu studio desain dengan klien kelas atas. Terbiasa menghadiri acara sosialita dan pertemuan bisnis. Setiap kalimat terasa seperti membaca kehidupan orang lain yang mustahil disentuhnya.
“Arsha tidak berbicara terlalu cepat,” lanjut Baskara.
“Ia menjaga postur tubuhnya. Ia tidak menunjukkan emosi berlebihan. Ia terbiasa memimpin ruangan.” Nala menelan ludah.
Sementara dirinya?
Berbicara cepat saat gugup. Menunduk saat tidak percaya diri.
Bekerja dua shift demi bertahan hidup.
“Kepribadian kalian sangat berbeda,” kata Baskara tanpa nada menghakimi, tapi juga tanpa kelembutan. “Kamu harus menyesuaikan.”
“Menyesuaikan?” ulang Nala pelan.
“Kamu akan dilatih. Cara berjalan. Cara berbicara. Etika makan. Pengetahuan dasar tentang desain dan bisnisnya.”
Ia menatap Nala lurus.
“Kesalahan kecil bisa berakibat besar.” Nala merasakan sesuatu di dalam dadanya bergetar.
Bukan takut.
Tapi sadar. Ia bukan hanya menggantikan posisi seseorang. Ia harus menjadi seseorang itu.
“Kenapa Arsha tidak bisa melakukannya?” pertanyaan itu akhirnya keluar lagi. Baskara terdiam sepersekian detik.
“Karena situasinya tidak memungkinkan.”
Jawaban yang sama. Dingin. Singkat. Tertutup. Nala menatap foto Arsha yang terselip di dalam berkas. Wajah yang sangat mirip dengannya. Tapi sorot matanya berbeda. Percaya diri. Bebas. Penuh cahaya. Sementara dirinya kini berdiri di ruangan ini dengan seragam minimarket yang belum sempat diganti.
Kontras yang menyakitkan.
“Mulai besok kamu tidak perlu bekerja lagi,” lanjut Baskara. “Fokus pada pelatihan. Waktu kita tidak banyak.”
Tidak perlu bekerja lagi. Kalimat yang dulu terdengar seperti impian kini terasa seperti kehilangan identitas. Minimarket. cafe. Rutinitas lelahnya. Semua akan ditinggalkan. Demi menjadi versi lain dari dirinya sendiri. Nala menutup map itu perlahan.
“Kalau saya gagal?” tanyanya pelan. Baskara menatapnya tanpa ragu.
“Kamu tidak boleh gagal.”
Bukan ancaman. Tapi ketetapan. Nala menarik napas panjang. Ia sadar sejak tadi satu hal— Kontrak itu bukan hanya tentang pernikahan. Ini tentang penghapusan diri. Tentang belajar tersenyum seperti orang lain. Berjalan seperti orang lain. Berbicara seperti orang lain. Dan untuk pertama kalinya, Nala benar-benar mengerti harga dari lima puluh juta per bulan itu.
Bukan sekadar waktu.
Bukan sekadar status.
Tapi identitas.
Ia menatap Baskara sekali lagi.
“Baik,” katanya pelan, namun kali ini matanya tidak lagi goyah. “Kalau saya harus jadi Arsha… maka pastikan Bapak juga menepati semua bagian Bapak.”
Ada sesuatu di nada suaranya sekarang. Bukan kepasrahan.Tapi tekad. Karena jika ia memang harus kehilangan dirinya— Maka ia akan memastikan pengorbanannya tidak sia-sia.
Baskara menutup map itu dan menyandarkan tubuhnya.
“Satu hal lagi,” katanya tenang.
Nala menatapnya.
“Seminggu lagi ada pesta pertunangan putri rekan bisnis saya. Keluarga mereka akan hadir lengkap.”
Ia berhenti sebentar.
“Kamu akan datang sebagai Arsha.”
Bukan undangan.
Bukan permintaan.
Keputusan.
“Itu akan menjadi perkenalan tidak resmi sebelum pernikahan diumumkan,” lanjutnya. “Jadi kamu harus sempurna.”
Sempurna. Kata itu kini terdengar seperti beban tambahan di atas pundaknya yang sudah penuh. Dan sejak malam itu Hidup Nala berubah drastis. Keesokan paginya, tunggakan kuliah Kala benar-benar lunas. Bukti transfer dikirim langsung ke email kampus. SP terakhir dibatalkan. Kontrakan mereka pun tak perlu dibayar lagi.
Karena tiga hari kemudian, Nala dan Kala sudah pindah ke sebuah rumah di kompleks yang jauh lebih layak. Bukan rumah mewah berlebihan, tapi cukup luas, bersih, dan nyaman. Kala berdiri di ruang tamu baru mereka dengan wajah bingung.
“Ini… gimana ceritanya?” tanyanya. “Kita menang undian?” Nala yang sedang membuka kardus hanya menjawab singkat, “Rezeki.”
“Rezeki dari mana, mbak? mbak nggak biasanya misterius begini.”
Nala berhenti sebentar.
Ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Tidak bisa menjelaskan bahwa semua ini hasil tanda tangannya di atas kontrak yang menjual hidupnya sendiri.
“Fokus kuliah aja,” jawabnya akhirnya. “Nilai kamu jangan turun lagi.”
Kala mengerutkan kening. “mbak, mbak nggak ngapa-ngapain aneh kan?” Nala tersenyum tipis.
“mbak cuma capek. Udah, sana siap-siap.” Ia selalu mengalihkan.
Selalu menutup pembicaraan. Karena semakin Kala tahu, semakin berat beban yang akan mereka tanggung bersama. Dan Nala memilih menanggungnya sendiri. Sementara itu, kehidupannya seperti diputar seratus delapan puluh derajat. Ia berhenti dari minimarket. Berhenti dari cafe.