Genre: Fantasi-Wanita, Reinkarnasi, Petualangan, Aksi, Supernatural, Misteri, Kultivasi, Sihir.
[On Going]
Terbangun di hutan asing tanpa ingatan, Lin Xinyi hanya membawa satu hal bersamanya—suara misterius yang menanamkan pengetahuan sihir ke dalam pikirannya.
Di dunia di mana monster berkeliaran dan hukum kekuatan menentukan siapa yang hidup dan mati, ia dipaksa belajar bertahan sejak langkah pertama.
Siapakah sebenarnya Lin Xinyi?
Dan kenapa harus dia? Apakah dia adalah pembawa keberuntungan, atau pembawa bencana?
Ini adalah kisah reinkarnasi wanita yang tak sengaja menjadi dewi.
2 hari, 1 bab! Jum'at libur!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3 — Perasaan Apa Ini?
Waktu terus mengalir, meniti jejak matahari yang merangkak perlahan di langit, membawa perubahan tanpa suara.
Akhirnya aku dan yang lain tiba pada desa yang dimaksud.
Desa itu terpencil dan sunyi, terletak di lembah sempit yang diapit oleh pegunungan hijau lebat. Jalan setapaknya sempit, hanya terbuat dari batu-bulat licin yang telah lapuk ditumbuhi lumut.
Rumah-rumahnya sederhana, dibangun dari kayu gelap dan batu, dengan atap jerami yang sebagian sudah menghitam.
"Hmm."
"Ada apa? Jangan begitu terkejut, desa kami memang begini adanya," Yao Li yang bicara.
"Tidak bukan itu, aku merasakan ada yang sedikit aneh."
Mungkin hanya perasaanku saja, tapi entah kenapa... ada semacam energi hitam yang menyelimuti desa. Energi itu berputar-putar di sekeliling, ini bukan perasaan yang baik.
"Apa kalian merasakan ada energi aneh di sini?"
Ketiga wanita itu bertatapan sejenak, kemudian menggelengkan kepala.
"Berarti hanya aku yang merasakannya..." gumamku pelan.
Energi aneh itu kelihatan tidak berbahaya, namun menimbulkan efek yang buruk. Mungkin... ini semacam larangan yang menahan Keturunan Darah Berdosa.
Yah, aku tidak tau. Tapi untuk saat ini kurasa aku bisa membiarkannya lebih dulu. Selagi itu tidak mengancam hidupku.
"Xinyi, Xinyi!"
"Ah iya!"
Aku tersadar dari lamunanku karena suara keras dari Yuan Xi.
"Ada apa?" Xun'er yang bertanya.
"Bukan apa-apa."
"Ayo masuk."
Kami akhirnya memasuki desa itu. Dari luar, tak tampak tanda-tanda kehidupan, sunyi, seolah tempat ini telah lama ditinggalkan.
Namun begitu melangkah masuk, pemandangannya berbalik seratus delapan puluh derajat. Orang-orang berlalu-lalang memenuhi jalanan, saling berbincang, tertawa, dan beraktivitas seperti desa pada umumnya.
Jika aku adalah manusia abadi, maka mereka adalah manusia fana… hanya saja darah yang mengalir di tubuh mereka berbeda dari manusia lain.
Pemisahan berdasarkan garis keturunan—apa pun alasannya—jelas meninggalkan bekas yang dalam. Ini terlalu kejam.
Meski begitu, sejujurnya aku tak ingin terlalu ikut campur dalam urusan ini.
Kondisi mereka saat ini... cukup baik. Sebagai manusia yang ditinggalkan mereka kehidupan mereka tidak seburuk itu. Mungkin terbantu oleh sihir.
"Xun'er, orang-orang di sini, apakah mereka semua bisa menggunakan sihir?" tanyaku sembari berjalan di samping Xun'er.
"Oh, tentang itu... semuanya bisa. Hanya saja, kekuatan kami dibatasi. Kebanyakan orang di sini adalah penyihir tingkat 3. Tapi kekuatan kami lebih lemah dari itu, seperti tingkat 3 yang palsu."
Aku melihat ke samping, yang mana di sana ada orang tua yang sedang bermain dengan anak-anak. Mereka terlihat bahagia, walau dalam kondisi seperti ini.
"Tingkat 3, tapi kekuatan lebih lemah..." Aku kembali pada Xun'er. "Hei, tingkat penyihir yang kau maksud tadi, sebenarnya ada berapa?"
"Tingkat Penyihir ada 15. Terendah adalah 1 dan tertinggi adalah 15. Tapi masih belum diketahui, apakah 15 benar-benar tingkat tertinggi. Karena belum ada orang yang bisa melebihi itu. Aku hanya mendengarnya, tidak pernah melihat langsung. Karena orang-orang di sini tertinggi hanya tingkat 4," jelas Xun'er, sembari berjalan.
"Ada penyihir tingkat 4 di sini?"
Aku semakin tertarik.
"Ya. Tetua di sini adalah penyihir tingkat 4. Meski kekuatannya lebih lemah dari tingkat 4 yang asli, tapi dia jauh lebih kuat dari kami yang tingkat 3."
"Lalu bagaimana denganku?"
"Mungkin masuk tingkat 4, bedanya kekuatanmu tidak melemah seperti kami."
Aku tidak terkejut dengan itu, karena kalau dipikir-pikir lagi... beberapa sihir yang kucoba sangat kuat dan mengonsumsi banyak Mana.
"Xun'er. Menurutmu apa kutukan terhadap kalian ini bisa ditarik?"
"Tidak tau, karena kami memang tidak bisa melakukannya." Ia menoleh padaku. "Kenapa kau tertarik dengan itu?"
"Bukan apa-apa. Aku tidak mengingat apapun, jadi mungkin membutuhkanmu untuk memberitahuku apa yang tidak aku ketahui."
Ia menatapku beberapa detik, lalu ekspresinya berubah, jauh lebih lembut dari yang sebelumnya. "Begitu..."
"Kakak, Kakak!"
Aku melihat ke samping, dimana anak-anak berkumpul menatapku dengan wajah penasaran.
Aku sedikit menunduk.
"Iya, ada apa?" tanyaku.
"Aku belum pernah melihatmu di sini. Apa Kakak orang baru?"
Xun'er ikut mendekat. "Kakak ini sedikit berbeda dari kita. Dia memang bukan dari sini, tapi dia bukan orang jahat. Kalian tidak boleh jahat padanya juga, oke?"
"Aku kan tidak mengatakan hal yang jahat," balas anak itu.
Anak-anak yang lain hanya tertawa melihatnya.
"Apa Kakak lapar?" tanya salah satu dari anak-anak itu.
"Eumm... sedikit."
Meski aku menjawab begitu, sejujurnya aku sangat lapar!
"Kalau begitu bagaimana kalau kita makan bersama?"
"Dia benar!"
"Yah, itu bisa, Kak!"
Aku menoleh pada Xun'er.
"Xun'er, bagaimana?"
Ia mengangguk. "Tidak masalah, tapi kita harus memberitahu Yao Li dan Yuan Xi dulu."
Ah benar juga, kami tiba-tiba berhenti dan tertinggal. Tapi... kalau hanya untuk memberitahu mereka, kurasa tidak sesulit itu. Ingatlah, ini dunia sihir.
"Aku akan memberitahu mereka sekarang."
Lingkaran sihir kecil terbentuk di telapak tanganku. "Sihir Penciptaan Angin: Ventus Whisper. Aku dan Xun'er akan menyusul nanti, kalian berdua lebih dulu saja."
Selesai.
Ini memang sangat berguna, pertama kali mencoba dan hasilnya sempurna... kurasa, kuharap pesanku benar-benar sampai pada Yao Li.
"Menggunakan angin sebagai penghantar, itu ide yang menarik, Xinyi."
Pujian itu datang dari Xun'er. Membuatku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal, karena bingung harus bereaksi apa.
"Jadi, kalian akan makan dengan kami, kan?" tanya anak-anak itu kembali.
"Tentu saja," jawabku.
Lalu aku dan Xun’er mengikuti langkah kecil anak-anak itu, menyusuri jalan.
Suara tawa mereka berpadu dengan derak lembut langkah kaki di atas kerikil. Semakin jauh kami berjalan, aroma makanan hangat mulai tercium, terbawa angin sore yang berhembus pelan.
Tak lama kemudian, kami tiba di sebuah lapangan kecil yang dikelilingi rumah-rumah kayu sederhana. Di sana, beberapa orang tua tampak sibuk menyiapkan hidangan.
Ada yang mengaduk sup dalam panci besar, ada pula yang menyusun roti dan sayuran di atas meja panjang. Asap tipis mengepul ke udara, menciptakan suasana hangat yang kontras dengan perjalanan sunyi yang kami lalui sebelumnya.
Anak-anak itu segera berlari menghampiri para orang tua, wajah mereka dipenuhi antusiasme. Aku dan Xun’er melangkah lebih pelan, mengamati pemandangan.
"Kakak, ayo kemari!"
"Xinyi, ayo." Xun’er yang ada di depanku menoleh sedikit sambil tersenyum tipis, lalu mengulurkan tangannya.
Aku membalasnya dengan senyum kecil, lalu meraih tangannya. Kehangatan itu segera merambat ke telapak tanganku, menenangkan, membuat dadaku terasa lebih ringan. Rasanya sangat berbeda dengan dingin yang sebelumnya menyelimuti tubuhku.
Perasaan apa ini... Xun'er, dia ini...
"Kakek, Nenek. Kami ikut boleh, kan?" tanya Xun'er sambil menarikku.
Wanita tua itu menoleh.
"Oh, Nona Xun'er. Ayo cepat kemari, sebelum makanan dihabiskan anak-anak."
"Nona yang di sana juga, jangan ragu-ragu dan kemarilah, ada banyak makanan di sini." Pria tua satunya tersenyum, senyum yang terlihat tulus.
Mereka dianggap sebagai lambang dosa? Aku tidak lagi perduli dengan itu.
Bagaimana aku bisa menolak ini.
"Baik!"
apa ada sejarah dengan nama itu?