NovelToon NovelToon
Malam Terlarang Dengan Om Asing

Malam Terlarang Dengan Om Asing

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cinta Beda Dunia / One Night Stand / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nofiya Hayati

Senja terpaku saat matanya menangkap pacar dan sahabatnya bercumbu di balik semak hutan. Dengan langkah terpukul ia pergi menjauh hingga tersesat. Namun, sosok Sagara muncul, membelah kabut tebal seolah ditakdirkan menemuinya.
.
.
.
Senja mengerang pelan, refleks mendekat, menempel seperti magnet. Tangannya meraba, mencari sesuatu yang hangat. Jari-jarinya mencengkeram punggung kokoh Sagara. Napas mereka saling bercampur, tidak teratur, dan berat.

"Om…" Senja berbisik. Suaranya rapuh. "Aku dingin…"

"Aku di sini," jawab Sagara serak. "Tahan sedikit lagi."

Mereka tidak saling kenal, keduanya masih asing. Namun, malam itu... keduanya berbagi kehangatan di tengah hutan berselimut kabut tebal.

Satu malam mengubah hidup Senja.
Bukan karena cinta, melainkan karena kesalahan yang membuatnya kehilangan rumah, keluarga, dan tempat berpulang.

Sagara menikahinya bukan untuk memiliki. Ia hanya ingin bertanggung jawab… lalu pergi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3

Malam lengser tanpa suara. Kabut yang sejak sore menggantung kini benar-benar menapak tanah, berubah menjadi dinding putih yang mengurung kedua manusia itu. Angin menusuk dari celah-celah batu, membawa dingin yang tak sekadar menggigit kulit, tetapi merambat ke tulang.

Sagara berlutut di hadapan Senja. Tubuh gadis itu menggigil hebat, lalu perlahan gemetar itu melemah. Itu jelas bukan tanda baik. Napas gadis itu kian pendek, nyaris tak terdengar. Bibirnya pucat kebiruan. Kelopak matanya terkatup rapat.

"Senja," panggil Sagara, menahan suaranya agar tetap tenang. Ia menyentuh pipi Senja dengan punggung tangan. Terlalu dingin seperti balok es.

Tidak ada respons dari Senja. Sagara menarik napas dalam-dalam. Otaknya diajak bekerja cepat, memindai pilihan yang tersisa. Tidak ada sinyal. Jalur turun tak jelas. Api? Mustahil dengan angin sekencang ini dan kayu yang basah.

Sagara dapat menilai bahwa Senja terkena hipotermia tingkat berat.

"Bangun," katanya lagi, kali ini lebih tegas. Ia mengguncang bahu Senja perlahan, lalu sedikit lebih keras. "Senja, dengar aku."

Kelopak mata itu bergetar, terbuka setipis benang.

"Om…" Senja berbisik. Suaranya hampir tak terdengar. "Dingin…"

Sagara menutup mata sejenak, menghempas kepanikan. Kata 'dingin' dari Senja mengunci dadanya. Ia tahu teori. Ia juga pernah membaca. Kehilangan panas tubuh harus dihentikan sekarang juga sebelum berakhir fatal.

"Dengar," pintanya, lalu mencondongkan badan agar suaranya sampai di alam sadar Senja. "Kamu jangan tidur. Jawab aku, ya. Sebutkan nama kamu."

"Se…nja," jawabnya pelan.

"Bagus. Umur?"

"De…lapan belas."

Sagara mengangguk cepat. "Lihat aku. Lihat mataku."

Tatapan Senja berusaha naik, lalu jatuh lagi. Kondisinya terlampau lemah saat ini.

"Sial," gumam Sagara, frustasi.

Pria dewasa itu membuka ranselnya, mengeluarkan jas hujan tipis, emergency blanket yang kusut, dan sisa pakaian kering. Ia membungkus Senja sebaik mungkin, menutup celah, menghalau angin, tapi itu belum cukup.

Tubuh Senja terlalu ringkih. Terlalu mudah dikuasai dingin.

Sagara tahu apa yang harus dilakukan. Ia juga tahu risikonya, resiko secara etika, secara sosial, dan... secara batin. Namun pengetahuan itu tak mengubah kenyataan bahwa kontak panas tubuh adalah pilihan terakhir yang paling efektif.

Ia sempat ragu kendati situasi teramat mendesak. Wajah keluarganya terlintas, ayah, ibu, kakek, nenek, semuanya. Prinsip yang selalu ia pegang. Batas yang tak pernah ia langgar.

Gadis itu delapan belas tahun, masih sangat muda. Harusnya bukan menjadi bagian urusannya, bukan juga tanggung jawabnya.

Kecuali malam ini.

"Maaf," bisiknya, bukan kepada Senja saja, tapi juga kepada dirinya sendiri.

Sagara melepas jaket luarnya, lalu duduk bersandar pada dinding batu. Dengan hati-hati, ia menarik Senja mendekat, membiarkan punggung gadis itu menempel di dadanya. Ia mengatur posisi agar tidak menyentuh lebih dari yang perlu. Tidak ada pelukan. Tidak ada genggaman. Hanya jarak paling aman untuk menyelamatkan nyawa.

"Dingin Om…," Senja mengerang.

"Sabar," kata Sagara. "Tarik napas pelan. Ikuti aku."

Ia memandu napas Senja, tarik, tahan, hembuskan. Ia menghitung pelan, memastikan ritme. Ia berbicara terus, apa saja, agar Senja tetap sadar.

"Kamu suka senja?" tanyanya tiba-tiba.

Hening.

"Namamu," lanjutnya cepat. "Kenapa Senja?"

Kelopak mata Senja bergetar. "Nenek… bilang… senja itu… cantik… walau sebentar."

Sagara menelan ludah. "Iya. Cantik."

Angin kembali meraung. Emergency blanket bergelombang dan berisik. Sagara merapatkan badan, menjaga agar panas tak lepas. Ia menatap gelap di depan mereka, menghitung waktu dengan napas.

Menit terasa seperti jam. Putaran bumi pada porosnya serasa melambat. Waktu terasa lama sekali.

"Om…" Senja memanggil lagi. "Aku… takut."

Sagara menunduk, menjaga suaranya tetap rendah. "Aku di sini."

"Jangan… ninggalin aku…"

Kata itu menghantam lebih keras dari dingin. Sagara memejamkan mata sejenak. "Aku nggak ke mana-mana."

Sagara melepas sarung tangannya, meraba tangan Senja yang dingin seperti es. Ia menggeser posisi sedikit, memastikan telapak tangan Senja menempel pada kain jaketnya, bukan kulit. Ia menjaga batas dengan ketat, seperti menjaga garis tipis di tepi jurang.

"Kalau aku ketiduran… Bangunin ya.” Senja bergumam.

"Jangan tidur," Sagara mengulang, tegas namun lembut. "Tolong. Dengar aku."

Senja mengangguk kecil. Kepalanya bersandar, berat.

Waktu terus berjalan. Dingin belum pergi, tapi gemetar Senja mulai berubah, ritme lebih stabil. Tanda kecil yang memberi harapan.

Sagara tidak berhenti berbicara. Ia menceritakan hal-hal sederhana. Tentang pekerjaannya, tentang kakeknya yang keras kepala, tentang bagaimana ia tidak pernah suka gunung tapi terjebak di sini. Ia sengaja menghindari topik yang berat. Ia ingin Senja tetap di permukaan kesadarannya.

"Om kenapa ikut?" Senja bertanya pelan, seolah penasaran di sela kabut.

Sagara menghela napas tipis. "Kakekku ingin merayakan ulang tahun dengan cara… aneh. Katanya, laki-laki harus sekali seumur hidup naik gunung."

"Terus… Om nurut?"

Sagara terkekeh singkat. "Iya. Kebiasaan lama."

Senja diam. Lalu, dengan suara hampir tak terdengar, ia berkata, "Aku juga… sering nurut."

Sagara menunduk sedikit. "Kamu boleh nggak nurut."

"Aku nggak pintar bilang nggak."

"Itu bisa dipelajari," katanya. "Pelan-pelan."

Hening kembali menyelimuti. Angin melemah sebentar, memberi ruang bagi Senja untuk bernapas, ruang bagi Sagara untuk lega.

Namun nyatanya, kelegaan itu hanya fatamorgana. Tiba-tiba hembusan angin kembali menghajar. Kali ini lebih lama dan lebih dingin.

Senja kembali menggigil keras. Napasnya tersengal.

"Senja," panggil Sagara cepat. Ia menggeser posisi, merapatkan blanket. "Lihat aku."

"Dingin…"

"Aku tahu. Bertahan. Sedikit lagi."

Sagara menempelkan pipinya ke rambut Senja, bukan kulit, tapi rambut, masih menjaga batas. Dia menghitung napasnya sendiri agar tetap stabil di kala terjangan dingin juga mulai merasuk hingga tulang. Ia merasa panas tubuhnya terkuras, tapi itu harga yang bisa dibayar dengan keselamatan gadis asing yang baru pertama kali ia temui itu.

Tubuh Senja semakin membeku. Gemetarnya berhenti dan itu justru membuat Sagara kian panik. Bibir gadis itu membiru, napasnya semakin jarang. Setiap tarikan terasa seperti usaha terakhir.

"Senja," panggilnya keras. "Buka mata. Jangan tinggalin aku."

Tidak ada jawaban.

Sagara menekan telapak tangan Senja, mencoba menggosok, memanaskan. Ia sudah membungkusnya dengan emergency blanket, sudah menutup celah angin, sudah memaksa Senja tetap sadar. Semua yang ia tahu, semua yang bisa ia lakukan sudah dicoba.

Dan tetap saja… suhu tubuh itu terus turun.

Sagara menutup mata, menelan ludah. Tidak ada pilihan bersih malam ini.

Ia tahu satu metode terakhir. Metode yang selalu diajarkan dengan catatan tebal, hanya jika terpaksa. Metode yang melibatkan kulit bertemu kulit, panas tubuh langsung, tanpa penghalang.

Tangannya gemetar saat meraih resleting jaket Senja yang basah.

"Maafin aku," bisiknya. "Kalau kamu sadar nanti… maafin aku."

Ia melepas jaket dan baju atasannya sendiri lebih dulu. Dingin langsung menyambar dadanya. Lalu, dengan hati yang berperang melawan akal sehat, ia melepaskan atasan Senja yang sudah tak lagi memberi kehangatan.

Sagara menarik napas panjang, lalu mendekap tubuh Senja, kulit bertemu kulit di balik emergency blanket yang menutup mereka rapat dari angin dan mata dunia.

Awalnya hanya itu. Hanya panas.

Hanya bertahan hidup. Tidak ada niat terselubung.

Senja mengerang pelan, refleks mendekat, menempel seperti magnet. Tangannya meraba, mencari sesuatu yang hangat, jari-jarinya mencengkeram punggung kokoh Sagara. Napas mereka saling bercampur, tidak teratur, dan berat.

"Om…" Senja berbisik. Suaranya rapuh. "Aku dingin…"

"Aku di sini," jawab Sagara serak. "Tahan sedikit lagi."

Namun sampai batas itu… tidak semudah yang ia kira. Pertahanan akal sehatnya tak setegas di awal.

Dalam gelap, dalam dingin, dalam napas yang saling menabrak, kesadaran Senja perlahan kembali dan bersamaan dengan itu, muncul rasa lain. Kehangatan yang bukan hanya fisik. Detak jantung yang saling mencari ritme.

Sagara menyadari perubahan itu tapi terlambat. Kalah cepat oleh hasrat yang merayu.

Pelukan yang seharusnya sekadar penyangga, menjadi terlalu erat. Napas Senja menyentuh lehernya. Tubuhnya menempel, bukan lagi karena dingin semata. Sesuatu di sana bangkit tanpa dapat dicegah.

"Senja…"

Sagara memberi peringatan, tapi benar-benar terlambat dan rapuh. Dia pria berlibido normal yang akhirnya terbuai dalam khilaf.

Sementara Senja terlalu takjub dengan sesuatu yang teramat baru baginya. Denyutan itu, sensasi itu, benar-benar asing.

Tubuh rapuh Senja ditarik hingga mendarat pada pangkuan Sagara yang kokoh. Tanganya bergerak kaku, menyusuri punggung mulus itu dan bermuara pada tengkuk leher seputih susu.

Tiada lagi sepatah dua patah kata, hanya mata yang berkabut, jantung yang berdegub, dan tindakan yang berbicara.

Pandangan mereka beradu dalam. Perlahan jarak ruang kian terkikis.

Bibir Senja bergerak, seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi suaranya hanya sampai diambang batin, terkalahkan oleh hasrat asing yang pertama kali menyapa.

Sagara sempat menggeleng pelan, mencoba menarik kembali pikiran jernihnya dengan sisa-sisa kewarasan. Namun... jantung berdegub tak karuan. Serangan gairah sama sekali tak menawari kesempatan. Ia sangat tersiksa jika tiada pelepasan.

Wajah polos Senja. Mata bulatnya. Bibir mungilnya. Setiap pahatan itu kian memantik keinginan Sagara untuk merasakan, mencicipi, menghisap.

Sagara roboh. Senja terbuai. Bibir saling berlabuh. Sentuhan demi sentuhan meninggalkan jejak. Kedua Raga menyatu. Berawal rintihan perih, berakhir desahan merdu. Kedua anak manusia itu bergerak pelan, tapi cukup membuat emergency blanket bergelombang.

Tidak ada paksaan. Tidak ada rencana. Hanya dua manusia yang terlalu dekat dengan batas intim, di malam yang tidak memberi ruang untuk berpikir jernih.

Emergency blanket itu tetap menutup mereka.

Kabut menelan suara.

Hutan menjadi saksi bisu.

Bersambung~~

1
Ayuwidia
Wkkkk, mewakili gueeee. Makasih, Mak
Ayuwidia
Aku penasaran, kenapa Winarti dan Pandi bisa setega itu memperlakukan Senja. Beda banget sama perhatian mereka ke Rian 🤔
Ayuwidia
Baru diakui. Telat, terlambat!!!!
Ayuwidia
Ealah, adek nggak ada akhlak. Kok bisa, Senja punya adek semenyebalkan gini. Hidup lagi
Ayuwidia
Salah sendiri. Terlalu jumawa, sombong
Ayuwidia
Winarti serasa ditampar keras. Dan aku, tersenyum membayangkan wajahnya
Ayuwidia
Alhamdulillah, ikut senang. Semoga sakinah, mawadah, warahmah 🥰
Ayuwidia
Meski sederhana, tapi tulus dari dalam hati 🥰
NA_SaRi
kok bru diakui ya mak
NA_SaRi
lambene😩
NA_SaRi
klo Pengen dihormati, belajarnya caranya menghargai bapak🙃
NA_SaRi
Alhamdulillah 😍
NA_SaRi
netizen ya awooooohhh jempolnya kebangetan, bibirnya semoga kepedesan😩
NA_SaRi
betul, aku prnh mengalaminya
NA_SaRi
gengsi ga usah ditinggiin Napa mak😩
NA_SaRi
dari bab ini aku belajar bahwa ilmu tenang itu mahal, bahkan ga bisa dibeli dgn uang, membuat karakter seseorang jd elegan tanpa harus meninggi, aku harus banyak belajar dr om sagara
Ayuwidia
Kalimat penutup yg sangat mewakili orang2 sefrekuensi dgn Senja, keren 👍🏻
Ayuwidia
Ini selalu berlaku di kampung/ kompleks. Apalagi klw dihuni emak2 yang demen banget gibah. Ibarat kata, nggak gibah--nggak hidup
Nofi Kahza: iya, kalau nggak ada bahan gibah hidup mereka kurang seru..
total 1 replies
Ayuwidia
Part ini pasti ada yang menginspirasi
Nofi Kahza: hush! diem.
total 1 replies
Ayuwidia
Pfttttt jatuhnya pingin ngakak
Nofi Kahza: kampungnya ngampung banget🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!