“Kak Miranda dipanggil Bapak.”
“Aku sedang mencuci piring,” jawab Miranda pelan.
“Kata Bapak nanti saja cuci piringnya,” ucap Lusi lagi.
Miranda menghentikan mencuci piring, mencuci tangan lalu melangkah ke ruang tengah.
Tampak di ruang tengah Raka duduk berdampingan dengan seorang perempuan itu.
“Duduklah, Miranda,” ucap Pak Budi dengan wajah serius.
Miranda duduk dengan patuh di kursi paling ujung.
Pak Budi tampak menghela napas panjang lalu berkata perlahan,
“Miranda, ini adalah Lina, dia calon istri Raka.”
Deg, jantung Miranda terasa tertusuk. Semua tenaganya seperti runtuh seketika.
Bangun dari jam tiga malam, bekerja tanpa istirahat, menyiapkan banyak makanan.
Semua itu hanya untuk menyambut calon istri dari suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KI 26
“Sudahlah, hal kayak gini aja kok jadi bahan taruhan, enggak ada gunanya,” Ibu Salamah memandang mereka malas lalu duduk, betis terasa nyeri.
“Alah bilang aja takut, gini aja bagaimana kalau selama seminggu kami yang mengambilkan sayuran dan beras dari Pak Narto ke rumah kamu,” mulutnya mencong kiri merendahkan Ibu Salamah.
“Tawaran bagus, kebetulan ojek langgananku pulang kampung,” batin Ibu Salamah, tetapi dia sebenarnya tidak mau hal sepele begini dijadikan bahan taruhan, tetapi karena mereka sangat keterlaluan maka Ibu Salamah berkata, “Baiklah, tapi kalian harus memegang ucapan kalian.”
“Karena kami sudah menaikkan taruhan jadi kamu harus menaikkannya juga dong,” kata Mirna seolah kemenangan sudah ada di tangan dia, “ini salah kamu Salamah kenapa kamu percaya sama gembel,” gumam Mirna dalam hati.
Ibu Salamah hanya bisa menggelengkan kepala, saking irinya sama gembel rela melakukan taruhan.
“Oke aku naikkan jadi 10 bungkus setiap pagi akan aku berikan pada kalian selama seminggu,” sahut Ibu Salamah.
Mendengarnya saja air liur mereka sudah turun seolah sudah terbayang kalau nasi uduk sudah ada di depan mereka.
“Kenapa kalian begitu yakin kalau Miranda akan kalah?” tanya Ibu Salamah.
“Ya karena dia gembel, gembel kan enggak punya rumah, jadi kalau dia berbuat curang tinggal pindah rumah kita tanpa harus menanggung malu, berbeda kayak kita Bu, satu ada yang maling maka semuanya akan merasa malu,” jelas Narti panjang lebar.
“Kalian tidak akan ingkar janji kan?” tanya Ibu Salamah lagi.
“Kami sudah yakin akan menang jadi, pastilah kami melakukan apa yang telah kami ucapkan,” jawab Narti mantap.
“Jika kalian tidak melakukannya bagaimana?”
“Jika aku tidak melaksanakan apa yang aku janjikan maka anakku akan keluar iler terus sampai tua.”
Hampir saja Ibu Salamah terkekeh membuat mereka heran.
“Baiklah itu janji kalian, kalau kalian ingkar janji maka anak kalian akan keluar iler terus.”
“Ini sudah hampir 5 menit kamu kalah Salamah,” seru Mirna.
“Miranda,” teriak Ibu Salamah dari luar.
Pintu rumah terbuka. Muncullah sosok Miranda, wajahnya tampak segar, tangannya basah dan masih tercium wangi sabun cuci piring.
Mirna dan Narti saling pandang tak percaya kalau Miranda ada di dalam rumah.
“Kau,” celetuk Mirna dan Narti bersamaan.
“Hmmm, apa?” tanya Ibu Salamah, “apa kalian mau mengingkari janji?”
Mereka belum sempat menjawab, Miranda sudah mendekat.
“Ada apa Bu?” tanya Miranda.
“Kamu kenapa nyuci piring, sudah Ibu juga bisa,” ujar Ibu Salamah setengah kesal.
“Saya enggak enak sudah dikasih makan sama Ibu, jadi harus ada tenaga yang harus saya keluarkan,” balas Miranda.
“Kamu anak hebat Mir,” puji Ibu Salamah.
“Sekarang kamu duduklah di dalam istirahat dulu, saya ada urusan orang tua yang harus diselesaikan,” lanjut Ibu Salamah tak enak hati Miranda jadi bahan taruhan.
“Maaf Bu saya mau pergi ya, saya mau mulung lagi,” pamit Miranda.
Ibu Salamah tertegun sebentar lalu berpesan, “Ya sudah yang semangat ya cari uangnya.”
“Baik Bu,” jawab Miranda kemudian menganggukkan kepala dan pergi meninggalkan Bu Salamah.
Miranda menarik gerobak milik Nunik kali ini.
Bayangan Miranda semakin menjauh meninggalkan Mirna, Narti, dan Ibu Salamah.
“Kenapa kamu tidak bilang kalau gembel itu ada di rumah kamu?” tanya Mirna.
Ibu Salamah hanya mendecih melihat mereka berdua, “kenapa juga kalian enggak nanya?”
“Kalau begitu pertaruhan ini enggak sah,” protes Narti.
“Ya enggak masalah kan dari tadi kalian juga yang ngotot untuk taruhan, enggak masalah aku enggak diambilkan sayuran dari pasar,” balas Ibu Salamah, “aku hanya bisa berdoa semoga anak kalian tidak ileran.”
Narti langsung tersentak kaget membayangkan anaknya ileran, sungguh tidak rela.
“Baik, baik, aku akan ambilkan sayuran tiap pagi.”
..
Miranda duduk di tepi pohon beringin tua. Akar-akarnya menjulur ke tanah seperti tangan yang setia memeluk bumi. Angin sore berembus pelan, membawa debu jalanan dan sisa aroma warung.
Sejak kemarin, hampir tidak ada tidur untuknya. Membantu warung Mas Apip. Membantu Nunik dan anaknya. Lalu drama ketika ia dituduh mencuri oleh warga. Tenaganya terkuras, tetapi entah mengapa hatinya tidak selelah biasanya.
Hari ini berbeda.
Hari ini, untuk pertama kalinya, ia benar-benar berdagang.
Miranda membuka buku kecil yang ia temukan di tong sampah salah satu rumah warga. Sampulnya kusam, beberapa halamannya terlipat, tetapi baginya buku itu lebih berharga daripada emas.
Ia menulis pelan-pelan.
“Uang hasil penjualan nasi uduk 220.000.”
Tangannya berhenti sebentar, memastikan hitungannya.
“Dikurangi untuk pelunasan nasi uduk 25.000, tinggal 195.000.”
Ia tersenyum kecil. Lalu kembali menulis.
“Tadi mereka pesan lagi 30 bungkus, sudah aku beri panjer 100.000, jadi sisa uangku 95.000.”
Miranda menarik napas panjang.
“Besok aku akan dapat untung 90.000 dari jual nasi uduk.”
Sembilan puluh ribu.
Dulu, angka itu terasa seperti sesuatu yang mustahil ada di genggamannya. Sekarang, ia menuliskannya dengan tangannya sendiri.
Ia menutup buku itu perlahan. Menatap langit yang mulai berubah warna.
Bu Salamah terus memaksanya sarapan di rumah. Jadi untuk makan pagi, ia aman. Miranda tersenyum mengingat wajah tegas tetapi hangat perempuan itu.
Untuk makan siang?
Ia mengernyit kecil.
“Sepertinya aku harus beli,” gumamnya pelan.
Untuk malam, ia bisa bekerja di warung Mas Apip. Upahnya sederhana—makan malam saja. Tapi bukankah itu sudah cukup?
Pagi nasi uduk. Malam pecel lele.
Miranda merebahkan tubuhnya, bersandar pada batang beringin yang kokoh.
“Ah… nikmat sekali hidupku,” bisiknya lirih.
Kalimat yang dulu tidak pernah berani ia ucapkan.
Ia membandingkan hidupnya sekarang dengan masa ketika tinggal di rumah keluarga angkat dan suaminya. Dulu ia bangun dengan rasa cemas. Takut salah. Takut dimarahi. Takut dianggap tidak berguna. Bahkan saat memejamkan mata pun, hatinya tetap waswas, seolah kesalahan selalu menunggunya di pagi hari.
Sekarang?
Ia lelah, iya. Tubuhnya pegal, iya.
Tapi setiap keringat yang jatuh terasa miliknya sendiri. Setiap rupiah yang ia hitung adalah hasil tangannya sendiri.
Tidak ada yang memerasnya.
Tidak ada yang merendahkannya.
Tak terasa Miranda tertidur sebentar di bawah pohon beringin. Gerobak itu ia ikatkan talinya ke kakinya. Kalau ada yang mencoba mengambilnya, ia pasti akan merasakan sentakannya. Gerobak itu milik Nunik. Bukan miliknya. Justru karena itu, ia akan menjaganya sebisa mungkin.
Rintik hujan membangunkannya.
Satu tetes jatuh tepat di pipinya. Lalu satu lagi di kelopak matanya.
Miranda membuka mata perlahan. Langit sudah berubah kelabu. Hujan turun tipis-tipis, seperti enggan benar-benar jatuh.
Ia buru-buru bangkit. Mengambil jas hujan plastik yang pernah ia temukan di jalan beberapa hari lalu. Plastik tipis berwarna biru itu sudah sedikit sobek di bagian lengan, tetapi masih bisa dipakai. Ia mengenakannya cepat-cepat, lalu kembali mendorong gerobak.
Langkahnya menyusuri jalanan basah.
Satu per satu rongsokan ia pungut. Besi kecil. Kardus yang mulai lembek. Botol-botol bekas yang hanyut di selokan. Tangannya dingin, bajunya lembap, tetapi ia tidak berhenti.
Empat jam ia berjalan tanpa henti.
Ketika gerobaknya akhirnya penuh, roda-roda kecilnya berbunyi berat saat didorong. Miranda menghela napas lega saat melihat lapak Cak Roni dari kejauhan. Ia sempat menoleh pada jam besar yang menempel di papan reklame di seberang jalan.
16.45.
Hatinya langsung was-was.
Ashar.
Ia belum shalat.
“Wih, udah dapat gerobak nih,” seru Cak Roni ketika melihatnya datang.
“Punya orang, Cak,” jawab Miranda singkat.
Cak Roni menurunkan satu per satu rongsokan dari gerobaknya. Besi ditimbang. Kardus dipisahkan. Botol-botol dimasukkan ke karung besar.
“Semua tujuh puluh lima ribu.”
Mata Miranda berbinar. Uangnya semakin bertambah. Dari pagi jual nasi uduk, sekarang dari rongsokan lagi. Seolah rezeki datang beriringan.
Tapi kegembiraan itu hanya sebentar.
Jam di kepalanya terus berdetak.
Ashar.
Ia belum shalat. Bajunya basah karena hujan. Kalau harus mencari musala, mungkin waktunya akan terlewat. Ia juga perlu mandi dan ganti baju.
Miranda menelan ludah. Memberanikan diri.
“Cak, boleh saya numpang shalat?”
Cak Roni tidak tersenyum seperti biasanya. Wajahnya tampak masam. “Bilang sama istri saya sana,” katanya sambil menunjuk ke arah samping lapak.
Di sana, seorang perempuan berjilbab yang dililit ke kepala sedang menggoreng pisang. Sarungnya terikat sebatas betis. Tangannya cekatan membalik gorengan di wajan besar.
Miranda melangkah mendekat. Hujan masih rintik-rintik.
“Mbak, bolehkan saya shalat di sini?” tanyanya pelan.
Perempuan itu menoleh.
Dan seketika wajahnya berubah masam.