Gu Yanqing hidup miskin, tanpa latar belakang, tanpa peluang.
Hingga suatu hari, Sistem Peningkatan Kekayaan aktif—memberinya kesempatan untuk naik kelas, selama semua yang ia peroleh masuk akal dan sah.
Dari nol ke kaya, dari diremehkan ke dikelilingi orang-orang yang terlihat tulus.
Tapi di dunia uang dan status, kepercayaan punya harga.
Dan saat harga itu terlalu mahal, tidak semua orang sanggup membayarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 : Telepon Tengah Malam
Pukul dua belas lewat tiga puluh tujuh menit.
Apartemen itu sunyi. Lampu ruang kerja masih menyala, memantulkan cahaya putih dingin di atas meja kayu gelap. Berkas gugatan tersusun rapi di sisi kiri. Salinan laporan keselamatan kerja. Cetakan rekaman kamera pengawas. Analisis kronologi kecelakaan.
Gu Yanqing belum tidur.
Ia duduk tegak, punggung lurus, tangan kanan memegang pena tanpa bergerak. Pandangannya tidak lagi membaca. Ia sedang menghitung.
Jadwal sidang berikutnya. Waktu tanggapan tergugat. Kemungkinan bantahan administratif. Ruang manuver hukum masih cukup lebar.
Ponselnya bergetar.
Tidak keras. Tidak tiba-tiba. Hanya getaran pendek yang memecah struktur keheningan malam.
Layar menyala.
Nomor tak dikenal.
Tidak ada kode wilayah yang familiar.
Gu Yanqing tidak langsung mengangkat.
Ia membiarkan getaran berhenti. Tiga detik. Empat detik.
Panggilan masuk kembali.
Kali ini ia mengangkat.
“Ya.”
Suaranya datar. Tidak tinggi, tidak rendah.
Beberapa detik pertama hanya ada napas di ujung sana. Stabil. Teratur.
Lalu suara itu berbicara.
“Saudara Gu Yanqing.”
Bukan pertanyaan.
Bukan sapaan ramah.
Nada suara pria. Usia sulit ditebak. Tidak berat, tidak muda. Netral.
Gu Yanqing menjawab singkat. “Siapa ini.”
“Saya hanya seseorang yang peduli pada stabilitas.”
Kalimat pertama adalah pernyataan tanpa isi. Sengaja.
Gu Yanqing tidak menyela.
Ia membiarkan lawan bicara melanjutkan.
“Gugatan yang Anda ajukan berkembang cukup cepat. Direktur pelabuhan mulai merasa tidak nyaman.”
Tidak ada nama disebut. Namun konteksnya jelas.
Sun Deqiao.
Gu Yanqing menurunkan pandangannya ke meja. Pena di tangannya berputar perlahan.
“Jika ada keberatan hukum, silakan sampaikan melalui pengacara,” katanya tenang.
Suara di ujung sana tidak berubah.
“Kami menghargai jalur hukum. Sangat menghargai.”
Jeda.
“Tetapi Anda pasti mengerti, ada hal-hal yang sebaiknya tidak didorong terlalu jauh.”
Tidak ada ancaman langsung.
Tidak ada kata kasar.
Struktur kalimat rapi. Terukur.
Gu Yanqing memejamkan mata sejenak.
Ia menghitung intonasi. Tidak ada emosi pribadi. Tidak ada kebencian. Ini bukan orang yang marah.
Ini eksekutor pesan.
“Apakah Anda sedang mengancam saya,” tanya Gu Yanqing.
“Tidak. Kami hanya ingin mengingatkan.”
Kata “kami” diucapkan ringan.
Jam digital di dinding menunjukkan 00:42.
Di luar jendela, kota telah tenggelam dalam sunyi. Lampu jalan membentuk garis panjang seperti nadi yang hampir berhenti berdetak.
Suara itu kembali berbicara.
“Anda tinggal sendiri. Apartemen lantai dua belas. Gedung cukup aman.”
Fakta.
Gu Yanqing tidak bergerak.
“Kamera pengawas di lorong cukup baru. Dipasang tahun lalu.”
Fakta kedua.
Gu Yanqing menatap jendela kaca yang memantulkan wajahnya sendiri.
Ekspresinya tetap rata.
“Keamanan yang baik memang penting,” lanjut suara itu. “Terutama bagi keluarga.”
Jeda lebih panjang kali ini.
Gu Yanqing tidak berbicara.
Ia menunggu.
Nama itu akhirnya disebut.
“Ibu Anda tinggal di distrik barat. Kompleks perumahan lama. Lingkungannya tenang.”
Pena di tangan Gu Yanqing berhenti berputar.
Hanya itu.
Tidak ada tambahan kalimat.
Tidak ada penekanan.
Nada suara tetap netral.
Namun struktur percakapan telah berubah arah.
Gu Yanqing berbicara pelan.
“Teruskan.”
“Beliau biasa berjalan pagi sekitar pukul enam lewat dua puluh. Rute yang sama setiap hari.”
Kalimat itu diucapkan tanpa naik turun nada.
Seolah membacakan jadwal bus.
Di dalam apartemen, udara terasa lebih dingin.
Gu Yanqing tidak memotong.
Ia tidak bertanya bagaimana mereka tahu.
Ia tidak menyebut bahwa informasi itu melanggar hukum.
Ia hanya mencatat.
Data keluarga telah diakses.
Rutinitas telah dipantau.
Suara itu melanjutkan.
“Kami tidak ingin terjadi kesalahpahaman.”
“Kesalahpahaman seperti apa,” tanya Gu Yanqing.
“Seperti seseorang yang terlalu keras kepala dalam proses hukum, lalu tanpa sengaja menciptakan situasi yang tidak perlu.”
Bahasa bersih.
Tidak ada kata “celaka”.
Tidak ada kata “bahaya”.
Hanya frasa “situasi yang tidak perlu”.
Gu Yanqing berdiri perlahan dari kursinya. Ia berjalan menuju jendela, membuka sedikit tirai.
Kota tetap sunyi.
Tidak ada sesuatu yang mencurigakan di bawah.
Namun itu bukan inti masalah.
Intinya adalah jarak.
Suara itu bisa menjangkau ibunya.
“Jika ini upaya intimidasi,” kata Gu Yanqing, “Anda menyadari konsekuensi hukumnya.”
Suara itu menjawab tenang.
“Kami tidak mengintimidasi. Kami mengingatkan. Ada perbedaan.”
Hening.
Beberapa detik.
Lalu suara itu menambahkan, hampir seperti penutup percakapan bisnis.
“Pertimbangkan kembali arah Anda, Saudara Gu. Tidak semua kemenangan layak diperjuangkan.”
Klik.
Panggilan terputus.
Gu Yanqing tetap berdiri.
Ponsel masih menempel di telinganya selama dua detik tambahan.
Ia menurunkannya perlahan.
Apartemen kembali sunyi.
Tidak ada suara mesin. Tidak ada televisi. Tidak ada musik.
Hanya detak jam dinding yang samar.
Ia berjalan kembali ke meja. Meletakkan ponsel dengan rapi di samping berkas.
Tidak ada reaksi emosional di wajahnya.
Tidak ada amarah.
Tidak ada kepanikan.
Ia duduk.
Lalu memutar ulang percakapan di kepalanya.
Struktur pembukaan: netral.
Transisi: data pribadi.
Puncak: penyebutan rutinitas ibu.
Penutup: pilihan mundur secara implisit.
Tujuan: menciptakan tekanan psikologis tanpa meninggalkan bukti ancaman eksplisit.
Ini bukan tindakan spontan.
Ini disusun.
Dirancang.
Diuji.
Sebuah panel transparan muncul di sudut pandangannya.
Sistem Peningkatan Kekayaan
Peringatan: “Tekanan ilegal terdeteksi.” Tingkat risiko: Meningkat Kategori: Intervensi non-formal
Panel itu tidak memberikan solusi.
Tidak ada rekomendasi perlindungan.
Tidak ada saran tindakan.
Hanya notifikasi.
Gu Yanqing menutup panel itu dengan satu kedipan.
Ia menunduk, membuka laptop.
Ia tidak mencari nomor penelepon.
Itu sia-sia. Nomor anonim.
Sebaliknya, ia membuka dokumen kronologi gugatan.
Ia menambahkan satu baris baru.
“00:42 — Panggilan anonim menyebut detail keluarga.”
Catatan harus objektif.
Emosi tidak boleh masuk ke dalam arsip.
Ia berhenti sejenak.
Konflik telah melewati batas.
Awalnya ini perkara perdata.
Kecelakaan kerja.
Kelalaian administratif.
Laporan keselamatan palsu.
Sekarang, ruangnya berubah.
Bukan lagi hanya ruang sidang.
Bukan lagi hanya dokumen.
Ini sudah memasuki wilayah intimidasi personal.
Ia menyandarkan punggungnya.
Tatapannya kosong beberapa detik.
Jika data ibunya bisa diakses, berarti ada kebocoran.
Sumber kemungkinan:
Data kependudukan.
Data rumah sakit lama.
Data perusahaan lama.
Atau pengawasan langsung.
Ia tidak akan berspekulasi berlebihan.
Spekulasi adalah bentuk kelemahan.
Yang pasti: mereka ingin ia mundur.
Artinya, gugatan ini efektif.
Ia menatap layar komputer.
Nama Sun Deqiao tertera di bagian atas dokumen.
Direktur pelabuhan.
Posisi kuat.
Relasi luas.
Pengaruh administratif tinggi.
Ancaman tidak datang dari bawahan.
Datang dari struktur yang merasa terancam.
Gu Yanqing mematikan layar.
Apartemen menjadi lebih gelap.
Hanya lampu meja yang tersisa.
Ia berjalan menuju dapur kecil, menuangkan segelas air.
Tangannya stabil.
Ia kembali ke ruang kerja.
Di meja, berkas-berkas terlihat seperti potongan puzzle yang belum selesai.
Ia tidak akan menelepon ibunya malam ini.
Itu justru menciptakan kepanikan yang tidak perlu.
Ia tidak akan memberi tahu pengacara sekarang.
Belum ada ancaman eksplisit yang bisa diproses hukum.
Ia tidak akan mengubah jadwalnya besok.
Mengubah ritme berarti mengakui tekanan.
Ia duduk kembali.
Menatap kosong ke dinding.
Pukul satu lewat sebelas.
Di luar, lampu jalan tetap menyala.
Sunyi malam terasa lebih dalam.
Gu Yanqing menyadari satu hal dengan sangat jelas.
Permainan telah bergeser dari meja rapat ke wilayah yang lebih gelap.
Dan pihak lawan telah melangkah lebih dulu.
...
Pukul lima lewat empat puluh pagi.
Langit masih berwarna abu-abu pucat ketika Gu Yanqing keluar dari apartemennya. Ia tidak mengenakan jas kerja. Hanya mantel gelap sederhana, celana panjang hitam, sepatu biasa.
Tidak ada pengawal.
Tidak ada pemberitahuan kepada siapa pun.
Perjalanan menuju distrik barat ditempuh tanpa suara. Jalanan kota belum sepenuhnya hidup. Lampu lalu lintas masih berkedip kuning di beberapa persimpangan.
Di dalam mobil, pikirannya bekerja cepat.
Kebocoran data.
Siapa yang memiliki akses informasi keluarga?
Kemungkinan pertama: sistem administrasi kependudukan. Itu berarti koneksi struktural.
Kemungkinan kedua: data lama dari rumah sakit tempat ayahnya dirawat dulu. Kecil kemungkinan, tetapi tidak bisa diabaikan.
Kemungkinan ketiga: pengawasan langsung di lapangan.
Ia tidak melompat pada kesimpulan.
Analisis harus berdasarkan verifikasi.
Mobil berhenti dua blok dari kompleks tempat ibunya tinggal.
Ia tidak masuk langsung.
Ia turun, berjalan kaki.
Kompleks itu memang lama. Bangunan empat lantai dengan cat memudar. Pohon-pohon besar tumbuh di sepanjang jalan setapak. Pagi masih sunyi, hanya terdengar suara sapu petugas kebersihan.
Gu Yanqing berjalan perlahan, seolah hanya seseorang yang kebetulan lewat.
Matanya tidak gelisah.
Ia mengamati.
Kamera pengawas di gerbang masih model lama. Sudutnya terbatas.
Warung kecil di sudut jalan belum buka sepenuhnya. Pemiliknya baru mengangkat tirai setengah.
Ia berhenti sebentar di seberang taman kecil.
Jam tangannya menunjukkan 06:18.
Ibunya biasanya keluar pukul 06:20.
Ia tidak mendekat ke gedung tempat tinggal ibunya. Ia memilih posisi dengan jarak pandang cukup luas.
Dua menit berlalu.
Seorang pria berdiri di dekat papan pengumuman lingkungan.
Bukan warga tetap.
Pakaian terlalu rapi untuk sekadar olahraga pagi. Sepatu kulit, bukan sepatu lari. Rambut tertata, wajah tanpa ekspresi.
Ia memegang ponsel, tetapi tidak terlihat benar-benar menggunakan.
Gu Yanqing tidak langsung menilai.
Mungkin tamu.
Mungkin agen asuransi.
Ia memindai lagi area sekitar.
Di sisi lain taman, sebuah mobil sedan abu-abu terparkir dengan mesin mati. Kaca jendela agak gelap. Nomor polisi lokal, tetapi terlihat baru dibersihkan.
Pukul 06:21.
Pintu gedung terbuka.
Ibunya keluar dengan pakaian olahraga sederhana. Langkahnya pelan, teratur. Seperti biasa.
Gu Yanqing tidak bergerak.
Ia menjaga jarak.
Pria di dekat papan pengumuman melirik sekilas.
Hanya sekilas.
Lalu kembali menatap ponselnya.
Gerakan itu kecil.
Terlalu kecil bagi orang yang tidak memperhatikan.
Namun bagi Gu Yanqing, itu cukup.
Ibunya berjalan melewati taman, menyusuri jalur yang sama seperti yang disebut penelepon tadi malam.
Tidak ada interaksi.
Tidak ada pendekatan.
Pria itu tetap di tempat.
Sedan abu-abu tetap diam.
Gu Yanqing berjalan memutar, mengambil posisi berbeda.
Ia mencatat detail.
Jarak pria itu ke pintu gedung: sekitar dua puluh meter.
Sudut pandangnya: langsung ke jalur utama.
Ini bukan kebetulan acak.
Ia mengeluarkan ponsel.
Bukan untuk memotret.
Ia membuka catatan dan menuliskan waktu serta posisi.
06:19 — Subjek pria berdiri di titik pengawasan potensial. 06:21 — Ibu keluar. 06:22 — Kontak visual singkat.
Tidak ada konfrontasi.
Tidak ada pendekatan agresif.
Tekanan yang cerdas tidak membutuhkan tindakan langsung.
Cukup kehadiran.
Ibunya berjalan melewati taman, lalu menuju jalan utama. Rutenya konsisten.
Sedan abu-abu menyalakan mesin pelan.
Tidak langsung bergerak.
Menunggu.
Gu Yanqing berdiri di bawah bayangan pohon.
Ia mengamati pantulan kaca mobil itu.
Pengemudi di dalam. Siluet samar.
Mobil mulai bergerak perlahan, mengikuti arah jalan utama dengan jarak yang wajar.
Tidak terlalu dekat.
Tidak terlalu jauh.
Teknik standar.
Gu Yanqing tidak mengejar.
Ia tidak memanggil.
Ia tidak menghalangi.
Ia hanya memastikan pola.
Setelah beberapa puluh meter, mobil itu berbelok ke arah lain.
Tidak mengikuti sepenuhnya.
Cukup untuk menunjukkan bahwa mereka bisa.
Cukup untuk menanamkan pesan.
Ibunya kembali sekitar pukul 06:45. Wajahnya tenang seperti biasa. Tidak ada tanda bahwa ia menyadari sesuatu.
Pria di dekat papan pengumuman sudah tidak ada.
Sedan abu-abu pun menghilang.
Gu Yanqing berdiri beberapa detik lebih lama.
Kesimpulan sementara:
Pengawasan nyata.
Tidak agresif.
Tidak langsung.
Namun terstruktur.
Ini bukan tindakan individu yang emosional.
Ini operasi intimidasi yang dirancang untuk memberikan tekanan tanpa meninggalkan jejak hukum.
Ia berjalan menjauh dari kompleks.
Langkahnya stabil.
Di dalam pikirannya, struktur konflik berubah bentuk.
Awalnya: gugatan perdata terhadap kelalaian.
Kemudian: tekanan administratif.
Sekarang: intimidasi personal melalui pengawasan keluarga.
Batas telah dilanggar.
Ia memahami satu hal dengan sangat jelas.
Begitu keluarga masuk dalam lingkaran tekanan, ruang kompromi menyempit drastis.
Ia masuk kembali ke mobil.
Mesin dinyalakan.
Tangannya di setir tetap tenang.
Tidak ada gemetar.
Tidak ada perubahan napas.
Namun di balik ketenangan itu, fokusnya mengeras.
Ia tidak akan gegabah.
Tidak akan bereaksi emosional.
Setiap langkah berikutnya harus lebih presisi.
Karena lawan telah menunjukkan bahwa mereka bersedia bermain di wilayah abu-abu.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Hanya satu kalimat.
“Pagi yang tenang, bukan?”
Gu Yanqing menatap layar beberapa detik.
Ia tidak membalas.
Ia mematikan layar ponsel, lalu menatap kaca depan.
Pantulan wajahnya terlihat lebih dingin dari biasanya.
Konflik ini bukan lagi sekadar gugatan.
Ini sudah menjadi ujian kehendak.
Dan ia menyadari dengan tenang, tanpa ilusi apa pun—
Permainan telah berubah aturan.