NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali Untukmu

Terlahir Kembali Untukmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Rebirth For Love / Hamil di luar nikah / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami / Reinkarnasi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Volis

Renan Morris pernah menghancurkan hidup Ayuna hingga gadis itu memilih mengakhiri hidupnya.

Ia sendiri tak luput dari kehancuran, sampai kematian menutup segalanya.

Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Renan terlahir kembali ke hari sebelum kesalahan fatal itu terjadi.

Ayuna masih hidup.
Dan sedang mengandung anaknya.

Demi menebus dosa masa lalu, Renan memilih menikahi Ayuna.

Tapi bagi Ayuna, akankah pernikahan itu menjadi rumah, atau justru luka yang sama terulang kembali?

Bisakah seorang pria menebus dosa yang membuat wanita yang mencintainya memilih mati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Volis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3. Sah!

Kumis Heri berkedut, hatinya gemetar.

"Tuan Muda Kedua, sebaiknya Anda membicarakan hal ini dengan Tuan Muda Sulung dulu. Lagipula, Anda masih muda. Jangan gegabah."

Tatapan Renan langsung menusuk tajam.

"Apakah kamu mau mengajariku bagaimana menjalani hidupku sendiri?"

"S–saya tidak berani…" Kepala pelayan itu hampir menangis. Seumur hidup bekerja di keluarga Morris, baru kali ini ia melihat Renan benar-benar nekat seperti ini.

"Pergi. Jangan ganggu kami.” Renan menggenggam tangan gadis di belakangnya erat-erat dan langsung menuntunnya masuk ke Kantor Urusan Agama.

Heri menepuk pahanya keras-keras. “Celaka! Aku sendiri tadi yang bantu urus berkas pernikahannya! Bukankah ini berarti aku ikut jadi kaki tangan dalam bencana ini?!”

Ia gemetar sambil buru-buru mengeluarkan ponsel.

“Tuan Muda! Ini darurat besar!”

Di sisi lain, Revan memijat pelipisnya yang berdenyut saat mendengar suara panik Heri. Jika Heri meneleponnya, itu hanya berarti satu hal: Renan berulah lagi.

“Apa lagi yang dia lakukan kali ini?”

Suara Heri hampir pecah. “Tuan Muda Kedua… dia… dia sudah mau menikah! Mereka sekarang di KUA! Gadisnya menangis terus, tapi dia tetap memaksa membawa ke sini!”

"Apa?!" Revan seketika berdiri.

"MENIKAH?!”

❀❀❀

Di dalam aula KUA, suasana tidak ramai. Hanya beberapa petugas yang tersisa karena ini bukan jam pelayanan umum. Namun karena keluarga Morris adalah donatur tetap dan memiliki hubungan baik dengan pimpinan KUA, izin khusus sudah didapatkan.

Renan sebelumnya memang sudah mendaftarkan pernikahan darurat melalui admin KUA dan mengurus sebagian besar berkas dengan bantuan kepala pelayan.

Yang tersisa hanyalah persetujuan, wali, dan akad.

Bukan sesuatu yang normal. Tapi bukan mustahil.

Renan berdiri di depan meja penghulu. Nafasnya berat, tapi tekadnya tidak goyah. “Kami ingin melangsungkan pernikahan hari ini.”

Penghulu menatap keduanya lama.

Ayuna duduk diam, matanya masih merah. Bukan pemandangan bahagia seperti pasangan normal.

“Tunggu dulu.” Suara penghulu lembut namun tegas.

“Ini pernikahan. Ini ibadah. Tidak boleh ada paksaan. Tidak boleh ada tekanan. Saya ingin memastikan, ini benar-benar keputusan kalian.”

Renan menegang.

Ayuna juga menunduk kuat, jemarinya mengepal.

“Pertama,” lanjut penghulu, “apakah semua dokumen sah? Wali?”

Petugas menyerahkan map.

“Wali nasab tidak ada. Sesuai dokumen, Ayuna yatim piatu. Maka wali pernikahan akan diwakilkan wali hakim. Namun, wali hakim hanya akan menikahkan bila memandang bahwa perempuan ini menikah dengan kerelaan dan kesadaran penuh.”

Ia menatap Ayuna tepat di mata. “Nak, kamu benar-benar bersedia?”

Ruangan hening.

Ayuna menunduk, jemarinya mengepal.

Di dalam hatinya, suara-suara lama kembali bergema.

“Menikah seharusnya berarti rumah… tapi rumah itu dulu berubah jadi penjara. Aku ingin berhenti. Aku ingin lari. Tapi kenapa aku masih di sini? Karena aku masih peduli. Karena bayi ini berhak punya keluarga. Karena meski hatiku hancur, satu-satunya orang yang pernah memberiku tempat pulang adalah dia.”

Renan memejamkan mata. Genggamannya melemah sedikit.

Di dalam kepalanya, kilasan kehidupan sebelumnya menghantam:

Mayat Ayuna. Rumah kosong. Bayi yang tidak pernah lahir. Jeruji besi. Pukulan terakhir yang merenggut nyawanya.

Ia berbisik dalam hati, “Aku tidak akan mengulanginya… tidak kali ini…”

Penghulu menatapnya keduanya sekali lagi sebelum akhirnya mengangguk. “Baik. Kalau begitu, kita mulai.”

Saksi disiapkan. Wali hakim duduk. Dokumen legal dicocokkan ulang. Tidak terburu-buru. Tidak sekadar formalitas. Semua sesuai aturan.

Renan duduk tegak.

Ayuna di sampingnya menunduk pelan, namun tenang.

Penghulu memandang Renan lebih dulu. “Renan Morris bin Herman Morris, apakah kamu menikahi Ayuna Hanindiya dengan tanggung jawab penuh? Ini bukan permainan. Ini bukan pelarian. Ini ikatan hidup dan mati.”

Renan menatap lurus. “Saya bersedia.”

Lalu tatapan berpindah pada Ayuna. “Ayuna Hanindiya… apakah kamu menerima pernikahan ini dengan kesadaran, tanpa tekanan siapa pun?”

Ada jeda.

Air mata jatuh. Tapi senyumnya tipis.

Ia menarik napas dalam-dalam, kemudian membuka mulut. “Saya… bersedia.”

"Baik," kata penghulu dengan suara tenang namun dalam, "kita akan mulai akad nikahnya."

Renan menarik napas panjang. Tangannya mengepal di pangkuan. Ayuna di sampingnya menunduk, tetapi jemari tangannya sedikit bergetar. Ia mendengar detak jantungnya sendiri, seolah dunia hanya menyisakan suara itu.

Penghulu menoleh ke wali hakim. “Silakan, Pak Wali.”

Wali hakim menatap Renan, memastikan sekali lagi. “Renan, siap?”

Renan mengangguk pelan. “Siap.”

Wali hakim mengulurkan tangan kanannya di atas meja dan Renan juga mengulurkan tangannya menjabat tangan wali hakim.

Lalu kalimat sakral itu pun dimulai.

Dengan suara yang tegas dan mantap, wali hakim mengucapkan, “Saya nikahkan dan kawinkan Ayuna Hanindiya binti Abdullah kepadamu, Renan Morris bin Herman Morris, dengan maskawin seperangkat alat salat dibayar tunai.”

Udara seolah berhenti.

Semua mata tertuju pada Renan.

Renan mengangkat wajahnya. Tanpa ragu sedikit pun, tanpa terbata, dengan suara yang dalam, penuh tekad, dan sedikit bergetar karena menahan haru, ia menjawab:

“Saya terima nikah dan kawinnya Ayuna Hanindiya binti Abdullah dengan maskawin tersebut tunai.”

Saksi langsung menatap satu sama lain.

“Sah.”

“Sah.”

Penghulu menutup mata sejenak, lalu tersenyum lega.

“Alhamdulillah.”

Dunia seperti berhenti bergerak.

Ayuna menutup mulutnya. Bahunya bergetar. Tapi kali ini bukan ketakutan, melainkan kelegaan yang menyiksa sekaligus membebaskan.

Renan menunduk pelan. Matanya memerah, bukan karena penyesalan, tapi karena kebahagiaan yang terasa menyakitkan.

Penghulu menatap keduanya. "Sekarang kalian bukan hanya dua orang yang duduk berdampingan, tapi suami dan istri. Jalani dengan tanggung jawab, kasih sayang, dan iman.”

Renan menoleh.

Ayuna juga menoleh.

Tatapan mereka bertemu. Bukan dingin, bukan canggung, tapi berat, penuh masa lalu, masa kini, dan masa depan yang baru saja mereka pilih.

Renan berbisik pelan. “Aku di sini, mulai sekarang dan seterusnya.”

"Bersama kita akan membangun rumah tangga yang pernah aku janjikan padamu."

Dadanya mengencang, seolah ada suatu yang menghantam dari dalam.

Kalimat itu.

Kalimat yang dulu membuatnya menerima cinta Renan.

Kalimat yang dulu memberinya harapan saat dia merasa sendirian.

"Aku akan memberimu rumah."

Kalimat ini juga yang membuatnya tetap bertahan meski tersiksa hati dan jiwa.

Bibirnya gemetar. Lalu tersenyum sambil menangis.

Ternyata Renan masih mengingat semuanya.

Dan hari ini untuk pertama kalinya sejak lama ia percaya mungkin kali ini ia benar-benar punya rumah.

Bukan lagi janji kosong seperti dulu, tapi benar-benar rumah yang dia impikan.

Suasana sakral itu terhenti sejenak saat terdengar dering ponsel.

“Tinggg… Tinggg… Tinggg…” Suara itu memecah keheningan, tapi terasa asing di antara doa dan hening yang baru saja menyelimuti ruangan.

Renan menarik napas, lalu melirik layar ponselnya. Nama Kakak terpampang jelas.

Rahangnya langsung menegang. Tatapannya terpaku pada nama itu sejenak. Kemudian, dengan tanpa ragu ia menekan tombol merah.

Penghulu dan para saksi saling berpandangan sesaat. Beberapa petugas terdiam, menyadari ada sesuatu yang tidak beres.

Renan menarik napas panjang, lalu mematikan kembali ponselnya. “Tidak penting,” gumamnya dingin. “Tidak ada yang lebih penting dari pernikahan ini.”

Ayuna ikut melihat layar sebelum ponsel itu mati. Kata itu masih menempel di kepalanya.

Kakak.

Dan bersama kata itu, satu dunia ikut datang. Orang tua Renan, keluarga Morris, status mereka, dan dirinya.

Seorang yatim piatu tanpa siapa pun.

Dadanya terasa berat. Tangan yang tadi hangat, kini dingin kembali.

Apakah mereka akan menerimanya? Atau ia hanya akan menjadi noda dalam keluarga itu?

1
Anonymous
Halah ... cowok kek gitu gak usah dikasih kesempatan
Volis: Temanya memang itu 😊
total 3 replies
Aku Fujo
maantaapppp
Volis
Maaf, ya. Author ternyata salah update bab. Bab Tidak Semua Orang Tulus itu seharusnya bab 12 🤗
NOname 💝
Demnnnn
gak ketebak sih ini, siapa yang mati tadi? 😭🤌🏻

Btw semangat ya Thor. mampir juga yuk di karya aku PENYANGKALAN. Siapa tau suka dengan sisipan kata-kata sangsekerta
Adel
bentar... ini dia mati beneran? Trus idup lagi? Gimana? Moga next chap ngejawab🙌
Adel
hm, ini si Renan tanggung jawab nggak lo👊
Adel
hm, mungkin dia mati suri
Indah MB
semoga keluarga renan baik dan kocak🤭
Indah MB
Renan jgn mengulangi kesalahan yg sama lagi ya
Indah MB
pantas di maafin g ya thor? soalnya belum tau 2 tahun lalu itu cerita mereka bagaimana..
Indah MB
syuka banget klo yg terlahir kembali gini hehehe ... 💪 thor ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!