Lanjutan pewaris dewa pedang
Jian Wuyou yang sedang melawan langit dan utusannya harus mengalami kegagalan total dalam melindungi peti mati istrinya.
Merasa marah dia mulai naik ke alam yang lebih tinggi yaitu langit, tempat di mana musuh-musuh yang mempermainkannya berada.
Tapi sayang dia kalah dan kembali ke masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Tangisan Iblis dan Penyerbuan Gerbang Langit
Dunia telah kehilangan warnanya bagi Jian Wuyou. Kepergian Li Hua yang tragis—jiwanya yang hancur menjadi debu di depan matanya sendiri—telah merobek kemanusiaan yang tersisa dalam dirinya. Di tengah puing-puing paviliun yang runtuh, yang ada hanyalah sesosok monster dengan rambut putih yang berkibar liar dan aura kematian yang sanggup membusukkan udara.
"Mo Tian..." suara Jian Wuyou terdengar seperti gesekan logam di atas batu nisan.
Kaisar Mo Tian mencoba menyerang dengan tombak cahayanya, namun Jian Wuyou menghilang. Dalam sekejap, dia sudah berada di depan wajah Mo Tian. Tangan kanan Jian Wuyou yang menghitam mencengkeram leher sang Kaisar dengan kekuatan yang mampu meremukkan gunung.
"Kau suka menghancurkan apa yang berharga bagi orang lain, bukan?" desis Jian Wuyou.
KRAAAKK!
Jian Wuyou tidak membunuhnya dengan cepat. Ia mematahkan satu per satu tulang rusuk Mo Tian dengan energi Qi yang dikendalikan secara presisi agar sang korban tetap sadar. Ia kemudian menusukkan pedang Yue Sha ke paha Mo Tian, membiarkan pedang haus darah itu menghisap esensi kehidupan sang Kaisar secara perlahan.
"Ampun... Jian Wuyou... Hentikan!" rintih Mo Tian, keangkuhannya hancur total digantikan oleh kehinaan.
"Ampun?" Jian Wuyou tertawa, suara tawa yang kering dan hampa. "Apakah kau memberikan ampunan pada jiwa Li Hua?!"
Dengan satu sentakan brutal, Jian Wuyou merobek sayap energi di punggung Mo Tian dan membuang tubuh sang Kaisar yang sudah sekarat dan cacat ke dasar jurang pegunungan. Ia tidak peduli apakah pria itu hidup atau mati; baginya, Mo Tian hanyalah pion kecil dari dalang yang lebih besar.
Jian Wuyou mendongak ke langit. Matanya yang merah menembus awan, menatap jauh melampaui Alam Atas. Di sana, di balik lapisan dimensi yang hanya bisa dicapai oleh para Dewa Sejati, terletak Alam Langit Tertinggi—tempat para Utusan Langit lainnya dan kehendak semesta bersemayam.
"Jika Langit yang menulis takdir ini... maka aku akan menghapus Langit dari keberadaan." ucap Jian Wuyou dengan kebencian yang murni.
Ia mulai terbang ke atas, menembus atmosfer dengan kecepatan yang membakar udara di sekitarnya.
"Tuan! Berhenti!" teriak Jiwu dari bawah. Klonnya tahu bahwa kekuatan Jian Wuyou, meski saat ini berada di puncaknya karena amarah, belum benar-benar setara untuk menyerang Alam Langit secara langsung. Itu adalah tindakan bunuh diri.
Namun, Jian Wuyou tidak lagi mendengarkan. Ia telah kehilangan alasan untuk hidup, dan satu-satunya hal yang membuatnya tetap bernapas adalah keinginan untuk menghancurkan sumber penderitaannya.
Saat ia mencapai batas tertinggi Alam Atas, sebuah gerbang raksasa yang terbuat dari emas murni dan cahaya suci muncul menghalangi jalannya. Ini adalah Gerbang Keabadian, pintu masuk menuju Alam Langit. Ribuan jenderal dewa yang kekuatannya jauh di atas Mo Tian berdiri berjajar, menjaga gerbang tersebut.
"Manusia fana! Beraninya kau menodai kesucian Gerbang Langit dengan hawa kotor itu! Kembali atau kau akan dihapuskan!" gema suara dari balik gerbang.
Jian Wuyou tidak berhenti. Ia justru memusatkan seluruh sisa energi dari tujuh Mustika Naga dan menyatukannya dengan rasa sakitnya yang terdalam.
"DOMAIN KEHENDAK: PEMBANTAIAN SURGA!"
Jian Wuyou menghantamkan Yue Sha ke arah gerbang tersebut. Ledakan energi ungu gelap beradu dengan cahaya emas gerbang, menciptakan gelombang kejut yang meretakkan ruang di sekitar mereka. Tubuh Jian Wuyou mulai mengeluarkan darah dari pori-porinya karena tekanan dimensi yang terlalu besar untuk tingkat kultivasinya saat ini.
Kulitnya mulai retak, tulang-tulangnya berderak di bawah tekanan hukum alam langit yang mencoba menolaknya. Namun, ia tidak mundur satu inci pun.
"Bukalah... atau aku akan meruntuhkan seluruh fondasi dunia ini!" raung Jian Wuyou.
Dengan satu ledakan amarah terakhir, ia berhasil membuat retakan kecil pada Gerbang Keabadian. Namun, dari balik retakan itu, muncul sebuah tangan raksasa yang terbuat dari rasi bintang, siap untuk menekan Jian Wuyou kembali ke bumi.