Eva sangat membenci ibunya yang terus-menerus membuat masalah, sementara ia harus bekerja keras seorang diri demi bertahan hidup.
Untuk meredakan stres, Eva gemar menari. Ia bekerja sebagai cleaning-service di sebuah perusahaan balet dan kerap mencuri waktu untuk menari sendirian saat gedung sudah kosong.
Hingga suatu malam, pemilik gedung yang tampan itu memergokinya, mengira Eva adalah penari balet sungguhan, dan Eva memilih tidak meluruskan kesalahpahaman itu. Pekerjaan ini terlalu penting untuk dipertaruhkan.
Farris Delaney.
Hampir semua perempuan di perusahaan itu tergila-gila padanya. Banyak yang berharap bisa menjadi kekasihnya. Eva berbeda. Ia hanya ingin rahasianya aman dan sebisa mungkin menjauh darinya.
Masalahnya, dosa-dosa ibunya kembali menyeretnya ke masalah yang lebih dalam. Dan perlahan Eva menyadari, Farris memiliki kuasa untuk mengubah hidupnya, bahkan menyelamatkannya dari kematian. Tetapi ia tidak tahu harus berbuat apa.
୨ৎ MARUNDA SEASON IV ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasrin
Saat aku masuk ke Gang Royal, Eva memberi alamatnya.
Orang-orang langsung sadar kedatanganku. Saat aku mengemudikan SUV menuju gedung apartemen tempat Eva tinggal, aku melihat satu pengintai, dan yang lain menelepon buat memberi tahu anggota geng mereka kalau aku ada di sini.
Enggak ada yang bakal ambil risiko selama ada aku, karena mereka enggak mau cari masalah sama Marunda.
"Kamu bisa parkir di sana, tempat orang-orang duduk di trotoar," kata Eva.
Aku menghentikan SUV, saat kami keluar, seorang pria berusia sekitar lima puluhan berdiri, matanya berpindah dari Eva ke aku. Pria itu mengingatkan aku pada aktor di The Green Mile.
"Ini pacar kamu, Nak?" Dia bertanya ke Eva.
Eva mendekat dan mencium pipinya. "Iya. Yang baik ya, Nasrin."
"Aku bakal baik selama dia enggak ngasih alasan buat sebaliknya," kata Nasrin.
Aku suka pria ini.
Aku ulurkan tangan ke dia, aku memperlakukan Nasrin sama seperti aku memperlakukan ayah mana pun dari gadis yang aku taksir. "Senang kenal kamu, Pak."
"Enggak usah pakai omong kosong 'Pak' segala. Nasrin aja cukup!"
Matanya beralih ke kiri kami dan dia menatap sebuah sedan hitam yang melaju pelan di jalan.
Aku melihat ke arah kendaraan itu dan sadar itu Ambon, seorang gangster yang sumber penghasilan utamanya mencuri mobil. Empat anak buahnya ada di mobil bersamanya.
Mereka sedang di tengah perang wilayah dengan gangster lain, dan sebenarnya aku berharap mereka menang.
"Terus jalan!" teriak Nasrin. "Enggak ada yang bisa dilihat di sini." Lalu dia melihat Eva. "Bawa cowok kamu masuk sebelum ada yang mencoba merampoknya karena pakaiannya mahal."
Ambon mengangkat dagunya ke aku sebelum sedan itu melaju kencang.
"Iya."
Nasrin berteriak ke arah mobil. "Pergi sana, bajingan!!"
"Udah cukup, Nasrin," gumam Eva. "Jangan memancing mereka."
Kami masuk ke gedung dan naik tangga ke lantai tiga. Saat Nasrin mengikuti kami ke apartemen, Eva berkata, ”Jangan peduliin dia."
"Aku cuma mau bikin aturan buat mereka," gumamnya sebelum melirikku. "Siapa nama kamu?"
Sial.
Ada kemungkinan Nasrin tahu soal Marunda.
"Namanya Farris. Dia pemilik perusahaan balet."
Nasrin serasa ingin menyodorkan lebih banyak pertanyaan. Tapi Eva buru-buru memotongnya, "Nanti aku bakal ceritain semuanya tentang dia.
"Ohhhh," kata Nasrin. Detik berikutnya, dia kasih aku senyum lebar. "Senang kenal sama kamu, Tuan." Dia jalan ke pintu. "Aku bakal jagain mobil kamu biar enggak ada yang nyopot rodanya."
"Makasih," gumamku. Waktu dia tutup pintu di, aku menoleh ke Eva. "Aku ketinggalan sesuatu?"
"Enggak. Nasrin emang aneh kayak gitu." Dia lepas jaketnya. "Kamu mau minum? Aku punya jus sama kopi."
Aku melihat sekeliling ruangan kecil itu. "Enggak, makasih. Aku baik-baik aja."
Rasa miris langsung menusuk dadaku saat lihat apartemen payah yang Eva sebut rumah.
Ada sofa tua sama meja tamu yang kakinya kurang satu. Tumpukan batu bata menahan biar mejanya enggak jatuh.
Dindingnya kayak enggak pernah dicat lagi selama dua puluh tahun terakhir dan jendelanya kelihatan dipaku.
Aku lagi berusaha mencerna keadaan Eva, yang parah banget dan benar-benar kebalikan sama hidup aku.
Berusaha menutupi reaksi aku, aku balik fokus ke dia, lihat dia lagi memperhatikan aku, aku senyum dan bilang, "Kita sendirian."
"Iya." Bibirnya melengkung. "Kamu mau ngapain?"
"Kita bisa duduk dan ngobrol."
Senyumnya hilang. "Ngobrol? Aku kira kamu mau seks?"
Sambil pegang tangannya, aku tarik dia ke sofa dan duduk di sampingnya. "Itu bisa menyusul. Kita kenalan dulu aja lebih jauh."
"Oh ... oke."
Dia memutar badannya, menyenderkan bahu ke sandaran sofa, terus melihatku. "Kamu bilang Braun itu salah satu sahabat terbaik kamu. Kamu punya banyak teman?"
Aku mengangguk. "Kalau kamu?"
"Aku punya beberapa. Aku deket sama waitress lain."
Aku angkat lengan dan taruh di bahunya, aku tarik dia lebih dekat sampai dia bersandar ke aku, dan selama satu jam berikutnya kami mengobrolkan hal-hal yang ringan.
JD penasaran Endingnya