Lilian Zetiana Beatrixia. Seorang mahasiswi cantik semester 7 yang baru saja menyelesaikan proposal penelitiannya tepat pada pukul 02.00 dini hari. Ia sedang terbaring lelah di ranjangnya setelah berkutat di depan laptopnya selama 3 hari dengan beberapa piring kotor yang tak sempat ia bersihkan selama itu.
Namun bagaimana reaksinya ketika keesokan harinya ia terbangun di sebuah ruangan asing serta tubuh seorang wanita yang bahkan sama sekali tak ia kenali.
Baca setiap babnya jika penasaran, yuhuuuu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ImShio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kakek
Wu Zetian terduduk diam cukup lama di sisi ranjang. Setelah arus ingatan itu berhenti, kepalanya masih terasa berat, seolah baru saja dihantam gelombang besar. Namun anehnya, pikirannya justru perlahan menjadi jernih. Seperti danau yang kembali tenang setelah badai berlalu.
Ruangan itu sunyi. Tidak ada suara apa pun selain napasnya sendiri yang masih terdengar sedikit berat.
“Lalu…” gumamnya pelan, suaranya serak karena tenggorokan yang kering.
“Apa yang harus kulakukan sekarang?”
Pertanyaan itu menggantung di udara, tanpa jawaban. Ia menunduk, menatap tubuhnya sendiri. Tubuh yang kini ia tempati, tubuh Wu Zetian.
Terlalu kurus. Tulang-tulangnya terasa menonjol di balik kulit pucat yang hampir transparan. Saat ia sedikit menggerakkan jari, terasa nyeri halus di sendi-sendi, seolah tubuh ini telah lama tidak digunakan sebagaimana mestinya. Setiap tarikan napas terasa dangkal. Setiap gerakan kecil menguras tenaga lebih banyak daripada yang seharusnya.
Ia melirik ke sekeliling.
Tidak ada siapa pun.
Tidak ada pelayan yang menunggu perintah di balik pintu. Tidak ada suara langkah kaki di luar kamar. Tidak ada bisikan, tidak ada panggilan. Hanya dirinya sendiri, terperangkap di tempat yang terasa asing namun menyimpan begitu banyak kesedihan.
Wu Zetian benar-benar sendirian.
Perlahan, ia bangkit dari ranjang. Kakinya sempat gemetar saat menapak lantai, namun ia menahan diri agar tidak kembali duduk. Ia berdiri, menegakkan tubuhnya sebisa mungkin, lalu mulai mengamati ruangan tempat ia tinggal.
Pandangan matanya menyapu setiap sudut.
Lantai kayu tertutup debu tebal, meninggalkan bekas jejak samar setiap kali ia melangkah. Sarang laba-laba menggantung di sudut-sudut langit-langit, tebal dan tak tersentuh, pertanda bahwa ruangan ini sudah lama tidak benar-benar dihuni. Beberapa perabot kayu tampak retak dan patah. Sebuah meja dengan salah satu kaki yang disangga balok kecil. Lemari tua yang pintunya tidak bisa menutup sempurna. Semuanya dibiarkan berserakan, seolah keberadaannya tidak pernah dianggap penting.
Hatinya terasa sunyi. Bukan kesepian yang tiba-tiba, melainkan kesepian yang menumpuk bertahun-tahun, meresap ke dalam dinding dan lantai, menyatu dengan debu dan udara.
Wu Zetian menarik napas panjang, membiarkan udara memenuhi paru-parunya yang lemah.
“Tidak akan ada yang datang membantuku,” katanya lirih, namun tegas.
“Kalau aku terus menunggu, aku hanya akan mati membusuk di sini.”
Matanya menyipit sedikit.
“Aku ingin hidup,” lanjutnya, suaranya pelan namun penuh tekad.
“Dan kalau begitu… aku harus mulai dari tanganku sendiri.”
Keputusan itu terasa sederhana. Tidak ada sumpah besar, tidak ada janji pada langit atau dewa. Namun bagi Wu Zetian, itulah titik awal segalanya. Garis tipis yang memisahkan antara menyerah dan bertahan.
Ia melangkah ke sudut ruangan dan mengambil sehelai kain lama yang tergeletak begitu saja. Kain itu kasar dan berdebu, namun masih cukup kuat. Dengan gerakan pelan dan napas yang ia atur sebaik mungkin, Wu Zetian mulai membersihkan meja.
Debu beterbangan, membuatnya terbatuk kecil. Ia berhenti sejenak, menenangkan napas, lalu melanjutkan lagi. Setelah meja, ia beralih ke lantai. Menyapu perlahan, sedikit demi sedikit. Tidak terburu-buru, tidak memaksakan diri. Tubuhnya berkali-kali memberi sinyal lelah, namun ia mengabaikannya.
Setiap sudut yang menjadi bersih memberinya rasa puas tersendiri. Bukan karena ruangan itu kini terlihat layak, melainkan karena ia merasa hidup dan pertama kalinya bergerak melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri di dunia antah-berantah ini.
Waktu berlalu tanpa ia sadari. Cahaya matahari yang masuk melalui celah jendela bergeser perlahan. Tubuhnya mulai terasa semakin berat, namun pekerjaannya akhirnya selesai. Ruangan itu kini tampak jauh lebih layak. Bersih, rapi, meski tetap sederhana dan tua.
Wu Zetian berdiri di tengah ruangan. Dadanya naik turun cepat. Napasnya ngos-ngosan, keringat membasahi pelipisnya. Kakinya gemetar, hampir menyerah menopang tubuhnya sendiri.
“T-tubuh ini…” gumamnya sambil mengusap keringat.
“Benar-benar lemah.”
Ia tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip tekad daripada kebahagiaan.
“Tapi setidaknya aku masih bisa bergerak,” lanjutnya.
“Ya… aku harus tetap bertahan.”
Rasa haus menyerang tiba-tiba, seperti api kecil yang menyala di tenggorokannya. Ia menelan ludah, namun tak membantu. Wu Zetian segera mencari sumber air, membuka beberapa wadah kayu hingga akhirnya menemukan sebuah kendi tua di sudut dapur kecil.
Airnya tidak banyak, namun masih jernih.
Ia menuangkan ke dalam cangkir dan meneguknya perlahan. Tegukan pertama terasa seperti kehidupan yang kembali mengalir ke dalam tubuhnya. Dingin, namun menenangkan.
Setelah beristirahat beberapa menit, dorongan untuk melihat dunia luar muncul dengan sendirinya. Wu Zetian berjalan ke pintu dan membukanya perlahan.
Cahaya matahari menyambutnya.
Ia refleks menyipitkan mata, lalu mengangkat tangan untuk melindungi penglihatannya. Udara segar menyentuh wajahnya, membawa aroma tanah lembap dan dedaunan. Angin berhembus ringan, mengibaskan rambutnya yang panjang dan kusut.
Barulah saat itu ia benar-benar melihat di mana dirinya berada.
Rumah itu berdiri di tengah area terpencil. Terlihat di semua penjuru di mana hutan lebat membentang, pepohonan tinggi dan rimbun seolah membentuk dinding alami. Namun tak jauh dari sana, berdiri sebuah rumah tua yang mulai reyot dan merupakan satu-satunya bangunan lain yang terlihat di sekitar tempat itu.
Wu Zetian terdiam cukup lama.
“Jadi sejauh ini mereka mengasingkan tubuh ini…” ucapnya lirih.
“Bukan hanya dari kediaman utama… tapi juga dari dunia mereka.”
Dadanya terasa perih. Ia membayangkan pemilik asli tubuh ini. Gadis sembilan belas tahun yang terbuang, perlahan sekarat tanpa suara. Hatinya terasa sakit memikirkan sejauh apa penderitaan yang harus ditanggung Wu Zetian sebelumnya.
“Keji…” gumamnya pelan.
“Benar-benar keji. Membuang anak sah ke tempat seperti ini, seolah-olah tak pernah ada.”
Namun setelah beberapa saat, pikirannya berbelok. Emosi panas itu perlahan mereda, digantikan oleh sudut pandang yang lebih tenang.
“Tapi…” katanya sambil menghela napas.
“Mungkin ini juga sebuah berkah.”
Ia menatap sekeliling lagi.
“Tak ada intrik. Tak ada senyum palsu. Tak ada racun tersembunyi.”
“Aku bisa bernapas tanpa diawasi jika berada di sini.”
Pandangan matanya tertuju pada pagar besi kokoh yang mengelilingi rumah. Pekarangan itu luas, meski tampak tak terurus. Setidaknya, pagar itu memberi rasa aman. Hewan buas dari hutan tidak akan mudah masuk.
Ia mengangguk kecil, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.
Langkahnya kemudian berlanjut mengitari rumah. Ia menyusuri sisi bangunan, matanya mencari sumber air lain. Tak lama kemudian, di belakang rumah, ia menemukan sebuah sumur tua. Dindingnya ditumbuhi lumut, namun talinya masih kuat. Sumur itu sederhana, tapi masih bisa digunakan.
Rasa lega sempat muncul. Namun sebelum sempat berlama-lama, perutnya berbunyi pelan.
Krrr…
Wu Zetian refleks memegangi perutnya, lalu tersenyum kecut.
“Sepertinya aku lupa satu hal penting,” gumamnya.
Ia kembali masuk ke dalam rumah. Membuka lemari, menggeser kotak kayu, memeriksa sudut-sudut dapur kecil. Namun hasilnya nihil. Tidak ada beras. Tidak ada sayuran. Tidak ada sedikit pun makanan tersisa.
Ia menghela napas, lalu kembali keluar. Dengan langkah pelan, ia mulai mengelilingi pekarangan. Matanya meneliti tanah, tanaman liar, dan semak-semak di sekitar pagar. Beberapa menit berlalu, hingga wajahnya sedikit berseri.
“Singkong…”
Sebuah pohon singkong tumbuh tak jauh dari pagar. Harapan kecil muncul di dadanya. Ia mendekat dan mencoba mencabutnya, namun baru menarik sekali, tubuh lemahnya langsung kewalahan. Tangannya tak cukup kuat dan kakinya hampir kehilangan keseimbangan.
Ia berhenti, mengatur napas.
“Aku butuh alat…”
Matanya menelusuri sekitar, mencari kayu atau sesuatu yang bisa digunakan. Dan saat itulah pandangannya teralihkan ke arah rumah di sebelahnya.
Di depan rumah itu, seorang kakek tua duduk sendirian.
Tubuhnya bongkok, rambutnya memutih seluruhnya. Tangannya bertumpu pada tongkat kayu. Tidak ada seorang pun di sisinya. Rumah itu tampak sunyi dan sederhana.
Dada Wu Zetian tiba-tiba terasa sesak.
Tanpa ia sadari, air mata menetes di pipinya. Bayangan kakeknya di kampung halaman muncul begitu jelas. Senyuman hangat, tangan kasar yang selalu menggenggam tangannya, suara yang selalu memanggil namanya dengan lembut.
“Kakek…” bisiknya dengan suara bergetar.
“Aku rindu…”
Matanya memanas.
“Aku ingin keluar dari dunia asing ini,” lanjutnya lirih.
“Aku bahkan tak tahu… apakah aku masih bisa menemuimu lagi setelah ini.”
Air mata itu jatuh lebih banyak. Ia tidak berusaha menahannya.
Dan sebelum pikirannya sempat mencegahnya, kakinya sudah bergerak pelan. Langkah demi langkah membawanya mendekati rumah tersebut. Setiap langkah terasa berat, namun juga penuh harapan.
Wu Zetian tidak tahu apa yang akan ia temukan di sana. Namun untuk pertama kalinya sejak terbangun di tubuh ini, ia tidak lagi merasa sepenuhnya sendirian.
---
💛
Jangan lupa like, komen, subscribe, dan vote yaa~
Terima kasih, orang baik 😘