"Ayah, kenapa Nin dipakaikan baju pengantin? Nin kan besok mau ujian matematika..."
Kalimat polos Anindya (10 tahun) menjadi pisau yang menyayat hati Rahardian. Demi melunasi hutang nyawa dan harta pada keluarga kaya di kota, Rahardian terpaksa menjual masa depan putri tunggalnya.
Anindya dibawa pergi, meninggalkan bangku sekolah demi sebuah pernikahan dini yang tidak ia pahami.
Di rumah mewah Tuan Wijaya, Anindya bukanlah seorang menantu. Ia adalah pelayan, samsak kemarahan ibu mertua, dan mainan bagi suaminya yang sombong, Satria.
Namun, di balik tangisnya setiap malam, Anindya menyimpan sebuah janji. Ia akan terus belajar meski tanpa buku, dan ia akan bangkit meski kakinya dirantai tradisi.
Ini adalah kisah tentang seorang bocah yang dipaksa dewasa oleh keadaan, dan perjuangannya untuk kembali menjemput martabat yang telah digadaikan ayahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Langkah Pertama Menuju Matahari
Bab 18: Langkah Pertama Menuju Matahari
Udara subuh di Desa Sukasari biasanya membawa aroma tanah basah dan ketenangan yang damai, namun bagi penghuni rumah megah keluarga Wijaya, pagi ini terasa seperti napas terakhir sebelum sebuah vonis dijatuhkan. Anindya tidak menunggu matahari terbit sepenuhnya untuk menyinari pengkhianatan yang ia lakukan. Ia sudah berdiri di dalam ruang kerja Tuan Wijaya tepat pukul lima pagi.
Penampilannya sangat kontras dengan kemewahan ruangan yang penuh dengan furnitur kayu jati dan lampu gantung kristal itu. Anindya mengenakan pakaian paling sederhana yang ia miliki: kemeja flanel kusam yang warnanya sudah memudar dan celana kain hitam yang sedikit longgar. Di bahunya, tersampir tas ransel tua yang talinya sudah hampir putus, berisi seluruh hidupnya yang ringkas.
Tuan Wijaya duduk di balik meja besarnya yang megah. Wajahnya yang biasa angkuh kini tampak sepuluh tahun lebih tua hanya dalam satu malam.
Kantung matanya hitam, mencerminkan malam panjang tanpa tidur. Tangannya sedikit gemetar saat memegang pulpen emasnya, menatap dua lembar kertas yang akan mengubah segalanya: Surat Pernyataan Lunas Hutang atas nama Rahardian dan sebuah cek bank senilai seratus juta rupiah.
"Tanda tangani di sini, Tuan," suara Anindya keluar dengan datar, tanpa emosi, namun penuh otoritas yang tak terbantahkan. Tidak ada lagi sisa-sisa gadis kecil yang dulu bersimpuh memohon ampun di kaki pria ini.
Tuan Wijaya menatap Anindya dengan pandangan yang campur aduk antara benci, tidak percaya, dan ketakutan yang murni. "Kau benar-benar ular yang mematikan, Anindya. Aku tidak pernah menyangka anak kecil yang dulu menangis memohon-mohon agar bapaknya tidak dipenjara bisa berubah menjadi monster yang memeras majikannya sendiri."
Anindya tersenyum tipis—sebuah senyum yang tidak sampai ke mata, senyum yang dingin seperti es.
"Ular tidak akan mengeluarkan bisanya jika tidak ada yang menginjak kepalanya berkali-kali, Tuan. Anda yang menciptakan saya. Anda yang mengajari saya bahwa di dunia ini, hanya orang kuat yang bisa bertahan. Sekarang, silakan tanda tangani, sebelum fajar menyingsing dan email itu terkirim ke kantor pajak."
Dengan berat hati dan napas yang sesak, Tuan Wijaya menorehkan tanda tangannya. Bunyi goresan pulpen di atas kertas itu terdengar seperti musik kemenangan yang paling merdu di telinga Anindya.
Begitu selesai, Anindya menyambar kertas-kertas itu dengan cepat. Ia memeriksanya dengan teliti di bawah lampu meja—setiap materai, setiap stempel, tidak boleh ada celah bagi keluarga ini untuk menjeratnya kembali secara hukum.
"Terima kasih atas 'pesangon' ini. Ini adalah harga dari delapan tahun masa kecil saya yang Anda rampas untuk mencuci baju dan membersihkan lantai rumah ini," ucap Anindya sambil memasukkan dokumen berharga itu ke dalam tasnya.
Saat Anindya hendak melangkah keluar, pintu ruangan terbuka dengan suara dentuman keras. Nyonya Lastri berdiri di sana. Rambutnya masih berantakan, ia hanya mengenakan jubah tidur sutranya, namun matanya menyala-nyala karena amarah. Ia pasti sudah menyadari ada sesuatu yang tidak beres sejak ia mendengar suara suaminya berdebat di pagi buta.
"Apa-apaan ini, Wijaya? Kenapa pelayan ini ada di ruang kerjamu pagi-pagi begini?" Teriak Nyonya Lastri. Matanya yang tajam menangkap sekilas kertas cek di tangan Anindya sebelum masuk ke tas. "Kau memberinya uang? Kau gila? Setelah semua yang kita berikan padanya, kau membiarkannya merampok kita?"
Tuan Wijaya hanya diam, ia memijat pelipisnya dengan frustrasi. "Biarkan dia pergi, Lastri. Jangan tanya apa pun. Biarkan dia pergi sekarang juga sebelum semuanya hancur!"
"Tidak! Aku tidak akan membiarkan pencuri ini pergi membawa uang kita!" Nyonya Lastri mencoba menerjang Anindya, tangannya terangkat hendak menjambak rambut Anindya seperti yang biasa ia lakukan selama delapan tahun terakhir.
Namun, kali ini realitanya berbeda. Anindya tidak menghindar atau meringkuk ketakutan. Dengan gerakan refleks yang cepat hasil dari kerja kasar bertahun-tahun, Anindya menangkap pergelangan tangan Nyonya Lastri di udara. Cengkeramannya begitu kuat hingga Nyonya Lastri memekik kesakitan, matanya membelalak karena terkejut.
"Lepaskan! Dasar anak kurang ajar!"
Anindya mendekatkan wajahnya ke telinga Nyonya Lastri, membisikkan kata-kata dengan suara rendah yang membuat wanita itu seketika membeku. "Jika Anda menyentuh saya satu kali lagi, saya akan memastikan foto-foto kemesraan Anda dengan supir pribadi Tuan Wijaya di villa puncak dua tahun lalu sampai ke tangan pengacara perceraian suami Anda pagi ini juga. Saya punya semua salinan rekaman yang Anda pikir sudah Anda hapus dari server rumah ini."
Nyonya Lastri tersentak. Wajahnya yang penuh riasan sisa semalam itu kini tampak pucat pasi, seperti mayat. Ia mundur perlahan, ketakutan yang murni terpancar dari matanya. Ia baru menyadari bahwa selama bertahun-tahun, ia telah memelihara seorang musuh yang sangat cerdas di bawah tangganya sendiri.
Anindya melepaskan tangan Nyonya Lastri dengan kasar. "Selamat tinggal, Nyonya. Semoga rumah mewah ini tetap terasa hangat dan tenang tanpa 'sampah' seperti saya di dalamnya."
Anindya berjalan menyusuri lorong panjang yang gelap menuju pintu belakang. Di sana, Mbok Sum sudah menunggu dengan air mata yang mengalir deras di pipinya yang keriput. Mbok Sum memeluk Anindya erat-erat, sebuah pelukan yang penuh dengan doa dan rasa haru.
"Nduk... pergi yang jauh. Jangan pernah menoleh ke belakang, apa pun yang terjadi," bisik Mbok Sum sambil menyelipkan bungkusan nasi timbel dan botol air minum ke dalam tas Anindya. "Jadilah orang hebat di kota sana. Tunjukkan pada dunia kalau kamu bukan pelayan."
"Terima kasih, Mbok. Nin tidak akan pernah lupa siapa yang memberi Nin makan saat Nin lapar," Anindya mencium tangan wanita tua itu dengan takzim.
Saat ia melangkah ke halaman samping menuju gerbang besar, ia melihat Satria berdiri di samping mobilnya. Pemuda itu tampak hancur berkeping-keping. Ia tidak berani mendekat, ia hanya menatap Anindya dari jauh dengan mata yang berkaca-kaca. Ada ribuan kata yang ingin ia ucapkan—permintaan maaf atas ketidakberdayaannya, janji cinta yang sia-sia, atau permohonan agar Anindya tetap tinggal. Namun, ia tahu ia tidak punya hak lagi.
Anindya berhenti sejenak, menatap Satria untuk terakhir kalinya. Ada rasa terima kasih karena Satria memberinya buku, tapi rasa itu terkubur oleh kenyataan bahwa Satria adalah bagian dari sistem yang menyiksanya.
"Hiduplah dengan benar, Satria. Jadilah laki-laki yang punya tulang punggung, bukan hanya boneka ibumu," ucap Anindya dengan suara yang cukup keras agar Satria mendengarnya di tengah sunyinya pagi.
Satria hanya bisa mengangguk lemah, air matanya jatuh tanpa suara saat melihat sosok Anindya berjalan melewati gerbang besi yang selama delapan tahun ini menjadi penjaranya.
Anindya terus berjalan, kakinya terasa ringan seolah tidak lagi menyentuh tanah. Ia tidak menoleh lagi ke arah rumah besar itu. Sinar matahari pagi mulai menyentuh wajahnya, terasa hangat dan menjanjikan kebebasan. Ia menuju terminal bus desa. Tujuannya adalah Jakarta—sebuah kota yang kejam, namun menjanjikan anonimitas. Di sana, tidak ada yang mengenalnya sebagai "Anindya si pelayan".
Di dalam bus yang mulai bergerak meninggalkan debu desa, Anindya duduk di dekat jendela. Ia mengeluarkan ponsel lamanya dan menelepon seseorang di puskesmas desa tempat ayahnya dirawat.
"Halo? Ini Anindya. Tolong siapkan administrasi kepindahan Ayah ke rumah sakit di kota. Saya akan segera sampai dengan uangnya. Beritahu Ayah... maharnya sudah saya ambil kembali. Kita sudah bebas."
Suaranya bergetar, namun bukan karena sedih. Itu adalah getaran kemenangan yang murni.
Sepanjang perjalanan yang memakan waktu berjam-jam, Anindya tidak memejamkan mata. Ia membuka laptop tuanya. Ia sudah memiliki rencana yang matang. Dengan ijazah Paket C di tangan dan tabungan data rahasia Wijaya sebagai senjatanya, ia akan mendaftar beasiswa jalur khusus. Ia akan belajar hukum. Ia ingin menjadi orang yang bisa menjatuhkan orang-orang seperti keluarga Wijaya melalui jalur yang sah.
Ia juga sudah merencanakan cara memutar uang seratus juta itu untuk modal awal kehidupannya dan pengobatan ayahnya. Ia bukan lagi gadis kecil yang pasrah pada takdir. Ia adalah arsitek dari masa depannya sendiri.
"Selamat datang di hidup yang sesungguhnya, Anindya," bisiknya pada bayangannya sendiri di kaca bus.
Bus itu terus melaju, meninggalkan masa lalu yang penuh air mata dan abu pembakaran buku. Di depan sana, cakrawala Jakarta mulai terlihat, gedung-gedung tinggi itu seolah menyambut sang pemenang yang baru saja bangkit dari puing-puing kehancuran. Ini bukan akhir dari segalanya, melainkan awal dari babak baru: Kebangkitan Sang Mawar Hitam.